ISLAM DAN ALAM SEKITAR - PART 1

ISLAM DAN ALAM SEKITAR - PART 1

Isu alam sekitar merupakan isu merentasi dunia yang semakin disedari sebagai masalah yang kompleks dan serius. Antara masalah yang dihadapi manusia adalah meningkatnya jumlah penduduk, terbatasnya sumber daya alam dan penggunaan teknologi moden untuk mengeksploitasi isi bumi secara semena-mena yang pada gilirannya membawa kepada semakin menurunnya kualiti alam sekitar. Selain itu, isu berkaitan dengan penggundulan hutan, penerokaan sumber-sumber daya alam, lapisan ozon yang semakin menipis dan kualiti udara yang kotor telah menghasilkan ketidakseimbangan ekologis yang pada gilirannya sangat membahayakan kelangsungan hidup umat manusia. Timbulnya masalah alam sekitar, menurut Passmore seperti dipetik dalam Sudarminta, berkait rapat dengan pandangan kosmologis tertentu yang mencetuskan sikap eksploitatif terhadap alam. Oleh itu, pendekatan akhlak terhadap alam sekitar menghendaki adanya perubahan secara fundamental dari pandangan kosmologis yang menumbuhkan sikap eksploitatif terhadap alam kepada pandangan yang menumbuhkan sikap lebih bersahabat dan menghargai alam sekitar (J. Sudarminta, No.1, Tahun XIX).

Alam sekitar merupakan bahagian dari integriti kehidupan manusia, sehingga isu  alam sekitar dilihat sebagai salah satu komponen ekosistem yang memiliki nilai untuk dihormati, dihargai, dan tidak disakiti. Perilaku positif menjadi punca kepada alam sekitar kekal lestari, sedangkan perilaku negatif dapat menyebabkan alam sekitar menjadi rosak. Lantaran itu, manusia memiliki tanggungjawab untuk berperilaku baik terhadap alam sekiar. Kerosakan alam berlaku kerana wujudnya sudut pandang manusia yang anthroposentris. Cara pandang ini meletakkan alam sebagai objek yang dapat dieksploitasi hanya bagi memuaskan hawa nafsu manusia.

Konsepsi mengenai alam sekitar dalam Islam merupakan pemahaman rasional terhadap ayat-ayat kauniyah, di samping juga ayat-ayat qauliyah yang menjelaskan tentang alam dan seluruh isinya. Keberadaan alam dan seluruh benda-benda yang terkandung di dalamnya merupakan suatu kesatuan yang tidak terpisahkan. Secara keseluruhan saling memerlukan dan saling melengkapi sama lain. Kelangsungan hidup dari setiap unsur kekuatan alam berkait rapat dengan wujudnya kekuatan lain. Alam dan segala isi yang ada di dalamnya seperti tumbuh-tumbuhan, binatang, manusia dan benda mati yang ada di sekitarnya serta kekuatan alam lainnya seperti angin, udara dan iklim hakikatnya adalah bahagian daripada kewujudan alam. 

Alam Sekitar dalam al-Quran dan Hadis 
Dalam al-Quran, banyak ayat yang berbicara mengenai kewajipan memelihara dan larangan merosak alam sekitar. Hal ini kerana alam raya dengan segala kekayaan yang terkandung di dalamnya diberikan kepada manusia untuk diolah dan dimanfaatkan. Mengelola dan memanfaatkannya memerlukan usaha dan kerja keras. Allah SWT tidak memberikan bahan jadi melainkan bahan mentah yang mesti diolah dengan menggunakan potensi yang telah diberikan oleh Allah SWT kepada manusia, iaitu 'akal'. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an surah Ibrahim ayat 32-33 yang bermaksud: 
“Allah lah yang menciptakan langit dan bumi dan menurunkan air hujan dari langit. Kemudian Dia mengeluarkan dengan air hujan itu berbagai buah-buahan menjadi rezeki untukmu ; dan Dia telah menundukan bahtera bagimu supaya bahtera itu berlayar di lautan dengan kehendak-Nya. Dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu sungai-sungai. Dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu matahari dan bulan yang terus menerus beredar (dalam orbitnya); dan telah menundukkan bagimu malam dan siang.

