Menulis merupakan ikhtiar menjaga peradaban manusia tetap eksis. Ia menjadi penyambung peradaban masa lalu, sekarang dan masa-masa mendatang. Melalui tulisan kita bisa belajar dari sejarah tentang orang tua kita dulu, tentang sejarah masa lalu, tentang kisah-kisah romantisme suatu kejayaan dengan segala penopangnya. Dari tulisan, kita juga bisa membuka tabir tentang kemajuan kejayaan suatu kerajaan dan sebab-sebab hancurnya. Tulisan telah menyuguhkan begitu banyak data dan fakta agar manusia semakin dewasa dalam menyikapi perbedaan, semakin cerdas menyelesaikan masalah dan semakin bermakna dalam mengisi hari-hari yang terus melaju tanpa jeda.
Tulisan sangat penting. Tuhan menurunkan Al-Qur’an sebagai hudan-petunjuk untuk orang-orang yang mutaqin. Al-Qur’an menjadikan mendesain mutaqin pada kerangka nilai-nilai dasar dalam keimanan, ibadah,kehidupan sosial dan pentingnya mempelajari peradaban manusia.
Pada nilai-nilai keimanan, mutaqin mempunyai kesadaran totalitas keyakinan diri kepada Allah dan hal-hal abstrak-ghaib- yang tidak lagi butuh pembuktian dengan akal, tetapi membutuhkan keimanan terhadap eksistensi-Nya dan karya-Nya.
Pada persoalan ibadah, mutaqin juga senantiasa menghambakan diri kepada Allah dengan menjalankan sholat secara khusu’. Sholat yang terasa nikmat saat berdialog dengan-Nya. Ada senyum, tawa dan tangis. Ada rindu dan harapan besar akan rahmat-Nya. Ada ketakutan ketika kehilangan-Nya. Ada bayangan yang selalu muncul saat sang mutaqin dimanapun berada. Dalam keheningan maupun keramaian. Ada sikap, perbuatan dan karya semata-mata dipersembahkan kepada-Nya.
Pada nilai-nilai sosial, mutaqin selalu saja menebarkan kedamaian dan kemanfaatan-anfa’ahum li an-nas. Bahkan pada titik terlemah pun jika tidak bisa berbuat kemaslahatan karena kondisi diri yang tidak memungkinkan, maka mutaqin beramal sholeh dengan memanjatkan doa kepada saudara-saudaranya.
Pada nilai-nilai pentingnya sejarah, mutaqin menyakini tentang hukum-hukum Tuhan dalam mengatur tatanan kehidupan mulai dari dulu hingga saat sekarang ini. Hukum-hukum Tuhan dalam wujud kitab-kitab suci-Taurat, Zabur, Injil dan Al-Qur’an-merupakan panduan sangat penting dalam menjaga keseimbangan orientasi manusia dalam kehidupan di dunia dan akherat.
Kontruksi bangun konsep mutaqin tersebut terekam dengan jelas di dalam Al-Qur’an. Sungguh susunan sejarah perjalanan manusia terekam sangat jelas di dalam nya.
Kita bisa melihat keindahan dunia; ada gunung, sungai, burung-burung, pohon-pohon hingga ratusan juta galaksi pada ayat-ayat al-qur’an. Kita bisa melihat realita kehidupan seorang perempuan menangis tersedu-sedu di padang pasir hanya di temani oleh seorang bayi laki-laki. Dia adalah hajar dan ismail. Bisa juga membaca kedengkian dalam keluarga atas kenikmatan yang telah diberikan kepada saudara-nya sendiri. Ada kisah Habil-Qabil dan Yusuf-Yahuda.
Kita juga bisa membaca dengan sangat jelas seorang kepala negara yang Tirani yang secara teori tidak ada satupun yang bisa menurunkan kekuasaannya. Faktanya hal tersebut terbantahkan. Ada gelombang ketidakpercayaan masyarakat sangat besar dan bergerak menumbangkan kekuasaan penguasa yang tirani kala itu. Ada Fir’aun-Nabi Musa dan Jalut-Nabi Dawud.
Semakin kita sering membaca Al-Qur’an, semakin terbukti kebenaran ayat-ayat nya. Ada gunung meletus, ada tanah longsor, ada kedurhakaan terhadap anak, ada penyakit HIV, ada kehancuran sebuah negara, ada perkelahian dengan saudara nya sendiri adalah gambaran kecil dari fakta-fakta yang tertulis dengan apik dalam Al-Qur’an.
Keindahan susunan sejarah kehidupan yang sedemikian menakjubkan dalam Al-Qur’an tiada lain berkah dari keberanian ijtihad Umar bin Khatab untuk melakukan kodifikasi firman-firman Allah dalam satu mushaf. Meskipun mendapatkan kritik tajam dari Abu Bakar dengan argumentasi yang mendasarkan pada tekstual Al-Qur’an dan Hadist, Umar bin Khatab tetap bersikukuh tentang pentingnya menulis ayat-ayat Al-Qur’an dalam satu mushaf. Keberanian yang kontroversi telah melahirkan karya teramat agung dalam sejarah peradaban Islam hingga saat sekarang ini.
Jejak digital berfikir revolusioner Umat bin Khatab perlu diteruskan oleh umat Islam. Melalui karya tulis inilah sebenarnya agama itu bisa terjaga dengan baik. Ia akan tetap hidup meskipun sang penulis telah meninggal dunia. Karya tulis akan senantiasa menjadi teman terbaik untuk mengawal konstitusi syariat Islam.
Dari sini, saya kira tradisi menulis dan mengaji Al-Qur’an sebagaimana dalam cabang Karya Tulis Ilmu Al-Qur’an-KTIQ-mempunyai peran penting agar generasi Islam semakin mencintai tradisi tulis menulis dan menganalisis isi kandungan Al-Qur’an. Itulah salah satu cara mencintai Al-Qur’an.
Sumber: imamghozali.id/
