SEPULANG DARI MAKKAH, APAKAH KITA MENJADI LEBIH BAIK?

Haji Mabrur Bukan Tentang Gelar, Tetapi Tentang Perubahan Akhlak dan Ketakwaan

Setiap tahun jutaan umat Islam dari seluruh dunia berangkat menuju Tanah Suci. Mereka meninggalkan keluarga, pekerjaan, kenyamanan, bahkan menghabiskan tabungan yang dikumpulkan bertahun-tahun demi memenuhi panggilan Allah SWT.

Sebagian menunggu antrean belasan hingga puluhan tahun. Sebagian lagi berangkat dalam usia senja dengan kondisi fisik yang tidak lagi sekuat dahulu. Namun mereka tetap berangkat karena ada kerinduan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata: kerinduan menjadi tamu Allah dan meraih haji yang mabrur.

Namun ada satu pertanyaan yang layak kita renungkan bersama:

Sepulang dari Makkah, apakah kita menjadi lebih baik?

Inilah pertanyaan yang sesungguhnya lebih penting daripada berapa kali seseorang telah berhaji.

Sebab Allah tidak hanya melihat perjalanan kaki menuju Baitullah, tetapi juga perjalanan hati menuju ketakwaan.

Rasulullah ﷺ bersabda yang bermaksud:
“Haji yang mabrur tidak ada balasan baginya selain surga.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menunjukkan bahwa haji mabrur bukan sekadar haji yang sah secara syariat, tetapi haji yang diterima oleh Allah SWT dan meninggalkan bekas yang nyata dalam kehidupan.

Ka’bah Mengajarkan Kerendahan Hati

Di depan Ka’bah, semua manusia menjadi sama.

Jabatan ditinggalkan.

Pangkat ditanggalkan.

Kekayaan tidak lagi menjadi ukuran.

Semua mengenakan pakaian ihram yang hampir serupa.

Seorang pejabat berdiri sejajar dengan rakyat biasa.

Seorang profesor berdampingan dengan petani.

Seorang pengusaha berjalan bersama buruh.

Tidak ada yang istimewa selain ketakwaan.

Allah SWT berfirman:
“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.”
(QS. Al-Hujurat: 13)

Jika setelah pulang dari haji seseorang masih dipenuhi kesombongan, merasa lebih tinggi dari orang lain, mudah merendahkan sesama, maka pelajaran besar dari ihram belum sepenuhnya meresap ke dalam jiwanya.

Kemabruran Tidak Terlihat dari Gelar, Tetapi dari Akhlak

Masyarakat sering memberikan penghormatan kepada seseorang dengan menyebutnya “Pak Haji” atau “Bu Hajjah”.

Itu baik sebagai bentuk penghargaan.

Namun di sisi Allah, kemabruran tidak diukur dari gelar yang disandang, melainkan dari akhlak yang ditampilkan.

Ukuran kemabruran sesungguhnya sederhana.

Apakah setelah haji kita menjadi lebih jujur?

Lebih sabar?

Lebih lembut kepada pasangan?

Lebih hormat kepada orang tua?

Lebih sayang kepada anak-anak?

Lebih amanah dalam pekerjaan?

Lebih takut melakukan dosa?

Karena orang pertama yang merasakan dampak kemabruran bukan masyarakat luas, melainkan keluarga terdekat.

Mereka yang hidup bersama kita setiap hari adalah saksi paling jujur atas perubahan itu.

Haji Mabrur Melahirkan Kepedulian Sosial

Di Arafah, jutaan manusia berkumpul tanpa membedakan bangsa, warna kulit, maupun status sosial.

Di sana Allah mengajarkan bahwa manusia adalah satu keluarga besar.

Karena itu salah satu tanda haji mabrur adalah meningkatnya kepedulian terhadap sesama.

Orang yang hajinya diterima tidak hanya rajin beribadah kepada Allah, tetapi juga semakin peduli terhadap manusia.

Ia ringan membantu.

Mudah memaafkan.

Senang berbagi.

Aktif menyelesaikan masalah masyarakat.

Bukan justru menjadi sumber perpecahan dan pertengkaran.

Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.”
(HR. Ahmad)

Semakin dekat seseorang kepada Allah, seharusnya semakin besar manfaatnya bagi sesama.

Bangsa Ini Memerlukan Lebih Banyak Haji Mabrur

Indonesia memiliki jutaan alumni haji.

Bayangkan jika seluruh jamaah haji yang telah pulang benar-benar membawa pulang nilai-nilai yang dipelajari di Tanah Suci.

Mereka menjadi pejabat yang amanah.

Pedagang yang jujur.

Guru yang ikhlas.

Pemimpin yang adil.

Tokoh masyarakat yang mempersatukan.

Maka yang berubah bukan hanya individu, tetapi juga bangsa.

Sesungguhnya bangsa ini tidak kekurangan orang pintar.

Tidak kekurangan lulusan perguruan tinggi.

Tidak kekurangan orang yang memiliki jabatan.

Yang masih sangat dibutuhkan adalah semakin banyak manusia yang berakhlak mulia.

Dan salah satu tujuan terbesar ibadah haji adalah melahirkan pribadi-pribadi seperti itu.

Muhasabah Setelah Pulang dari Tanah Suci

Mari kita bertanya kepada diri sendiri:

Apakah shalat kita lebih baik setelah haji?

Apakah Al-Qur’an lebih sering kita baca?

Apakah lisan kita lebih terjaga?

Apakah hati kita lebih mudah bersyukur?

Apakah kita lebih bermanfaat bagi keluarga dan masyarakat?

Jika jawabannya “ya”, maka itu pertanda baik.

