HARGA SEBUAH KEJUJURAN

HARGA SEBUAH KEJUJURAN

SYAHDAN, tersebut kisah seorang anak miskin. Namanya Hatim. Ia tinggal di gubuk reot disebuah desa yang tak tercatat dalam sejarah. Meski miskin dan makan seadanya, tapi direlung hatinya tersimpan iman yang kokoh. Iman yang mengantarkannya tak pernah melakukan kebohongan (kemunafikan) selama hidupnya. Ia memang tak berpendidikan, tapi "terdidik". Ia tak menjual "pencitraan". Sebab tak ada yang akan percaya dengan tampilan dan atribut yang dikenakannya.

Kejujuran Hatim menjadi buah bibir penduduk desa, bahkan menyeruak ke pusat kota. Akhirnya, berita kejujuran Hatim sam-pai ketelinga khalifah.

Mendengar berita tersebut, khalifah tak percaya, apalagi di tengah kehidupan manusia yang senang menjual kebohong-an beratribut agama. Lalu, khalifah meminta agar perdana menteri memanggil Hatim menghadapnya. Ia ingin menguji kejujuran si anak miskin tersebut. Tak berselang lama, Hatim datang ke istana untuk menemui khalifah. Di hadapan pembesar istana, khalifah menawarkan setumpuk emas bila ia bisa berbohong. Khalifah berkata, "wahai Hatim, katakan jika tadi engkau mencuri sepotong roti.

Bila engkau mengaku telah mencuri, maka semua tumpukan emas ini menjadi milikmu". Melihat tumpukan emas depan mata, membuat Hatim terkesima. Terjadi pertarungan antara iman dan nafsu dalam dirinya. Namun, secara tegas ia berkata, "wahai khalifah, meski aku miskin, tapi aku memiliki Allah Yang Maha Kaya dan Rasul sebagai tauladan. Aku tak pernah mencuri, meski sepotong roti". Jawaban tegas dan jujur, meski berakibat hilangnya --hadiah-- tumpukan harta (emas berlian) di depan matanya. Padahal, bila ia mau berbohong, maka harta tersebut bisa membuatnya kaya. Tapi, tumpukan emas tersebut tak bisa membeli iman dan kejujuran yang selama ini menjadi "pakaiannya".

Mendengar jawaban Hatim yang tegas dan lugas, khalifah tersenyum, berdiri, dan menarik tangan Hatim seraya berkata: "Hatim, engkau adalah keberkahan. Kau hadir sebagai manusia pilihan yang tak menjual kebenaran demi kekayaan dan jabatan. Apalagi di tengah kehidupan yang biasa menjual harga diri, tapi masih tersisa manusia jujur yang tak bisa dibeli. Wahai Hatim, jagalah kejujuranmu. Aku sangat memerlukan manusia sepertimu. Mulai saat ini, aku akan angkat engkau sebagai penasihatku dan tinggal di istana. Engkau akan mengingatkanku bila keliru, bukan sekedar menjilat, ambil muka, dan membiarkanku melakukan kesalahan". Sementara sebagian khalifah justru "memelihara" para penjilat sebagai pembantu dan me-nasehatinya. Hal ini dilakukan agar suara pujian terus "bergemerincing".

Cerita Hatim di atas memberi pelajaran berharga, terutama bagi manusia yang haus kejujuran di tengah tuntutan zaman jahiliyah yang menawarkan kebohongan untuk mendapat "kekayaan", antara lain:

Pertama, Tingginya derajat pemilik kejujur-an (iman) dibanding segunung emas. Allah angkat kemuliaannya dan perlihatkan kehinaan para pendusta yang tampil anggun. Sebab, kemuliaan hanya diberikan pada hamba-Nya, bukan para pendusta. Untuk itu, Allah secara tegas mengingatkan : "Dan sungguh, Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka Allah pasti mengetahui orang-orang yang benar (jujur) dan pasti mengetahui orang-orang yang dusta" (QS. al-Ankabut : 3).

Imam Ibnul Qayyim berkata, "dasar iman adalah kejujuran (kebenaran) dan penghancurnya adalah nifaq (kedustaan)". Tak akan pernah bertemu antara keimanan dan kedustaan. Untuk itu, Allah mengkhabar-kan bahwa tidak ada yang bermanfaat bagi seorang pendusta atas azab-Nya, kecuali dengan kejujurannya. Sebab, ke-jujuran merupakan sifat para nabi dan rasul. Sifat yang terpelihara dan menghan-tarkan kemuliaan di sisi-Nya. Rasulullah mengajarkan bahwa: "Sesungguhnya kejujuran itu membawa kepada kebaikan, dan kebaikan itu membawa kepada surga. Seseorang yang selalu berkata jujur akan dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur” (HR. Bukhari dan Muslim).

