PENJARAKAN LISANMU

Imam An-Nawawi –rahimahullah– mengatakan, “Ketahuilah, patut bagi setiap orang untuk menjaga lisannya dari setiap perkataan, kecuali perkataan yang dia yakin perkataan itu mempunyai kebaikan, dan jika perkataan tersebut tidak ada kebaikannya, maka hendaknya ia tahan lisannya. Karena perkataan yang mubah pun dapat terseret menjadi perkataan yang haram atau makruh. Bahkan, ini sering terjadi dan sudah menjadi kebiasaan di tengah masyarakat. Dan keselamatan itu tidaklah ternilai harganya.” (Al-Adzkar, halaman 284).

Sering kali kita ketahui di masyarakat, apabila kita mendengar sedang bercakap kepada temannya tentang seseorang, mungkin percakapan tersebut diawali oleh sesuatu yang dibolehkan. Tapi hawa nafsu dirinya dapat menyeret perkataan tersebut menjadi perkataan yang haram seperti ghibah atau namimah. Atau jika kita temui penjual yang menawarkan barangnya, mungkin diawali dengan perkataan yang mubah, namun hawa nafsu dirinya menyeret perkataan tersebut menjadi perkataan yang haram semisal sumpah palsu, dusta, an-najsy, dan yang lain. Mungkin kita temui seseorang sedang membicarakan tentang politik. Kita temua mereka membicarakan hal yang mubah, namun bisa jadi hawa nafsu mereka menyeret perkataan tersebut menjadi debat yang tercela. Bahkan perkataan haram tersebut bisa menjadi hal yang lebih banyak keharamannya daripada yang mubah. 

Maka ketahuilah, selamat dari itu semua, selamat dari lisan yang kotor, selamat dari penyimpangan, dosa, dan kejelekkan itu tidak ternilai harganya.

Dan Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasalam bersabda, “Di antara baiknya Islam seseorang adalah meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat” (H.R At-Tirmidzi dan Ibnu Majah).

Siapa yang tidak menyibukkan diri dengan hal bermanfaat, maka dia akan tersibukkan denga hal yang berbahaya.

Jatuhnya seseorang karena lisan.
Selayaknya seorang yang ingin memiliki keislaman yang baik, ia meninggalkan perkataan-perkataan yang tidak ada manfaat baginya. ‘Mulutmu adalah harimaumu.’ Betapa banyak orang yang terjatuh disebabkan lisannya. Seseorang jatuh boleh disebabkan kakinya, namun luka di kaki tidak memerlukan waktu yang lama untuk sembuh, namun seseorang boleh kehilangan kepalanya karena lisannya. Banyak orang yang dihukum, bahkan dengan hukuman mati disebabkan karena lisannya. Bisa karena lisannya yang kotor, fitnah, dusta dan yang lainnya hingga karena lisannya hilanglah kepalanya.

Sepatutnya seorang muslim tidaklah mengeluarkan kata-kata yang tidak jelas. Wajib baginya menjaga kata-kata dengan tidak berbicara, kecuali dengan perkara yang menguntungkan dan menambah iman dan takwanya. Jika ingin berkata hendaklah menimbang ada faidah atau tidak. Jika tidak, hendaklah tahan lidahnya. Jika iya maka timbanglah yang kedua. Janganlah dia buang sesuatu yang lebih menguntungkan dibanding yang kurang menguntungkan.

Lalai dalam menjaga lisan.
Satu hal yang mengherankan, mudah bagi banyak orang jaga diri dari makan yang haram, uang yang haram, yang katanya enak sekali pun. Bisa menjaga diri dari kedholiman, zina, mencuri, minum khamr, memandang yang haram. Namun sulit baginya menjaga lisan. Jika masyarakat ditanya siapa yang bagus agamanya adalah dia, namun ternyata dia berbicara dengan perkataan yang dibenci Allah tanpa kawalan. Seorang boleh turun karena satu ucapan, dan dia akan jatuh ke neraka dengan jarak yang sangat jauh.

Penyakit lisan juga merupakan penyakitnya orang-orang sholih
Banyak orang yang jaga diri dari perbuatan keji. Namun lidahnya terjulur membahas kehormatan orang yang hidup atau mati tanpa peduli. Penyakit lisan adalah penyakitnya orang-orang shalih. Jika Anda ingin mengetahuinya, maka lihatlah pada hadits dari Jundab radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasalam bersabda,
“Ada seseorang berkata, ‘Demi Allah, Allah tidak akan mengampuni si Fulan.’ Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, ‘Siapakah yang telah bersumpah mendahuluiKu bahwa Aku tidak akan mengampuni si Fulan? Sungguh, Aku telah mengampuni si Fulan dan menghapuskan amal kebajikanmu.’” (H.R Muslim).

Hadits ini bercerita tentang orang Bani Israil, ahli ibadah dan ahli maksiat. Ahli ibadah sering memberi nasihat. Suatu ketika si ahli maksiat berkata, “Jangan campuri urusannya.” Maka ahli ibadah marah, dan mengatakan, “Demi Allah, Allah tidak akan mengampuni si fulan.” Dan Nabi ceritakan tentang kisah ini. Seorang ahli ibadah, yang dia menjadi seorang alim dan mengumpulkan amal ibadahnya dalam waktu yang sangat lama, maka dihapuslah gara-gara satu baris kalimat yang dia katakan. Dan menjadi sebab amalan yang puluhan tahun dihapus semata-mata karena satu kalimat.