Namun jika belum, maka perjalanan menuju kemabruran masih harus dilanjutkan.

Karena sejatinya haji bukanlah akhir perjalanan spiritual, melainkan awal dari kehidupan yang lebih dekat kepada Allah SWT.

Pada akhirnya, Allah tidak akan bertanya berapa kali kita mencium Hajar Aswad, berapa banyak foto yang kita ambil di depan Ka’bah, atau berapa kali kita berkunjung ke Tanah Suci.

Tetapi Allah akan melihat seberapa besar perubahan yang terjadi dalam diri kita setelah kembali dari sana.

Ka’bah tidak membutuhkan kita. Kitalah yang membutuhkan perubahan.

Dan haji mabrur adalah ketika perjalanan menuju Baitullah berhasil mengubah akhlak, memperkuat ketakwaan, serta menjadikan kita lebih bermanfaat bagi sesama manusia.

“Kemabruran haji tidak terlihat dari banyaknya cerita tentang Makkah yang kita sampaikan, tetapi dari banyaknya akhlak mulia yang kita tampilkan setelah pulang dari Makkah. Jika keluarga, tetangga, dan masyarakat merasakan kebaikan kita yang semakin besar, itulah salah satu tanda bahwa haji telah menyentuh hati, bukan sekadar kaki yang pernah melangkah ke Tanah Suci.”
— Jasman Jaiman
Pendidik Peduli Generasi Emas Riau

KORBAN EGO

Akan kubunuh seluruh sifat ego,
yang sekian lama menutup pintu hati manusia…
itulah korban yang paling utama,
yang harus dahulu disembelih dalam jiwa…
Bukan manusia yang dikorbankan,
tetapi sisi gelap dan kebinatangan,
yang membelenggu nurani insan…

Sombong… tamak… rakus tidak bertepi…
menindas dan zalim tanpa simpati…
hipokrit yang berselindung wajah suci…
munafik… jahil… buta hati…

Korbankan ego dalam dirimu…
sembelih gelita yang memakan kalbu…
bunuh segala sisi kehinaan…
yang menjauhkan manusia dari Tuhan…
Kerana korban yang paling agung…
saat nafsu berjaya ditundukkan…
dan hati kembali dipenuhi cahaya Tuhan…

Ketika haiwan itu dikorbankan,
tergambar tekad di dalam sanubari…
untuk membunuh seluruh sifat batiniah,
yang liar tersembunyi di dalam diri…
Betapa manusia sering tewas,
pada nafsu yang dipelihara sendiri…
hingga hati menjadi keras dan gelap,

Yang harus dikorbankan…
bukan manusia…
tetapi ego…
yang menutup pintu hati manusia…

SEBENARNYA AIDIL ADHA ITU APA?

 

Sewaktu kecil hanya ada dua hari raya yang diraikan dan dinantikan. Pertama Hari Raja Aidilfitri, yang dipanggil Hari Raya Puasa. Aidiladha pula dipanggil Hari Raya Haji. Oleh kerana orang yang pergi haji biasanya orang dewasa atau tua, maka ia dianggap sebagai perayaan untuk orang tua.
 
Di Hari Raya Haji, kanak-kanak tidak merasa meriah sebagaimana Hari Raya Puasa. Dua sebab kenapa kurang meriah: Hari Raya Haji tidak ada riuh rendah seperti Hari Raya Puasa. Hari Raya Puasa terasa meriah kerana ia dirayakan selepas sebulan menjalani ibadah puasa, dan kerana itu, seminggu sebelumnya, cukup ramai ayah ibu menghitung macam-macam, termasuk menu hidangan utama.
 
Hari Raya Haji tidak banyak persiapan dibuat, bahkan tidak ada aktiviti pasang lampu sepanjang jalan atau kawasan halaman rumah. Tidak ada ibu bapa yang risau anak-anak tidak berbaju baharu, kerana pakaian Hari Raya Puasa boleh dipakai kembali.
 
Hari Raya Haji meriah dengan jamuan terbuka ramai-ramai, kerana adanya korban lembu atau kambing. Korban itu adalah ibadat, dan dilaksanakan selepas sembahyang sunat Aidiladha sehingga Hari Raya ketiga. Itu bererti mood Hari Raya Haji sekadar tuah hari berbanding Hari Raya Puasa, sehingga berakhir bulan Syawal.
 
Setelah dewasa, kita pun tahu bahawa Hari Raya Puasa adalah lebih meriah kerana persiapan sebelumnya yang mungkin dua bulan sebelum puasa. Ia juga dirayakan sampai sebulan. Rumah terbuka juga banyak dibuat perang sehingga kita pun kadangkala tidak terkejar untuk menyahut undangan. Hujung minggu jalan jadi sesak di Kuala Lumpur, kerana banyak rumah terbuka.
 
Hari Raya Haji tidak ada rumah terbuka, kecuali tiga hari pertama bagi mereka yang melaksanakan ibadat korban. Selepas tiga hari, suasana jadi seperti hari-hari biasa. Namun, jalan+jalan utama ke Kuala Lumpur tetap sesak kerana "perantau" kembali merantau.
 
Tahun ini, ramai yang ambil cuti panjang. Ia kebetulan jatuh pada musim cuti sekolah. Turut bersambung dengan dua cuti umum, iaitu cuti Keputeraan Yang Di Pertuan Agong dan Hari Wesak. Orang Sabah dan Sarawak meraikan Hari Gawai Dayak (1 Jun 2026) dan Pesta Kaamatan (30 - 31 Mei 2026).
 
