Setiap hamba berharap memperoleh ilmu laduni. Tapi, tak semua berhasil mendapat-kannya. Sebab, ilmu laduni merupakan anugerah-Nya pada hamba pilihan. Meski kalanya ada manusia yang mengaku atau dinilai memilikinya, namun belum tentu ia memiliki ilmu yang dimaksud. Sebab, hamba yang meraih ilmu laduni memiliki akhlak mulia, bukan kemunafikan.
Secara bahasa, ilmu laduni adalah ilmu yang diberikan Allah kepada hamba pilihan yang dikehendaki-Nya, tanpa perlu belajar melalui perantara guru atau kitab. Ilmu ini merupakan karunia khusus dari-Nya yang diberikan kepada hamba pemilik hati yang bersih, tawadhu', dan akhlak mulia. Untuk itu, pemilik ilmu laduni dianggap memiliki karomah yang berdimensi rahmatan lil 'aalamiin, bukan mafsadah lil 'aalamiin.
Dalam Al-Qur'an, di antara nabi dan rasul yang diberikan-Nya ilmu laduni antara lain Nabi Khaidir dan Nabi Muhammad SAW. Keduanya memperoleh ilmu langsung dari Allah. Adapun ilmu yang dianugerahkan-Nya kepada Nabi Khaidir dinyatakan Allah melalui firman-Nya : "Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami" (QS. al-Kahfi 65).
Menurut Ibn Katsir, ayat di atas mencerita-kan pertemuan Nabi Musa dan muridnya (Yusya' bin Nun) dengan seorang hamba-Nya yang saleh (Nabi Khaidir) di suatu tempat bertemunya dua lautan. Nabi Khaidir memperoleh ilmu langsung dari Allah, tanpa proses umumnya. Pertemuan ini menjelaskan pentingnya mencari ilmu dari ahlinya, menghormati guru (beradab), dan mengakui kelebihan ilmu orang lain. Melalui penjelasan ini, ada beberapa pelajaran yang bisa diambil atas ilmu laduni yang acapkali disematkan pada sosok seseorang, antara lain:
Pertama, Ilmu laduni merupakan anugerah-Nya dan tak bisa dipelajari. Ia dihadirkan dengan kuasa-Nya. Hamba yang memperoleh anugerah ilmu laduni tercermin pada karakter hamba-Nya yang meniru kemuliaan akhlak Rasulullah.
Dalam Islam, ilmu laduni bisa diperoleh setiap manusia yang dikehendaki-Nya. Hamba pemilik kesucian jiwa dan dekat dengan Allah. Hal ini dinyatakan melalui firman-Nya: "Dia mengetahui yang gaib, tetapi Dia tidak memperlihatkan kepada siapapun tentang yang gaib itu. Kecuali kepada rasul yang diridhai-Nya, maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di depan dan di belakangnya” (QS. al-Jin : 26-27).
Memahami ayat di atas, Rasulullah menyebut bahwa manusia yang dikaruniai ilmu laduni hanya hamba mensucikan jiwanya dan menjernihkan kalbunya. Ilmu laduni pada Nabi atau Rasul disebut mukjizat. Pada para wali-Nya disebut karamah. Sedangkan pada hamba yang mukmin dan berakhlak mulia disebut ma’unah.
Pemilik ilmu laduni terlihat pada wujud penghambaan (takwa) yang ikhlas dan kekhalifahan yang rahmatan lil 'aalamiin. Hal ini sebagaimana dinyatakan oleh Imam Junaid, bahwa "ilmu laduni hanya dikaruniakan-Nya kepada hamba yang hatinya selalu ingat kepada Allah SWT, zuhud atau tidak memperturutkan nafsu dunia". Indikasi hamba yang demikian terlihat bila diberi amanah (kuasa) selalu mengayomi, derajatnya selalu melindungi, ilmunya selalu menerangi, katanya menjadi suluh kejujuran (bukan kemunafikan), keputusannya berkeadilan, dan hadirnya membawa kesejukan. Sebab, ilmu laduni merupakan anugerah-Nya pada orang yang hatinya bersih. Dengan demikian, jiwanya mampu berkomunikasi dengan Allah (sumber ilmu). Sebab, pemilik ilmu laduni tak pernah melanggar aturan-Nya, apatah-lagi bersifat munafik. Pemilik ilmu laduni selalu menyembunyikan apa yang dimiliki sebagai "rahasia bersama-Nya".
Berbeda dengan manusia yang hanya mengaku pemilik ilmu laduni. Ia tampil layaknya manusia tanpa dosa, tapi hanya sebatas menutupi sifat "haus darah" yang bergejolak. Sangat aneh bila ada manusia yang mengaku memiliki ilmu laduni, namun terbiasa berlaku munafik, dusta, iri, dengki, serakah, zalim, berharap pundi, dan varian sifat tercela lainnya. Sosok yang demikian, dipastikan bukan pemilik ilmu laduni. Sebab, sosok-nya bertentangan dengan ajaran-Nya.
Kedua, Ilmu minta" diladeni" (bahasa Jawa) bermakna tindakan mengharap atau meminta dilayani, dipuja, dan dihargai. Tentu bentuk penghargaan yang bersifat khusus atas posisi yang dimiliki. Setiap bentuk pelayan-an selalu berkorelasi dengan "harapan" sang pelayan sesuai kuantitas permintaan yang diharapkan. Semakin tinggi harapan dan mewah pelayanan, semakin besar kompensasi yang harus dipenuhi sesuai kesepakatan.
Pemilik ilmu berharap "diladeni" melalui pengakuan memiliki ilmu laduni bertujuan untuk memperoleh pengakuan umat berikut penghormatan dan pelayanan (diladeni) bak manusia mulia tanpa dosa.
