Wanita ada fitnah (godaan) terbesar dan terberat bagi kaum lelaki. Maka hendaknya wanita Muslimah menyedari hal ini berusaha agar ia tidak menjadi fitnah bagi lelaki. Di antara perbuatan yang menjadi fitnah adalah wanita memuat naik fotonya ke media sosial (internet) yang dapat dilihat oleh kaum lelaki.
Wanita Adalah Fitnah Bagi Lelaki
Tidak diragukan lagi bahwa wanita adalah cobaan yang besar bagi lelaki. Allah Ta’ala berfirman yang bermaksud:
“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga)” (QS. Al Imran: 14).
Allah Ta’ala juga berfirman yang bermaksud:
“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat”. Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya” (QS. An Nur: 30-31).
Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda yang bermaksud:
“Tidaklah ada sepeninggalku fitnah (cobaan) yang paling berbahaya bagi lelaki selain fitnah (cobaan) terhadap wanita” (HR. Al Bukhari 5096, Muslim 2740).
Beliau juga bersabda yang bermaksud:
“Sesungguhnya dunia itu manis dan hijau. Dan Allah telah mempercayakan kalian untuk mengurusinya, Sehingga Allah melihat apa yang kalian perbuatan (disana). Maka berhati-hatilah kalian dari fitnah (cobaan) dunia dan takutlah kalian terhadap fitnah (cobaan) wanita. Karena sesungguhnya fitnah (cobaan) pertama pada Bani Isra’il adalah cobaan wanita” (HR Muslim 2742).
Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda yang bermaksud:
“Wanita adalah aurat. Jika ia keluar, setan memperindahnya” (HR. At Tirmidzi no. 1173, dishahihkan Al Albani dalam Shahih At Tirmidzi).
Maka jelas bahawa wanita ada fitnah (cobaan) terbesar bagi lelaki, maka fitnahnya lebih besar lagi ketika para wanita memuat naik wajahnya, dan gambar dirinya ke media sosial yang boleh dilihat oleh jutaan lelaki.
Terlebih jika wajah sang wanita tersebut cantik lalu dimuat naik di internet, maka ini fitnah yang nyata. Oleh karena itu Al Qurthubi berkata:
“Ibnu Juwaiz Mandad – ia adalah ulama besar Maliki – berkata: Jika seorang wanita itu cantik dan khawatir wajahnya dan telapak tangannya menimbulkan fitnah, hendaknya ia menutup wajahnya. Jika ia wanita tua atau wajahnya jelek, boleh baginya menampakkan wajahnya” (Tafsir Al Qurthubi, 12/229).
Jangan Jadi Pembantu Syaitan
Mungkin ada muslimah yang berseloroh: “Wahai lelaki, anda yang melihat kami sehingga terfitnah, mengapa kami yang disalahkan?”.
Betul, bahawa yang terfitnah adalah lelaki, namun hendaknya wanita tidak menjadi penolong syaitan dalam menggoda para lelaki sehingga terfitnah oleh wanita. Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda yang bermaksud: “Janganlah kalian menjadi penolong syaitan untuk menggoda saudara kalian” (HR. Bukhari no.6781).
Maka semestinya sikap seorang wanita Muslimah yang shalihah adalah membantu dan mengusahakan para lelaki menerapkan ayat ini, bukan justeru membantu para lelaki untuk melanggar ayat ini. Lalu bagaimana mungkin kaum lelaki mudah menahan pandangan kepada wanita, jika para wanita menebar foto dan gambar mereka ke berbagai tempat, termasuk ke internet?
Bertentangan Dengan Maksud Hijab.
Maksud dari disyariatkannya hijab adalah untuk menutupi wanita, sehingga ia lebih selamat serta lebih terjaga dari fitnah dan agar tidak menjadi fitnah bagi lelaki. Allah Ta’ala juga berfirman yang bermaksud:
“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat”.. Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain tudung kedadanya…” (QS. An Nur: 30-31).
Perhatikan dalam ayat ini, setelah perintah menundukkan pandangan lalu datang perintah berhijab. Allah Ta’ala juga berfirman yang bermaksud:
“Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (isteri-isteri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir. Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka” (QS. Al Ahzab: 53).
As Sa’di menjelaskan makna ayat ini: “hendaknya ada penghalang antara kalian dan mereka (isteri-isteri Nabi) yang menghalangi kalian dari memandang mereka, karena tidak ada keperluan untuk itu. Maka ketika itu memandang mereka (wanita) tidak diperbolehkan…. kemudian Allah sebutkan hikmah dari hal ini yaitu kelanjutan ayat: Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka” (Tafsir As Sa’di).
