KEMISKINAN MEMBAWA KEKUFURAN

BANYAK hadis Nabi s.a.w yang memberi penilaian bahawa kemiskinan adalah satu penyakit berbahaya yang dikhuatiri meninggalkan kesan buruk ke atas akidah, akhlak dan pemikiran seseorang, malah kepada kaum itu sendiri. Penyakit ini mudah menonjol terutamanya di kalangan orang yang menghadapi kemiskinan yang teruk dan tinggal berhampiran dengan orang kaya yang buruk budi pekertinya serta kedekut yang amat sangat.

Kemiskinan adalah satu bala yang sama dengan penyakit berjangkit, justeru ia boleh membawa seseorang itu menjadi kufur. Rasulullah s.a.w bersabda yang bermaksud: "Kepapaan itu hampir-hampir membawa kepada kekufuran."

Hadis ini menjelaskan bahawa sering kali orang menjadi kufur kerana tekanan-tekanan ekonomi dan kesulitan untuk memperoleh rezeki. Orang yang asalnya baik akan berubah menjadi tidak amanah. Perempuan yang memelihara kehormatan diri menjadi tidak sanggup lagi memeliharanya kerana tekanan ekonomi.

Oleh itu Islam mewajibkan setiap umatnya agar bekerja keras dan berusaha mencari rezeki demi membela diri mereka daripada kemiskinan dan kekufuran. Islam menilai orang yang bekerja dan berusaha itu sebagai jihad.  Allah menjadikan bumi dan isi kandungannya semata-mata untuk manusia, tetapi manusia tidak akan dapat menikmati sepenuhnya melainkan dengan titik peluh usaha mereka sendiri.

Meninggalkan pekerjaan dan usaha mencari rezeki atas alasan untuk beribadah kepada Allah sahaja adalah bertentangan dengan konsep Islam yang sebenar. Sesungguhnya Allah tidak mengubah apa yang ada pada sesuatu kaum sehingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri. (Surah al-Ra'd ayat 11).

Umat Islam harus cemerlang dalam hal duniawi tanpa mengabaikan akhirat. Kualiti hidup di dunia inilah yang membawa kepada kejayaan manusia merubah daripada kemungkaran kepada yang makruf. Manusia diperintah oleh Allah untuk mencari rezeki bagi keperluan hidupnya dan juga diperintah untuk mencari rezeki yang lebih di muka bumi ini bagi tujuan membantu orang lain yang tidak berkecukupan.

Allah berfirman dalam Surah al-Jumu'ah ayat 10 yang bermaksud:
"Kemudian setelah selesai sembahyang maka bertebaranlah kamu di muka bumi dan carilah apa yang kamu hajati dan limpah kurnia Allah, serta ingatlah akan Allah banyak-banyak supaya kamu berjaya."

Di sisi lain pula al-Quran mengecam mereka yang mengharamkan hiasan duniawi yang diciptakan Allah bagi umat manusia. Katakanlah (Wahai Muhammad) Siapakah yang berani mengharamkan perhiasan Allah yang telah dikeluarkan untuk hamba-hamba-Nya dan demikian juga benda-benda yang baik lagi halal daripada rezeki yang dikurniakannya. (Surah al-Baqarah ayat 32).

Al-Quran kemudian menyebut bahawa Allah menjanjikan pengampunan dan anugerah yang berlebihan, sedangkan syaitan pula menjanjikan kefakiran. Sesungguhnya Islam tidak pernah menganggap mulia atau mentakdirkan kemiskinan sebagai satu cara untuk mencapai ketinggian rohani. Hadis-hadis yang memuji kehidupan zuhud di dunia bukanlah bererti memuji kemiskinan. Adalah satu kesilapan yang besar bagi setengah orang yang menganggap bahawa kemiskinan bukanlah satu keburukan yang perlu diatasi dan juga bukan penyakit yang perlu diubati, ia adalah satu nikmat Allah yang dikurniakan kepada sesiapa di antara hambanya agar hatinya sentiasa berhubung dengan akhirat dan benci pada dunia.

Islam tidak datang hanya untuk mengajarkan zikir dan doa tetapi untuk membebaskan manusia daripada beban penderitaan kepada hidup yang bahagia. Hidup tidak mahu berusaha dan hanya meminta belas kasihan orang lain tidak dipersetujui oleh Islam.

Tangan yang di atas (yang memberi) lebih mulia daripada tangan yang di bawah (yang meminta-minta). (Hadis riwayat Bukhari dan Muslim).

