Jabir ra, mengisahkan, ada seorang pemuda Anshar bernama Taalabah bin Abdurrahman. Suatu hari, ia melewati rumah salah seorang Anshar, lalu memperhatikan keadaan sekelilingnya. Matanya tertuju pada seorang perempuan yang sedang mandi, la berhenti sejenak untuk melihatnya. Tiba-tiba terbersit dalam hatinya, jangan-jangan perbuatan saya ini menjadi penghalang turunnya wahyu kepada Nabi Muhammad saw. la kemudian amat menye-sali perbuatannya.
Dengan penuh penyesalan, Tsalabah meninggalkan perkampungan menuju sebuah gunung yang terletak di antara Makkah dan Madinah, Di gunung itulah, ia menangis sejadi-jadinya selama 40 hari. Sampai akhirnya Rasulullah bertanya tentang Tsalabah. Pada saat itu, wahyu tidak turun selama 40 hari hingga orang-orang kafir mengejek, "Tuhan telah melupakan Muhammad." Tiba-tiba malaikat Jibril datang dan mengabarkan bahwa ada seorang pemuda yang mengharapkan siksa api neraka.
Rasul saw. mengutus Umar bin Khatab dan Salman al-Farisi untuk membawa Tsalabah ke hadapannya. Keduanya lalu meninggalkan kota Madinah. Mereka bertanya pada seorang penggembala setempat. la menjelaskan bahwa pemuda yang sedang mereka cari, selama 40 hari terus melolong sambil meletakkan kedua tangannya di atas kepala, "Andai saja... jiwaku tercabut dan aku tidak lagi dibangkitkan di hari kiamat."
Malam perlahan mulai bergerak, ketika dua sahabat Nabi tiba di atas gunung. Tsalabah menampakkan dirinya sambil berkata, "Andai saja jiwa dan ragaku ini musnah". Umar berusaha menenangkan Tsalabah hingga akhirnya berhasil mengajaknya pulang, "Tenanglah! Siapa pun tak ada yang rela dengan perbuatan dosanya," kata Umar.
"Wahai Umar! Bawalah aku ke hadapan Rasul saw saat beliau sedang shalat atau ketika Bilal sedang menguman-dangkan iqamah," jawab Tsalabah.
Ketika Tsalabah mendengar bacaan al-Quran Rasul (dalam shalat), ia tidak sadarkan diri. Selesai menunaikan shalat, Rasul saw. datang menghampirinya. Cahaya Rasul yang mulia membangunkan Tsalabah dan memberinya ketenangan. Ringkas ia berkata, "Ya Rasulullah! Betapa aku malu dan menyesal atas dosa yang kulakukan." Rasul lalu menjawab, "Aku akan mengajarkan kepadamu sebuah ayat yang dengannya dosa-dosa seorang hamba akan diampuni,
"Di antara mereka ada juga yang berdoa, 'Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat serta lindungilah kami dari azab neraka." (QS. al-Baqarah [2]: 201)
Tsalabah kembali berkata, "Dosaku sungguh besar." Rasul bersabda, "Tapi firman Allah jauh lebih besar dari dosa yang engkau lakukan." Tsalabah kemudian kembali ke rumahnya. Tiga hari tiga malam ia shalat dalam keadaan berlinang air mata. Rasul saw. datang dan membisikkan kepadanya bahwa dosa-dosanya telah diampuni.
“ Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menzalimi diri sendiri, (segera) mengingat Allah, lalu memohon ampunan atas dosa-dosanya, dan siapa (lagi) yang dapat mengampuni dosa-dosa selain Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan dosa itu, sedang mereka mengetahui”.(Surah Al-Imram 135)
