LAIL AL-QADR : MENGGALI RUH PERADABAN ISLAM

LAIL AL-QADR : MENGGALI RUH PERADABAN ISLAM

Memasuki malam 17 ramadhan hingga akhir ramadhan, para imam masjid saat sholat tarawih sering membaca surat al-qadr. Para ustadz yang mengisi kultum pun demikian. Peristiwa malam lail al-qadr merupakan malam istimewa. Satu malam kualitasnya sama dengan seribu bulan. Allah berfirman dalam Q.S. Al-Qadr ([97]:1-5) berbunyi:

Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada Lailatulqadar. Tahukah kamu apakah Lailatulqadar itu? Lailatulqadar itu lebih baik daripada seribu bulan. Pada malam itu turun para malaikat dan Rūḥ (Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur semua urusan. Sejahteralah (malam) itu sampai terbit fajar.

Hanya saja, karena tidak jelas kapan turunnya, para ustadz menggunakan pendekatan beberapa teks tafsir Al-Qur’an, Hadist dan pendapat para ulama. Sebagian berpendapat bahwa Al-Qur’an turun pada tanggal 17 ramadhan-mayoritas ulama sepakat ini- dengan merujuk pada turun wahyu pertama yaitu surat Al-Alaq ayat 1-5. Ini juga diperkuat pada Q.S. Al-Anfal ([8]:41) sebagai berikut:

Dan kepada apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Nabi Muhammad) pada hari al-furqān (pembeda), yaitu pada hari bertemunya dua pasukan. Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.

Ada hadist diriwayatkan oleh At-Tabrani dan Al-Baihaqi dan dalam Kitab Syu’abul Iman ditulis oleh Imam Al-Asbihani dalam Kitab At-Targhib menjelaskan sebagai berikut:

“Mushaf Nabi Ibrahim as diturunkan pada pertama bulan Ramadhan. Kitab Taurat diturunkan pada hari keenam Ramadhan. Injil diturunkan pada tanggal 13 Ramadhan. Zabur diturunkan pada tanggal 18 Ramadhan. Al-Qur’an diturunkan pada tangal 24 Ramadhan.”

Ibnu katsir berpendapat dalam Kitab Al-Bidaya Wa Nihayah, Terbitan Beirut, Darul Fikri, Juz III halaman 11 juga sebagai berikut:

“Permulaan wahyu diturunkan al-qur’an kepada Rasulullah saw bertepatan dengan hari senin pada malam ketujuh belas bulan Ramadhan dan dikatakan, bertepatan pada tanggal 24 ramadhan.”

Saya memahami perbedaan tersebut karena belum ada tradisi kebiasaan mencatat setiap peristiwa yang terjadi pada masa Nabi Muhammad SAW. Apalagi pada masa itu, tradisi menulis masih dianggap tabu karena dianggap oleh sebagai orang yang lemah akal nya. Tradisi masyarakat Arab yaitu menghafal. Semakin banyak hafalan semakin menunjukan kecerdasan. Jadi kecerdasan pada waktu itu diukur dari seberapa kuat hapalan tersebut.

Terlepas dari perbedaan pandangan tentang kapan turun nya Al-Qur’an, sebenarnya penulis bisa memahami dari beberapa urgensi penting dari nya yaitu:

Pertama, Al-Qur’an mempunyai fungsi sebagai “huddan li an-nas”-petunjuk bagi manusia dan “bayinatin min al-huda wa al-furqan”-menerangkan fungsinya sebagai petunjuk dan pembeda antara haq dan bathil.

Fungsi al-qur’an ini untuk menunjukan status al-qur’an tersebut bukan aturan yang dibuat oleh manusia, tetapi benar-benar berasal dari allah swt. Kehidupan manusia yang saat itu menggunakan tradisi turun-temurun hasil pikiran tidak tertulis para penguasa jahiliah dan pengendali kehidupan masyarakat -saudagar, kaum elit dan tokoh spiritual- telah menjadi panduan kehidupan masyarakat. Aturan berdasarkan nafsu dan sangat membela pada kepentingan penguasa. Akibatnya, masyarakat biasa tertindas. Lahirlah kasta di tengah-tengah kehidupan mereka berupa manusia merdeka dan budak. Manusia merdeka bebas melakukan apa saja sesuai dengan seleranya sendiri, dan manusia dengan status budak harus mengikuti keinginan tuan nya atau majikannya dengan tanpa perlu bertanya dan harus menurut layaknya seperti hewan peliharaan.

Pola aturan yang seperti ini sangat menyedihkan. Tapi masyarakat kelas bawah tidak bisa berontak. Sistem kehidupan kaum elit telah dikuasi oleh penguasa, saudagar , para bangsawan dan tokoh spiritual telah menutup pintu masyarakat biasa untuk bisa keluar regulasi yang sangat membatasi kebebasan diri untuk menentukan nasibnya sendiri.