Kenapa Aidiladha seringkali dipanggil Hari Raya Korban dan juga Hari Raya Haji? Kenapa Aidiladha dikatakan sebagai perayaan orang tua? Lama-kelamaan, saya mula faham kenapa Aidiladha dijoloki sebagai Hari Raya Janji atau Hari Raya Korban. Dua istilah itu, korban dan haji adalah dua rukun yang terdapat dalam ibadah haji, yakni rukun Islam kelima. Rukun kelima yang wajib dilaksanakan oleh setiap orang Islam yang mampu, bukan sahaja dari segi kewangan bahkan persiapan mental dan upaya diri.
 
Namun, ada juga yang diajarkan kepada kita, walaupun kesihatan tidak mengizinkan tetapi dengan azam yang kuat, ibadat itu salaf dilaksanakan dengan bangunan orang lain. Ia mengingatkan kita kepada kisah Uwais al-Qarni untuk menunaikan hasrat ibunya, yang namanya tidak diketahui dengan jelas hanya tercatat sebagai Ummu Uwais (ibu Uwais) menunaikan haji.
 
Ummu Uwais mengalami lumpuh tetapi hidup dalam suasana penuh iman dan takwa. Uwais merupakan seorang hidupnya dengan kemiskinan dan sehariannya sebagai pengembala kambing. Namun, dua beranak itu cukup zuhud dan sangat mencintai Allah SWT.
 
Bahkan, ketika Nabi Muhammad SAW patah gigi semasa Perang Uhud, Uwais yang mendengarnya bertindak mengetuk giginya sehingga patah sebagai tanda "simpati" dan sayangnya kepada Rasulullah SAW. Beliau memeluk Islam pada zaman Rasulullah SAW, dan terus mengabdikan diri sebagai seorang hamba Allah SWT yang berserah kepada-Nya tanpa rasa prejudis. Beliau sangat teringin untuk menemui Rasulullah SAW, walau bagaimanapun, hasrat itu tidak kesampaian.
 
Uwais pernah berusaha untuk berjumpa dan berhasrat mendengar sabda baginda, tetapi tidak kesampaian. Uwais pernah meninggalkan ibunya untuk bertemu Rasulullah SAW di Madinah, setelah berjalan lebih 400 kilometer, sampai di rumah baginda, beliau hampa kerana Rasulullah SAW berada di medan perang. Oleh kerana tidak tahu bilakah Rasullullah SAW akan pulang, dan mengenangkan si ibu tinggal bersendirian, Uwais mengambil keputusan pulang ke Yaman.
 
Sekembalinya dari perang, Rasulullah diberitahu tentang seorang pemuda datang untuk bertemu, tetapi atas setianya kepada ibu, dia tidak sanggup menunggu lama. Setelah itu, Rasulullah memberitahu puterinya, Fatimah, bahawa pemuda itu adalah "penghuni langit", yang cukup kental imannya dan sangat menyayangi ibunya yang sudah tua, lumpuh dan buta. Juga dalam buku, Maulana Uwais Ahmed Akhtarul Paderi, Riwayat Hidup dan Peristiwa Pada Zaman Uwais al-Qarni, P.Jaya: The Biblio Press, cetakan ke-4, 2024).
 
Uwais menggendong ibunya berjalan kaki dari Yaman ke Mekah untuk menunaikan ibadat haji. Uwais tidak mampu membeli unta untuk membawa mereka berdua untuk perjalanan yang sangat jauh itu, ribuan kilometer (antara 1200 hingga 1500 kilometer dalam kiraan masa kini, dan ia bergantung lokasi di Yaman). Uwais bertekad tidak mahu menghampakan hasrat ibunya, lalu beliau mula melakukan persiapan mental dan tenaga untuk memenuhi niat ibunya. Uwais membeli seekor anak lembu. Anak lembu itu kemudian diletakkan di atas sebuah puncak bukit.
 
Setiap pagi, Uwais mendaki bukit itu untuk menjaga anak lembu. Ia menjadi latihan fizikal berbulan-bulan lamanya, sehinggalah Uwais merasakan ada kemampuan untuk melakukan perjalanan yang panjang itu. Selain perjalanan yang panjang, Uwais juga harus memikirkan bagaimana untuk menanggung beban di belakangnya, dan latihan mendaki bukit itu ikut disusuli dengan membawa beban yang dianggarkan menyamai berat ibunya dan barang-barang yang akan dibawa.
 
Ada riwayat mengatakan, Uwais berlatih mendaki bukit selama lebih lapan bulan, sehingga anak lembu yang ditempatkan dipuncak bukit mencapai berat 100 kilogram. Mungkin itu menjadi anggaran beban yang akan digalasnya nanti, yakni menyamai berat ibunya yang sudah tua dan lumpuh. Uwais juga mengalami masalah kulit, yakni berpenyakit sopak. Kisah Uwais itu membawa makna satu lagi bentuk pengorbanan yang menjadi pengajaran kedua terbesar dalam ibadat haji.
 
Pada musim haji tahun ini, tersibar video tentang jemaah haji yang uzur dikendung oleh anak atau saudara mara yang ikut bersama mengerjakan haji. Menariknya, ada komen menyifatkan " ramai Uwais'; mereka berkorban tenaga dan sanggup berhadapan dengan cabaran menunaikan hasrat orang tua yang uzur untuk memenuhi rukun Islam kelima itu.
 
Pengorbanan pertama ialah kisah Nabi Ibrahim AS yang dengan rela sanggup mengorbankan anaknya, Nabi Ismail AS setelah mendapat perintah dari Allah SWT. Nabi Ismail AS yang ketika itu menginjak remaja tidak sedikit pun membantah apabila ayahnya menyatakan perintah tersebut. Bayangkan, Nabi Ibrahim AS yang mendapat cahaya mata ketika berusia 86 tahun dan isterinya, Hajar. Ketika berkahwin dengan Nabi Ibrahim, Hajar dikatakan masih muda dan lebih muda daripada isteri pertama, Sarah. Namun tidak ada riwayat tentang umur Hajar ketika berkahwin dengan Nabi Ibrahim.
 
