ANTARA KAFIR ZIMMI DAN HARBI

ANTARA KAFIR ZIMMI DAN HARBI

Dalam konteks kehidupan beragama di negara ini penduduknya terdiri daripada Islam dan bukan Islam. Ketika kekhilafahan Islam dan hukum Islam ditinggalkan, maka banyak sekali hak kewajiban yang terlantar dan disalahartikan. Seperti munculnya ideologi-ideologi yang salah, diantaranya adanya keyakinan bahawa orang kafir semuanya sama, wajib diperangi, tidak boleh diberi keamanan. Oleh karena itu, para ulama membahagikan kafir menjadi beberapa bahagian dan setiap bahagian memiliki hukum tersendiri. Menurut syariat Islam, pada dasarnya terdapat dua jenis status orang bukan Islam iatu kafir Harbi dan kafir Dzimmi. Seperti mana dalam hadits yang bermaksud, 

“Orang-orang musyrik terbagi menjadi dua bila dilihat dari kedudukan mereka dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dan kaum mukminin. Yang pertama, Ahlul Harb. Yaitu orang-orang musyrik yang Nabi shallallahu 'alaihi wasallam memerangi mereka dan mereka juga memerangi beliau. Dan yang kedua, Ahlu 'Ahd. Yakni, kaum musyrikin yang tidak diperangi oleh Rasulullah dan mereka juga tidak memerangi beliau.” (HR Al-Bukhori : 5286)

 Orang kafir terbagi menjadi empat jenis :-

  1. Kafir Harbi : yaitu orang kafir yang memerangi Allah dan Rasul dan membuat kerusakan diatas muka bumi.
  1. Kafir Dzimi : yaitu orang kafir yang tunduk pada penguasa islam dan membayar jizyah atau membayar uang perlindungan. Firman Allah dalam kitabnya yang bermaksud,

“Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari kemudian dan mereka tidak mengharamkan apa yang telah diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan Al-Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan shôgirun (hina, rendah, patuh)”. (Surah At-Taubah : 29)

 

Ayat di atas, menunjukkan jelaslah bahawa jizyah diambil dari ahli kitab yaitu Yahudi dan Nashrâni. Sedangakan orang Majusi juga ditarik jizyah, dengan dasar hadits ‘Abdurahman bin ‘Auf Radhiyallahu ‘anhu yang menyatakan :

 

“Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengambil jizyah dari Majusi Hajar”. (HR Al-Bukhari : 3157)

 

  1. Kafir Mu’ahad : yaitu orang kafir yang tinggal di Negara kafir, yang ada perjanjian damai dengan Negara islam. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman yang bermaksud:

“Kecuali orang-orang musyirikin yang kamu mengadakan perjanjian (dengan mereka) dan mereka tidak mengurangi sesuatupun (dari isi perjanjian)mu dan tidak (pula) mereka membantu seseorang yang memusuhi kamu, maka terhadap mereka itu penuhilah janjinya sampai batas waktunya. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaqwa” (Surah At-Taubah : 4)

 

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang bermaksud,

Siapa yang membunuh kafir mu’ahad ia tidak akan mencium bau surga. Padahal sesungguhnya bau surga itu tercium dari perjalanan empat puluh tahun.” (HR Al-Bukhari : 3166)

 

  1. Kafir Musta’man : yaitu orang kafir pelarian yang masuk ke Negara Islam, dan mendapatkan jaminan keamanan atau perlindungan dari pemerintah. Seperti mana disebutkan oleh Allah di dalam Al-Quran yang bermaksud,

“Dan jika seorang di antara orang-orang musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah dia supaya dia sempat mendengar firman Allah, kemudian hantarkanlah dia ke tempat yang aman baginya. Demikian itu disebabkan mereka kaum yang tidak mengetahui.” (Surah At-Taubah: 6)

 

Dan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala yang bermaksud

 

“Jika mereka merusak sumpah (janji)nya sesudah mereka berjanji, dan mereka mencerca agamamu, maka perangilah pemimpin-pemimpin orang-orang kafir itu, karena sesungguhnya mereka itu adalah orang-orang yang tidak dapat dipegang janjinya” (Surah At-Taubah :12)