Sungguh, sifat manusia "minta dilayani" sangat bertentangan dengan ajaran Islam. Sebab, sifat ini hanya membawa kesulitan pada sesamanya. Dalam Islam, setiap penerima amanah merupakan "pelayan", bukan minta dilayani. Hal ini diingatkan Rasulullah dalam sabdanya : “Barangsiapa yang mempersulit urusan seorang mukmin di dunia, maka Allah akan mempersulit urusannya di akhirat” (HR. Muslim).
Pemilik ilmu laduni dihadirkan untuk melayani umat, bukan minta dilayani apalagi difasilitasi. Sebab, kehadirannya sebagai khalifah yang rahmatan lil 'aalamiin, bukan penyebar petaka (mafsadah) dan kezalim-an di muka bumi. Untuk itu, Allah hanya akan menganugerahkan ilmu laduni pada hamba yang tepat dan amanah, bukan pengkhianat dan munafik. Hal ini diingat-kan melalui firman-Nya : "Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semua-nya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianati-Nya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh" (QS. al-Ahzab : 72).
Ibnu Katsir menafsirkan ayat di atas untuk mengingatkan sifat asli manusia. Idealnya, siap menerima amanah bila merasa mampu dan sanggup. Sementara, nyata-nya kebanyakan mereka tak memiliki kemampuan justru "minta-minta" agar diberi amanah. Akibatnya, manusia sering-kali berbuat kezaliman atas kejahilannya (kebodohan) dan dorongan keserakahan nafsunya. Namun, kelemahan dirinya tak pernah mau diakui. Berbagai upaya dilakukan agar terlihat mumpuni. Sungguh, manusia yang demikian telah menzalimi diri dan keluarganya dengan membeli "pakaian dan selimut" dari api neraka.
Kadangkala, "secangkir kopi lebih jujur ketimbang manusia. Kopi berwarna hitam, tanpa pernah pura-pura berlagak putih. Kopi rasanya pahit, tanpa pernah pura-pura tampil manis. Sementara manusia sulit diprediksi. Tampil bagaikan malaikat, tapi khianat. Mengaku atau dianggap pemilik ilmu laduni, padahal hanya ilmu (upaya) minta diladeni (berharap pelayanan yang istimewa dan dinilai mulia).
Sungguh, prilaku di atas bukan tanda pemilik ilmu laduni, tapi tanda pemilik ilmu (siasat) minta "diladeni". Sebab, pemilik ilmu laduni selalu menyembunyikan apa yang dimiliki, bukan mengaku dan ingin dipublikasi.
Sungguh, mengaku pemilik ilmu laduni hanya sebatas topeng untuk menutupi wajah kemunafikan semata. Topeng agar dinilai suci dan mulia guna bebas berbuat kesewenangan (zalim). Prilaku yang demikian merupakan indikasi nyata manusia munafik. Ia tampil dengan topeng anggun, suci, dan mulia di mata manusia. Padahal, ia begitu hina di sisi Allah dan Rasul-Nya. Semua tipuan kesalehan yang dilakukan hanya akan menghantarkannya sebagai penghuni kerak neraka. Hal ini diingatkan melalui firman-Nya : "Sungguh, orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu tidak akan mendapat seorang penolong pun bagi mereka” (QS. An-Nisa’ : 145).
Meski ayat di atas begitu jelas, namun se-gelintirnya tak pernah takut dan terkesan "menantang" Allah. Anehnya, prilaku yang demikian segelintirnya dilakukan oleh manusia yang mengerti dengan agama. Lidahnya fasih bersumpah atas nama Allah seakan malaikat. Padahal, berkarak-ter toxic yang begitu menyayat. Ia hanya menggunakan asesories kesalehan untuk menutupi kesalahannya yang membusuk. Tapi anehnya, manusia berkarakter toxic acapkali berpeluang tampil kepermukaan, dipercaya, dihargai, dimuliakan, bahkan dilindungi.
Sosok pemilik "ilmu diladeni" hanya berharap puji dan dihargai. Dengan topeng status sosial dan "asesories keshalehan", tampil bak sosok manusia suci tanpa dosa. Kondisi ini akan semakin parah bila segunung untaian pujian dan penilaian kemulian oleh manusia yang berkarakter serupa (ambil muka). Padahal, memuji pelaku kemungkaran dan membiarkannya berbuat kezaliman berarti ikut melegalkan kesalahan (dosa). Sebab, melalui pujian dan pembelaan yang diberikan membuat diri yang dipuji semakin lupa diri dan jauh tersesat dari jalan menuju Allah. Meski lidah berpilin menyembunyikan kesalahan, tapi prilaku komunitas jelas terlihat. Hanya tersisa pemilik kebenaran yang membisu dan terkucil oleh kuatnya tembok "neraka". Akibatnya, karakter toxic semakin jumawa menghancurkan tatanan alam semesta.
Padahal, pemilik ilmu laduni yang sebenar-nya selalu tampil melayani, bukan minta dilayani. Demikian pola ajaran Islam sebagai agama peradaban tinggi. Agama menuntun pola berpikir pemilik peradaban tinggi agar menempatkan 1 orang pintar untuk mengatur 9 orang bodoh. Sedangkan pola berfikir pewaris peradaban rendahan akan menempatkan 1 orang bodoh untuk mengatur 9 orang pintar. Pilihan mana yang akan dijadikan acuan ?. Semua tergantung kualitas diri pemegang amanah atas arah dan pola yang akan dipilih.
Wa Allahua'lam bi al-Shawwab.***
Prof Samsul Nizar adalah Guru Besar IAIN Datuk Laksemana Bengkalis dan Waketum PB-ISMI