Allah Ta’ala juga berfirman yang bermaksud:
“Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS. Al Ahzab: 59).
As Sa’di menjelaskan: “ayat ini bukti bahwa gangguan terhadap kamu muslimat itu ada, jika mereka tidak berhijab. Itu dikarenakan mereka tidak berhijab. Dan terkadang orang menyangka wanita yang tidak berhijab tersebut adalah bukan wanita yang terhormat. Lalu muncullah penyakit hati dalam diri para lelaki karena melihat wanita tersebut, kemudian mereka mengganggunya. Terkadang para lelaki merendahkannya karena mengira wanita tersebut hamba. Lalu mereka yang ada penyakit dalam hatinya pun bermudah-mudah kepada si wanita. Maka hijab adalah penghalang agar orang yang tamak akan nafsu tidak mudah melihat-lihat wanita” (Tafsir As Sa’di).
Maka jelas bahawa tujuan hijab disyariatkan adalah menutupi wanita, membuat ia lebih selamat serta lebih terjaga dari fitnah dan agar tidak menjadi fitnah bagi lelaki. Maka yang dilakukan oleh para wanita yang memuat naik fotonya ke internet justeru bertentangan dengan tujuan ini. Karena justeru mereka menjadi semakin terlihat, bukan tertutup. Menjadi semakin tidak selamat dan santapan lazat bagi pemuja nafsu. Semakin besar peluang terjadi fitnah pada diri mereka berupa gangguan dan juga memperbesar fitnah mereka terhadap kaum lelaki.
Semakin Tersembunyi Semakin Baik
Wanita Muslimah itu, semakin ia tersembunyi dari pandangan lelaki itu semakin baik dan semakin terhormat. Semakin terlihat, semakin kurang baik. Inilah yang diyakini oleh para shahabiyat diantaranya Fathimah radhiallahu’aha, dan disetujui oleh Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam. Dalam sebuah hadits disebutkan bermaksud,
“Ali bin Abi Thalib berkata: Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: ‘Apa yang paling baik bagi wanita?’. Lalu Ali tidak tahu harus menjawab apa. Ia pun menceritakannya kepada Fathimah. Fathimah pun berkata: ‘katakanlah kepada beliau, yang paling baik bagi wanita adalah mereka tidak melihat para lelaki dan para lelaki tidak melihat mereka‘. Maka aku (Ali) sampaikan hal tersebut kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam. Lalu beliau bersabda: ‘sungguh Fathimah adalah bagian dari diriku, semoga Allah meridhainya‘” (HR. Ibnu Abid Dunya dalam Al ‘Iyal no. 409, semua perawinya tsiqah).
Wanita yang tidak memuat naik fotonya, menutup dirinya, berusaha tidak dilihat oleh lelaki itu lebih baik dari pada wanita yang mempamer foto dirinya sehingga boleh dilihat dengan bebas oleh para lelaki.
Wanita Solehah Itu Pemalu
Wanita yang memuat naik fotonya ke internet sehingga dapat dilihat oleh semua orang, nampak sekali sangat tipis rasa malunya. Cuba bandingkan dengan dua wanita solehah yang diabadikan kisahnya dalam Al Qur’an berikut ini yang bermaksud:
“Dan tatkala ia sampai di sumber air negeri Mad-yan ia menjumpai di sana sekumpulan orang yang sedang meminumkan (ternaknya), dan ia menjumpai di belakang orang banyak itu, dua orang wanita yang sedang menghambat (ternaknya). Musa berkata: “Apakah maksudmu (dengan berbuat at begitu)?” Kedua wanita itu menjawab: “Kami tidak dapat meminumkan (ternak kami), sebelum pengembala-pengembala itu memulangkan (ternaknya), sedang bapak kami adalah orang tua yang telah lanjut umurnya”. Maka Musa memberi minum ternak itu untuk (menolong) keduanya, kemudian dia kembali ke tempat yang teduh lalu berdoa: “Ya Tuhanku sesungguhnya aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku”” (QS. Al-Qashash: 23-24).
Mengapa dua wanita itu tidak segera meminumkan ternaknya? Dalam Tafsir Al Jalalain disebutkan:
“Iaitu mereka tidak jadi meminumkan ternakannya karena khawatir berhimpit-himpit (dengan para lelaki)”. Demikianlah wanita solehah, mereka malu, risih dan enggan berdesakan dan tampil di hadapan para lelaki.
Bagaimana dengan kebanyakan wanita Muslimah di zaman ini?
Lalu tidak sampai di situ, lihat kelanjutan kisahnya yang bermaksud:
“Kemudian datanglah kepada Musa salah seorang dari kedua wanita itu berjalan penuh rasa malu, ia berkata, “Sesungguhnya bapakku memanggil kamu agar ia memberikan balasan terhadap (kebaikan)mu memberi minum (ternak) kami” (QS. Al-Qashash: 25).