Apa yang kita dapati ialah Nabi Ibrahim tidak pernah berhenti berdoa agar dikurniakan zuriat, dan sangat mengharapkan agar zuriat itu menjadi penyambung generasi. Setelah mendapat zuriat pertama, Nabi Ismail, Nabi Ibrahim tidak lama kemudian dikurniakan seorang lagi anak, dan kali ini menerusi isteri pertama, Sarah yang dikatakan juga sudah berusia. Anak itu ialah Ishak, yang kemudian diangkat menjadi Nabi Ishak, yang dipanggil Isaac oleh penganut Yahudi. Ishak pula mendapat zuriat dan dinamakan Yaacob, yang kelak menjadi Nabi Yaacob (Jacob), dan menjadi simbol kepada kelahiran bangsa Israel.
 
Kisah pengorbanan Nabi Ismail setiap kali khutbah Aidiladha menjadi kisah yang diungkapkan tentang pengorbanan, ketaatan dan memenuhi perintah Allah SWT. Ia bukan sekadar cerita lagenda, sebaliknya membawa makna bahawa pengorbanan sentiasa dituntut dalam kehidupan umat Islam. Ia meliputi pengorbanan terhadap apa yang kita ada untuk membolehkan fakir dan miskin merasai apa yang mereka tidak mampu. Ia bukan bermakna pengorbanan itu hanya sekadar menyembelih binatang ternakan pada hari Tasyrik.
 
Kalau bulan Ramadhan sebagai pengorbanan terhadap nafsu, maka dalam ibadat haji membawa pengorbanan puncak yang menjadi titik tolak keimanan seseorang terhadap rahmat yang Allah SWT berikan. Kita berkorban emosi, dengan tidak merasa marah, bosan, benci dan iri hati bila melihat sesuatu yang buruk berlaku. Kita menjadi seorang yang penyabar, dan juga seorang dermawan. Kita bersedia bersedekah tanpa kita rasa perlukan promosi sedangkan kedermawanan seseorang cukup tidak ikhlas bila mencari publisiti media dalam bulan Ramadhan.
 
Ketika mengharapkan peroleh haji mabrur setelah melakukan pertaubatan, memohon keampunan dan hapuskan dosa-dosa silam. Namun, setelah kembali daripada mengerjakan haji, ramai yang dilihat cukup alim dan berubah dalam tempoh beberapa minggu. Setelah masa berlalu, ada yang kembali kepada tabiatnya yang lama, tabiat yang tidak menepati Amar Makruf Nahi Mungkar. Kehidupan p@enuh dengan "menarik" pada untaian kata-kata tetapi melangkaui moral kehidupan "insan yang suci' walaupun sudah merasakan "disucikan" dalam ritual ibadat haji.
 
Sudah lupa pada makna tawaf mengelilingi Ka'bah, wukuf, saei, melontar (menghalau syaitan) dan sebagainya. Maka, ibadat haji itu seumpama kembara rohani, yang tujuannya membaiki jiwa dan nuraini ke Jalan Allah. Tetapi, kerana setelah kepulangan ke tanah air tidak banyak mengubah tabiat dan perilaku, ianya hanyalah sekadar pelancongan spiritual, tidak membawa kepada kelahiran "insan yang suci'".
 
Tentunya, "insan yang suci'" seumpama "bayi", suci dosa silam dan berada dalam batasan diri, dekat dengan perintah Allah SWT. Ramai yang berkata: bagaimana boleh diibaratkan sebagai bayi sedangkan diri sudah dewasa? Bayi tidak ada tanggungjawab, tetapi kita sentiasa dihadapkan dengan tanggungjawab: kepada diri, kepada ahli keluarga, kepada masyarakat, kepada negara, dan terbesar adalah kepada-Nya.
 
"Kami ke sini, atas janji-Mu; juga kerana rasa tanggungjawabku dalam memenuhi seruan-Mu.
 
Kami ke sini, tidak mahu berpisah dengan-Mu, dalam hati, fikir dan Nurani. Engkaulah yang menentukan, apa yang akan kuhadapi sekembalinya nanti: Engkau yang kuharapkan, dalam sedar dan lena. "
 
Sebenarnya, kami sedang diuji dengan kesabaran kerana pengorbanan itu juga adalah sisi-sisi terbesar dalam kamus kesabaran. Tanpa kesabaran, tidak ada pengorbanan. Umpama dalam perkahwinan, dengan pengorbanan emosi, ego ia akan membentuk "kebahagiaan" kerana 'kebahagiaan" hadir setelah kita berusaha menjadi seorang yang penyabar dan tidak berkelakuan untuk memenuhi tuntutan ego sendiri.
 
Lantunan itu mengibnatkan pada sebuah puisi harapan Jalaludin Rumi:
"Semalaman aku bersumpah
kusangkakan sampah demi hidup-Mu
Aku tidak akan berpaling pandang dari wajah-Mu
Bila Engkau memukul dengan pedang
aku tidak akan berganjak dari-Mu
Aku tidak akan mencari sembuh dari yang lain
kepedihanku ialah kerana berpisah dengan-Mu
Bila Engkau akan melemparkan aku ke dalam api
aku bukan Mukmin bila berdengki
Aku bangkit dari jalan-Mu
bagi debu
kini aku kembali
ke debu jalan-Mu."
 