Namun, pemilik kejujuran acapkali sulit ditemukan. Keberadaannya bagai "mencari jarum ditumpukan jerami". Sebab, ia tak pernah mempublikasikan dirinya. Ia pelihara kejujuran hanya untuk Allah dan Rasul-Nya. Berbeda dengan manusia pembohong yang sangat mudah ditemu-kan. Tampil begitu anggun mengisyaratkan kesalehan, katanya lembut menguntai keikhlasan untuk menutupi keserakahan, janjinya manis menyisakan racun berbisa, dan lisan basah dengan sumpah yang mengatasnamakan Allah. Bahkan, untaian kebohongan tetap dipertahankan meski di tanah haram. Kebiasaan yang terbangun kokoh, tanpa mampu disingkirkan. Anehnya, banyak yang percaya. Akibatnya, pemilik kejujuran justru dianggap "racun" yang perlu disingkirkan dan menilai ke-bohongan bagaikan "madu" yang perlu dibela. Kekelirian bak pepatah leluhur mengingatkan "disangka emas ternyata loyang" (disangka mulia, tapi nista).

Popularitas manusia yang demikian hanya dikenal mulia penduduk bumi, tapi hina menurut penduduk langit. Rasulullah SAW bersabda : "Kebohongan membawa ke-pada perbuatan kejahatan, dan perbuatan kejahatan membawa kepada neraka” (HR. Bukhari dan Muslim).

Paling tidak, ada beberapa alasan pen-duduk bumi menghargai para pendusta, yaitu : (1) ketidaktauannya atas sifat asli (pendusta) yang dilapisi kesantunan dan pakaian agama. (2) penghargaan hadir oleh manusia yang memiliki sifat serupa (pembohong). Kondisi ini menyebabkan kebohongan semakin mentradisi dan mengkristal. (3) penghargaan imitasi. Ia dihargai selama "ada manfaat yang bisa diambil". Andai iman masih tersisa, hanya terungkap melalui "bisik-bisik dibalik tirai". Namun, ketika manfaat telah sirna, maka cemoohan yang akan muncul. Terbuka semua aib dan nista diri yang selama ini diturupi. Karakter yang demikian merupakan wujud manusia munafik. Sebab, ia telah membiarkan (menutupi) terjadi kebohong-an yang berujung kezaliman dan pelanggaran atas ayat Allah. Hal ini secara tegas di-ingatkan Allah melalui firman-Nya: "Sesungguhnya yang mengada-adakan kebohongan hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah, dan mereka itulah orang-orang pendusta" (QS. An-Nahl: 105). 

Kedua, Sosok khalifah yang berkarakter jujur akan dihadirkan-Nya dengan rakyat (penasehat) berkarakter yang jujur pula. Sebaliknya, bila khalifah berkarakter khianat, maka ia akan dipertemukan dan dikelilingi dengan manusia khianat pula. Pertemuan tersebut merupakan hukum kausalitas (sunnatullah) yang dijanjikan-Nya. Untuk itu, Rasulullah mengingatkan : "Seseorang itu tergantung pada agama temannya, maka perhatikanlah siapa yang menjadi temannya" (HR. Tirmidzi).

Hadis di atas menekankan pentingnya me-milih teman yang baik dan menjauhi orang yang berperilaku buruk. Hal ini bertujuan untuk melindungi diri dari pengaruh negatif dan menjaga diri dari perbuatan dosa. Tapi, manusia acapkali tak menyadari dan justeru menafikannya. Takut pada pemilik kejujuran akan membuka keburukannya. Hadir keangkuhan merasa paling benar, "menghakimi orang" seakan diri paling suci, subur keserakahan "aji mumpung", dan tampil licik untuk bisa merekayasa kejahatan seakan sebagai kebenaran.

Khalifah memang tak buta, tapi acapkali serakah atau silau oleh pundi-pundi yang dibawa "sekitar pinggangnya". Akibatnya, ia menjadi tak tau diri atau tak tau wujud prilaku asli bawahannya. Hanya pemilik kejujuran yang mampu melihat semua fenomena. Sebab, hatinya bersih dan lidah-nya selalu basah berharap cinta-Nya.

