Sudah terlalu lama koperasi hanya diperlakukan sebagai slogan, bukan sebagai gerakan peradaban ekonomi rakyat. Kita sering mendengar kalimat bahwa koperasi adalah “soko guru perekonomian Indonesia.” Namun pertanyaannya sederhana: apakah kita benar-benar membangun koperasi dengan kesungguhan, profesionalisme, dan integritas sebagaimana sebuah “soko guru” seharusnya dibangun?
Jujur harus kita akui, sebagian masyarakat memandang koperasi dengan rasa ragu. Ada yang menganggap koperasi lamban, tidak profesional, bahkan identik dengan masalah. Pandangan itu tidak sepenuhnya salah, sebab sejarah memang mencatat tidak sedikit koperasi yang gagal akibat lemahnya manajemen, rendahnya integritas, dan hilangnya ruh perjuangan bersama.
Tetapi kesalahan terbesar kita adalah ketika kegagalan itu dijadikan alasan untuk berhenti percaya pada koperasi.
Padahal di banyak negara maju, koperasi justru menjadi tulang punggung ekonomi rakyat. Di Jepang, koperasi pertanian mampu menjaga kesejahteraan petani. Di Korea Selatan, koperasi memperkuat desa dan pangan nasional. Bahkan di Amerika Serikat yang dikenal kapitalistik, koperasi-koperasi besar mampu menghasilkan pendapatan luar biasa.
Artinya, masalahnya bukan pada koperasinya. Masalahnya ada pada kualitas manusianya dan keseriusan sistem yang dibangun.
Koperasi tidak akan pernah maju jika hanya dibentuk untuk memenuhi target administratif. Koperasi juga tidak akan tumbuh sehat jika hanya menjadi tempat pinjam-meminjam tanpa pendidikan, tanpa visi, dan tanpa pembinaan karakter.
Koperasi adalah sekolah kehidupan sosial ekonomi. Ia memerlukan: kejujuran, disiplin, rasa saling percaya, tanggung jawab, dan budaya gotong royong yang hidup.
Karena itu, membangun koperasi sejatinya bukan hanya membangun lembaga ekonomi, tetapi membangun manusia yang beradab secara ekonomi.
Di sinilah tantangan terbesar bangsa kita hari ini.
Kita ingin ekonomi rakyat kuat, tetapi budaya instan masih tinggi. Kita ingin koperasi maju, tetapi kadang transparansi masih lemah. Kita ingin kebersamaan, tetapi ego kelompok dan kepentingan pribadi sering lebih dominan daripada kepentingan bersama.
Kalau penyakit-penyakit ini tidak diperbaiki, maka koperasi akan terus berganti nama, tetapi masalahnya tetap sama.
Maka pembentukan koperasi ke depan harus dilakukan dengan pendekatan yang lebih jujur dan mendasar.
Pertama, pendidikan harus menjadi pondasi utama.
Setiap anggota koperasi harus memahami bahwa koperasi bukan tempat mencari keuntungan sesaat, tetapi wadah membangun kekuatan bersama untuk jangka panjang.
Kedua, pengurus koperasi harus dipilih berdasarkan amanah dan kompetensi, bukan sekadar kedekatan.
Koperasi membutuhkan pemimpin yang melayani, bukan yang memanfaatkan.
Ketiga, transparansi dan akuntabilitas wajib ditegakkan.
Laporan keuangan harus terbuka. Pengawasan harus hidup. Kritik tidak boleh dianggap ancaman.
Keempat, koperasi harus mulai masuk ke sektor-sektor strategis rakyat: pertanian, UMKM, pendidikan, pangan, perikanan, dan ekonomi desa.
Karena di sektor-sektor inilah rakyat kecil membutuhkan kekuatan kolektif agar tidak kalah oleh sistem pasar yang semakin keras.
Kelima, pemerintah harus menjadi fasilitator dan penguat kapasitas, bukan sekadar pembentuk program.
Yang dibutuhkan rakyat bukan banyaknya papan nama koperasi, tetapi koperasi yang benar-benar hidup, dipercaya, dan memberi manfaat nyata.
Kita harus berhenti mengukur keberhasilan koperasi dari jumlah yang dibentuk. Ukurlah dari: tingkat kepercayaan anggota, kesejahteraan rakyat, kekuatan modal bersama, dan kemampuan koperasi bertahan lintas generasi.
Indonesia sebenarnya memiliki modal sosial yang besar: gotong royong, musyawarah, rasa kekeluargaan, dan semangat saling membantu. Tetapi semua itu tidak cukup jika tidak dipadukan dengan profesionalisme, ilmu pengetahuan, teknologi, dan integritas.
Koperasi masa depan tidak boleh dikelola dengan pola lama. Ia harus modern, transparan, digital, efisien, dan berbasis pendidikan karakter.
Karena sesungguhnya koperasi bukan sekadar alat ekonomi.
Ia adalah jalan untuk menjaga martabat rakyat agar tidak hanya menjadi penonton di negeri sendiri.
Jika koperasi dibangun dengan benar, maka petani tidak mudah dipermainkan tengkulak. Nelayan tidak mudah ditekan pasar. UMKM tidak berjalan sendiri-sendiri. Desa tidak hanya menjadi objek pembangunan, tetapi menjadi pusat kekuatan ekonomi bangsa.
Namun semua itu hanya akan terjadi bila kita berhenti sekadar berbicara tentang koperasi, lalu mulai serius membangun budaya amanah, profesional, dan berintegritas.
Sebab koperasi yang kuat tidak lahir dari pidato yang hebat, tetapi dari manusia-manusia jujur yang rela tumbuh bersama.
> “Bangsa ini tidak akan kuat hanya karena kaya sumber daya. Bangsa ini akan benar-benar kuat ketika rakyat kecilnya mampu berdiri bersama dalam kejujuran, ilmu, dan kerja kolektif yang bermartabat. Di situlah koperasi menemukan ruh perjuangannya.”
— Jasman Jaiman
