Suatu ketika, seorang tok guru bertanya kepada para pelajarnya. “Tahukah kamu, siapakah orang yang penting itu?”. Seorang pelajar mengangkat tangan, “orang kaya”, jawabnya. “Salah,” kata tok guru. Seorang pelajar yang lain mengangkat tangan berikutnya, “pemimpin”, katanya. “Salah”, kata tok guru lagi.
Mendengar dua jawapan kawannya salah, pelajar yang lain semakin bersemangat berlumba-lumba memberi jawapan. Dengan penuh keyakinan, seorang pelajar yang selama ini merasa lebih pandai berbanding kawan-kawannya yang lain menjawab, “Tok guru”, katanya. “Salah”, kata sang tok guru pula. Pelajar berikutnya pun berdiri dan mengangkat tangan. Ia menjawab, “ulama”, kata si pelajar. Namun tok guru masih menyalahkan jawapan itu.
Para pelajar semakin penasaran mencari-cari jawapan. Setelah berfikir sejenak, seorang pelajar yang dari tadi diam duduk di belakang memberanikan diri memberi jawapan. “Presiden”, katanya. Jawapan itu pun masih disalahkan oleh sang kiyai yang sangat mereka hormati itu. Tiba-tiba muncul suara berikut tanpa mengangkat tangan terlebih dahulu, “polis”, katanya, dengan suara yang sangat keras, sehingga kawan-kawannya terkejut dan akhirnya tertawa terpingkal-pingkal.
Setelah tidak ada lagi yang berani menjawab, tok guru berkata, “Anak-anak sekalian! Orang penting itu bukan polis, bukan tok guru bukan ulama, bukan pemimpin, bukan orang kaya atau bahkan bukan perdana menteri. Orang yang penting itu adalah orang yang mementingkan kepentingan orang lain. Itulah orang yang penting dan itulah orang yang dipandang penting oleh masyarakat.
Sungguh sangat mendalam maknanya apa yang dikatakan oleh tok guru di atas. Apalah ertinya orang kaya, apabila dalam fikirannya hanya wang dan tidak peduli dengan kepentingan orang lain, atau bahkan dengan karib kerabatnya sendiri yang hidup dalam kesusahan. Apalah ertinya seorang tok guru atau ulama apabila ia hanya bangga dengan jubah kebesarannya dan tenggelam dengan retorika-retorika dakwahnya namun pada masa yang sama tidak mempedulikan jiran tetangga dan jamaah masjid di kawasan tempat tinggalnya yang memerlukan bimbingan agama.
Apalah ertinya pemimpin atau bahkan perdana menteri, bila ia sibuk memikirkan pangkat, jawatan dan gila kehormatan tanpa ambil berat dengan kesukaran rakyat jelata yang berada di bawah tanggungjawabnya. Orang kaya, ulama, tok guru, pemimpin, perdana menteri dan lain-lain seperti itu bukan orang penting. Mungkin mereka saja menganggap dirinya orang penting, sementara orang lain tidak memandang keperluan ia berada di tengah-tengah mereka.
Orang-orang seperti ini kalau mati tidak ada orang yang merasakan kehilangan, kerana ia bukan orang penting. Mereka adalah orang-orang yang tidak berguna, kerana memang tidak ada manfaat apa-apa yang dapat diambil masyarakat dari dirnya. Inilah yang disebut oleh Nabi sebagai manusia celaka. Manusia yang hanya tahu memikirkan dirinya saja. Kalaupun ia melantik orang lain dalam perniagaannya, ia tidak lebih dari sekadar memperalat mereka untuk kepentingan dirinya sendiri.
Ia tidak mengenal istilah pengabdian, berkhidmat kepada negara apatah lagi pengorbanan. Akan lebih celaka lagi, bila orang-orang seperti itu tampil sebagai pemimpin. Maka, ia hanya menjadi pemimpin yang penuh dengan kemunafikan. Semua diucapkan “demi rakyat” namun di hatinya hanya ada “demi dirinya sendiri”. Pertanyaan kita, adakah orang-orang seperti ini di tengah-tengah kita sekarang?. Kalau ada, berapa ramai jumlahnya? Kalau ramai bagaimana cara menguranginya? Kita hanya berharap Allah segera mengambil “tindakan”.