"Sumpah Setia", dari Kasidah Cinta Jalaludin Rumi, Yogyakarta: Narasi-Terawang Press, cetak kedua, 2026, hal.213-214).

UKURAN HAJI MABRUR

Ibadat haji merupakan kewajipan bagi umat Islam yang mampu dan menjadi rukun Islam kelima. Tentunya setiap kewajipan yang ditetapkan oleh Allah SWT mempunyai hikmahnya, dan kerana itulah setiap orang Islam bercita-cita untuk menunaikan ibadat tersebut sekurang-kurangnya sekali seumur hidup.

Secara jelasnya, ibadat haji yang disyariatkan sebagai rukun Islam adalah berasaskan beberapa falsafah bagi menghindarkan diri dari sebarang bentuk permusuhan, kesedaran sosial, menghapuskan hasad dengki dan sebagai proses pembersihan diri daripada pelbagai kekotoran perilaku ataupun tuturkata.

Setiap kali musim haji tiba, kita dengan sedarnya mengetahui berhimpunnya umat manusia dari pelbagai latar belakng, geografi dan warna kulit berhimpun dalam satu tujuan, iaitu mengabdikan diri kepada Allah SWT menerusi amalan dan niat yang tulus ikhlas agar seusainya peribadatan tersebut, ia akan membentuk akhlak dan peribadi kita seolah-olah dilahirkan kembali dalam keadaan serba bersih dan suci.

Ibadat haji merupakan kemuncak penyerahan diri manusia sebagai hamba kepada Allah SWT dan pada ketika itu, segala urusan keduniaan dilupakan dengan rela hati. Seluruh waktu digunakan untuk melakukan pelbagai ritual dan dihabiskan dengan mengingati kebesaran nikmat yang telah dianugerahkan sepanjang hidup agar memperoleh keberkatan-Nya sebagai bekalan memburu syurga di alam yang lebih kekal.

Setiap muslimin akan menggunakan satu bentuk bahasa yang penuh makna penyerahan sebagai perjumpaan kudus dengan Allah SWT. Sebaik sahaja memulakan langkah pertama menuju ke tempat berkumpul sebelum berangkat ke Tanah Suci, bermula dengan doa selamat agar sepanjang tempoh peribadatan itu mendapat Haji Mabrur.

Maksud Haji Mabrur ialah ibadah haji yang mendapat kebaikan daripada Allah SWT. Dari segi istilah, mabrur membawa dua maksud, iaitu bersih, suci dan baik; dan diterima dan mendapat keredhaan Allah SWT. Ini membawa maksud, haji mabrur itu berlaku dalam keadaan yang baik, suci dan bersih kerana sifat-sifat tersebut itulah yang menjadi tujuan dalam setiap perintah-Nya. Haji mabrur ialah haji yang memperoleh kebaikan oleh pelakunya hasil pengamalan ritual kepada Allah SWT dengan hati yang bersih, suci dan kudus.

Haji mabrur merupakan haji yang sangat mulia dan berharga justeru ia menjadi harapan setiap orang yang beriman. Dalam hubungan ini Rasulullah SAW bersabda yang bermaksud; Dari umrah ke umrah adalah penghapus dosa di antara kedua-duanya. Dan haji mabrur ada balasannya iaitu syurga. (Hadis riwayat Bukhari dan Muslim).

Dalam konteks haji, dikatakan ibadat haji yang lengkap memerlukan mujahadah iaitu satu usaha yang bersungguh-sungguh untuk mencapai musyahadah kesedaran, barulah dapat disebut haji mabrur.

Dalam ibadah haji yang menjadi ukuran mabrur atau tidak ialah dengan ukuran seberapa banyak amal ibadah haji yang telah dilakukan itu berupaya melahirkan suatu kesedaran moral dan spirituil yang dapat pula melahirkan semangat untuk melakukan perkara-perkara kebaikan sehingga berjaya mengubah diri daripada sikap negatif kepada sikap positif.Dari sikap tamak kepada pemurah dari sikap sombong kepada rendah diri,dari bakhil kepada pemurah

Disebutkan dalam sahih Muslim, bahawa Rasulullah ditanya tentang kebaikan. ``Baginda menjawab, akhlak yang baik.'' Ibnu Umar pula berkata, ``Sesungguhnya kebaikan merupakan sesuatu yang mudah, iaitu wajah yang berseri dan perkataan yang lembut.'' Perilaku seperti inilah yang seharusnya menjadi perhiasan seseorang ketika mengerjakan ibadah haji. Ia harus sentiasa menjalinkan hubungan sesama manusia dengan kata-kata dan perlakuan yang terpuji.

Mereka yang memperoleh haji mabrur, sebaik sahaja selesai mengerjakan ritual itu dengan tekun dan penuh keinsafan akan memperoleh ketenangan psikologi sehinggalah apabila kembali semula ke kampung halaman, akan menceritakan pengalaman tersebut sebagai sesuatu yang amat berkesan dan terbaik sepanjang hayat. Kerana itulah setiap daripada mereka bertekad, jika boleh dan berkemampuan akan melakukan ibadat tersebut untuk kesekian kalinya. Mereka sanggup meletakkan azam itu dengan kesungguhan dan mula menabung semula agar berjaya menjadi tetamu Allah SWT di rumah-Nya.

Rindu begitu mendalam untuk berada di kota Mekah dan Madinah, dua buah kota yang begitu suci dalam setiap hati umat Islam sehinggakan mereka mudah boleh memaafkan jika berlaku sebarang masalah dan kekurangan sepanjang tempoh peribadatan, kerana ia adalah satu bentuk percubaan Allah SWT mengenai kesabaran manusia. Maka, ketika itulah setiap muslim menjadi seorang yang berjiwa pemaaf, penuh kesyukuran dan redha dengan apa musibah yang menimpa.

