KOPERASI: ANTARA ROMANTISME DAN KESUNGGUHAN MEMBANGUN BANGSA

Sudah terlalu lama koperasi hanya diperlakukan sebagai slogan, bukan sebagai gerakan peradaban ekonomi rakyat. Kita sering mendengar kalimat bahwa koperasi adalah “soko guru perekonomian Indonesia.” Namun pertanyaannya sederhana: apakah kita benar-benar membangun koperasi dengan kesungguhan, profesionalisme, dan integritas sebagaimana sebuah “soko guru” seharusnya dibangun?

Jujur harus kita akui, sebagian masyarakat memandang koperasi dengan rasa ragu. Ada yang menganggap koperasi lamban, tidak profesional, bahkan identik dengan masalah. Pandangan itu tidak sepenuhnya salah, sebab sejarah memang mencatat tidak sedikit koperasi yang gagal akibat lemahnya manajemen, rendahnya integritas, dan hilangnya ruh perjuangan bersama.

Tetapi kesalahan terbesar kita adalah ketika kegagalan itu dijadikan alasan untuk berhenti percaya pada koperasi.

Padahal di banyak negara maju, koperasi justru menjadi tulang punggung ekonomi rakyat. Di Jepang, koperasi pertanian mampu menjaga kesejahteraan petani. Di Korea Selatan, koperasi memperkuat desa dan pangan nasional. Bahkan di Amerika Serikat yang dikenal kapitalistik, koperasi-koperasi besar mampu menghasilkan pendapatan luar biasa.

Artinya, masalahnya bukan pada koperasinya. Masalahnya ada pada kualitas manusianya dan keseriusan sistem yang dibangun.

Koperasi tidak akan pernah maju jika hanya dibentuk untuk memenuhi target administratif. Koperasi juga tidak akan tumbuh sehat jika hanya menjadi tempat pinjam-meminjam tanpa pendidikan, tanpa visi, dan tanpa pembinaan karakter.

Koperasi adalah sekolah kehidupan sosial ekonomi. Ia memerlukan: kejujuran, disiplin, rasa saling percaya, tanggung jawab, dan budaya gotong royong yang hidup.

Karena itu, membangun koperasi sejatinya bukan hanya membangun lembaga ekonomi, tetapi membangun manusia yang beradab secara ekonomi.

Di sinilah tantangan terbesar bangsa kita hari ini.

Kita ingin ekonomi rakyat kuat, tetapi budaya instan masih tinggi. Kita ingin koperasi maju, tetapi kadang transparansi masih lemah. Kita ingin kebersamaan, tetapi ego kelompok dan kepentingan pribadi sering lebih dominan daripada kepentingan bersama.

Kalau penyakit-penyakit ini tidak diperbaiki, maka koperasi akan terus berganti nama, tetapi masalahnya tetap sama.

Maka pembentukan koperasi ke depan harus dilakukan dengan pendekatan yang lebih jujur dan mendasar.

Pertama, pendidikan harus menjadi pondasi utama.
Setiap anggota koperasi harus memahami bahwa koperasi bukan tempat mencari keuntungan sesaat, tetapi wadah membangun kekuatan bersama untuk jangka panjang.

Kedua, pengurus koperasi harus dipilih berdasarkan amanah dan kompetensi, bukan sekadar kedekatan.
Koperasi membutuhkan pemimpin yang melayani, bukan yang memanfaatkan.

Ketiga, transparansi dan akuntabilitas wajib ditegakkan.
Laporan keuangan harus terbuka. Pengawasan harus hidup. Kritik tidak boleh dianggap ancaman.

Keempat, koperasi harus mulai masuk ke sektor-sektor strategis rakyat: pertanian, UMKM, pendidikan, pangan, perikanan, dan ekonomi desa.

Karena di sektor-sektor inilah rakyat kecil membutuhkan kekuatan kolektif agar tidak kalah oleh sistem pasar yang semakin keras.

Kelima, pemerintah harus menjadi fasilitator dan penguat kapasitas, bukan sekadar pembentuk program.
Yang dibutuhkan rakyat bukan banyaknya papan nama koperasi, tetapi koperasi yang benar-benar hidup, dipercaya, dan memberi manfaat nyata.

Kita harus berhenti mengukur keberhasilan koperasi dari jumlah yang dibentuk. Ukurlah dari: tingkat kepercayaan anggota, kesejahteraan rakyat, kekuatan modal bersama, dan kemampuan koperasi bertahan lintas generasi.

Indonesia sebenarnya memiliki modal sosial yang besar: gotong royong, musyawarah, rasa kekeluargaan, dan semangat saling membantu. Tetapi semua itu tidak cukup jika tidak dipadukan dengan profesionalisme, ilmu pengetahuan, teknologi, dan integritas.

Koperasi masa depan tidak boleh dikelola dengan pola lama. Ia harus modern, transparan, digital, efisien, dan berbasis pendidikan karakter.