Kerusakan lisan adalah kerusakan yang paling besar.
Ibnu Masud bersumpah “Demi Allah tidak ada sesuatu di bumi ini yang membutuhan penjara dalam waktu yang lama, selain lidahku.” (Jaami’ Ulumu wal Hikaam, halaman 241)

Dan sedarilah anggota badan yang paling mudah bergerak adalah lisan. Dan lisan pulalah yang kerusakannya paling besar. Tidak ada perkataan yang pergi tanpa manfaat. Di hari kiamat, ada yang membawa pahala sebesar gunung, namun lisannya menghancurkan seluruh amalnya. Ada juga orang yang mempunyai segunung kesalahan, dan dia berdzikir, maka terhapuslah segunung kesalahannya.


Sumber: Muslimah.or.id

FILOSOFI TANAH

Eksistensi tanah begitu familiar. Semua tahu asal (proses) penciptaan, hidup di atas tanah, dan kembali ke tanah. Meski sederhana, kehadiran tanah bisa memberi manfaat bila digarap dengan bijak.

Namun, tanah bisa berakibat mudharat bila kepemilikannya diperebutkan atau dikuasai secara zalim dan serakah. 

Dalam Islam, alam semesta merupakan ayat-Nya. Ayat kauniyah yang dihamparkan begitu nyata dan dekat, tapi hanya sedikit yang mau dan mampu memahaminya. Di antara ayat kauniyah yang diperlihatkan-Nya adalah tanah. Adapun nilai filosofi tanah antara lain :

Pertama, Tanah memberikan kehidupan (awal kehidupan) dan menjadi tempat akhir kehidupan. Bak pepatah mengingat-kan "dari tanah, kembali ke tanah". Hal ini sesuai firman-Nya : "Dari bumi (tanah) itu-lah Kami menciptakan kamu dan kepada-nya Kami akan mengembalikan kamu dan daripadanya Kami akan mengeluarkan kamu pada kali yang lain" (QS. Thaha : 55).

Menurut Ibn Katsir, ayat di atas menjelas-kan tentang siklus kehidupan manusia. Asal penciptaan dari tanah, hidup di atas tanah, dan kembalinya jasad (dikubur) da-lam tanah sebelum dibangkitkan kembali setelah kiamat tiba. Sungguh, tanah simbol kehidupan manusia. Bila hadir sosok manusia yang baik, maka kehadirannya akan memberi manfaat pada sesama. Tapi, bila tampil sosok manusia nista, maka kemudharatan yang akan dibawa dan menghancurkan peradaban. Hal ini dinyatakan melalui firman-Nya : "Dan tanah yang baik, tanaman-tanamannya tumbuh subur dengan izin Tuhan; dan tanah yang buruk, tanaman-tanamannya hanya tumbuh merana..." (QS. al-A'raf : 58). Ibn Katsir menafsirkan ayat di atas sebagai perumpamaan kondisi hati (sifat) manusia dalam menerima hidayah dan ilmu. Sifat yang diibaratkan seperti perbedaan jenis tanah tatkala disiram air hujan. Bila hati suci akan tumbuh subur kebaikan (amal saleh). Pohonnya rindang dengan buah yang lebat. Sebaliknya, bila hati kotor akan tumbuh benalu. Pohonnya berulat dengan buah yang busuk berbelatung. Pohon yang layak untuk ditebang dan dimusnahkan.

Kedua, Tanah begitu tabah (sabar). Meski diinjak-injak, tapi tak pernah mengeluh dan balas dendam. Sifat ini merupakan per-umpamaan (metafora) filosofis tentang kesabaran tingkat tinggi. Dalam Islam, sifat tabah dan tidak membalas dendam merujuk pada konsep sabar (ash-shabr) dan memaafkan (al-'afwu). Sungguh, tanah telah mengimplementasikan firman-Nya :  “...Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas” (QS. az-Zumar : 10).

Imam al-Qurthubi menjelaskan bahwa ayat di atas berisi seruan agar sabar dalam ke-taatan akan menerima ganjaran pahala yang tidak terhitung jumlahnya.  Melalui "ayat tanah", Allah mengajarkan sifat mulia tanah (memberi manfaat, menopang kehidupan, dan bersabar ketika manusia memperlakukannya secara zalim). Hal ini seyogyanya menjadi cermin dan refleksi diri agar manusia memiliki kerendahan hati (tawadhu') dan ketabahan, tanpa  kehilangan (terjual) harga diri.

Ketiga, Tanah akan murka bila keserakahan dan kezaliman melampaui batas. Suatu saat, tanah akan melepaskan amarahnya. Bila ia tak mau lagi menyerap air, maka air akan meluluhlantakkan semuanya. Terjadi banjir bandang dan longsor. Semua akibat murka alam atas ulah manusia yang serakah dan sombong. Keserakahan eks-ploitasi hutan dan abrasi pantai membuat tanah muak dengan perilaku manusia. Meski tanah tak dendam, tapi ia akan men-jelaskan semua kebenaran janji-Nya bagi manusia yang serakah. Hal ini dinyatakan dalam firman-Nya :"Telah nampak kerusak-an di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)" (QS. ar-Rum : 41).