Al-Qu’ran lahir membela status fitrah manusia yang semua sama dalam pandangan Allah. Aturan-aturan kaum jahiliyah merupakan bentuk pelanggaran HAM. Dari sini Al-Qur’an memberikan penjelasan hakikat hidup yang sebenarnya yang sesuai dengan fitrah manusia itu sendiri.

Kedua, Al-Qur’an menyakinkan tentang kebenaran aturan yang dibuat oleh Allah. Salah satunya menjelaskan bahwa aturan tuhan jauh lebih baik daripada aturan manusia. 1 berbanding 1000 bulan. Satu kali berbuat kebaikan setelah turunya Al-Qur’an-artinya perbuatan berdasarkan kalimat tauhid, jauh lebih baik kualitasnya daripada menjalankan amal sholeh atau ibadah sebanyak 1000 bulan -83 tahun- tanpa dasar iman kepada Allah SWT.

Kalimat tersebut bagi masyarakat Arab sangat terdengar luarbiasa. Bagi mereka Ketika hidup berada dalam bayang-bayang kaum elit adalah kehidupan penuh penderitaan. Mereka tidak mendapatkan perlindungan hukum, selalu disiksa ketika ada persoalan dan mendapatkan upah kerja ala kadarnya. Jelas kehidupan demikian, tidak menyenangkan sama sekali. Mereka ingin berontak tapi tidak mempunyai kekuasaan. Mereka ingin merdeka tapi sistem kehidupan sudah berlaku turun-temurun dan sulit dirubah. Itu sebabnya, Ketika mendengar ayat tentang Nuzul Al-Qur’an atau Lail Al-Qadr, mereka terinspirasi melakukan perubahan kehidupan terbebas dari cengkraman kaum elit yang sangat diskriminasi.

Dari sini penulis bisa memahami bahwa Al-Qur’an telah melahirkan semangat peradaban yang sangat agung. Perubahan status bangsa jahiliyah yang kemudian menjadi bangsa yang berperadaban merupakan bukti ajaran Al-Qur’an melakukan lompatan besar dalam membebaskan pikiran manusia. Jika dulu selalu takut terhadap bayang-bayang majikan atau tuannya, kini sudah tidak lagi. Status manusia bukan lagi karena majikannya, tapi karena kemampuan dirinya sendiri melakukan perubahan sebagai manusia yang merdeka dan mulia. Mereka menyadari bahwa semua manusia sama, yang berbeda hanya pada status takwanya.

Tentu saja status takwa bukan sebatas kesolehan spiritual saja, lebih dari itu juga orang mutaqin harus bisa memberikan sumbangsih pemikiran-pemikiran dan karya-karya nyata untuk kemajuan peradaban umat Islam melalui berbagai inovasi-inovasi intelektual yang sangat ditekankan dalam kitab suci Al-Qur’an.

Walhasil, Nuzul Al-Qur’an atau Lail Al-Qadr mengajarkan kepada kita pada dua hal sebagai seorang muslim, yaitu: membangun modernisasi spiritual dengan semakin mencintai Allah sebagai Tuhan dan sumber segala kehidupan; kedua memodernisasi pikiran dan perbuatan untuk menghasilkan karya yang memberi kemanfaatan bagi peradaban manusia.

Imam Ghozali: Dekan Fakultas Syariah dan Ekonomi Islam, IAIN Datuk Laksemana BKS

Hubungi Kami

Alamat:
No.5B, Jalan 3/70 Damai Point, Seksyen 3, 43650 Bandar Baru Bangi. Selangor

Telefon: +60 17-377 7732
Email: alfalahmadani2022 [@] gmail.com

Jumlah Pengunjung

029258
Hari ini: 340
Minggu Ini: 1,117
Bulan Ini: 5,188
Tahun Ini: 29,258
Tahun Lepas: 52,147
Image

Alfalahmadani.my merupakan sebuah portal yang bertanggungjawab untuk bertindak sebagai penampan bagi setiap tuduhan, fitnah, kekeliruan, ketidakfahaman dan kecelaruan yang berlegar di minda rakyat. Sama ada isu-isu yang timbul secara organik di media sosial, ataupun yang didorong sebagai naratif oleh pihak-pihak tertentu,

Alfalahmadani.my akan menjawab setiap permasalahan dengan pengetahuan, kebijaksanaan dan kebenaran. Tentunya, kehadiran Alfalahmadani.my bukan berhasrat menyatakan kesempurnaan pemikiran, tetapi sebagai wahana untuk menuju kesempurnaan pengetahuan dalam konteks pemikiran semasa, dan kebijaksanaan yang mampu diusahakan.