Tidak ada suatu kesusahan (atau bala bencana) yang ditimpakan di bumi dan tidak juga`yang menimpa diri kamu', melainkan telah sedia ada di dalam kitab (pengetahuan Kami) sebelum Kami menjadikannya; sesungguhnya mengadakan yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kamu diberitahu tentang itu) supaya kanmu tidak bersedih hati akan apa yang telah luput daripada kamu, dan tidak pula bergembira (secara sombong dan bangga) dengan apa yang diberikan kepada kamu. Dan ingatlah, Allah tidak suka kepada orang yang sombong dan takbur, lagi membanggakan diri. (Surah Al-Hadid ayat 22-23).
Dahulu, menurut Aguste Comtre (1798-1857),dalam fasa pertama fikiran manusia dan kerana keterbatasan pengetahuannya-segala gejala yang terjadi, baik bencana mahupun bukan, selalu dikembalikan penafsiran kepaada kekuatan tuhan atau dewa yang diciptakan olah manusia. Fase kedua dalam perkembangan pemikiran manusia adalah fase metafisik. Gejala adalah ditafsirkan secara metafisis. Sedangkan fasa ketiga adalah fasa ilmiah yang di situ manusia menafsirkan semua fenomena alam melalui pengamatan yang teliti dan dengan berbagai eksperimen, sehingga diketahui hukum-hukum alam yang menjadi dasar terjadi fenomena itu.
Bukanlah disitu tempatnya menguraikan kekuatan dan kelemahan pandangan tersebut. Namun, yang jelas bahawa tidak ada yang terjadi di alam raya ini kecuali atas izin dan kehendak Allah. Akan tetapi, perlu di ingat adalah bahawa kehendak-Nya tersebut, pada dasarnya, tercermin pada hukum-hukum alam yang di ciptakankan-Nya. Bila seorang tidak menyesuaikan diri dengan kehendak Nya yang tercermin dalam hukum-hukum alam itu, dia pasti mengalami kesulitan. Dia akan menngalami bencana, baik pada dirinya mahupun lingkungannya. Di sini kita harus berkata bahawa bencana itu adalah kehendak-Nya juga. Bukankahia yang menciptakan hukum-hukum Nya?
Al-quran mengecam manusia yang tidak menggunakan logika lurus. Perhatikan firman-Nya, Mereka (orang-orang kafir berkata, Kami mempunyai lebih banyak harta dan anak-anak daripada kamu, 9sehingga) kami tidak akan disiksa. Katakanlah, sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezeki bagi sesiapa yang dikehendaki-Nya dan menyempitkannya (bagi siapa tang dikehendaki-Nya), tetapi kebanyakkan manusia tidak mengetahui (QS Saba [34]: 35-36).
Mereka tidak mengetahui bahawa lapang dan sempitnya rezeki tidak ada kaitan nya dengan murka atau redha Allah, tetapi berkaitan dengan hukum-hukum alam yang di ciptakan Nya.Perolehan seseorang-positif atau negetif-berkaitan dengan sikapnya terhadap hukum-hukum alam yang mencerminkan kehendak Allah itu.
Logika tidak lurus terlihat juga dalam sikap kita terhadap bencana. Sering kali kita menyatakan, Itu takdir Ilahi. Akan tetapi, bila nikmat-Nya yang kita perolehi, maka kata takdir tidak pernah teringat. Suatu hal yang luar biasa yang hanya terjadi sesekali, kita jadikan ia sebagai tanda-tanda dari Allah. Akan tetapi, bila itu terjadi berulang-ulang, kita lupa menjadikan sebagai tanda. Ketika itu, kita mengagumi atau memperhatikannya lagi. Padahal, pada hakikatnya, segala sesuatu adalah tanda-tanda dari Nya tanda-tanda kebesaran dan kekuasaan-Nya.
Alam raya dan segala isinya, fenomena dan peristiwa-peristiwanya, yang terjadi berulang kali atau hanya terjadi sesekali, semua dinamai oleh Al-Quran dengan ayat (tanda-tanda). Sesungguhnya dalam penciptaan (sistem tata kerja langit dan bumi, penggantian siang dan malam, bahtera yang belayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering) nya, dan Dia di bumi itu segala jenis haiwan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi, sungguh terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir (QS Al-Baqarah [2]:164).
Adakah keterkaitan antara manusia dengan alam? Pasti ada! Tumbuhan dapat tumbuh lebih subur jika ada upaya manusia menyangkut tanah dan pemeliharaannya. Banjir dapat terjadi jika manusia menebang pepohon. Itu dua dari sekian banyak contoh yang mudah kita temukan.
Di sisi lain, semakin banyak kita ketahui tentang alam raya, semakin banyak pula yang dapat di persembahknya-Nya -atas Izin Allah-kepada kita. Demikian juga, semakin erat kerjasama antara manusia, semakin banyak pula manfaat yang dapat mereka raih. Lalu, adakah kaitan antara kederhakaan manusia kepada Allah seperti kekufuran dengan bencana alam? Agaknya tidak keliru jika kita menegaskan bahawa Al-Quran menyatakan adanya dosa dan pelanggaran yang dilakukan manusia mengakibatkan ganguan keseimbangan di darat, di laut dan udara.
Ketiadaan keseimbangan itu, mengakibatkan becana bagi makhluk hidup termasuk manusia. Semakin banyak pengurusan terhadap lingkungan, semakin besar pula kesan buruknya. Semakin banyak dan beraneka ragam dosa manusia, semakin parah pula kerosakan lingkungannya. Hakikat ini merupakan kenyataan yang tidak dapat ditolak lebih-lebih lagi dewasa ini. Demikian Alah s.w.t menciptakan semua makhluk, saling kait-berkait. Dalam keterkaitan yang harmoni, lahir keserasian dan keseimbangan dari yang terkecil hingga yang terbesar, dan semua tunduk dalam pengaturan Allah Yang Maha Besar.