Imam al-Qurthubi menafsirkan ayat di atas sebagai bentuk hilangnya keberkahan di semua aspek akibat perbuatan manusia yang menyebarkan kezaliman di muka bumi. Akibatnya akan dirasakan seluruh manusia yang membiarkan terjadinya kemaksiatan. Murka-Nya bisa dalam bentuk kekeringan, paceklik, berkurangnya tanaman, hilangnya keberkahan rezeki akibat kemusyrikan, kemaksiatan, dan kezaliman. Kesemua azab akan ditimpa-kan agar manusia menjadi sadar, segera bertobat, dan kembali ke jalan Allah.

Keempat, Tanah tak pernah membuka aib manusia. Padahal, aroma "bangkai" tubuh manusia begitu busuk dan menyengat. Dengan sabar, tanah menutupnya rapat. Berbeda sifat manusia. Bau orang lain tercium busuk dan dibuka, tapi lupa pada bau dirinya yang lebih busuk dan sangat menyengat.

Ketika manusia kembali ke tanah (mati), tanah akan menyambutnya dengan sam-butan berbeda. Bagi manusia pemilik kebaikan, tanah akan "memeluknya" lembut dengan rahmat-Nya. Hal ini dinyatakan Rasulullah ﷺ melalui sabdanya : "Dilapangkan baginya kuburnya sejauh mata memandang, dan kuburnya diterangi cahaya..." (HR. Tirmidzi)

Sifat tanah yang menutup kebusukan ma-nusia menjadikannya hamba yang patuh. Hal ini merupakan cermin hamba yang mengimplementasikan sabda Rasulullah ﷺ : "Barang siapa menutupi aib seorang Muslim, Allah akan menutupi aib orang tersebut di dunia dan akhirat" (HR. Ibnu Majah, Muslim, dan Bukhari).

Sifat mulia yang diajarkan-Nya melalui sifat tanah. Namun, meski manusia hidup di atas tanah, tapi jauh dari sifat tanah. Di era digital, manusia acapkali bangga bila bisa membuka aib sesama. Sementara, bila aibnya terbuka, sejuta alasan dimuncul-kan dan ranah hukum ditempuh. Manusia seakan melupakan adanya kehidupan di alam barzah. Sebab, bagi manusia fasik, munafik, kufur, zalim, serakah, dan varian lainnya, meski tanah akan menutupi bau busuk dirinya, tapi tanah akan menghimpitnya dengan kasar sebagai bentuk murka-Nya. Bahkan,  tulang-tulangnya hancur saling berhimpitan. Siksa ini dikhabarkan oleh Rasulullah ﷺ melalui sabdanya "Dikatakan kepada bumi, himpitlah dia, maka dihimpitlah jenazah tersebut sampai tulang rusuknya berserakan, dan ia akan selalu merasakan azab sampai Allah bangkitkan dari tempat tidurnya tersebut" (HR. at-Tirmidzi).

Meski ayat-Nya dan sabda Rasulullah ﷺ diketahui begitu jelas, namun segelintir manusia justeru dengan angkuh melang-garnya. Sungguh, manusia telah melapaui batas sebagai manusia yang berakal. Hal ini telah mencampakan derajat manusia sebagai hamba yang hina nista melebihi hewan (QS. al-A'raf : 179).

Berbagai pelanggaran yang terjadi acapkali melibatkan "kooperasi" (kerjasama banyak pihak) yang secara sadar dan bersama-sama melanggengkan  berbagai bentuk kemungkaran. Anehnya, sebagiannya justeru dilakukan oleh kaum cendekia yang secara ilmu lebih tau, ekonomi begitu mapan, dan status mumpuni. Mungkin, semua ini merupakan jawaban atas kekhawatiran Rasulullah ﷺ yang disampaikan melalui sabdanya : "Seandainya anak Adam me-miliki satu lembah emas, niscaya ia ingin yang kedua. Tidak ada yang memenuhi mulutnya (rongga perutnya) melainkan tanah, dan Allah menerima taubat siapa saja yang bertaubat" (HR. Bukhari dan Muslim).

Merujuk hadi di atas, kata tanah digunakan sebagai majaz batas akhir keserakahan manusia. Nafsu terhadap harta akan ber-henti ketika manusia sudah masuk ke liang kubur (tertutup tanah). Namun, batas ter-sebut menandakan tertutupnya waktu untuk taubat atas keserakahan, kezaliman, dan kesombongan yang dipertahankan.

Kelima, Tanah jujur menampilkan kualitas pohon yang tumbuh. Bila bibitnya berkua-litas, maka tumbuh pohon dan buah yang berkualitas. Tanah akan menghadirkan nikmat-Nya yang terbaik. Sebaliknya, bila bibitnya penghasil virus akan tumbuh pohon racun yang mematikan. Tanah tak menutupi atau me-rekayasa kualitas pohon. Sementara manusia justeru berpotensi melakukan rekayasa atas kualitas sesamanya. Rekayasa atas kepentingan "kooperasi dan pundi" meng-hantarkan manusia melakukan kezaliman. Menyingkirkan sosok yang berkualitas dan mengangkat sosok yang bisa "membawa tas" (pundi). Padahal, Rasulullah ﷺ deng-an tegas telah mengingatkan : "Jika suatu urusan diserahkan kepada bukan ahlinya, maka tunggulah kehancurannya” (HR. Bukhari).