Dari keempat jenis kafir, hanya kafir Harbi sahaja yang boleh diperangi dan halal darahnya ditumpahkan iaitu apabila mereka memerangi Allah dan Rasul dan membuat kerusakan diatas muka bumi.. Seperti yang disebut dalam kitab suci Al Qur’an yang bermaksud,  

“Sesungguhnya pembalasan terhadap orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya dan membuat kerusakan di muka bumi, hanyalah mereka dibunuh atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka dengan bertimbal balik, atau dibuang dari negeri (tempat kediamannya). Yang demikian itu (sebagai) suatu penghinaan untuk mereka didunia, dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar.” ( Surah Al-Ma’idah : 33 )

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Ustaimin rahimahullah mengatakan, “kafir harbi tidak memiliki hak untuk mendapatkan perlindungan dan pemeliharaan dari kaum muslimin.”

Mereka adalah orang kafir asli yang diperangi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang bermaksud:

“Aku diperintahkan untuk memerangi manusia hingga bersaksi bahwa tidak ada yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allah dan Muhammad adalah Rasulullah, menegakkan shalat dan menunaikan zakat. Apabila mereka telah melakukannya, berarti mereka telah menjaga jiwa dan harta mereka dariku (Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam) kecuali dengan (alasan-red) hak Islam serta hisab mereka diserahkan kepada Allah” (HR Al-Bukhari : 25)

 Sebab lain mengapa kita memerangi mereka adalah mereka melanggar perjanjian yang telah dibuat antara mereka dan kaum Muslimin.

Selain daripada melanggar perjanjian, kafir Harbi juga adalah orang kafir yang menghina Islam secara terbuka, dan merendahkan kedudukan Islam.

Pembahagian kafir harbi berdasarkan kewarganegaraan orang kafir dengan tempat tinggal yang tetap :

  1. Kafir Harbi hukman/secara hukum 
  2. Kafir Harbi haqiqotan/fi’lan (kafir harbi secara nyata)

a) Kafir Harbi hukman

Kafir dzimmi dan kafir mu’ahid tergolong sebagai kafir harbi hukman, karena setelah berakhirnya  perjanjian mereka, ia akan kembali terkategori sebagai kafir harbi fi’lan.

Hubungan umat islam dengan kafir harbi hukman itu sendiri berdasarkan perjanjian yang telah disepakti. Hanya saja, dalam interaksi ekonomi umat islam tidak boleh menjual senjata kepada pihak kafir harbi hukman dengan alasan ianya dapat memperkuat mereka untuk mengalahkan umat islam. Jika di dalam perjanjian tersebut ada interaksi ekonomi (mejual senjata) maka perjanjian tersebut tidak boleh dilaksankan karena melanggar syari’at.

b) Kafir Harbi haqiqotan

Sebuah negara yang tidak mempunyai sebarang ikatan perjanjian dengan daulah islam. Negara ini dibagi menjadi dua :

  1. Negara tersebut sedang berperang secara nyata dengan umat islam.
  2. Negara tersebut sedang tidak terlibat perang secara nyata.

Jika sebuah negara termasuk dalam kategori yang pertama, seperti tidak mengadakan perjanjian politik, perjanjian ekonomi dan sebagainya, maka asas interaksinya adalah interaksi perang. Dan perjanjian itu hanya boleh dilakukan setelah ada perdamaian. Berbeza pula sebaliknya, jika sebuah negara tersebut termasuk dalam kategori kedua iaitu tidak sedang berperang dengan kaum muslimin, maka negara tersebut boleh berinteraksi apapun seperti perjanjian yang dispekati, kecuali dalam hal-hal yang melanggar syariat. Namun jika warganegara tersebut melanggar perjanjiannya, maka dalam kasus ini, hukumnya sama sperti negara yang sedang berperang secara nyata dengan umat islam,iaitu jiwa dan hartanya halal bagi umat islam, atau kata lainnya wajib diperangi dan diadili.