Sepanjang mengerjakan ibadat haji, umat Islam sebenarnya sedang berkelana menuju ke rumah Allah dan sebagai tetamu-Nya, kita akan menyaksikan begitu banyaknya manfaat sama ada bersifat duniawi ataupun ukhrawi. Ia memberikan satu pengalaman yang paling berharga dan amat bernilai dalam kehidupan.

Saat itulah setiap muslim akan menghargai keseluruhan dimensi kehidupan kerana setiap aspek positifnya akan diterjemahkan sebaik mungkin. Ia dijadikan kerangka dan pedoman dalam meneruskan hari-hari berikutnya dengan penuh keinsafan agar mampu meraih pahala dan keredhaan Allah SWT.

Ibadat haji juga turut mengajak manusia untuk mengimbas semula sejarah lama yang penuh dengan ketekunan dan pengorbanan para nabi yang diutuskan untuk membimbing manusia ke jalan kebaikan. Sejarah permulaan ibadat haji tetap dikaitkan dengan Nabi Ibrahim AS dan keluarganya, dan kerana itulah selepas mengerjakan wukuf, umat Islam diwajibkan berkorban dengan menyembelihkan binatang ternakan.

Di samping semangat pengorbanan dan keredhaan Nabi Ismail AS terhadap mimpi ayahandanya sendiri, Nabi Ibrahim AS, kisah sedih yang menimpa Siti Hajar yang mundar-mandir mencari air untuk diminum oleh anaknya yang terlalu haus turut dibawa pulang oleh jemaah haji dengan penuh hormat dan keinsafan.

Air zam-zam akan dibahagi-bahagikan kepada sanak saudara dan kenalan sekembalinya ke tanah air dengan harapan ada keberkatannya. Para sanak saudara yang menerima seteguk dua air zam-zam itu secara automatisnya mengingatkan kisah itu. Semangat tawakal Siti Hajar yang dijelmakan menerusi saei Safa dan Marwah menjadi petunjuk kesabaran dan penyerahan kasih sayang hamba. Atas kasih sayang itulah Allah SWT kemudiannya menganugerahkan pancuran air di tengah padang pasir bukan sahaja sebagai penghilang dahaga bahkan lambang ketenangan dan kemenangan dalam kesabaran.

Dalam keadaan bermusafir, terserlah peribadi sebenar seseorang terutama apabila berhadapan dengan dugaan dan cabaran. Ada ketikanya kita mendengar, oleh kerana berlaku sedikit penyimpangan dalam urusan sebelumnya, orang berkenaan ditimpa musibah, kesesatan walaupun jalan yang dilalui itu adalah jalan yang sama setiap masa, orang itu tidak menemui jalan pulang. Ada yang sesat hingga ketika kemuncak ibadat haji menyebabkan tidak memperoleh haji mabrur.

Sepanjang bergaul dan berinteraksi dengan pelbagai jenis manusia di musim haji, pelbagai tingkah laku diterima sehingga boleh menggoreskan hati dan menyinggung perasaan. Tidak kurang juga dengan mereka yang benar-benar mempunyai akhlak yang mulia, menunjukkan perilaku yang penuh empati dan prihatin. Jiwanya suci bersih tanpa paksaan menghulurkan kerjasama dan pertolongan atas keinsafannya membantu sesama manusia.

Itulah yang sepatutnya berlaku kepada kita semua. Sepatutnya, selepas memasuki madrasah haji dan menerima panggilan nama di depan sebagai Tuan Haji atau Puan Hajjah, iaitu sudah bergraduasi dengan kemabrurannya, kita berubah lebih baik dan tidak mengulangi kesilapan-kesilapan terdahulu. Kita pulang membawa misi mabrur maka seluruh kehidupan dan masa-masa yang kita lalui kemudiannya mestilah memakaikan seluruh sifat mahmudah, bersalaman dan menyemaikan peradaban salam, sebagaimana diteladani oleh Rasullullah SAW.

Apakah sekembalinya dari tanah suci, masih ada keangkuhan di dalam jiwa? Masih terasa adanya perbezaan darjat kemanusiaan? Masih ingin hipokrit menindas orang lain? Masih mahu berpura-pura alim tetapi hakikatnya jahil. Kalau masih ada maka kita masih mengenakan pakaian biasa dan belum menanggalkannya.

Seseorang yang pulang dari menunaikan haji, bukan sahaja merasakan dirinya kembali ke fitrah kesucian tetapi juga tumbuh dalam dirinya perasaan menjadi sebahagian daripada satu masyarakat dunia bernama bangsa Muslim. Suatu bangsa yang merapatkan barisan atas landasan tauhid yang menyatukan raja dan rakyat jelata, ulama dan kaum dhuafa, jeneral dengan rakyat jajahan.

HAJI MABRUR: KESATUAN MATLAMAT DAN KEMUNCAK PERIBADATAN

Ibadat haji merupakan kewajipan bagi umat Islam yang mampu dan menjadi rukun Islam kelima. Tentunya setiap kewajipan yang ditetapkan oleh Allah SWT mempunyai hikmahnya, dan kerana itulah setiap orang Islam bercita-cita untuk menunaikan ibadat tersebut sekurang-kurangnya sekali seumur hidup. 

Secara jelasnya, ibadat haji yang disyariatkan sebagai rukun Islam adalah berasaskan beberapa falsafah bagi menghindarkan diri dari sebarang bentuk permusuhan, kesedaran sosial, menghapuskan hasad dengki dan sebagai proses pembersihan diri daripada pelbagai kekotoran perilaku ataupun tuturkata.