Islam jelas menolak sesetengah golongan yang menyanjung kemiskinan dan menganggap kekayaan sebagai dosa. Demikian juga yang menganggap kemiskinan sebagai qadar yang tiada jalan untuk mengelaknya. Ini semua pandangan ekstrem yang terpesong daripada jalan yang lurus sepertimana yang dituntut oleh ajaran Islam yang sebenar.

MOTIF-MOTIF EKSPANSI ISLAM DALAM PANDANGAN KESARJANAAN BARAT

Sarjana Barat tidak mengakui keberhasilan ekspansi Islam sebagai bentuk intervensi Tuhan—sebagaimana pandangan umat muslim pada umumnya. Serta mereka juga tidak meyakini bahwa ekspansi hadir berkat dorongan motivasi keagamaan semata (Hitti, 2006: 179). Mereka cenderung menolak argumentasi “supernatural” dan mencoba menjelaskan keberhasilan serta motif-motif ekspansi Islam dengan bangunan kerangka berpikir yang rasional dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

Beberapa sarjana meyakini bahwa ajaran Islam memiliki peran sentral dalam menghimpun kekuatan bangsa Arab. Diantaranya Sperors Vryonis—sejarawan Amerika spesialis sejarah Bizantium, Balkan, dan Yunani—dan Francesco Gabrieli—ahli bahasa Arab sekaligius orientalis asal Italia—yang mengatakan bahwa agama yang dibawa Muhammad telah berhasil menjadi perekat yang mampu menyatukan kekuatan Arab (Sirry, 2017: 264).

Beberapa sarjana juga ada yang menganggap bahwa karakteristik orang-orang Badui yang gemar berperang menjadi pendukung bagi terealisasinya dorongan ideologis Islam. Viscount Montgomery dan J.B. Glubb mengatakan bahwa di satu sisi Islam melarang perang antar suku yang sebelumnya menjadi ciri khas bangsa Arab dan menghimpun kekuatan bersama untuk memerangi musuh di luar Arab. Di sisi lain, spirit gemar berperang itu dilegitimasi dengan ajaran “jihad” (Sirry, 2017: 264).

Di luar pandangan yang menekankan pada aspek motivasi keagamaan, terdapat beberapa pandangan yang memiliki penekanan berbeda. Bernard Lewis dalam bukunya The Arabs in History, mengemukakan bahwa penaklukan-penaklukan yang dilakukan oleh bangsa Arab bukanlah “ekspansi Islam” yang didasari oleh dorongan ideologis agama, melainkan disebabkan oleh tekanan kepadatan penduduk di jazirah Arab.

Teori dicetuskan Lewis pun dikritik oleh Fred Donner—ahli sejarah Islam—yang menegaskan bahwa migrasi justru terjadi setelah keberhasilan ekspansi, bukan sebelumnya (Sirry, 2017: 265). Philips K. Hitti juga menjelaskan bahwa dalam kasus Suriah, suku-suku Arab mulai bermigrasi ke wilayah taklukan karena didorong oleh keuntungan ekonomi (Hitti, 2006: 180).

Asumsi dasar teori migrasi ini tidaklah bisa dilepaskan dari faktor ekonomi. Henri Lammens—sarjana Islam kenamaan asal Belgia—mengaitkan faktor ekonomi dengan kondisi kota Mekah zaman Nabi sebagai jalur perdagangan barang-barang mewah yang menghubungkan samudera Hindia dan Mediterania. Kondisi itu baginya, menyediakan alasan ekonomis bagi gerakan penaklukan (Sirry, 2017: 266).

Setengah abad berikutnya, W. Montogomerry Watt mengembangkan argumen Lammens dan menunjukkan bahwa salah satu dampak dari kondisi Mekah sebagai jalur perdagangan adalah terjadinya kesenjangan ekonomi yang tajam antara kelompok saudagar dan masyarakat Arab tradisional. Fenomena itu setidaknya dapat menjelaskan kenapa Islam yang mengedepankan prinsip persamaan dan kesetaraan begitu cepat menyebar. Maka ketika kesempatan menaklukan wilayah sekitar Arab terbuka, masyarakat Arab menjadi begitu antusias berpartisipasi untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik (Sirry, 2017: 266).

Menekankan faktor ekonomi sebagai alasan ekspansi Islam memang seolah-olah mereduksi perjuangan kaum muslim awal. Sebab seakan mengklaim mereka hanya mementingkan kepentingan duniawi saja. Namun alasan-alasan ekonomi di balik penaklukan tidak bisa dinafikan begitu saja. Muhammad Ibn Abdullah Al-Azdi (1970: 34), seorang sejarawan muslim abad pertengahan, menarasikan sebuah riwayat yang menyebutkan bahwa Abu bakar pernah mengajak penduduk Yaman untuk turut serta berjihad dan memberikan iming-iming berupa harta rampasan perang (Sirry, 2017: 267).

