Sejak dulu sebagian keturunan kaum Bani Israel punya karakter merusak peradaban manusia. Ada tabiat suka berontak dan tidak mau tersandera oleh aturan, baik aturan yang dibuat oleh Tuhan maupun aturan yang dibuat mereka sendiri.
Demi ambisi besarnya, mereka menerapkan standar ganda. Mereka membuat aturan agar orang lain atau bangsa lain patuh terhadapnya. Aturan tersebut tidak mengikat dan tidak harus berlaku untuk dirinya. Bagi mereka, kepentingan adalah puncak dari segala aturan. Dengan dalih atas kesempurnaan ras atau etnis yang diciptakan Tuhan, mereka punya sifat sombong, suka berdusta dan membunuh. Ucapan dan perilakunya adalah hukum. Allah telah menjelaskan perilaku mereka pada ayat 87 sebagai berikut yang berarti:
Sungguh, Kami benar-benar telah menganugerahkan Kitab (Taurat) kepada Musa dan Kami menyusulkan setelahnya rasul-rasul. Kami juga telah menganugerahkan kepada Isa, putra Maryam, bukti-bukti kebenaran, serta Kami perkuat dia dengan Ruhulkudus (Jibril). Mengapa setiap kali rasul datang kepadamu (membawa) sesuatu (pelajaran) yang tidak kamu inginkan, kamu menyombongkan diri? Lalu, sebagian(-nya) kamu dustakan dan sebagian (yang lain) kamu bunuh?.
Ayat tersebut memperjelas keberlangsungan ajaran Tuhan pasca meninggalnya Nabi Musa. Ada para nabi dan rasul membimbing mereka untuk menguatkan iman, ibadah dan aturan-aturan sosial.Bukan hanya wahyu, Tuhan juga menunjukan kedahsyatan mukjizat sebagai bukti kebenaran-Nya.
Ironisnya, kaum Bani Israel selalu saja ingkar terhadap setiap ajaran para Rasul. Merasa diri lebih hebat dari para rasul. Mereka juga berani berdusta atas nama Tuhan, dan mereka juga tidak segan-segan membunuh para utusan-Nya ketika mereka merasa apa yang disampaikan tidak sesuai dengan keinginan politik mereka. Mata hati mereka tertutup meskipun bukti-bukti mukjizat ditunjukan di depan mata. Bahkan mereka menuduh para nabi dan rasul sebagai tukang sihir dengan melakukan segala tipu daya dengan kemampuan sihir tersebut.
Mereka menolak ajaran-ajaran agama dari para rasul karena beranggapan bahwa agama yahudi yang dibawa oleh Nabi Musa merupakan agama khusus untuk mereka. Alasan ini juga yang menutup pintu mereka terhadap ajaran dari para rasul. Bahkan tidak segan-segan mereka melakukan teror-teror terhadap para nabi atau para rasul dan pengikut-pengikut setianya. Bahkan lebih sadis lagi, mereka membunuh para utusan Allah.
Kesukaan kaum yahudi membunuh-perang-sebenarnya berkaitan dengan watak sombong dan suka mendustakan-taqiyah-kepada kelompok lain.
Kaum yahudi melakukan rekayasa aturan dan sering memutarbalikan fakta di setiap tempat dan masa mereka hidup. Catatan-catatan kejahatan setiap masa memperteguh statusnya sebagai manusia yang suka menentang terhadap perintah Tuhan sebagaimana yang telah diabadikan dalam Al-Qur’an.
Pada masa Nabi Muhammad ketika ada konflik Aus dan Khazraj. Perang berlangsung selama 120 tahun. Kaum yahudi kadang berpihak kepada Aus, kadang ke Khazraj. Hingga terjadi kehancuran di kedua belah pihak di bidang ekonomi dan politik (Nāshir al-Sayyid, 1992). Pola politik devide et impera kaum yahudi ini yang menyebabkan suku-suku di Madinah sebelum datangnya Islam selalu terjadi peperangan dan tidak ada satupun pemimpin yang bisa dipercaya untuk menjadi juru damai.
Ketika Nabi Muhammad datang ke Madinah, suku-suku yang ada di Madinah menaruh harapan besar kepadanya. Atas kejeniusan politik dan keindahan akhlak nya, seluruh suku dan penganut keyakinan lintas agama bisa disatukan dalam satu ikatan dalam bentuk konstitusi Piagam Madinah. Kota Yasrib berganti Madinah, sebagai simbol peradaban baru masyarakat yang saling hidup dalam kedamaian.
Lagi-lagi, kaum yahudi menghianati pernjanjian dengan umat Islam. Bahkan mereka beberapa kali melakukan percobaan pembunuhan kepada Nabi Muhammad. Tapi selalu gagal (S, 2014) akhirnya mereka menerima resiko. Nabi mengusir mereka sebagai konsekuensi menghianati perjanjian yang telah disepakati bersama.
Hubungan Islam-Yahudi-Kristen kembali baik pada masa Umar bin Khatab. Mereka bisa bergandeng tangan dalam kesepakatan. Tapi lagi-lagi pasca pemerintahannya, mereka pun melakukan khianat (Irfanullah, 2017).
Kaum Bani Israel selalu melawan arus setiap aturan. Mereka bisa menerima penderitaan sepanjang waktu. Mereka mungkin akan sangat sengsara seperti saat mereka menjadi budak pada masa Raja Fir’aun. Dalam penderitaan, mereka mempunyai dendam dan rencana yang sangat mengerikan, yaitu menghancurkan orang-orang yang menjajahnya dan seluruh manusia yang -menurut mereka- berada di bawah ras nya.
Ketika telah lepas dari perbudakan pada masa Raja Fir’aun, kaum Bani Israel bukan berterima kasih kepada musa. Justru mereka menuntut kesempurnaan hidup. Pada lain waktu mereka secara terang-terangan menantang status kenabian dan kerasulannya. Dengan sombong mereka meminta kepada Nabi Musa untuk menunjukan eksistensi Tuhan di hadapan mereka. Pola pikir kaum Bani Israel yang selalu melawan arus sudah menjadi watak dasar mereka. Bahkan eksistensi Tuhan pun dipertanyakan dan perlu diuji kebenarannya.
Tuhan telah menganugerahi kaum Bani Israel dengan kecerdasan dan keuletan dalam bekerja dan mengkaji ilmu pengetahuan sangat luarbiasa. Ini yang menyebabkan mereka menguasai pengetahuan dan teknologi. Namun dibalik kelebihan ini, ada bayang-bayang menakutkan dari sikap dan perilaku nya yaitu mereka tidak segan-segan mempermainkan hukum Tuhan, arogansi terhadap bangsa lain dan membunuh manusia melalui segala cara, baik dengan pendekatan ilmu pengetahuan dan medis maupun dengan kekerasan seperti melalui perang.
Walhasil, saat sekarang ini kita melihat di dunia nyata dan dunia maya, ada dua negara sangat arogansi mengganggu kenyamanan dan kedamaian bangsa dan negara lain, yaitu AS dan Israel.
Sifat-sifat yang ada pada mereka telah mencerminkan dari kebenaran ayat tersebut di atas. sikap sombong merasa lebih unggul dari negara atau bangsa lain, sikap kebiasaan melakukan taqiyah seolah-olah membantu bangsa tertentu tapi sebenarnya sedang menggali kuburan untuk bangsa atau negara tersebut, dan perilaku suka membunuh bangsa lain dengan mentradisikan diri sebagai negara yang paling suka perang sepanjang catatan sejarah manusia.