Alam dan segala isinya adalah ciptaan Allah SWT yang diperuntukkan bagi manusia. Persoalannya, apakah manusia akan mengolah, membiarkan atau menghancurkannya? Islam menyeru kepada umatnya untuk mengolah, memelihara dan memanfaatkan alam sehingga memberi manfaat kepada manusia. Perkara ini ditegaskan dalam Al Quran sebagaimana firman Allah SWT surah Abasa, ayat 26-32 bermaksud: 
Kemudian kami belah bumi dengan sebaik-baiknya, lalu kami tumbuhkan biji-bijian di bumi itu, anggur dan sayur-sayuran, zaitun dan pohon kurma, kebun-kebun (yang) lebat dan buah-buahan serta rumput-rumput untuk kesenangan dan untuk binatang ternakmu.

Al-Quran banyak memberikan dorongan untuk menjaga dan memelihara alam sekitar. Ini kerana misi Islam pada dasarnya mencakup gesaan untuk bersikap memelihara alam semesta sebagaimana firman Allah SWT di dalam Al-Quran surah Al-Anbiya ayat 107 yang bermaksud: Dan tiadalah Kami mengutus kamu melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam. Memberi rahmat kepada alam adalah cerminan kepada bentuk pelaksanaan ajaran  Islam secara keseluruhan. Alam adalah anugerah yang diberikan oleh Allah SWT kepada manusia. Sesuai dengan kedudukan manusia sebagai khalifah Allah SWT, manusia dituntut untuk dapat menjaga dan memelihara alam di samping menggunakan dan memanfaatkannya.

Banyak kerosakan dan malapetaka yang ditimbulkan oleh perilaku manusia yang tidak memperhatikan hubungan dirinya dengan alam sekitar. Kerosakan ekosistem sama ada di lautan mahupun di daratan disebabkan manusia tidak menyedari keharusan hubungan yang sepatutnya terjalin dengan seimbang antara dirinya dengan alam sekitarnya. Untuk itu, manusia dituntut untuk berakhlak kepada alam dengan memelihara kelestariannya secara bijaksana. Oleh itu, manusia sebagai makhluk Allah SWT yang termulia diperintahkan untuk selalu berbuat baik dan dilarang untuk berbuat kerosakan di muka bumi. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam surah al-A’rāf ayat 7 yang bermaksud: 
“… dan janganlah kamu membuat kerosakan di muka bumi sesudah Tuhan memperbaikinya. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika betul-betul kamu orang-orang yang beriman”.

Allah SWT memberikan isyarat jelas supaya manusia dapat mengawal dirinya dari menerokai alam sewenang-wenang, sebab alam yang rosak dapat merugikan bahkan menghancurkan manusia itu sendiri. Alam sekitar menurut Islam merangkumi semua usaha kegiatan manusia dalam sudut ruang dan waktu.  Lingkungan alam yang meliputi bumi, air, haiwan, tumbuh-tumbuhan serta semua yang ada di atas dan di dalam perut bumi merupakan ciptaan Allah SWT untuk kepentingan umat manusia bagi menunjang kelangsungan hidupnya. Dalam Islam, usaha pelestarian alam sekitar bukan hanya semata-mata kerana tuntutan ekonomi, politik, atau desakan program pembangunan kerajaan. Usaha pelestarian alam sekitar perlu difahami sebagai perintah agama yang wajib dilaksanakan oleh manusia bersama-sama. Setiap usaha penerokaan dan pelestarian alam sekitar secara baik dan benar dianggap sebagai ibadah kepada Allah SWT yang dapat memperoleh karunia pahala.  Sebaliknya, setiap tindakan yang mengakibatkan kerosakan alam sekitar, penghakisan sumber daya alam dan pengabaian alam ciptaan Allah SWT adalah satu perbuatan yang dimurkai-Nya.