Adapun teori lain yang dikembangkan oleh sarjana Barat adalah dengan menjelaskan penyebab ekspansi Islam dengan mengaitkannya pada upaya pembelaan identitas ke-Arab-an. Para pendukung teori “nasionalisme” Arab ini memandang ekspansi sebagai sebuah perang untuk membebaskan tanah-tanah Arab dari cengkraman kekuasaan Bizantium dan Persia.

Pandangan itu didasarkan atas asumsi bahwa Islam tidak memaksakan ajarannya kepada penduduk daerah yang ditaklukan. Thomas Arnold berargumen bahwa toleransi keagamaan para penakluk—yang tidak memaksakan penduduk lokal untuk memeluk Islam—merupakan bukti bahwa gerakan ekspansi tidak dapat dilandasi oleh keyakinan keagamaan (Sirry, 2017: 267).

Keragaman pandangan sarjana Barat dalam melihat motif-motif di balik sejarah ekspansi Islam, memberikan serta memperluas perspektif umat muslim dalam membaca sejarahnya. Pembacaan terhadap pandangan-pandangan sarjana Barat—terlepas dari benar salahnya teori yang mereka bangun—seharusnya membawa kita pada semangat untuk lebih memahami agama secara holistik.

Abdul Mustaqim dalam teorinya maqashid al-syari’ah mengemukakan bahwa dalam agama terdapat dimensi protective-productive. Maka khususnya dalam ranah ilmiah, dimensi protective akan dapat dioptimalkan dengan memaksimalkan dimensi productive. Sebab semakin banyak umat muslim mampu memproduksi dan mempublikasi ilmu pengetahuan, maka eksistensi muslim juga akan semakin terangkat. Sehingga Islam tidak hanya dapat dilihat di Barat saja seperti yang dikatakan Abduh.

Sumber: Qureta.com

KISAH PENJUAL KEADILAN

Pada suatu hari, di tengah keramaian kota Baghdad, tampil seorang laki-laki gagah, berpenampilan mewah, menepuk dada de-ngan pongah sembari berteriak nyaring "wahai seluruh penduduk Baghdad, datang-lah kemari. Aku menjual keadilan. Siapa yang mau beli keadilan dan menang di pengadilan ?. Silahkan datang padaku dan pasti semua akan mendapatkan keadilan dan kemenangan".

Teriakan jualan aneh tersebut membuat semua orang datang berkumpul. Ada yang tak percaya, tapi tak sedikit yang percaya dan ingin membeli keadilan. Bagi yang mau membeli keadilan, si penjual kebenaran akan memberikan selembar kertas jaminan yang bertuliskan "surat keadilan dijamin menang". Berita ini begitu cepat tersebar ke seluruh penjuru negeri Baghdad, bahkan ke telinga khalifah.

Mendengar berita aneh si penjual keadilan, khalifah Harun ar-Rasyid murka. Khalifah memerintahkan pengawal untuk menang-kap si penjual keadilan yang telah mem-buat kegaduhan di negerinya. Namun, se-belum pengawal menangkap, perdana menteri menyampaikan usul, "wahai kha-lifah, masalah ini bukan persoalan ringan. Sebaiknya khalifah berkenan memanggil Abu Nawas untuk menyelidiki dan menyele-saikan masalah ini".

Khalifah setuju deng-an usul perdana menteri. Lalu, khalifah memanggil Abu Nawas agar datang ke istana. Khalifah menjelaskan persoalan yang terjadi seraya berkata, "Abu Nawas, apa pantas seseorang menjual keadilan seperti menjual barang di pasar ?". Abu Nawas menunduk ta'zim dan berkata, "wahai tuanku, jual beli keadilan memang banyak terjadi di negeri Baghdad. Jadi, sebaiknya jangan tuanku terburu-buru menangkap dan menghukumnya. Berikan hamba waktu untuk menyelidikinya". Khalifah terkejut mendengar penjelasan Abu Nawas dan setuju dengan usulnya. 

Dengan bijaksana, Abu Nawas berangkat ke alun-alun kota Baghdad untuk menye-lidiki persoalan yang terjadi dan menemui si "penjual keadilan". Setibanya di alun-alun kota Baghdad, Abu Nawas menemukan si penjual keadilan yang sedang berteriak "siapa yang ingin keadilan, beli dengan ku dijamin menang".