Meski hadis di atas begitu populer, tapi ia kalah oleh dorongan harapan popularitas. Menitipkan amanah pada pengkhianat, pe-cundang, atau varian lainnya. Manusia tak lagi peduli, bahkan begitu nyata selalu mempersendaguraukan ayat-Nya dan sabda Rasulullah. Sungguh manusia benar-benar telah melampaui batas (QS. al-'Alaq : 6). Suatu saat, ketika manusia kembali ke tanah, ia akan merasakan pahitnya buah atas tanaman kezaliman yang ditanamnya. Penyesalan yang tak lagi berguna, retorika yang terkunci, status yang tak memberi manfaat, dan pengikut yang tak bisa mem-bantu. Sebab, Allah akan jawab semua rintihan hamba yang teraniaya (QS. al-Qomar : 10). Andai kumpulan hamba yang teraniaya mengapungkan rintihan, maka langit akan bergetar terguncang hebat. Mungkin manusia telah kehilangan rasa takut pada-Nya, dikalahkan rasa takut pada posisi dan kepentingan dunia semata.

Meski manusia sadar asal kejadian dan tempat kembalinya (QS. al-Baqarah : 156), tapi acapkali tak mau peduli. Mereka asyik terbuai oleh kesenangan dunia yang me-lalaikan tujuan hidup yang hakiki (QS. al-'Alaq : 6). Bila tak juga sadar, maka teruslah berbuat kerusakan dan kezaliman di muka bumi sampai mulut terisi tanah. Ketika waktu tersebut tiba, tak ada ruang taubat dan penyesalan.  Na'uzubillah..lWa Allahua'lam bi al-Shawwab.***

Prof Samsul Nizar adalah Guru Besar IAIN Datuk Laksemana Bengkalis

BAHAYA LISAN

Lisan berasal dari bahasa Arab yang berarti lidah. Lisan adalah anggota tubuh manusia yang paling tajam. Bahkan ada yang mengibaratkan bahwa lisan itu lebih tajam dari pedang. Lisan mengetuai seluruh anggota tubuh manusia. Jika kita tidak bisa menjaganya dengan baik dan benar, maka akan berdampak pada anggota tubuh lainnya.

Lisan dapat menyebabkan kedudukan seseorang menjadi tinggi di sisi Allah subhanahu wa ta’ala dan dapat pula mendatangkan kerugian. Orang yang boleh menjaga lisannya akan menjadi orang yang mulia, baik di sisi manusia dan di sisi Allah subhanahu wa ta’ala. Di dalam lisan banyak sekali terdapat kesalahan dan ia selalu dikendalikan oleh tabi’at yang buruk. Banyak manusia yang terseret ke dalam api neraka karena kesalahan dari lisannya dan syaitan juga selalu mengajak orang lain kepada keburukan. Akan tetapi jika kita boleh menjaga tutur kata yang baik dan selalu berzikir kepada Allah subhanahu wa ta’ala, maka kita akan selamat dunia dan akhirat.

Mulutmu adalah harimaumu. Karena mulut badan boleh menjadi binasa. Itulah peribahasa yang sering kita dengar. Menjaga lisan memang tidak mudah. Tidak bisa disamakan dengan menjaga baik-baik barang berharga yang kita miliki agar terhindar dari kerosakan. Yunus bin ‘Ubaid berkata: “Tidak seorangpun yang menjaga lisannya baik-baik melainkan ia menjadi orang baik di dalam segala perbuatannya. Tidaklah ia berkata sesuatu di siang harinya melainkan ia memperhitungkan tutur katanya di waktu petang hari.” Kita diperintahkan untuk bertutur kata yang baik terhadap sesama. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman yang artinya: “Ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia.” (Q.S. Al-Baqarah: 83)

Bahaya lisan itu dimulai dari dua perkara, yang pertama sangat ringan dan yang kedua akan lebih besar bahayanya. Kita harus menghindari berbagai keburukan lisan. Mulai dari bertutur kata yang sia-sia, berkata dusta, mengejek dan mentertawakan orang lain, menghina orang lain, serta keburukan lisan lainnya.

Jika seseorang bertutur kata yang sia-sia maka ia akan kehilangan saat-saatnya yang mahal, yakni mengganti yang buruk dengan yang baik. Jika seseorang tidak menyibukkan diri dalam kebaikan, maka ia akan disibukkan dengan hal-hal yang buruk. Jika seseorang tidak boleh mengendalikan tutur katanya, maka ia akan menjadi orang yang rugi, karena orang yang sempurna imannya akan diam kecuali untuk berfikir dan ia akan memandang kecuali untuk mengambil pelajaran yang baik dan tutur katanya itu selalu mengandung kebaikan.