Sungguh, alat ukur --umumnya--  melihat karakter khalifah dengan melihat kualitas kepribadian manusia yang ada disekitar-nya. Biasanya, ia berkumpul sesuai sifat-nya. Sebab, tak akan pernah bercampur antara kebaikan dan keburukan (bangkai). Demikian janji Allah dalam QS. al-Baqarah : 42. Janji Allah tak pernah berubah.

Ketiga, Kejujuran tak mengenal status dan pendidikan. Ia bisa hadir dari manusia hina di dunia, tapi ia mulia dan selalu diperbincangkan penduduk langit. Rasulullah bersabda : "Sesungguhnya Allah tidak melihat pada bentuk rupa dan harta kalian, tetapi Allah melihat pada hati dan amalan kalian" (HR. Muslim).

Begitu jelas Rasulullah mengingatkan, tapi manusia justeru memilih sebaliknya. Peni-laian pada tampilan dan keturunan (nepo-tisme), bukan kualitas akal dan hati yang bersorbankan adab mulia. Penghargaan hanya ketika ada kuasa. Namun, semua hilang ketika "kuku" tak lagi ada. Tak ter-sisa adab manusia. Semua berubah hina melebihi hewan melata (QS. al-A'raf : 179).

Bagi manusia yang sadar sebagai hamba-Nya, kejujuran merupakan berlian yang di-cari. Tapi, bagi manusia "picisan", pemilik akal bulus (licik) justeru dijadikan teman. Akibatnya, kejujuran tak lagi diperlukan. Pe-miliknya akan dipandang aneh dan harus disingkirkan. Seiring subur para pendusta (cari muka) yang membuat hati "khalifah" senang. Kenistaan nyata yang dibangga-kan. Padahal, Allah telah berfirman : "Celakalah pada hari itu (kiamat *pen), bagi mereka yang mendustakan kebenaran !" (QS. al-Mursalat : 47).

Sungguh, melalui kisah Hatim di atas, ter-lihat si miskin mampu berlaku jujur. Sifat yang "menampar" orang kaya, berpendidik-an, dan berstatus yang acapkali miskin ke-jujuran. Mungkin manusia modern tak lagi perlu kejujuran dan agama. Bila beragama, ianya hanya sebatas label dan "jubah" (topeng) untuk menutupi keburukan. Topeng yang membuatnya bebas berbuat kemungkaran. Untuk itu, agar siasat culas berhasil, maka semua pemilik kejujuran akan disingkirkan. Anehnya, meski semua tau --rahasia umum-- atas kesalahan yang begitu nyata, tapi membisu dan "senyum" kecut tak peduli. Sirna sudah agama dan idealisme. Sebab, telah terjual "harga diri" dengan harga yang murah (QS.al-Baqarah : 41-42). Mungkinkah semua ini pertanda dekatnya akhir zaman ?. Entahlah...

Wa Allahua'lam bi al-Shawwab.***

Prof Samsul Nizar adalah Guru Besar IAIN Datuk Laksemana Bengkalis dan Waketum PB-ISMI

 

Hubungi Kami

Alamat:
No.5B, Jalan 3/70 Damai Point, Seksyen 3, 43650 Bandar Baru Bangi. Selangor

Telefon: +60 17-377 7732
Email: alfalahmadani2022 [@] gmail.com

Jumlah Pengunjung

048171
Hari ini: 119
Minggu Ini: 1,707
Bulan Ini: 3,633
Tahun Ini: 48,171
Tahun Lepas: 5,538
Image

Alfalahmadani.my merupakan sebuah portal yang bertanggungjawab untuk bertindak sebagai penampan bagi setiap tuduhan, fitnah, kekeliruan, ketidakfahaman dan kecelaruan yang berlegar di minda rakyat. Sama ada isu-isu yang timbul secara organik di media sosial, ataupun yang didorong sebagai naratif oleh pihak-pihak tertentu,

Alfalahmadani.my akan menjawab setiap permasalahan dengan pengetahuan, kebijaksanaan dan kebenaran. Tentunya, kehadiran Alfalahmadani.my bukan berhasrat menyatakan kesempurnaan pemikiran, tetapi sebagai wahana untuk menuju kesempurnaan pengetahuan dalam konteks pemikiran semasa, dan kebijaksanaan yang mampu diusahakan.