Dikisahkan, di tengah hutan belantara pernah terjadi dialog antara keledai dan kancil. Sambil menyantap rumput, tiba-tiba seekor keledai berkata : "wahai kancil, sungguh enak rumput segar berwarna biru ini". Mendengar kata keledai, si kancil ter-sentak dan menyanggah sembari berkata : "setiap rumput pasti berwarna hijau, bukan biru".
Perbantahan tak terelakan dan memanas. Kedua pihak saling mempertahan-kan pendapat dan argumennya. Perdebatan tersebut hampir membuat keduanya berkelahi. Untung datang seekor gajah menengahi perdebatan keduanya. Tapi, gajah tak mampu menyelesaikan masalah tersebut. Ia mengusulkan agar masalah "apakah rumput berwarna biru atau hijau" diputuskan oleh Singa si raja hutan. Usul gajah disetujui kedua belah pihak. Lalu, mereka berangkat menemui Singa si raja hutan untuk meminta pendapatnya.
Dihadapan Singa, gajah menjelaskan tujuan kedatangannya dan menjelaskan persoalan yang terjadi. Mendengar penje-lasan tersebut, raja hutan spontan berkata : "pendapat keledai benar bahwa rumput memang berwarna biru". Setelah memberi jawaban, Singa si raja hutan meminta per-soalan ini tak diperpanjang dan memerin-tahkan kedua belah pihak untuk berdamai.
Mendengar jawaban Singa, keledai tersenyum pongah karena pendapatnya yang benar. Mendengar jawaban singa, si kancil heran dan diam. Ia merasa tak puas atas jawaban si raja hutan. Untuk itu, ia kembali menemui raja hutan seraya berkata : "wahai Singa si raja hutan, kenapa tuanku mengatakan kalau rumput berwarna biru ? Bukankah semua rumput berwarna hijau ?". Mendengar protes si kancil, Singa menjawab penuh bijaksana. "Wahai kancil, aku tau rumput warnanya hijau. Tapi, aku katakan biru karena sifat keledai yang bodoh dan keras kepala. Tak ada gunanya mengatakan kebenaran pada pemilik watak keledai. Sebab, hanya menghabis-kan waktu dan energi. Bukankah engkau (kancil) hewan paling cerdik di hutan ini ?. Harusnya, jangan melayani pertanyaan atau berdiskusi dengan hewan yang bodoh dan keras kepala. Sebab, ia hanya akan sia-sia belaka". Demikian penjelasan bijaksana Singa si raja hutan. Mendengar jawaban tersebut, akhirnya kancil memahami maksud dan arah jawaban si raja hutan.
Kisah di atas memang sederhana, tapi mengandung pelajaran yang mendalam. Bahkan, kisah tersebut adakalanya sering terjadi di dunia manusia yang konon ber-peradaban. Pelajaran tersebut antara lain :
Pertama, Pemimpin bijak berusaha menyelesaikan masalah dengan penuh hikmah dan bijaksana. Ia sadar kualitas keledai yang bodoh dan keras kepala. Apa yang dilakukan singa sesuai firman-Nya : "Dia memberikan hikmah kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang dianugerahi hikmah, maka ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak" (QS. al-Baqarah : 269).
Kadang, hewan saja bisa berlaku bijaksana dibanding manusia. Seyogyanya kisah ini menampar harga diri manusia yang me-ngaku berakal. Ia akan malu bila tak bisa berlaku bijak, kalah dengan seekor singa.
Namun, bila persoalan tersebut dihadap-kan pada sosok raja yang jahil (berwatak ular), maka ia akan memutuskan perkara tergantung siapa yang perlu dimenangkan atau sesuai "pesanan dan besaran pundi" yang dibawa. Ia tak peduli pintar atau bodoh dan benar atau salah. Tampil seakan "ratu adil" dan bijak agar terlihat terhormat dan harus dihormati. Padahal, semua hanya sekedar "topeng" untuk menyembunyikan kejahilan, kezaliman, dan keserakahannya semata.