Mendengar demikian, Abu Nawas mendekat dan berkata, "wahai tuan penjual keadilan, berapa harga keadil-an yang kau jual ?". Si penjual keadilan berkata dengan lantang, "keadilan untuk persoalan kecil harganya 10 dirham dan persoalan besar harganya 100 dirham". 

Abu Nawas mengangguk-angguk sambil tersenyum nakal mendengar penjelasan si penjual keadilan seraya berkata, "kalau be-gitu, aku beli persoalan besar. Tapi dengan syarat keadilannya harus terbukti sekarang juga". Si penjual tersenyum licik dan ber-kata, "tentu saja bisa". Lalu, Abu Nawas berkata, "aku mau beli keadilan. Aku menuduhmu menipu rakyat dengan menjual keadilan demi meraih keuntungan materi.

Jika kau benar penjual kebenaran sejati, maka kau harus memenangkan tuduhan-ku". Semua yang mendengar terdiam dan si penjual keadilan tertunduk takut dan berkata terbata-bata. Abu Nawas melanjut-kan, "wahai penduduk Baghdad, lihatlah bukti bahwa keadilan tak bisa dijual. Jika keadilan bisa diperjualbelikan, maka si penjual akan lebih dulu membeli untuk dirinya sendiri". Semua orang tertegun dan tertawa. Si penipu penjual keadilan ter-tunduk malu. Ia ditangkap untuk diadili karena berani memperjualbelikan keadilan.

Melihat kebijaksanaan Abu Nawas menye-lesaikan persoalan tanpa kekerasan, kha-lifah bertanya, "bagaimana engkau menga-lahkannya tanpa menghukum ?". Abu Nawas menjawab, "tuanku, keadilan sejati tidak ditegakkan dengan pedang, jabatan, intervensi, negosiasi, dan tumpukan uang. Keadilan sejati ditegakkan dengan akal, hati, dan kebenaran (hukum dan agama). Jika menghukum tanpa akal, hati, dan kebenaran, maka sama saja dengan mem-perjualbelikan keadilan. Hal ini bisa terjadi disemua strata dan pribadi pemilik kuasa".

Kisah sederhana di atas mengandung pe-lajaran berharga dan "menampar" sisi ke-manusiaan hakiki, antara lain :

Pertama, Berbagai kegaduhan dan kezalim-an disebabkan adanya "transaksi" keadilan. Ketika pelaku kesalahan bisa dibenarkan dan penjaga kebenaran bisa disalahkan. Ketika hal ini terjadi, berarti "keadilan" bisa dikondisikan sesuai permintaan dan besar-an transaksi yang disepakati. Anehnya, kisah sang penjual "keadilan" ala kisah Abu Nawas telah terjadi sepanjang sejarah. Bahkan, eksistensinya menjadi pilihan "profesi", ladang pundi, dan terpampang nyata di depan mata (rahasia umum). 

Dalam Islam, perilaku si penjual keadilan (memutuskan perkara tidak adil) merupa-kan dosa besar yang diancam dengan azab neraka. Hal ini diingatkan Allah me-lalui firman-Nya : "Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penegak keadilan dan saksi karena Allah, walaupun kesaksian itu memberatkan dirimu sendiri, ibu bapakmu, atau kerabatmu.

Jika dia (yang diberatkan dalam kesaksian) kaya atau miskin, Allah lebih layak tahu (kemash-lahatan) keduanya. Maka, janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang (dari kebenaran). Jika kamu memutarbalikkan (kata-kata) atau ber-paling (enggan menjadi saksi), sesungguh-nya Allah Mahateliti terhadap segala apa yang kamu kerjakan" (QS. an-Nisa' : 135).

Ibn Katsir menjelaskan bahwa ayat di atas merupakan perintah-Nya secara mutlak agar menegakkan keadilan dan memberi-kan kesaksian yang benar. Keadilan wajib ditegakkan tanpa pandang bulu, bahkan terhadap diri, orang tua, atau kerabat. 

Bila keadilan "diperjualbelikan", ia beirisan dengan transaksi "pundi atau posisi" yang disepakati. Menjual keadilan merupakan perbuatan zalim dan pengkhianatan. Hal ini merupakan perbuatan yang dilaknat dan dibeci oleh Allah dan Rasul-Nya. Hal ini di-tegaskan Rasulullah ﷺ dalam sabdanya : "Penyuap dan yang disuap keduanya kekal dalam neraka (HR. Abu Daud dan Tirmidzi). 