Manusia mempunyai kewajipan  memulihara alam bagi kelangsungan kehidupan, tidak hanya bagi manusia sahaja akan tetapi bagi semua makhluk hidup lainnya. Tindakan manusia dalam pemanfaatan sumberdaya alam secara berlebihan yang mengabaikan asas pemeliharaan sehingga mengakibatkan terjadinya kerusakan lingkungan merupakan perbuatan yang dilarang (haram) dan akan mendapatkan hukuman. Sebaliknya manusia yang mampu menjalankan peran pemeliharaan dan konservasi alam dengan baik, maka baginya tersedia balasan pahala dari Allah SWT.

Motivasi Islam terhadap Pelestarian Alam Sekitar
Salah satu konsep pelestarian alam sekitar dalam Islam adalah penumpuan kepada proses penghijauan dengan cara menanam dan bertani. Nabi Muhammad SAW menggolongkan orang-orang yang menanam pohon sebagai sadaqah. Hal ini diungkapkan secara tegas dalam hadis Rasulullah SAW yang berbunyi :
Rasulullah SAW bersabda: tidaklah seorang muslim menanam tanaman, kemudian tanaman itu dimakan oleh burung, manusia, ataupun haiwan, kecuali baginya dengan tanaman itu adalah sadaqah (HR. al-Bukhari dan Muslim dari Anas).

Dalam Al Quran surah al-Anam ayat 99, Allah berfirman: 
Dan Dialah yang menurunkan air hujan dari langit, lalu kami tumbuhkan dengan air itu segala macam tumbuh-tumbuhan, maka Kami keluarkan dari tumbuh-tumbuhan itu tanaman yang menghijau, Kami keluarkan dari tanaman yang menghijau itu butir yang banyak; dan dari mayang kurma mengurai tangkai-tangkai yang menjulai, dan kebun-kebun anggur, dan (Kami keluarkan pula) zaitun dan delima yang serupa dan yang tidak serupa. Perhatikanlah buahnya di waktu pohonnya berbuah, dan (perhatikan pulalah) kematangannya. Sesungguhnya pada yang demikian itu ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang beriman. 

Ada beberapa pertimbangan mendasar dari usaha-usaha apa yang disebut sebagai proses penghijauan ini, iaitu :

(a) pertimbangan manfaat, sebagaimana disebutkan dalam Al Quran surah Abasa ayat 24-32, sebagai berikut :
maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya. Sesungguh-nya Kami benar-benar telah mencurahkan air (dari langit), kemudian Kami belah bumi dengan sebaik-baiknya, lalu Kami tumbuhkan biji-bijian di bumi itu, anggur dan sayur-sayuran, Zaitun dan pohon kurma, kebun-kebun (yang) lebat, dan buah-buahan serta rumput-rumputan, untuk kesenanganmu dan untuk binatang-binatang ternakmu.  

(b) pertimbangan keindahan, sebagaimana disebutkan dalam Al Quran surah al-Naml ayat 60, sebagai berikut :
Atau siapakah yang telah menciptakan langit dan bumi dan yang menurunkan air untukmu dari langit, lalu Kami tumbuhkan dengan air itu kebun-kebun yang berpemandangan indah, yang kamu sekali-kali tidak mampu menumbuhkan pohon-pohonnya? Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)? Bahkan (sebenarnya) mereka adalah orang-orang yang menyimpang (dari kebenaran). 

Berdasarkan ayat di atas terlihat bahawa ungkapan kebun-kebun yang sangat indah yang membawa maksud menyejukkan jiwa, mata dan hati ketika memandangnya. Setelah Allah SWT  (dalam surah Al Anam ayat 99) memaparkan nikmat-nikmat-Nya, baik berupa tanaman, kurma, zaitun, buah delima dan semacamnya, Imam al-Qurtubi, mengatakan dalam tafsirnya; Bertani merupakan fardhu kifayah, maka pemerintah wajib menganjurkan manusia untuk melakukannya dengan menanam pohon.

(c). Memajukan Tanah Terbiar. Tanah terbiar terjadi kalau tanah ditinggalkan dan tidak ditanami, serta tidak dimanfaatkan untuk kepentingan manusia. Tanah dikategorikan hidup apabila di dalamnya terdapat air dan pemukiman sebagai tempat tinggal. Memajukan tanah terbiar adalah ungkapan dalam khazanah keilmuan yang diambil dari pernyataan Nabi SAW, dalam satu matan hadis yang berbunyi “Barang siapa yang menghidupkan tanah (lahan) mati maka ia menjadi miliknya”.