Allah subhanahu wa ta’ala melarang seorang mukmin untuk berkata dusta. Hukumnya adalah haram. Tetapi jika seseorang ingin menyelamatkan saudaranya dari siksaan penguasa yang zalim atau menghindari terjadinya peperangan antara dua kelompok, maka ia dibolehkan untuk berdusta, tetapi sebelum memilih untuk berdusta hendaknya ia berkata benar jika ia dapat melakukannya.

Allah subhanahu wa ta’ala juga mengharamkan seorang mukmin mengejek dan mentertawakan orang lain. Sebagaimana dalam firman-Nya yang artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik.” (Q.S. Al-Hujurat: 11). Dari firman Allah tersebut, seorang mukmin dilarang untuk menyebutkan keburukan dan kekurangan, semisal pada wajah seseorang untuk ditertawakan, bahkan mengisyaratkan dengan suatu isyarat saja tidak dibolehkan.

Seseorang yang menghina saudaranya, maka ia sama saja seperti memakan bangkai saudaranya tersebut. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman yang artinya: “Dan janganlah menghina satu sama lain. Adakah seorang di antara kalian yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah engkau merasa jijik kepadanya.” (Q.S. Al-Hujurat: 12).

Adapun cara mengubati kebiasaan menghina orang lain adalah dengan ilmu dan perbuatan, yakni mencegah lisannya agar tidak menghina orang lain. Hendaknya seseorang mengerti bahwa ia akan dimurkai oleh Allah subhanahu wa ta’ala, segala amal kebajikannya akan musnah, kelak ia akan disamakan dengan orang yang suka memakan bangkai saudaranya, dan dosa orang yang dihina akan dipikulkan kepada orang yang menghina.

Sebagai manusia, seseorang pasti banyak melakukan kesalahan, baik itu kesalahan kecil maupun besar. Hal ini karena manusia adalah tempat dari kesalahan. Maka dari itu, janganlah kita lalai dari kesalahan-kesalahan yang kecil. Terutama sekali jika seorang yang lalai kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan kepada sifat-sifat-Nya yang berhubungan dengan agama.    

Seorang yang tidak mengerti tata cara berbicara, maka pembicaraannya akan banyak terdapat kekeliruan. Seperti tata cara seorang hamba kepada tuannya. Jangan sesekali seorang hamba itu menggunakan kata “Tuhanku” untuk memanggi tuannya. Namun, panggillah dengan sebutan “tuanku”, karena kita semua adalah hamba Allah subhanahu wa ta’ala dan Tuhan kita adalah Allah subhanahu wa ta’ala.

Sumber: Qureta.com

KARAKTER 'ABU LAHAB'

Abu Lahab (Abdul Uzza bin Abdul Muthalib) merupakan salah seorang paman dekat Rasulullah. Awalnya, Tsuwaibah meng-khabarkan bahwa Siti Aminah telah melahirkan seorang putra yang sempurna dan diberi nama Muhammad.

Kabar yang membuat hatinya begitu senang dan bahagia. Di sepanjang jalan yang dilalui, ia ungkapkan kata-kata pujian atas kelahiran keponakannya tersebut. Kebahagiaannya diluapkan dengan mengundang tetangga, teman, dan para kerabat untuk merayakan kelahiran keponakannya.

Di hadapan para undangan, ia berkata kepada budaknya, ”wahai Tsuwaibah, sebagai tanda syukurku atas kelahiran keponakanku, anak dari saudara laki-lakiku Abdullah, maka mulai hari ini kamu adalah lelaki merdeka.” Kebahagiaan Abu Lahab di hari kelahiran Rasulullah men-jadi wasilah ia memperoleh keringanan siksa-Nya setiap hari senin. Hal ini diceritakan oleh Abbas bin Abdul Muthalib (paman Nabi), bahwa beliau ber-mimpi melihat Abu Lahab seraya bertanya, "bagaimana keadaanmu ?".

Abu Lahab menjawab, aku seperti yang engkau lihat. Tersiksa di alam barzah. Tapi setiap hari senin, Allah SWT meringankan siksa-Nya kepadaku. Sebab, pada hari itu, aku begitu gembira dengan kelahiran keponakanku (Muhammad).” 

Kegembiraan Abu Lahab terhadap ponak-annya tak berlangsung lama. Meski memiliki hubungan darah, tapi Abu Lahab sangat membenci dan penentang keras agama yang dibawa oleh keponakannya tersebut. Kebencian ini didukung oleh isterinya (Ummu Jamil binti Harb) dan be-berapa tokoh elit Quraisy lainnya, di antara-nya Abu Jahal (Amr Ibn Hisyam). Dengan posisi, pengaruh, dan kekuatan finansial-nya, Abu Jahal bersekutu dengan Abu Lahab untuk memusuhi Nabi Muhammad ﷺ dan pengikutnya.

Bila al-Qur'an dan masyarakat Arab mem-beri julukan Abu Lahab (berarti bapak api yang berkobar) karena pipinya yang selalu kemerahan, maka gelar Abu Jahal (bapak kebodohan) karena kesombongan dan gengsinya yang luar biasa melakukan ter-hadap kebenaran ajaran Rasulullah. Pada-hal, ia tau kebenaran, tapi mengingkarinya. Bukti pengingkaran terlihat ketika setiap kali Abu Jahal berpapasan dengan Rasulullah ﷺ, ia selalu menutup matanya dengan kain sorbannya.