Kedua, Pemilik kebodohan (keras kepala) sangat sulit diberi nasehat kebenaran. Ia hanya peduli pada apa yang menurutnya benar, tanpa peduli kebenaran yang sebenarnya. Ia hanya mau pendapatnya didengar dan diterima, tapi tak mau bila pendapatnya dikritik. Bila kejahilannya disanggah, suaranya akan "menggelegar". Suara yang membuat peradaban runtuh, muncul pertikaian, dan dendam kesumat.
Terhadap karakter di atas, Imam Syafie pernah berkata : "Setiap kali berdebat dengan kelompok intelektual, aku selalu menang. Tetapi anehnya, kalau berdebat dengan orang bodoh (tanpa adab), aku kalah tanpa daya.” Jika berdebat dengan orang pintar, kebenaran mudah diterima. Kedua pihak saling mencari, menemukan, dan menghargai kebenaran. Tapi, bila berdebat dengan orang jahil, tak ada gunanya semua kebenaran dan nasehat diberikan. Sebab, ia hanya berkilah dengan pembenaran agar dipuji dan pendapatnya menjadi kebenaran tunggal (meski salah).
Ketiga, Hindari dialog yang tak memberi manfaat dan tidak mencerdaskan. Apalagi bila perdebatan yang tak bertujuan men-cari solusi, tapi memancing pertikaian. Jadilah sosok yang bijak dalam berinter-aksi dan memilih teman cerdas untuk berdiskusi. Hal ini diingatkan Rasulullah melalui sabdanya: "Tinggalkanlah mira’ (mendebat karena ragu dan menentang, debat untuk menjatuhkan) itu, karena manfaatnya sedikit. Dan ia membangkit-kan permusuhan di antara orang-orang yang bersaudara” (HR. Baihaqi).
Sungguh, begitu bijak keputusan Singa si raja hutan untuk meminimalkan perdebat-an antara si keledai (bodoh) dan si kancil (cerdik). Sebab, perdebatan dengan tipikal "keledai" lebih sulit dibanding berdebat dengan tipikal "kancil". Bila perdebatan tak selevel dilakukan, maka hanya akan ber-ujung kesia-siaan. Seakan, Singa telah mengimplementasikan sabda Rasulullah : “Engkau akan mendapatkan dosa selama engkau suka berdebat” (HR. Tirmidzi).
Hadis di atas menekankan larangan ber-debat dengan orang yang jahil (bodoh). Sebab, ia tak memberi manfaat. Berdebat dengan orang tak berilmu dan tanpa adab (jahil) hanya akan membangun kebencian, pertikaian, dan memperjelas kebodohan. Sedangkan berdebat dengan pemilik ilmu dan adab akan membuka pintu kebenaran yang lebih luas dan bermanfaat.
Bila dianalisa secara seksama, pemilik sifat keledai (jahil) disebabkan oleh 2 (dua) alasan, yaitu : (1) tertutupnya akal (intelektual) untuk mengolah dan menemukan kebenaran. Akibatnya, akal yang jahil tak mampu menemukan kebenaran. (2) tertutupnya hati (rasa) untuk menerima kebenaran, meski begitu nyata. Ia hanya berusaha membangun opini pembenaran dirinya. Kedua tipikal ini sangat sulit diperbaiki. Sebab, meski akalnya bisa menerima kebenaran, tapi hatinya sulit mengakui (gengsi) atau sebaliknya. Kesemua telah terkunci (QS. al-Baqarah : 7) dan dibelenggu fanatisme dan ego yang kokoh. Sifat ini dinukilkan Allah melalui firman-Nya : "Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras sehingga (hatimu) seperti batu, bahkan lebih keras..." (QS. al-Baqarah : 74).
Menurut Ibn Katsir, ayat di atas ditujukan pada kerasnya hati bani Israil. Mereka ada-lah kaum yang hatinya telah terkunci dan tak mau menerima nasehat kebenaran.