Dalam hadis ini Nabi SAW, menegaskan bahawa status kepemilikan bagi tanah yang kosong adalah bagi mereka yang mengusahakannya, sebagai galakan dan anjuran bagi mereka yang mengusahakannya. Memajukan tanah terbiar dikategorikan sebagai suatu keutamaan yang dianjurkan Islam, dan mendapatkan pahala yang amat besar. Hal ini kerana usaha ini dikategorikan sebagai usaha pengembangan pertanian dan menjana pendapatan manusia. Sedangkan bagi siapa sahaja yang merosak alam sekitar dengan cara menebang pohon secara sembarangan akan dimasukkan kepalanya ke dalam neraka. Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah saw sebagaimana dalam bagian matan hadis, yakni ; Barang siapa yang menebang pepohonan, maka Allah akan menghumban ke dalam neraka.

Maksud hadis di atas, dijelaskan kemudian oleh Abu Daud iaitu kepada orang yang menebang pohon sewenan-wenangnya sepanjang jalan, tempat para musafir dan haiwan berteduh. Ancaman keras tersebut secara eksplisit merupakan ikhtiar untuk menjaga kelestarian pohon. Sebab, kedudukan pepohonan itu banyak memberi manfaat bagi alam sekitar. Penebangan perlu dilakukan dengan cara yang betul atau menanam pepohonan baru dan menyiramnya agar dapat menggantikan fungsi pohon yang telah ditebang.

(d). Pertimbangan udara yang sihat. Salah satu keperluan asas manusia adalah udara sihat yang menghasilkan oksigen yang diperlukan manusia untuk bernafas. Tanpa oksigen, manusia tidak dapat hidup. Tuhan beberapa kali menyebut angin (udara) dan fungsinya sebagai proses mengitar semula air dan hujan. Firman Allah SWT yang bermaksud:
Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering) -nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis haiwan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; Sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan (QS. al-Baqarah: 164).

Pada ayat lain, surah al-Rum ayat 48 Allah juga berfirman yang bermaksud :
Allah, Dialah yang mengirim angin, lalu angin itu menggerakkan awan dan Allah membentangkannya di langit menurut yang dikehendaki-Nya, dan menjadikannya bergumpal-gumpal; lalu kamu lihat hujan ke luar dari celah-celahnya, maka apabila hujan itu turun mengenai hamba-hamba-Nya yang dikehendaki-Nya tiba-tiba mereka menjadi gembira. 

Udara mengandungi gas yang mengisi ruang bumi dan uap air yang meliputinya dari segala penjuru. Udara adalah salah satu dari empat unsur di mana seluruh alam bergantung kepadanya. Empat unsur tersebut ialah tanah, air, udara dan api. Dalam ilmu sains, dapat dibuktikan bahwa keempat unsur ini bukanlah zat yang sederhana, akan tetapi merupakan persenyawaan dari berbagai macam unsur. Air misalnya, terdiri daripada unsur oksigen dan hidrogen. Demikian juga tanah yang terbentuk dari belasan unsur berbeza. Adapun udara, ia terbentuk dari sekian ratus unsur, dengan dua unsur yang paling dominan, iaitu nitrogen yang mencapai sekitar 78,084 peratus dan oksigen sebanyak 20,946 peratus. Satu peratus bakinya adalah unsur-unsur lain.

Salah satu hikmah kekuasaan Allah dalam penciptaan alam ialah wujudnya mekanisma udara dalam nitrogen dan sifatnya yang pasif sebagai kandungan yang dominan iaitu 78 peratus dari udara. Kalau saja kandungan udara dalam gas nitrogen kurang dari itu, niscaya akan berjatuhan bunga-bunga api dari angkasa luar kerana mudahnya menembus lapisan bumi (hal itu yang kerap kali terjadi) dan terbakarlah segala sesuatu yang ada pada permukaan bumi. Fungsi lain udara atau angin adalah tumbuh-tumbuhan yang telah dibaja. Firman Allah SWTyang bermaksud: 
Dan Kami telah meniupkan angin untuk mengawinkan (tumbuh-tumbuhan) dan Kami turunkan hujan dari langit, lalu kami beri minum kamu dengan air itu, dan sekali-kali bukanlah kamu yang menyimpannya (QS. al-Hijr ayat 22).