Perilaku aneh ini membuat kaum kafir Quraisy heran dan bertanya : "wahai Abu Jahal, kenapa eng-kau menutup mata dan wajahmu setiap berpapasan dengan Muhammad ?". Abu Jahal menjawab, "demi Allah, setiap aku bertemu dan melihat Muhammad, hatiku menjadi luluh. Sebab, wajahnya bukan wajah pendusta, perkataannya bukan per-kataan orang gila, dan perilakunya begitu terpuji yang tak pernah aku temukan. Aku takut bila melihatnya, hatiku lebih dahulu memuliakannya mendahului mulutku". 

Kisah "kejahilan" Abu Lahab dan Abu Jahal begitu banyak ditemukan. Namun, kisah yang penuh i'tibar (pelajaran) ini tak pernah dijadikan sebagai renungan memperbaiki diri, tapi justeru selalu diikuti. Padahal, karakter Abu Lahab dan Abu Jahal begitu nyata dan berpotensi tampil pada perilaku lintas generasi. Sebab, keduanya merupa-kan arsitek utama terjadimya penyiksaan atas para sahabat Nabi, pemboikotan terrhadap kaum muslim, dan provokator (menghasut) orang lain untuk membeci Rasulullah. Bila kebencian Abu Lahab dilakukan secara langsung (vis a vis), tapi kebencian Abu Jahal dilakukan dengan memanfaatkan posisi dan materi yang dimiliki. Untuk itu, kisah kebencian Abu Lahab dan isterinya yang begitu ekstrim diabadikan dalam al-Qur'an QS. al-Lahab : 1-5. Sedangkan, Abu Jahal terbunuh dalam kekufuran di Perang Badar.

Ada beberapa cerminan karakter Abu Lahab dan Abu Jahal yang melekat pada manusia sepanjang sejarah --terutama akhir zaman-- antara lain : 

Pertama, Abu Lahab dan Abu Jahal tau sifat jujur, kemuliaan akhlak, dan kebenar-an agama yang dibawa oleh ponakannya. Tapi, mereka enggan mengakui dan menen-tangya. Meski hati dan akalnya menerima kebenaran, tapi mulut dan nafsunya yang mengingkari dan memerintahkan untuk berperilaku zalim terhadap semua kebenar-an ajaran yang dibawa oleh Rasulullah. Manusia yang demikian sedang ditimpa azab-Nya yang pedih. Hal ini tertuang dalam firman-Nya :"Allah telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat" (QS. al-Baqarah : 7).

Menurut Ibn Katsir, tertutupnya seluruh pintu hidayah disebabkan oleh dosa-dosa yang terus melekat akibat kebiasaan ber-perilaku menolak kebenaran dan mengikuti hawa nafsu. Akibatnya, mereka tidak akan pernah beriman dan mendapat hidayah-Nya.

Sejarah membuktikan bahwa hadirnya si-kap kebencian dan arogan akan berakibat fatal, apalagi bila dibangun atas kerjasama "tetrasula (quadrident)" atau"kujang mata empat". 

Bangunan kerja sama kemungkaran antara kemunafikan kaum intelektual, pemilik posisi (status) tinggi, penyandang dana yang kuat, serta dukungan massa jahil (keluarga) yang tertutup akal dan hatinya dari nilai kebenaran (hukum dan agama).

Kedua, Penolakan terhadap agama yang dibawa oleh Rasulullah bukan disebabkan ke-jahil-annya (kebodohon), tapi lebih pada kekhawatiran akan hilangnya pengaruh atau jabatan (kekuasaan) yang dimilikinya. 

Sikap tercela ini telah diingatkan oleh Allah melalui firman-Nya : "Sungguh, orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan dan petunjuk, setelah Kami jelaskan kepada manusia dalam Kitab (al-Qur'an), mereka itulah yang dilaknat Allah dan dilaknat (pula) oleh mereka yang melaknat" (QS. al-Baqarah : 146).

Menurut al-Qurthubi, ayat di atas berisi ancaman keras bagi manusia yang se-ngaja menyembunyikan ilmu atau ke-benaran yang sudah diketahuinya karena takut kehilangan reputasi, posisi, materi, atau pengikut. Mereka akan kehilangan keberkahan, kehilangan kepercayaan (krisis moral), dan siksa yang pedih.

Ketiga, Kebencian disebabkan "kekerdilan diri" atas ketidakmampuan memiliki kebaikan atau mengimbangi kualitas (kalah pamor) atas orang yang dibenci. Untuk itu, berbagai upaya intimidasi, provo-kasi, dan fitnah dilakukan agar kebencian menyelimuti hati semua orang. Sifat ini selalu diiikuti oleh manusia yang selevel. Padahal, mereka merupakan kaum terpela-jar yang mengetahui ajaran agamanya, tapi selalu mengingkari. Ternyata, "tak semua manusia menolak kebenaran karena ketidaktauan, tapi lebih pada ketakutan atas posisi atau kedudukannya." Sosok manusia yang demikian telah diingatkan oleh Rasulullah ﷺ melalui sabdanya : "Akan datang kepada manusia suatu saat, orang yang berpegang teguh pada agama-nya seperti orang yang berpegang teguh pada bara api” (HR. at-Tirmidzi).