Hadis di atas menegaskan bahwa suap (risywah) adalah dosa besar. Perbuatan ini sangat dilarang karena merusak keadilan dan karakter generasi, terbangun kezalim-an, merampas hak orang lain, serta meng-undang laknat (murka) Allah SWT. 

Kedua, Khalifah yang bijaksana mengutus sosok penjaga keadilan yang bijak untuk menegakan kebenaran. Sebaliknya, khalifah yang zalim mengutus sosok licik yang "pijak sana" untuk "menjaga" penjual keadilan. Bahkan, si utusan dan "mucikari keadilan" diharapkan bisa mengejar target agar tumpukan pundi yang diinginkan ter-capai. Padahal, Allah telah mengingatkan dalam firman-Nya :"Wahai orang-orang yang beriman !. Jadilah kamu sebagai penegak keadilan karena Allah, (ketika) menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlakulah adil. Karena (adil) itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan" (QS. al-Maidah : 8). 

Menurut Ibnu Katsir, ayat di atas menegas-kan agar keadilan ditegakkan secara jujur (obyektif), tanpa rasa senang atau benci. Dengan sikap ini, keadilan dapat ditegakan.

Ketiga, Manusia yang memiliki akal, hati, iman, dan berpegang teguh pada kebenar-an (hukum) akan menjaga tegaknya keadil-an. Untuk itu, keadilan hadir bukan oleh gemerlap pakaian, tingginya jabatan, mewahnya gedung, dan banyaknya materi. Keadilan hadir pada manusia hakiki, bukan manusia imitasi. Ketika manusia telah rusak akal, hati, dan imannya, maka ia akan memperjualbelikan keadilan dan kebenaran sesuai keinginan. 

Dalam ajaran Islam, perilaku oknum yang memperjualbelikan kebenaran dan keadil-an merupakan manusia yang kejam. Bila hasil haram dari "transaksi" dinikmati seluruh keluarga, maka musibah akan menimpa. Secara zahir terlihat nikmat, tapi hakikatnya butiran api neraka. Hal ini diingatkan oleh Rasulullah ﷺ : "Setiap daging yang tumbuh dari sesuatu yang haram, maka neraka lebih layak untuknya" (HR. Tirmidzi).

Meski hadis di atas menjelaskan ancaman akibat perilaku haram, tapi dorongan nafsu duniawi lebih dominan mempengaruhi diri. Akibatnya, manusia justeru "digembala" oleh iblis agar bersama-sama di neraka. Anehnya, manusia justeru "bangga dan bahagia" bila berhasil mengumpulkan dan membesarkan zuriyatnya dengan "butiran api neraka". Sungguh keanehan yang nyata.

Terjaganya kebersihan diri akan bermanfaat bagi sekujur tubuh dan zuriyat yang terjaga dari unsur haram akan mampu membawa kebahagiaan hakiki. Sebaliknya, setiap unsur kotoran akan membawa penyakit bagi diri, zuriyat, dan tertutupnya doa. Tapi, manusia acapkali lebih memilih kotoran ketimbang kebersihan (suci). Pilihan yang bertentangan dengan fitrah-Nya (QS. ar-Ruum : 30). Sungguh begitu nyata pem-bangkangan terhadap ayat-Nya. Memang, manusia makhluk yang suka membang-kang (QS. al-Kahfi : 54). Mungkin, di neraka kelak akan ada "biro jasa pembela" atau para penjilat ala di dunia. Atau keimanan atas hari pembalasan yang akan dipertang-gungjawabkan di sisi Allah (QS. al-Zalzalah : 7-8) telah sirna. Jika demikian, teruskan perilaku ketidakadilan, kezaliman, dan ke-munafikan di muka bumi sepuas-puasnya. 

Wa Allahua'lam bi al-Shawwab.***

Prof Samsul Nizar adalah Guru Besar IAIN Datuk Laksemana Bengkalis

DIKTATOR TEKNOKRAT: BAGAIMANA 10 INDIVIDU TERKAYA MENGUASAI DUNIA

Demokrasi Barat kini hanyalah satu ilusi. Di sebalik pentas politik dan pilihan raya yang disajikan kepada dunia, pentadbiran sebenar tidak lagi berada di tangan rakyat.

Bayangkan sebuah realiti di mana 10 orang individu terkaya di Amerika Syarikat memiliki nilai kekayaan bersih sebanyak $2.3 trilion. Malah, kaum elit seperti Elon Musk bercita-cita untuk menaikkan lagi kekayaan peribadinya sebanyak satu trilion dollar. Kekayaan yang digenggam oleh 10 individu ini adalah secara spesifik, bukannya milik 10 buah syarikat konglomerat atau keluarga.

