Perbedaan orang besar dan orang kecil bukan dilihat pada aspek jasmani, kekayaan, derajat dan jabatan, kekuatan, bahkan kekuasaan. Perbedaan keduanya lebih pada aspek substansi pada kualitas yang dimilikinya. Orang besar selalu memberikan gagasan yang bernas dengan tak pernah membusungkan dada atas prestasi yang dicapai. Ia selalu sibuk mengurusi hal-hal yang besar untuk kemajuan umat manusia. Orang besar selalu bijak dalam bersikap dan tak pernah “lebay” dan mengeluh atas apa yang terjadi, apalagi hanya pandai mencari kambing hitam. Orang besar bagaikan Shalahuddin al-Ayubi menghadapi perang dengan mengatakan bahwa “aku meminta kekuatan dan kemudahan kepada Allah, akan tetapi Allah justeru memberikan kesulitan yang membuat aku menjadi semakin kuat (dan besar)”.
Sementara orang kecil hanya berpikir primordial dengan kebanggaan atas sekelumit yang dikerjakan dan hanya sibuk mengurusi hal-hal yang kecil remeh temeh. Keperibadiannya hanya pandai berkeluh kesah dan mencari kesalahan orang lain untuk dijadikan kambing hitam menutupi ketidakmampuannya. Akibatnya, ia hanya mampu membuat kesulitan bagi orang lain dan tak pernah menjadi pioneer pembaharuan dengan membagi kebahagiaan pada sesama. Yang ada hanya mampu membagi kekuasaan dengan fee yang menggiurkan, sesuatu prilaku yang tak bisa dibanggakan.
Bangsa yang besar hanya akan berdiri tatkala memiliki orang-orang besar. Melalui sentuhan orang-orang besar di atas, suatu bangsa akan maju berkembang dengan kewibawaan sebuah negara. Di tangan mereka negara akan maju dan disegani oleh pihak luar. Ia akan memberikan segudang ide pembaharuan yang cemerlang guna mengantarkan kesejahteraan bagi seluruh rakyat. Sosoknya begitu santun dengan sikap tawadhu’ sebagai pakaiannya. Di tangannya menggenggam pemikiran cemerlang untuk menyelesaikan persoalan besar yang sedang melanda dan mampu membawa perubahan besar bagi kemashalahatn umat manusia.
Berbeda dengan orang-orang kecil. Ia tampil dengan pemikiran kerdil yang dipaksa ala karbit. Pemikiran yang terbangun akibat kerdilnya wawasan dan jiwa yang dimiliki. Kesibukannya hanya mengurusi persoalan kecil dengan kebanggaan besar sebagai pakaiannya. Idenya tak lebih hanya sebatas ikat pinggang yang dipakainya. Akibatnya, kebijakan yang diambilpun hanya sebatas putaran ikat pinggang tersebut. Walhasil, keuh sejahteraanpun hanya mewakili dan menyentuh seputar ikat pinggangnya.
Tatkala orang-orang kecil ini mendapat amanah untuk menjadi pemimpin, maka imbasnya akan fatal. Bayangkan, negara besar akan bisa berubah menjadi kecil, bahkan mungkin tergadaikan. Negara yang dahulu dapat penghormatan dunia akan menjadi sekedar ejekan sinis nan menyakitkan. Sayangnya, hanya segelintir rakyat yang merasa sayatan sembilu tersebut, sementara mayoritas seakan terpana dan tak mau mengerti.
Akibat tak memiliki kemampuan pemikiran yang besar dan mengurusi persoalan besar, orang-orang kecil mencoba menutupi ketidakmampuannya dengan membesarkan (membusungkan) dadanya dengan bantuan strategi yang memikat. Namun, upaya tersebut ternyata kurang ampuh untuk mengelabui masyarakat seiring dengan kecerdasan yang dimiliki “kaum pinggiran”. Upayanya mengelabui hanya akan bertahan seumur jangung. Posisinya hanya ditakuti, bukan disegani. Indikasi yang terasa adalah maraknya cerita miring berkembang dibelakangnya. Sementara didepannya semua bermuka manis sebatas lipstick pemanis bibir.
Sudah saatnya bangsa besar ini disentuh oleh tangan-tangan orang besar. Melalui mereka, generasi menyandarkan harapan masa depan yang berkualitas dan sejahtera yang berkeadilan. Masyarakat mengidam-idamkan lahirnya orang-orang besar yang berpikiran cemerlang. Masyarakat menopang asa pada orang-orang besar untuk membawa perubahan membangun negeri.
Sejarah membuktikan, hanya orang-orang besar yang dapat membangun negera menjadi besar. Lihatlah Rasulullah, meski tanpa pendidikan formal layaknya kehidupan modern saat ini, namun beliau mampu membawa perubahan jazirah arab, bahkan dunia dengan hasil yang mencengangkan. Namanya dikenang dengan kenangan manis yang selalu menghiasi bibir setiap insane yang membicarakannya. Namun, sejarah juga membuktikan bagaimana Jengis Khan yang memiliki kekuatan pisik, tapi tak memiliki kecemerlangan pemikiran yang besar, ternyata akhirnya hancur tanpa kebanggaan.
Lalu, dimanakah posisi negeri ini. Masihkah ada orang-orang besar yang sesungguhnya untuk menakhodai kapal negeri ini ke pulau impian. Bila masih ada, di manakah mereka. Apakah mereka sudah lahir atau masih dalam emberio rahim masa depan yang tak tau kapan. Atau mereka memaang masih ada, namun tertutupi oleh awan hitam yang dibuat oleh orang-orang kecil. Bila hal ini terjadi, maka awan hitam buatan tersebut akan menutupi cahaya matahari kebenaran untuk menerangi bumi dan alam semesta.
Entahlah. Namun, sebuah kepastian hanya dapat dimunculkan bahwa hanya di tangan orang-orang besar bangsa ini akan menjadi besar. Tatkala bangsa ini masih di tangan orang-orang kecil, maka rakyat jangan pernah bermimpi menjadi negara besar. Pilihan selalu ada bagi mereka yang peduli atas besarnya negeri ini dengan mengimami orang-orang besar. Namun, tatkala masyarakat masih tergiur dengan asesoris wayang yang dimainkan orang-orang kecil, maka mimpi menjadi bangsa besar akan hanya sebatas mimpi belaka.
Wa Allahua’lam bi al-shawwab…