Beriman sebatas pemanis bibir dan men-jaga kebenaran begitu berat, tapi melaku-kan kemaksiatan dan kezaliman dianggap gerak zaman. Sebelumnya, setiap umat nabi dan rasul hanya melakukan satu atau dua jenis kejahatan. Umat nabi Luth yang tertarik pada sejenis, umat nabi Musa menganggap dirinya "tuhan", umat nabi Nuh yang sombong dan menyembah ber-hala, atau umat nabi Syuaib yang curang (korupsi) dan memonopoli ekonomi. Tapi, fenomena kemungkaran manusia (umat) akhir zaman justeru sangat mengerikan. Mereka melakukan akumulasi semua ke-jahatan umat para nabi dan rasul terdahulu. Hal ini diingatkan Rasulullah ﷺ dalam sabdanya : "Kalian pasti akan mengikuti jejak umat-umat sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta..." (HR Bukhari dan Muslim).

Hadis di atas merupakan peringatan keras Rasulullah ﷺ tentang proses tasyabbuh (penyerupaan) budaya, gaya hidup, politik, ekonomi, bahkan bentuk kemaksiatan umat sebelumnya. Peringatan tersebut justeru sedang dipraktekan umat akhir zaman. Meski secara perlahan, tapi umat begitu "semangat" untuk mengadopsi dan mengakumulasi semua bentuk dosa kaum terdahulu.

Kesemuanya terlihat begitu nyata dan beberapa indikator tak terbantah-kan. Ketika para pendusta lebih dipercaya dan pembawa kebenaran tapi didustakan, orang khianat diberi amanah dan orang amanah dikhianati, kebenaran dicurigai dan kebohongan diberi posisi, pintar bicara bukan karena keilmuan tapi sebatas kebe-ranian beretorika, dan varian lainnya. 

Ketika fenomena di atas terjadi, maka Islam hanya tinggal nama dan al-Quran sebatas tulisan semata. Masjid begitu megah dan jamaah begitu ramai, tapi umat tak mampu disatu-kan. Ayat al-Quran dilan-tunkan merdu, tapi tak mampu menggetar-kan kalbu. Kajian agama begitu membahana, tapi sepi dari amalan. Majelis ilmu begitu berkembang, tapi pemilik ilmu acapkali tak beradab. Umat hanya sibuk mengunggah amaliah di media sosial agar memperoleh pujian. Shalat dilakukan, tapi tak mampu mencegah kezaliman.

Majelis zikir begitu menjamur dan membahana, tapi kemung-karan dan kebencian senantiasa membara. Malam hari beriman, paginya kembali pada kekufuran. Pelaku kesalahan selalu dipuji dan dianggap kewajaran, tapi pemilik ilmu kebaikan dianggap bentuk perlawanan yang harus disingkirkan. Pelanggar aturan didiamkan dan dimaklumi, tapi penjaga kebenaran justeru dikucilkan dan dibuli. Keserakahan (berbagai variannya) dinilai keberkahan lagi mujur, tapi sifat jujur selalu tersungkur dan terbujur.

Meski manusia secara agama dan keilmuan mengetahui nilai kebenaran, tapi secara sadar melanggarnya. Bila Abu Lahab secara terang-terangan memusuhi Rasulullah, tapi umat akhir zaman ber-sembunyi dalam wajah kesalehan ketika melakukan pelanggaran (fasik) terhadap hukum dan agama. Bila hal ini terjadi, be-tapa kenistaan dengan sengaja dibangun, ditradisikan, dan didukung para "cendekia berkarakter jahiliyah". Meski karakter Abu Lahab yang sombong, busuk hati, dan ter-cela, tapi wataknya selalu diganderungi, diikuti, dan dilanggengkan lintas generasi. 

Wa Allahua'lam bi al-Shawwab.***

Prof Samsul Nizar adalah Guru Besar IAIN Datuk Laksemana Bengkalis

FIKIH BERJABAT TANGAN, ADAB YANG MULIA

BERJABAT  tangan (al-mushâfahah) merupakan salah satu adab mulia yang diajarkan dalam Islam. Amalan sederhana ini bukan sekadar berjabat tangan, melainkan bentuk kehormataan terhadap orang lain. Tanpa disadari, chemistry atau kedekatan emosional secara otomatis terbangun sehingga tercipta hubungan yang baik antar sesama. Selain itu, jabat tangan yang disertai senyum ringan dapat menumbuhkan ukhwah Islamiyah dan suasana batin terasa lebih akrab.

Namun di balik itu semua, dalam Islam berjabat tangan memiliki keisimewaan tersendiri. Baginda Rasulullah Shallahu ‘Alaihi Wasallam menekankan bahwa amalan ini dapat menghapus kesalahan.

Rasulullah Shallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda yang bermaksud:

Dari Bara` ia berkata: Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wasallam bersabda: Tidaklah dua orang muslim bertemu lalu berjabat tangan kecuali Allah akan memberi ampunan kepada keduanya sebelum mereka berpisah. (HR. Abu Daud).