Pemusatan kuasa dan kekayaan ekstrem ini bukanlah perkara baharu. Ribuan tahun lalu, Allah SWT telah merakamkan kisah Qarun dalam Surah Al-Qasas ayat 76, seorang manusia yang takbur kerana kekayaannya yang melimpah ruah, sehingga dia menyangka dia mampu membeli dunia. Hari ini, Qarun telah bangkit semula dalam bentuk diktator korporat.

Dengan wang berjumlah trilion dollar, 10 individu ini bukan sekadar dianggap kaya-raya, tetapi mereka mampu untuk membeli kuasa. Mereka hari ini memiliki White House, mereka yang memasang dan melantik Naib Presiden, serta mereka jugalah yang menentukan secara langsung dasar-dasar kerajaan Amerika Syarikat. Demokrasi US kini hanya tinggal pada nama; sistem yang ada hari ini telah diswastakan sepenuhnya kepada mereka.

Bukan itu sahaja, puak elit ini memonopoli kebenaran dan minda manusia. Mereka mengawal platform komunikasi utama dunia, termasuk platform YouTube ini. Media-media tradisional telah dibeli; contohnya Jeff Bezos kini memiliki The Washington Post.

Manakala operasi aplikasi TikTok di Amerika Syarikat telah dibeli dan dikuasai oleh Larry Ellison, yang membelinya bagi pihak Benjamin Netanyahu, demi melenyapkan naratif kebenaran tentang rakyat Palestin. Terdahulu, beliau juga telah menyerahkan Paramount Studios, Paramount Media, dan CBS News kepada kuasa Netanyahu dan Zionis.

Mereka sedang menguasai naratif global. Sesiapa sahaja yang bercakap perkara yang tidak disenangi oleh kerajaan Amerika Syarikat, suaranya boleh dipadamkan pada bila-bila masa.

Dewa Digital

Penguasaan mereka lebih menakutkan apabila ia menembus masuk ke dalam ruang peribadi setiap umat manusia. Mereka menguasai privasi kita. Mereka memiliki alamat e-mel kita, malah tanpa ragu-ragu mempunyai pengetahuan lengkap mengenai setiap ketukan papan kekunci (keystroke) yang kita lakukan dalam tempoh 10 tahun yang lalu. Tidak lama lagi, mata wang kripto yang diramalkan menjadi mata wang utama dunia juga akan berada di bawah telunjuk dan kawalan mereka ini.

Mereka memantau kita 24 jam sehari. Secara halus, oligarki teknologi ini sedang meletakkan diri mereka seolah-olah memiliki sifat ketuhanan, mengetahui segala gerak-geri setiap manusia di muka bumi.

Namun, sebagai seorang Mukmin, kita dituntut untuk meyakini Surah Al-An'am ayat 59; "Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib... dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya." Pengawasan sistem digital ini hanyalah fitnah ciptaan manusia yang mahu memperhambakan manusia lain. Ia adalah ciri-ciri sistem Dajjal yang menuntut kepatuhan dan kebergantungan total umat manusia terhadap ekosistem yang mereka cipta.

Amerika vs China

Kita sedang berada dalam fasa percaturan tadbir urus global yang amat pelik dan belum pernah disaksikan di dalam sejarah ketamadunan.

Jika kita lihat di China, sebuah negara tidak demokratik tetapi sebaliknya sebuah teknokrasi, sektor perniagaan secara jelas tunduk dan diletakkan di bawah penguasaan kerajaan. Namun, realiti di Amerika Syarikat adalah terbalik sama sekali. Kerajaan mereka yang kononnya dipilih oleh rakyat, hari ini menjadi hamba dan tunduk kepada kelas korporat dari sektor teknologi gergasi ini.

Pemusatan kuasa sebegini adalah perkara yang diperangi di dalam Islam. Allah SWT telah menetapkan satu prinsip ekonomi dan tadbir urus yang agung di dalam Surah Al-Hasyr ayat 7: "Supaya harta itu tidak hanya beredar di antara orang-orang kaya sahaja di antara kamu."

Apabila hukum ini dilanggar, keseimbangan dunia akan runtuh. Inilah Sunnatullah yang semakin dilanggar oleh golongan oligarki teknologi digital hari ini.

AI, Kehancuran (Dystopia), & Pemiskinan Massa

Kini, manusia diheret pula ke dalam kancah perlumbaan Kecerdasan Buatan atau AI. Namun adakah AI akan membawa kita ke arah utopia (kesejahteraan) atau dystopia (kehancuran)?