Ternyata wanita solehah ini berbicara dan menemui lelaki yang bukan mahram dengan penuh rasa malu. Bukan dengan genit, penuh canda tawa, rayuan dan kepercaya-dirian untuk tampil dan hadapan sang lelaki.
Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam juga bersabda yang bermaksud:
“Iman itu enam puluh sekian cabang, dan malu adalah salah satu cabang dari iman” (HR. Al Bukhari 9, Muslim 35).
Rasulullah juga memutlakkan sifat malu dengan kebaikan, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda yang bermaksud:
“Malu itu tidak datang kecuali dengan kebaikan” (HR. Al Bukhari 6117, Muslim 37).
Para umat terdahulu sebelum diutusnya Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi Wasallam sudah mengetahui dan menyedari bahwa sifat malu itu baik dan merupakan ajaran semua para Nabi terdahulu. Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda yang bermaksud:
“Sesungguhnya diantara hal yang sudah diketahui manusia yang merupakan perkataan para Nabi terdahulu adalah perkataan: ‘jika engkau tidak punya malu, lakukanlah sesukamu’” (HR. Al Bukhari 6120).
Maka wahai saudariku, sedarlah dan ambillah akhlak mulia yang diajarkan Rabb dan Nabi kita ini.
Nasihat Para Ulama
Syaikh Shalih Al Fauzan ditanya: “Apa hukum mengirimkan sebahagian video yang ada faedah-faedah ilmunya, namun ada muzik dan ada gambar wanitanya?”. Beliau menjawab: “Ini semua tidak baik, tidak boleh melakukannya. Dan kebaikan yang tidak mengandung itu semua, ada walhamdulillah”
Syaikh Utsman Al Khamis mengatakan: “Gambar-gambar itu sekarang banyak beredar di instagram, di twitter atau di facebook. Sebagian lelaki memuat naik foto wanita, dan sebahagian wanita memuat naik foto dirinya sendiri. Terkadang mereka memuat naik fotonya sendiri dan terkadang mereka mencari foto orang lain (wanita).
Ini tidak diperbolehkan. Baik ia tidak berhijab atau berhijab. Tidak boleh wanita memuat naik foto dirinya seperti demikian. Lelaki juga tidak boleh memuat naik foto wanita, dengan gaunnya yang sedemikian rupa, dengan hiasan-hiasannya yang sedemikian rupa, ini tidak diperbolehkan.
Wanita itu memfitnah lelaki. Seorang lelaki jangan menjadi mangsa terkena fitnah, dan wanita jangan menjadi sebab fitnah bagi orang lain. Maka hendaknya para wanita bertaqwa kepada Allah, demikian para lelaki dalam masalah ini”.
Syaikh Sa’ad Asy Syatsri ditanya: “Apa hukum wanita berhijab memuat naiok foto mereka di media sosial?”. Beliau menjawab: “Tidak boleh wanita menampakkan keindahan mereka. Ini merupakan Ijma ulama. Allah Ta’ala berfirman yang bermaksud:
“janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka … ” (QS. An Nur: 31).
Ayat ini menunjukkan bahawa wanita dilarang menampakkan keindahan mereka. Dan para ulama Ijma bahawa wanita tidak boleh mempercantik wajahnya di depan para lelaki bukan mahram, demikian juga tidak boleh melakukan demikian ketika ia pergi keluar rumah jika ada lelaki yang akan melihatnya, ini merupakan Ijma ulama.
Oleh karena itu perbuatan demikian benar-benar menyalahi syariat. Wanita yang memuat naik fotonya di media sosial memang dosanya lebih kecil daripada wanita yang bersafar dalam keadaan memperlihatkan keindahan dirinya, namun tetap berdosa.
Contohnya, orang yang makan harta haram, dosanya berbeza-beza tergantung besar harta haram yang ia makan. Orang ini memakan 10 sedangkan orang itu memakan 100, maka tidak sama dosanya, tentu yang makan 10 lebih ringan dosanya dari yang makan 100. Namun yang makan 10 bukan berarti keadaannya benar dan baik dalam pandangan syariat”
Oleh karena itu hendaknya para wanita Muslimah bertaqwa kepada Allah dan tidak memuat naik foto mereka ke internet, dan hendaknya mereka membuang semua foto-foto yang pernah dimuat naik agar tidak menjadi hal yang terus mengalirkan dosa selama foto tersebut menimbulkan keburukan.
Semoga Allah memberi taufik.
Petikan: Muslim.or.id
