Ada seorang ulama duduk seorang diri. Sudah tiga hari, ada perasaan tidak tenang di dalam hati. Tiga malam berturut-turut ia selalu bermimpi ada seorang hamba sangat mulia dan dijamin masuk surga. Wajahnya terlihat jelas. Ia adalah seorang laki-laki tampan. Dalam mimpinya seolah-olah memberi petunjuk, bahwa laki-laki tersebut berada di kota mekah.
Hari keempat sang ulama tersebut berangkat ke kota mekah. Udara hari itu sangat panas. Kebetulan bulan itu adalah bulan Ramadhan. Namun rasa penasaran yang menyelimuti hati benar-benar tidak bisa ditahan terlalu lama. Ia ingin tahu, apa sebenarnya ibadah nya atau amal sholeh yang ia lakukan. Kenapa ia begitu mulia disisi Allah, sedangkan dirinya sebagai seorang ulama tidak pernah memimpikan dirinya sebagai ahli surga.
Setelah beberapa hati keliling Kota Mekah, ia pun berhenti di sebuah Rumah Mewah orang kaya di Kota Suci. Rumah tersebut persis seperti dalam mimpi nya. Meskipun hatinya masih besar keraguannya, namun dorongan ingin menjumpai tuan rumah sangat besar. Ia pun memberanikan diri bertamu di rumah tersebut. Pintu pun terbuka. Sang ulama tersebut langsung berjumpa dengan tuan rumah. Seorang laki-laki tampan. Hari-harinya ia bekerja di Perusahaan Minyak. Pagi berangkat, malam pulang.
Sang ulama sudah minta izin ingin tinggal di rumah laki-laki tersebut selama tiga hari tiga malam. Hari pertama, saya tidak melihat ada keistimewaan. Ibadahnya sama pada umum nya orang-orang kota. Selesai sholat terus pulang. Jika letih, ia pun tidur.
Sang ulama mulai ragu. Jangan-jangan bukan orang ini yang ada dalam mimpinya. Hatinya pun mulai bertanya-tanya penuh dengan keraguan: “Apakah ia seorang ahli surga, padahal ibadahnya tidak ada yang istimewa. Sama kebanyak orang pada umumnya?”.
Kini masuk malam kedua. Seperti biasa ia pulang dan makan bersama dengan keluarga. Setelah selesai makan, ia biasanya keluar rumah dengan membawa bungkusan. Hal yang sama juga ia lakukan pada malam pertama. Jadi, sudah dua malam sang ulama melihat kebiasaan membawa bingkisan setelah selesai makan dengan keluarga.
Malam ketiga, sang ulama menemui tuan rumah. Selain permisi akan pulang besok pagi juga sekalian tanya tentang mimpi tentang tuan rumah diangkat derajatnya oleh Allah sebagai penghuni surga.
“Maaf tuan, saya mau tanya. Apa amalan -perbuatan- tuan sehari-hari sehingga saya bermimpi selama tiga hari bahwa tuan adalah orang yang dimuliakan oleh Allah sebagai penghuni surga” tanya ulama meminta penjelasan.
Sang tuan rumah bingung atas pertanyaan tersebut. Sebab ia sendiri tidak mengetahui amalan istimewa yang ia lakukan. Ia seperti merasa tidak berbuat kebaikan sama sekali.
“Syeikh, anda telah tinggal di rumah ku selama tiga hari tiga malam. Anda telah melihat semua apa yang saya lakukan. Seperti itulah setiap hari amalan ku”, jawab tuan rumah.
“Apakah ada amalan khusus yang tuan lakukan setiap harinya selain apa yang saya lihat?” tanya ulama.
“Saya tidak mempunyai amalan khusus. Kecuali setiap pulang dari Kantor, saya membeli makanan dan minuman dua bungkus. Satu bungkus, kami makan untuk keluarga kami. Satu bungkus lagi saya antar ke tetangga ku. Apa yang saya makan, maka tetangga ku juga makan dengan jenis makanan sama yang kami makan. Jika menjelang hari raya, saya pun membelikan baju untuk mereka dan anak-anak mereka agar mereka bisa senang menyambut malam Idul Fitri. Ini yang saya lakukan setiap hari dan setiap tahunnya” jawab tuan rumah.
Sang ulama pun menemukan jawabannya. Pemuda tersebut menjadi ahli surga bukan karena terlalu lama tahajud di malam hari atau banyak membaca Al-Qur’an di malam Ramadhan. Pemuda tadi mendawamkan-membiasakan-membahagiakan tetangganya yang fakir dengan senantiasa memberi makan dan memberi kebutuhan hidup nya.
Sang ulama tersenyum. Pantas saja ia sangat dicintai oleh Allah SWT. Ia pun teringat suatu hadist dalam Kitab Duratunasihin sebagai berikut: “ Orang dermawan dekat dengan Allah, dekat dengan malaikat, dekat dengan manusia, dekat dengan surga dan jauh dari api neraka. Sedangkan orang pelit jauh dari Allah, jauh dari malaikat, jauh dari manusia, jauh dari surga dan dekat dengan api neraka”.
Sumber: imamghozali.id