Setiap kali musim haji tiba, kita dengan sedarnya mengetahui berhimpunnya umat manusia dari pelbagai latar belakang, geografi dan warna kulit berhimpun dalam satu tujuan, iaitu mengabdikan diri kepada Allah SWT menerusi amalan dan niat yang tulus ikhlas agar seusainya peribadatan tersebut, ia akan membentuk akhlak dan peribadi kita seolah-olah dilahirkan kembali dalam keadaan serba bersih dan suci.

Ibadat haji merupakan kemuncak penyerahan diri manusia sebagai hamba kepada Allah SWT dan pada ketika itu, segala urusan keduniaan dilupakan dengan rela hati. Seluruh waktu digunakan untuk melakukan pelbagai ritual dan dihabiskan dengan mengingati kebesaran nikmat yang telah dianugerahkan sepanjang hidup agar memperoleh keberkatan-Nya sebagai bekalan memburu syurga di alam yang lebih kekal.

Setiap muslimin akan menggunakan satu bentuk bahasa yang penuh makna penyerahan sebagai perjumpaan kudus dengan Allah SWT. Sebaik sahaja memulakan langkah pertama menuju ke tempat berkumpul sebelum berangkat ke Tanah Suci, bermula dengan doa selamat agar sepanjang tempoh peribadatan itu mendapat Haji Mabrur.

Maksud Haji Mabrur ialah ibadah haji yang mendapat kebaikan daripada Allah SWT. Dari segi istilah, mabrur membawa dua maksud, iaitu bersih, suci dan baik; dan diterima dan mendapat keredhaan Allah SWT. Ini membawa maksud, haji mabrur itu berlaku dalam keadaan yang baik, suci dan bersih kerana sifat-sifat tersebut itulah yang menjadi tujuan dalam setiap perintah-Nya. Haji mabrur ialah haji yang memperoleh kebaikan oleh pelakunya hasil pengamalan ritual kepada Allah SWT dengan hati yang bersih, suci dan kudus.

Haji mabrur merupakan haji yang sangat mulia dan berharga justeru ia menjadi harapan setiap orang yang beriman. Dalam hubungan ini Rasulullah SAW bersabda yang bermaksud; Dari umrah ke umrah adalah penghapus dosa di antara kedua-duanya. Dan haji mabrur ada balasannya iaitu syurga. (Hadis riwayat Bukhari dan Muslim).

Dalam konteks haji, dikatakan ibadat haji yang lengkap memerlukan mujahadah iaitu satu usaha yang bersungguh-sungguh untuk mencapai musyahadah kesedaran, barulah dapat disebut haji mabrur.

Dalam ibadah haji yang menjadi ukuran mabrur atau tidak ialah dengan ukuran seberapa banyak amal ibadah haji yang telah dilakukan itu berupaya melahirkan suatu kesedaran moral dan spirituil yang dapat pula melahirkan semangat untuk melakukan perkara-perkara kebaikan sehingga berjaya mengubah diri daripada sikap negatif kepada sikap positif.Dari sikap tamak kepada pemurah dari sikap sombong kepada rendah diri,dari bakhil kepada pemurah

Disebutkan dalam sahih Muslim, bahawa Rasulullah ditanya tentang kebaikan. ``Baginda menjawab, akhlak yang baik.'' Ibnu Umar pula berkata, ``Sesungguhnya kebaikan merupakan sesuatu yang mudah, iaitu wajah yang berseri dan perkataan yang lembut.'' Perilaku seperti inilah yang seharusnya menjadi perhiasan seseorang ketika mengerjakan ibadah haji. Ia harus sentiasa menjalinkan hubungan sesama manusia dengan kata-kata dan perlakuan yang terpuji.

Mereka yang memperoleh haji mabrur, sebaik sahaja selesai mengerjakan ritual itu dengan tekun dan penuh keinsafan akan memperoleh ketenangan psikologi sehinggalah apabila kembali semula ke kampong halaman, akan menceritakan pengalaman tersebut sebagai sesuatu yang amat berkesan dan terbaik sepanjang hayat. Kerana itulah setiap daripada mereka bertekad, jika boleh dan berkemampuan akan melakukan ibadat tersebut untuk kesekian kalinya. Mereka sanggup meletakkan azam itu dengan kesungguhan dan mula menabung semula agar berjaya menjadi tetamu Allah SWT di rumah-Nya.

Rindu begitu mendalam untuk berada di kota Mekah dan Madinah, dua buah kota yang begitu suci dalam setiap hati umat Islam sehinggakan mereka mudah boleh memaafkan jika berlaku sebarang masalah dan kekurangan sepanjang tempoh peribadatan, kerana ia adalah satu bentuk percubaan Allah SWT mengenai kesabaran manusia. Maka, ketika itulah setiap muslim menjadi seorang yang berjiwa pemaaf, penuh kesyukuran dan redha dengan apa musibah yang menimpa.

Sepanjang mengerjakan ibadat haji, umat Islam sebenarnya sedang berkelana menuju ke Rumah Allah dan sebagai tetamu-Nya, kita akan menyaksikan begitu banyaknya manfaat sama ada bersifat duniawi ataupun ukhrawi. Ia memberikan satu pengalaman yang paling berharga dan amat bernilai dalam kehidupan.

Saat itulah setiap muslim akan menghargai keseluruhan dimensi kehidupan kerana setiap aspek positifnya akan diterjemahkan sebaik mungkin. Ia dijadikan kerangka dan pedoman dalam meneruskan hari-hari berikutnya dengan penuh keinsafan agar mampu meraih pahala dan keredhaan Allah SWT.