Halatuju kesejahteraan awam pada masa hadapan sangat bergantung kepada bagaimana kita membahagikan lebihan ekonomi dari teknologi AI ini. Jika segala lebihan keuntungan dan keupayaan AI ini terus dikaut dan disalurkan hanya kepada golongan atasan yang 10 orang ini, maka dunia secara total akan berhadapan dengan era pemiskinan besar-besaran.

Rasulullah SAW telah memberikan amaran keras mengenai hal ini lebih 1,400 tahun lalu dalam sebuah hadis riwayat Imam Muslim: "Sesiapa yang memonopoli (menahan barangan/sumber), maka dia adalah seorang yang berdosa." Hari ini, mereka bukan memonopoli makanan, tetapi memonopoli data, ruang kewangan, dan masa depan tamadun manusia.

Bangkitlah Dari Ilusi

Kita tidak boleh terus leka menjadi bidak catur dalam permainan Trillionaire Elitists ini. Orang Islam sepatutnya bebas mindanya daripada mengikut apa sahaja trend teknologi tanpa berfikir, dan seharusnya lebih kritis sebelum mengadaptasi apa yang dicanang atau digembar-gemburkan sebagai masa depan manusia sejagat. Berhenti mengagungkan sistem teknokrat tajaan Barat yang kini jelas dikawal ketat oleh elit korporat yang bernafsu besar. Dihidangkan kepada kita makanan sedap, namun diselindung pula jerat yang akan memerangkap dan mengabdikan kita. Kita mungkin terpaksa menggunakan platform mereka kerana tiada alternatif yang mampu menandingi setakat ini, tetapi jangan sesekali biarkan minda, akidah dan agama kita dijajah oleh naratif golongan ini.

Kebergantungan mutlak kita hanya kepada Allah SWT, Tuhan yang tidak memerlukan algoritma mahupun AI untuk mengetahui kebenaran hakiki.

BERDAKWAH TIADA HENTI

URWAH Ibn Masud Ats Tsaqafi datang menghadap Rasulullah s.a.w, menyampaikan hasrat dan kesediaannya untuk berdakwah, menyebarkan Islam kepada kaumnya, Bani Tsaqif di Thaif. Kata Urwah, Ya Rasulullah, tugaskanlah saya untuk menyampaikan dakwah kepada kaum saya, mengajak mereka memeluk Islam.

Gerakan dakwah yang masih lagi terbatas dan sentiasa dimusuhi membuatkan Rasulullah s.a.w menyatakan kebimbangan baginda kepada Urwah. Rasulullah bersabda: Saya takut, jika nanti mereka menolak, menghalau, bahkan membunuhmu. Sebagai pemimpin, Rasulullah s.a.w merasa perlu melindungi keselamatan para pendakwah daripada pelbagai ancaman dan bahaya yang mungkin terjadi. Di mata Rasulullah s.a.w, para adalah aset yang amat berharga.

Bagaimanapun, Urwah meyakinkan Rasulullah s.a.w bahawa dirinya adalah orang yang sangat disegani di kalangan kaumnya sehinggakan kebimbangan Rasulullah s.a.w itu dapat dipadamkannya. Akhirnya, Urwah menerima tugas untuk berdakwah di tengah-tengah kaumnya daripada Rasulullah s.a.w. Urwah ibn Masud berkata, Ya Rasulullah, jika mereka mendapati saya sedang tidur, tidak akan ada seorang pun di antara mereka yang berani membangunkan saya.

Kedudukan dan kehormatan Urwah ibn Masud yang sangat tinggi di mata masyarakat diharap akan mampu menjadi modal berharga dalam menyebarkan Islam di kalangan kaumnya. Kedudukan yang terhormat di mata masyarakat dapat berfungsi sebagai penghadang untuk melindungi pendakwah daripada pelbagai ancaman, dugaan dan cabaran daripada masyarakat yang didakwahkannya itu.

Dengan modal kedudukan dan kehormatan Urwah ibn Masud itulah kemudiannya Rasulullah s.a.w mengizinkan dan menugaskannya untuk berdakwah kepada kaumnya. Rasulullah s.a.w bersabda, Berangkatlah berdakwah, mengajak kaummu kepada Islam.

Urwah ibn Masud menuju ke kampung halamannya, membawa cita-cita besar mengislamkan kaumnya, memujuk dan menunjukkan mereka ke jalan Allah. Ketika sampai di kampung halamannya, Urwah ibn Masud melintasi tempat berhala Latta dan Uzza yang menjadi kebanggaan dan simbol pemujaan Bani Tsaqif. Dengan geram Urwah ibn Masud berjanji akan menghancurkan berhala-berhala itu. Ia berkata kepada Latta dan Uzza: Pagi esok aku akan hancurkan kamu.