Hadis di atas menjadi dasar bahwa orang yang berjabat tangan akan mendapat ampunan dosa dari Allah Subhânahu Wata’âla selama keduanya belum berpisah. Adapun dosa yang diampuni ialah dosa-dosa kecil (shahgâir), bukan dosa besar (kabâir). Adapun waktu dan tempat tidak disebut secara terperinci, di mana dan kapan pun amalan ini dilakukan hukumnya mubah.

Suatu hari, Thalhah bin Ubaidillah salah satu dari sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga berdiri menghampiri Ka’ab bin Malik setelah Allah Subhânahu Wata’âla menerima taubatnya, lalu menjabat tangannya dan mengucapkan selamat. (Khâlid Al-Jarîsi, Fatâwâl Baladil Harâm, 175). Artinya apa yang dilakukan Thalhah tidak harus setelah shalat, ketika sahabat ini mendengar Allah Allah Subhânahu Wata’âla mengampuni dosa Ka’ab lantaran tidak ikut dalam perang Tabuk, sekoyong-koyong menyalami lalu mengucapkan tahniah (selamat).

Riwayat menjadi dasar bahwa saat seseorang mendapat kabar gembira dianjurkan menjabat tangannya dan mengucapkan kata-kata yang menggembirakan sebagai ungkapan rasa syukur dan turut merasakan kebahagiaan.

Tindakan ini juga bukti kuatnya hubungan ukhwah Islamiyah. Maka sungguh ironis bila mengatakan jabat tangan di antara bentuk perbuatan yang tidak diajarkan Rasulullah Shallahu ‘Alaihi Wasallam, telebih lagi menganggap hal itu perbuatan bid’ah dan pelakunya diancam dengan neraka.

Penilaian semacam ini bertentangan dengan prinsip dasar Islam. Sebelum memberi vonis hukum terhadap sesuatu, hendaknya seseorang mengkaji, meneliti dan mendiskusikan dengan baik. Langkah-langkah yang dilakukan dengan mengkompromikan nash (ayat dan hadis) lalu divalidasi berdasarkan pemahaman ulama salaf dan khalaf. Sikap terlalu dini menjatuhkan vonis sesat atau kafir akan melahirkan rupture (keratakan) dalam tubuh islam.

Imam An-Nawawi rahimahullah berkata:

Ketahuilah, mazhab Ahlus Sunnah yang benar adalah bahwa tidak boleh mengafirkan seorang pun dari ahli kiblat (kaum Muslimin) hanya karena suatu dosa atau karena suatu bid'ah. (Nawawî, Al-Minhâj, 1/150).

Ucapan Imam An-Nawawi tersebut menegaskan salah satu prinsip penting dalam akidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah, yaitu kehati-hatian dalam memberikan vonis kepada sesama muslim. Beliau menjelaskan bahwa seorang muslim yang masih termasuk ahlul kiblat—yakni orang yang mengakui syahadat dan menghadap kiblat dalam salat—tidak boleh divonis kafir hanya karena melakukan sesuatu yang dianggap tidak memiliki dasar (bid'ah).

Berjabat tangan merupakan sunnah yang dianjurkan dalam Islam sebagai wujud penghormatan, kasih sayang, dan penguat ukhuwah Islamiyah. Selain memiliki nilai sosial, amalan ini juga bernilai ibadah karena menjadi sebab diampuninya dosa-dosa kecil. Oleh karena itu, berjabat tangan tidak patut dipandang sebagai amalan yang tercela atau divonis sebagai bid'ah tanpa dasar ilmiah yang kuat.

Perbedaan pandangan hendaknya disikapi dengan ilmu, adab, dan sikap saling menghormati, bukan dengan mudah menyesatkan atau mengafirkan sesama muslim. Dengan demikian, semangat yang harus dikedepankan adalah menghidupkan sunnah Rasulullah Shallahu ‘Alaihi Wasallam sekaligus menjaga persatuan dan keharmonisan umat Islam.***

Hubungi Kami

Alamat:
No.5B, Jalan 3/70 Damai Point, Seksyen 3, 43650 Bandar Baru Bangi. Selangor

Telefon: +60 17-377 7732
Email: alfalahmadani2022 [@] gmail.com

Jumlah Pengunjung

082907
Hari ini: 359
Minggu Ini: 905
Bulan Ini: 9,374
Tahun Ini: 82,907
Tahun Lepas: 52,147
Image

Alfalahmadani.my merupakan sebuah portal yang bertanggungjawab untuk bertindak sebagai penampan bagi setiap tuduhan, fitnah, kekeliruan, ketidakfahaman dan kecelaruan yang berlegar di minda rakyat. Sama ada isu-isu yang timbul secara organik di media sosial, ataupun yang didorong sebagai naratif oleh pihak-pihak tertentu,

Alfalahmadani.my akan menjawab setiap permasalahan dengan pengetahuan, kebijaksanaan dan kebenaran. Tentunya, kehadiran Alfalahmadani.my bukan berhasrat menyatakan kesempurnaan pemikiran, tetapi sebagai wahana untuk menuju kesempurnaan pengetahuan dalam konteks pemikiran semasa, dan kebijaksanaan yang mampu diusahakan.