Ibadat haji juga turut mengajak manusia untuk mengimbas semula sejarah lama yang penuh dengan ketekunan dan pengorbanan para nabi yang diutuskan untuk membimbing manusia ke jalan kebaikan. Sejarah permulaan ibadat haji tetap dikaitkan dengan Nabi Ibrahim AS dan keluarganya, dan kerana itulah selepas mengerjakan wukuf, umat Islam diwajibkan berkorban dengan menyembelihkan binatang ternakan.

Di samping semangat pengorbanan dan keredhaan Nabi Ismail AS terhadap mimpi ayahandanya sendiri, Nabi Ibrahim AS, kisah sedih yang menimpa Siti Hajar yang mundar-mandir mencari air untuk diminum oleh anaknya yang terlalu haus turut dibawa pulang oleh jemaah haji dengan penuh hormat dan keinsafan.

Air zam-zam akan dibahagi-bahagikan kepada sanak saudara dan kenalan sekembalinya ke tanah air dengan harapan ada keberkatannya. Para sanak saudara yang menerima seteguk dua air zam-zam itu secara automatisnya mengingatkan kisah itu. Semangat tawakal Siti Hajar yang dijelmakan menerusi saei Safa dan Marwah menjadi petunjuk kesabaran dan penyerahan kasih sayang hamba. Atas kasih sayang itulah Allah SWT kemudiannya menganugerahkan pancuran air di tengah padang pasir bukan sahaja sebagai penghilang dahaga bahkan lambang ketenangan dan kemenangan dalam kesabaran.

Dalam keadaan bermusafir, terserlah peribadi sebenar seseorang terutama apabila berhadapan dengan dugaan dan cabaran. Ada ketikanya kita mendengar, oleh kerana berlaku sedikit penyimpangan dalam urusan sebelumnya, orang berkenaan ditimpa musibah, kesesatan walaupun jalan yang dilalui itu adalah jalan yang sama setiap masa, orang itu tidak menemui jalan pulang. Ada yang sesat hingga ketika kemuncak ibadat haji menyebabkan tidak memperoleh haji mabrur.

Sepanjang bergaul dan berinteraksi dengan pelbagai jenis manusia di musim haji, pelbagai tingkah laku diterima sehingga boleh menggoreskan hati dan menyinggung perasaan. Tidak kurang juga dengan mereka yang benar-benar mempunyai akhlak yang mulia, menunjukkan perilaku yang penuh empati dan prihatin. Jiwanya suci bersih tanpa paksaan menghulurkan kerjasama dan pertolongan atas keinsafannya membantu sesama manusia.

Itulah yang sepatutnya berlaku kepada kita semua. Sepatutnya, selepas memasuki madrasah haji dan menerima panggilan nama di depan sebagai Tuan Haji atau Puan Hajjah, iaitu sudah bergraduasi dengan kemabrurannya, kita berubah lebih baik dan tidak mengulangi kesilapan-kesilapan terdahulu. Kita pulang membawa misi mabrur maka seluruh kehidupan dan masa-masa yang kita lalui kemudiannya mestilah memakaikan seluruh sifat mahmudah, bersalaman dan menyemaikan peradaban salam, sebagaimana diteladani oleh Rasullullah SAW.

Apakah sekembalinya dari tanah suci, masih ada keangkuhan di dalam jiwa? Masih terasa adanya perbedaan darjat kemanusiaan? Masih ingin hipokrit menindas orang lain? Masih mahu berpura-pura alim tetapi hakikatnya jahil. Kalau masih ada maka kita masih mengenakan pakaian biasa dan belum menanggalkannya.

Seseorang yang pulang dari menunaikan haji, bukan sahaja merasakan dirinya kembali ke fitrah kesucian tetapi juga tumbuh dalam dirinya perasaan menjadi sebahagian daripada satu masyarakat dunia bernama bangsa Muslim. Suatu bangsa yang merapatkan barisan atas landasan tauhid yang menyatukan raja dan rakyat jelata, ulama dan kaum dhuafa, jeneral dengan rakyat jajahan.

Landasan tauhid juga menjadikan mereka bersaudara di antara orang Arab dan orang Melayu, perantau Cina dan mualaf Eropah, hamba Afrika dan pedagang India. Muncul di dada setiap haji bahawa dirinya sebahagian daripada satu kekuatan yang besar. Sesungguhnya haji yang telah menjadikan globalisasi antara Mekah, Mina, Arafah serta Madinah

Hubungi Kami

Alamat:
No.5B, Jalan 3/70 Damai Point, Seksyen 3, 43650 Bandar Baru Bangi. Selangor

Telefon: +60 17-377 7732
Email: alfalahmadani2022 [@] gmail.com

Jumlah Pengunjung

053652
Hari ini: 321
Minggu Ini: 1,117
Bulan Ini: 6,746
Tahun Ini: 53,652
Tahun Lepas: 52,147
Image

Alfalahmadani.my merupakan sebuah portal yang bertanggungjawab untuk bertindak sebagai penampan bagi setiap tuduhan, fitnah, kekeliruan, ketidakfahaman dan kecelaruan yang berlegar di minda rakyat. Sama ada isu-isu yang timbul secara organik di media sosial, ataupun yang didorong sebagai naratif oleh pihak-pihak tertentu,

Alfalahmadani.my akan menjawab setiap permasalahan dengan pengetahuan, kebijaksanaan dan kebenaran. Tentunya, kehadiran Alfalahmadani.my bukan berhasrat menyatakan kesempurnaan pemikiran, tetapi sebagai wahana untuk menuju kesempurnaan pengetahuan dalam konteks pemikiran semasa, dan kebijaksanaan yang mampu diusahakan.