Di antara sekian banyak manfaat angin adalah kemampuannya dalam menggerakkan kapal-kapal untuk terus berlayar dengan izin Allah. Angin berfungsi juga untuk mengalirkan air dari satu tempat ke tempat lain, dan yang menyebabkan tersebarnya haiwan-haiwan air ke berbagai permukaan air. Dalam kehidupan tumbuh-tumbuhan, angin pula yang membawa benih-benih kesuburan, pembajaan dan penyebaran tumbuh-tumbuhan ke berbagai belahan bumi.

Udara yang sihat merupakan suatu nikmat yang sangat besar. Dengan demikian, manusia dituntut untuk memanfaatkannya sesuai dengan kurnia yang telah dianugerahkan Allah dengan melestarikan alam. Bukan dengan mencemari dan merosak alam yang akan membawa madarat bagi diri manusia dan makhluk ciptaan Allah SWT lainnya.

(e). Pertimbangan keperluan air yang bersih. Sumber kekayaan lain yang sangat penting untuk dijaga adalah air. Air merupakan sumber kehidupan bagi manusia, tumbuh-tumbuhan dan haiwan. Allah SWT berfirman dalam QS. al-Anbiya (21), yakni “,Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu hidup”. Hakikatnya, air adalah sumber kekayaan yang mahal dan berharga. Akan tetapi kerana Allah menyediakannya di laut, sungai bahkan hujan secara percuma, manusia seringkali tidak menghargai air sebagaimana sepatutnya. Namun satu hal penting yang patut direnungkan adalah air bukanlah komoditi yang tumbuh dan berkembang. Ia tidak sama, misalnya dengan kekayaan yang berpuca dari unsur tumbuhan atau haiwan. Oleh itu, Allah SWT mengisyaratkan dalam Al-Quran Surah al-Muminun ayat 18 yang bermaksud: 
Dan Kami turunkan air dari langit menurut suatu ukuran; lalu Kami jadikan air itu menetap di bumi, dan sesungguhnya Kami benar-benar berkuasa menghilangkannya.

Ketika makhluk hidup terutama manusia tidak boleh hidup tanpa air, sementara kuantiti air terhad, maka manusia mesti menjaga dan melestarikan kekayaan yang amat berharga ini. Jangan sekali-kali melakukan tindakan-tindakan yang merosakkannya iaitu dengan cara mencemarinya, merosak sumbernya dan lain-lain. Termasuk pula dengan tidak menggunakan air secara berlebih-lebihan (israf).

Penggunaan air dimanfaatkan menurut ukuran-ukuran yang wajar. Kaedah untuk mengekal dan memelihara air dapat dilakukan dengan langkah-langkah berikut:

(1).  Larangan mencemari air. Bentuk-bentuk pencemaran air yang dimaksud dalam ajaran Islam ialah seperti kencing, buang air besar secara merata-rata dan sebab-sebab lainnya yang mencemarkan sumber air. Rasululullah SAW bersabda :
”Jauhilah tiga macam perbuatan yang dilaknat ; buang air besar di sumber air, di tengah jalan, dan di bawah pohon yang teduh' (HR. Abu Daud).
Dalam hadis yang lain Rasulullah SAW bersabda :  
Janganlah salah seorang dari kalian kencing di air yang diam yang tidak mengalir, kemudian mandi di sana (HR. Al-Bukhari).

Pencemaran air di zaman moden ini tidak hanya kepada amalan kencing dan buang air besar secara merata-rata, akan tetapi ancaman pencemaran lain yang jauh lebih berbahaya ialah pencemaran limbah industri, zat kimia, zat beracun yang mematikan dan minyak yang tumpah di lautan samudera.

