Hakikatnya kebakaran di Los Angeles yang jelas lebih menderita adalah warga Amerika Syarikat. Mereka ini umumnya adalah Yahudi atau keturunan diaspora Yahudi yang tinggal di wilayah kaya di Los Angeles, California AS. Mereka yang menjadi korban kebakaran itu umumnya adalah adalah penduduk dwi kewarganegaraan iaitu AS dan Israel. Dimana sejak perang Gaza meletus hampir semua penduduk Israel yang kaya itu berpindah ke AS dan bergabung dengan komuniti tetap Yahudi kaya AS yang umumnya tinggal di daerah terkaya di AS itu, iaitu kota Los Angeles California.
Saat terjadi kebakaran hebat saat ini yang menimpa penduduk tetap dan para migran asal Israel, tentu mereka samasekali tidak pernah menyangka bahawa malapetaka seperti di Gaza itu boleh pula pada akhirnya sampai di rumah mereka di wilayah paling aman di dunia saat ini.
Orang kaya biasa selesa, tiba-tiba jatuh miskin itu suatu penderitaan batin yang luar biasa. Apalagi sebahagian besar mereka dibiarkan hidup untuk menyaksikan kehancuran kekayaannya yang selama ini mereka banggakan itu.
Bagi orang kafir yg materialistik pandangan hidupnya, seperti umumnya orang Amerika yang non-muslim (apalagi Yahudi, korban terbanyak di kebakaran Los Angeles itu)... itu seksaan yang luar biasa selama mereka masih hidup. Begitu terseksanya sehingga biasanya banyak yang memilih bunuh diri karena tidak kuat menanggung penderitaan menjadi miskin itu.
Makanya yang juga menarik, kenapa mereka majoriti dibiarkan selamat tidak mati... hidup dalam kemiskinan justeru lebih menyeksa bagi orang yang pernah kaya. Makanya sehingga nabi SAW pun pernah menghimbau agar mengasihani orang kaya yang jatuh miskin.
Bagi orang Palestin yang muslim, yang kehilangan nyawanya atau keluarganya syahid, tentunya itu tidak sia-sia. Insya Allah mereka mati syahid. Dan pahala mati syahid kita semua sudah tahu itu. Bahkan mereka sesungguhnya tidak mati.
“Janganlah kamu mengatakan bahwa orang-orang yang terbunuh di jalan Allah (mereka) telah mati. Namun, (sebenarnya mereka) hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya”.
(QS. Al-Baqarah: 154)
Wallahu a'lam