Beberapa anggapan terhadap orang kafir. Ada yang beranggapan  orang kafir semuanya sama, wajib diperangi dan tidak boleh diberikan perlindungan dan keamanan. Sebaliknya, ada juga yang menganggap semua orang kafir itu memiliki hak yang sama seperti kaum muslimin. Kedua anggapan ini tidak benar. Anggapan yang pertama menyeret Islam ke arah yg zalim padahal islam mengajarkan keadilan dan mengharamkan perbuatan zalim kepada siapapun.

Bagaimanakah kita berhubungan dengan orang-orang kafir?

Inilah keindahan dan keadilan Islam, Islam melarang umatnya melakukan pembunuhan tanpa alasan yang haq (dibenarkan). Seperti Allah berfirman yang bermaksud: 

“Sesungguhnya barang siapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya”. (Surah Al-Mâidah : 32)

Juga dalam firman-Nya yang bermaksud::

“Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan suatu (sebab) yang benar” (Surah Al-‘An’âm : 151)

Kata “jiwa” dalam ayat di atas bersifat umum mencakup jiwa muslim dan non muslim. Semuanya haram dibunuh kecuali dengan alasan yang dibenarkan syari’at.

 Orang kafir Harbi yang mendapatkan jaminan keamanan

Ada dua golongan yang mendapatkan jaminan keamanan iaitu kafir musta’man dan kafir mu’ahad seperti yang telah diterangkan diatas tadi.

Tentang pemberian keamanan ini, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang bermaksud::

“Perlindungan kaum Muslimin (terhadap orang kafir) adalah sama walaupun jaminan itu diberikan oleh kaum Muslimin yang paling rendah” (HR Al-Muslim : 2344)

Dalam hadis ini menunjukkan bahawa hak perlindungan kepada non Muslim boleh diberikan oleh seorang Muslim. Apabila syarat-syarat pemberian perlindungan telah terpenuhi, maka perlindungan yang diberikan oleh seorang Muslim memiliki kekuatan yang sama dengan perlindungan yang diberikan penguasa muslim. Atas dasar ini, maka pemberian perlindungan seorang Muslim secara pribadi atau penguasa Muslim kepada orang kafir baik Kristen ataupun Yahudi adalah sah. Sehingga seluruh kaum Muslimin dari penduduk negara tersebut tertuntut untuk menaatinya.

Syaikh Shâlih bin Fauzân Ali Fauzân hafizhahullâh – salah seorang anggota Dewan Ulama Besar Saudi Arabia – menyatakan : “Apabila kita mengundang mereka untuk datang atau kita berikan perlindungan (al-amân), maka kita tidak boleh mencelakakan atau merugikan mereka. Kita wajib berlaku adil hingga mereka pergi dan menyelesaikan perjanjian mereka serta pulang ke negara mereka. Karena mereka masuk dengan perlindungan dan kita yang meminta dia untuk datang. Karena itulah, kita wajib memperlakukan mereka dengan adil, tidak menzhalimi mereka serta wajib memberikan hak-hak mereka. Sedangkan dalam masalah cinta, kita tidak boleh mencintai mereka.
Namun kebencian kita kepada mereka tidak boleh menyeret kita untuk menzhalimi mereka atau mengurangi sedikit pun hak mereka atau mengganggu mereka. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman yang bermaksud::

“Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada taqwa” (Surah Al-Mâidah :8)

Cara Rasulullah menghadapi orang kafir

Seperti mana yang kita ketahui bahawa akhlak Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah Al-Qur’an sebagaimana riwayat dari Aisyah Radhiyallahu ‘anha ketika ditanya akhlak Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau Radhiyallahu ‘anha menjawab.

“Akhlak beliau (Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam) adalah Al-Qur’an”

Kemudian Aisyah Radhiyallahu ‘anha membacakan ayat yang bermaksud:.

“Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung” (Surah Al-Qalam : 4)


Kata “khuluqin’azim” dalam ayat ini yang membawa maksud budi pekerti yang agung, mencakup seluruh akhlak terhadap semua makhluk, sebagaimana
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabar ketika menghadapi permusuhan dan penyiksaan, serta mendoakan kebaikan atas pelakunya. Ketika orang-orang kafir dahulu melukai kepala beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam, membuat beliau mengeluarkan darah, dan saat mereka mematahkan gigi beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar memberikan balasan buruk kepada mereka, tetapi, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam hanya menginginkan rahmat buat mereka, karena beliau adalah rahmat. Rasulullah berdoa saat itu yang bermaksud::

Ya, Allah. Ampunilah kaumku, karena mereka itu tidak mengetahui. (HR Al-Bukhari : 3477 & Al-Muslim : 1792)

Ada beberapa hadis lain yang menunjukkan akhlak Beliau terhadap orang kafir :-

Hadits Pertama, sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang bermaksud:

“ …. Sesungguhnya para utusan (duta) itu tidak boleh dibunuh” (HR Abu Dawud no. 2761)

Maksudnya disini adalah, semua utusan yang dihantar oleh orang-orang kafir sebagai penghubung antara kaum muslimin dan kaum kafir. Keadilan dan kasih sayang Islam tidak memperbolehkan untuk membunuh dan menyakiti mereka. Karena, dalam Islam terdapat ajaran (agar menjaga dan mentaati) perjanjian dan ikatan janji.

Hadits Kedua, iaitu dalam wasiat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Mua’dz bin Jabal Radhiyallahu ‘anhu, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang bermaksud:.

“ …. Dan pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik” (HR Ahmad 22337, Tirmidzi 1987, Darimi 2791)

Dalam hadits ini, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengatakan “Pergaulilah kaum muslimin, atau orang-orang yang soleh, atau orang-orang yang mengerjakan shalat”, akan tetapi beliau mengatakan “ … dan pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik”.

Maksudnya adalah semua menusia, yang kafir, yang muslim, yang mushlih (yang melakukan perbaikan), yang faajir (jahat) dan yang soleh, sebagai bentuk keluasan rahmat dan kelengkapannya dengan akhlak din (agama).

Sesungguhnya pembahasan diatas, menunjukkan sikap bijak dan indahnya Islam, bahawa Islam bukanlah agama pengganas dan melepaskan kemarahan, melainkan Rahmatun lil’alamin. Kita benci terhadap mereka kerana kekafirannya, bahkan syari’at Islam melarang mengucapkan salam dan menshalati jenazah mereka, namun sikap tersebut tidaklah menjadikan kita brutal dan membabibuta dalam membunuh setiap non muslim. Dalil-dalil dari al-Qur’an dan hadits yang diatas telah menjelaskan bagaimana hendak bermu’amalah dengan orang kafir,

Hubungi Kami

Alamat:
No.5B, Jalan 3/70 Damai Point, Seksyen 3, 43650 Bandar Baru Bangi. Selangor

Telefon: +60 17-377 7732
Email: alfalahmadani2022 [@] gmail.com

Jumlah Pengunjung

017905
Hari ini: 157
Minggu Ini: 500
Bulan Ini: 3,046
Tahun Ini: 17,905
Tahun Lepas: 52,147
Image

Alfalahmadani.my merupakan sebuah portal yang bertanggungjawab untuk bertindak sebagai penampan bagi setiap tuduhan, fitnah, kekeliruan, ketidakfahaman dan kecelaruan yang berlegar di minda rakyat. Sama ada isu-isu yang timbul secara organik di media sosial, ataupun yang didorong sebagai naratif oleh pihak-pihak tertentu,

Alfalahmadani.my akan menjawab setiap permasalahan dengan pengetahuan, kebijaksanaan dan kebenaran. Tentunya, kehadiran Alfalahmadani.my bukan berhasrat menyatakan kesempurnaan pemikiran, tetapi sebagai wahana untuk menuju kesempurnaan pengetahuan dalam konteks pemikiran semasa, dan kebijaksanaan yang mampu diusahakan.