(2). Penggunaan air secara berlebihan. Ada bahaya lain yang berkaitan dengan sumber kekayaan air, iaitu penggunaan air secara berlebihan. Air dianggap sebagai sesuatu yang murah dan tidak berharga. Hanya manusia-manusia yang berfikir sahaja yang mengetahui betapa berharga kegunaan dan nilai air. Nabi Muhammad SAW bersabda:
Nabi saw, pernah bepergian bersama Saad bin Abi Waqqas. Ketika Saad berwudhu, Nabi berkata : Jangan menggunakan air berlebihan. Saad bertanya : Apakah menggunakan air juga boleh berlebihan ?. Nabi menjawab: Ya, sekalipun kamu melakukannya di sungai yang mengalir.

(3). Menghindari kerosakan dan menjaga keseimbangan alam. Salah satu tuntunan terpenting Islam dalam hubungannya dengan lingkungan ialah bagaimana menjaga keseimbangan alam sekitar dan segala isi yang ada di dalam tanpa merosaknya.  Hal ini kerana Allah menciptakan segala sesuatu di alam ini dengan perhitungan tertentu. Seperti dalam firman Nya dalam surah al-Mulk ayat 3:
Allah yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang. Adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang,

Ayat di atas memerintahkan manusia untuk bersikap adil dalam menjaga keseimbangan alam sekitar iaitu tidak berlebihan dan meremehkan alam. Sebab, ketika manusia sudah bersikap berlebihan atau meremehkan, ia cenderung menyimpang, lalai dan rosak. Keseimbangan yang diciptakan Allah SWT dalam maslah alam sekitar akan terus berlaku dan baru akan terganggu jika terjadi suatu keadaan luar biasa, seperti gempa bumi. Bagaimanapun, menurut al-Quran kebanyakan bencana yang berlaku di muka bumi ini disebabkan oleh ulah perbuatan manusia yang tidak bertanggung jawab. Perkara ini ditegaskan firman Allah dalam surah al-Rum ayat 41 yang bermaksud:
Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). 

Di abad moden ini, fenomena kerosakan alam sekitar akibat perbuatan umat manusia cenderung meningkat terutama pada beberapa dasawarsa terakhir. Tindakan-tindakan mereka telah merosak keseimbangan alam sekitar dan interaksi antar elemen-elemennya. Terkadang terlalu berlebihan, dan terkadang pula terlalu memandang ringan isu berkenaan. Semua itu menyebabkan berlakunya penggundulan hutan di berbagai tempat, pendangkalan laut, gangguan terhadap habitat secara global, meningkatnya suhu udara, serta menipisnya lapisan ozon yang sangat mencemaskan umat manusia. Kecemasan yang melanda orang-orang yang beriman adalah kenyataan bahawa kezaliman umat manusia dan tindakan mereka yang merosak alam sekitar pada suatu saat kelak akan berakibat pada hancurnya bumi beserta isinya.

Bersambung.... ISLAM DAN ALAM SEKITAR - PART 2 (AKHIR)

Penulis bersama: Mohd. Fathil bin Hj. Daud, Zulfan Saam, Sukendi, Samsul Nizar (Universitas Riau)

Hubungi Kami

Alamat:
No.5B, Jalan 3/70 Damai Point, Seksyen 3, 43650 Bandar Baru Bangi. Selangor

Telefon: +60 17-377 7732
Email: alfalahmadani2022 [@] gmail.com

Jumlah Pengunjung

016909
Hari ini: 5
Minggu Ini: 1,714
Bulan Ini: 2,050
Tahun Ini: 16,909
Tahun Lepas: 52,147
Image

Alfalahmadani.my merupakan sebuah portal yang bertanggungjawab untuk bertindak sebagai penampan bagi setiap tuduhan, fitnah, kekeliruan, ketidakfahaman dan kecelaruan yang berlegar di minda rakyat. Sama ada isu-isu yang timbul secara organik di media sosial, ataupun yang didorong sebagai naratif oleh pihak-pihak tertentu,

Alfalahmadani.my akan menjawab setiap permasalahan dengan pengetahuan, kebijaksanaan dan kebenaran. Tentunya, kehadiran Alfalahmadani.my bukan berhasrat menyatakan kesempurnaan pemikiran, tetapi sebagai wahana untuk menuju kesempurnaan pengetahuan dalam konteks pemikiran semasa, dan kebijaksanaan yang mampu diusahakan.