Sungguh, kisah yang mengandung i'tibar dan bijaksana. Kebijaksanaan hadir pada pemiliki ilmu yang memahami masalah, bukan hanya mengandalkan pendapat pribadi, opini, isu (fitnah), kebencian, atau "pesanan". Pemilik kebijaksanaan akan menghadirkan keadilan. Sedangkan putusan pemilik kejahilan (bodoh) akan berakibat ketidakadilan (kezaliman).
Sungguh, "pemborosan waktu yang terburuk adalah bila berdebat dengan orang bodoh atau fanatik (penuh kepen-tingan) yang tak peduli dengan kebenaran. Ia hanya peduli pada ilusi yang mewarnai pemikirannya". Ada banyak orang yang tak peduli dengan seberapa banyak bukti dan dalil yang diberikan. Sebab, akal dan hatinya telah dibutakan oleh ego, fanatik (ta'ashub), kebencian atau kecintaan, dan kepentingan yang berkelindan. Mereka hanya mampu membangun opini kebenar-an semu (pembenaran) agar kebenaran hakiki menjadi bungkam dan lenyap.
Sungguh sulit menjelaskan kebenaran pada orang yang terbangun "subyektifitas". Hal yang sama, begitu sulit msnjelaskan kesalahan pada orang yang fanatik buta (muta'ashib) dan taklid buta (muqallid). Pilihan sikap atas kejahilan atau alasan kepentingan. Pilihan kejahilan dilakukan orang bodoh karena ketidaktahuannya. Sedangkan pilihan kepentingan dilakukan orang pintar dan mengerti agama, tapi menyembunyikan kebenaran untuk meraih apa yang diinginkannya. Prilaku ini sangat dicela oleh Allah melalui firman-Nya : "Dan janganlah kamu campur adukkan yang hak dengan yang bathil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu, sedang kamu mengetahui" (QS. al-Baqarah : 42).
Begitu jelas ancaman Allah, begitu jelas pula prilaku manusia mengingkari firman-Nya. Andai kebenaran firman Allah saja be-gitu mudah diingkari, apatahlagi kebenar-an yang sebatas kesepakatan yang dibuat oleh manusia (peraturan dan perundang-undangan). Semua bisa digunakan sesuai "tafsir kepentingan".
Bila Allah gunakan kata "keledai" dalam al-Quran (5 kali) sebagai simbol hewan yang bodoh, maka kata "lebih hina dibanding hewan" (QS. al-A'raf : 179) sebagai simbol kejahilan manusia berilmu yang menyem-bunyikan kebenaran. Pemilik kedua tipikal ini tak perlu diajak untuk berdebat. Sebab, kebenaran tak akan hadir kecuali sebatas pembenaran yang menguntungkan sesuai kepentingan belaka. Pembenaran yang ditopang oleh "kuasa, kekuatan, dan pencitraan" akan menjadikan kebenaran hakiki hanya sebatas mimpi (teori) tanpa pernah hadir di dunia nyata. Akibatnya, semua kejahilan berjalan begitu mulus, seakan kesalahan merupakan hal yang lumrah. Wajar bila pembenaran "keledai" acapkali disambut senyum sumringah dan pujian oleh komunitasnya. Padahal, apa yang dilakukan merupakan kesalahan. Adapun nikmat yang diraih hanya istidraj belaka. Allah berikan nikmat duniawi kepada pelaku kezaliman (kejahilan). Meski ia merasa nyaman (aman), tapi sebenarnya ia semakin tergelincir jauh dari kebenaran. Sebab, hakikat kenikmatan yang diraih merupakan wujud murka-Nya (jebakan halus). Murka berisi azab yang sangat pedih dan menghinakan (QS. Ali Imran : 178). Janji Allah adalah pasti.
Wa Allahua'lam bi al-Shawwab.***
Prof Samsul Nizar adalah Guru Besar IAIN Datuk Laksemana Bengkalis dan Waketum PB-ISMI