Urwah bersikap seperti apa yang pernah difahami oleh Nabi Ibrahim a.s bahawa  berhala-berhala itulah yang menyesatkan manusia daripada melalui jalan yang lurus. Berdakwah adalah berijtihad menemukan penyebab masalah umat untuk mencari penyelesaiannya.

Bani Tsaqif yang mendengar ancaman itu menjadi amat marah. Latta dan Uzza adalah simbol agama mereka yang amat mereka agung-agungkan. Urwah bin Masud berusaha menjelaskan kedudukan yang sebenar kepada kaumnya. Wahai kaumku, sesungguhnya Uzza tidak pernah memuliakan kamu semua, begitu juga Latta tidak akan pernah dapat menghindarkan kamu semua daripada bahaya. Masuklah Islam, serahkan diri kepada Allah, maka kamu akan selamat. Urwah menyeru dakwahnya itu di hadapan kaumnya. Tiga kali dikumandangkannya seruan itu, tetapi kaumnya sama sekali tidak menghiraukannya.

Kedudukan Urwah bin Masud yang disegani oleh kaumnya selama ini, lenyap begitu sahaja kerana dia dianggap telah meninggalkan agama nenek moyangnya dan telah bertukar kepada agama Islam. Kemarahan Bani Tsaqif adalah kerana berhala kebanggaan mereka telah dicela dan diugut akan dihancurkan oleh Urwah, dan kerana itu telah membuatkan mereka menutup pintu hati daripada sesuatu apa pun yang akan disampaikan oleh Urwah bin Masud, bahkan bertindak balas terhadap Urwah. Mereka melempar batu kepada Urwah bin Masud sehingga salah satu satu lemparan batu itu terkena pelipis mata Urwah dan menyebabkan Urwah mengalami kecederaan parah, dan akhirnya meninggal dunia.

Inilah tabiat umum manusia, bahkan tabiat makhluk hidup pada umumnya. Ketika mereka merasakan ada ancaman bahaya, maka mereka akan melawannya. Dan dalam pertarungan terbuka seperti itu, kekuatan batil yang dominan sering mengalahkan kebenaran (hak) yang masih terasa asing.

Ketika berita kematian Urwah bin Masud sampai kepada Rasulullah s.a.w, baginda bersabda: Apa yang telah terjadi kepada Urwah bin Masud sama seperti yang pernah terjadi kepada pendakwah di dalam surah Yaasin. Pendakwah itu dibunuh oleh kaumnya sendiri, dan ia dipersilakan masuk ke syurga. Dan pendakwah itu tidak pernah berhenti berdakwah, malahan terus mengajak kaumnya memeluk Islam meskipun ia telah gugur dan tidak lagi bersama dengan mereka. Dikatakan (kepadanya): "Masuklah ke syurga. Dan ia berkata: "Alangkah baiknya sekiranya kamuku mengetahui apa yang menyebabkan Tuhanku memberi keampunan kepadaku dan menjadikan aku termasuk dalam golongan orang yang dimuliakan.

Wallahu alam.

 * (Dipetik dan disunting daripada Majalah Sabili, No. 3 TH XIX, 10 November 2011)

Hubungi Kami

Alamat:
No.5B, Jalan 3/70 Damai Point, Seksyen 3, 43650 Bandar Baru Bangi. Selangor

Telefon: +60 17-377 7732
Email: alfalahmadani2022 [@] gmail.com

Jumlah Pengunjung

060929
Hari ini: 150
Minggu Ini: 2,702
Bulan Ini: 1,665
Tahun Ini: 60,929
Tahun Lepas: 52,147
Image

Alfalahmadani.my merupakan sebuah portal yang bertanggungjawab untuk bertindak sebagai penampan bagi setiap tuduhan, fitnah, kekeliruan, ketidakfahaman dan kecelaruan yang berlegar di minda rakyat. Sama ada isu-isu yang timbul secara organik di media sosial, ataupun yang didorong sebagai naratif oleh pihak-pihak tertentu,

Alfalahmadani.my akan menjawab setiap permasalahan dengan pengetahuan, kebijaksanaan dan kebenaran. Tentunya, kehadiran Alfalahmadani.my bukan berhasrat menyatakan kesempurnaan pemikiran, tetapi sebagai wahana untuk menuju kesempurnaan pengetahuan dalam konteks pemikiran semasa, dan kebijaksanaan yang mampu diusahakan.