Karena sesungguhnya koperasi bukan sekadar alat ekonomi.
Ia adalah jalan untuk menjaga martabat rakyat agar tidak hanya menjadi penonton di negeri sendiri.

Jika koperasi dibangun dengan benar, maka petani tidak mudah dipermainkan tengkulak. Nelayan tidak mudah ditekan pasar. UMKM tidak berjalan sendiri-sendiri. Desa tidak hanya menjadi objek pembangunan, tetapi menjadi pusat kekuatan ekonomi bangsa.

Namun semua itu hanya akan terjadi bila kita berhenti sekadar berbicara tentang koperasi, lalu mulai serius membangun budaya amanah, profesional, dan berintegritas.

Sebab koperasi yang kuat tidak lahir dari pidato yang hebat, tetapi dari manusia-manusia jujur yang rela tumbuh bersama.

> “Bangsa ini tidak akan kuat hanya karena kaya sumber daya. Bangsa ini akan benar-benar kuat ketika rakyat kecilnya mampu berdiri bersama dalam kejujuran, ilmu, dan kerja kolektif yang bermartabat. Di situlah koperasi menemukan ruh perjuangannya.”
— Jasman Jaiman

ALLAH SWT BENCI UMAT BERPECAH

Syeikh Mahmud Syaltut menyatakan agama merupakan ketentuan Ilahi yang menetapkan prinsip-prinsip umum untuk membimbing urusan manusia bagi mencapai kesejahteraan hidup di dunia dan kebahagiaan di akhirat. Di samping itu, agama juga memberi petunjuk kepada kebaikan, kebenaran dan keindahan, serta memantapkan kedamaian dan ketenteraman bagi manusia seluruhnya.

Perpaduan dan persatuan sesama muslim merupakan kewajipan syariah. Dengan wujudnya persatuan itu merupakan nikmat Ilahi yang sangat besar.  Suatu perintah yang tegas dari Allah SWT agar kaum Muslimin bersatu padu dalam tali atau wadah yang satu iaitu Islam.

Ibnu Jarir di dalam kitab tafsirnya meriwayatkan keterangan dari Qatalah tentang maksud firman Allah tersebut. Ia berkata: "Sesungguh Allah membenci kamu berpecah belah dan melarang kamu mendekatinya, memperingatkan dan mencegah kamu daripada perbuatan demikian, tetapi Allah menyenangi kamu taat, mendengar perintahnya dan bersatu padu. Kerana hendaknya kamu menyenangi apa yang disenangi oleh Allah untuk kamu."

Dalam usaha memantapkan ukhuwah Islamiah ini, ia bukan sekadar penjelasan dari segi persamaan pandangan agama atau sekadar toleransi mengenai perbezaan pandangan melainkan yang lebih penting lagi adalah langkah-langkah bersama umat Islam sehingga dapat merasakan nikmatnya persaudaraan satu iman itu.

Salah satu hadis yang masyhur, menyentuh aspek ukhuwah adalah sabda Nabi s.a.w yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim daripada sahabat Ibnu Umar, yang bermaksud: “Seorang Muslim bersaudara dengan Muslim yang lain. Ia tidak menganiayanya, tidak pula menyerahkannya (kepada musuhnya). Barangsiapa yang memenuhi keperluan saudaranya, maka Allah akan memenuhi pula keperluannya. Siapa yang melapangkan suatu kesulitan seorang Muslim, Allah akan melapangkan baginya satu kesulitan pula dari kesulitan-kesulitan yang dihadapi di hari kemudian.

Persaudaraan dalam Islam berlandaskan iman kepada Allah, cinta kerana Allah dan benci kerana Allah, dan seseorang mukmin yang merupakan saudara bagi mukmin yang lain mempunyai pertalian persaudaraan yang lebih kuat daripada pertalian darah di kalangan adik-beradik kandung.

Pertalian keimanan inilah yang memperkukuh hubungan sesama individu dalam masyarakat, dan yang menjadikan masyarakat satu unit sosial yang tersusun rapi dan utuh. Untuk memantapkan ukhuwah Islamiah yang diperlukan bukan sekadar penjelasan segi-segi persamaan pandangan agama atau sekadar tolerensi mengenai perbezaan pandangan. Malah yang lebih penting lagi adalah langkah-langkah bersama yang dilaksanakan oleh umat sehingga seluruh umat merasakan nikmatnya.

Justeru, kita mengakui al-Quran dan sunnah sebagai panduan hidup, seharusnya kita berusaha mencipta kebaikan dalam kehidupan ini. Kita harus memperbaiki hubungan persaudaraan sesama Islam dan mencipta perdamaian di antara pihak-pihak yang bermusuhan.

Jalan yang besar dan lebih utama ialah bagaimana untuk menjaga akidah umat Islam dan menyatukan mereka dalam barisan ukhuwah Islamiah dalam menghadapi penyelewengan akidah seperti aliran-aliran fikiran bebas serta gejala-gejala kemungkaran yang bermaharajalela dalam kehidupan harian kita. Inilah yang perlu ditangani bersama terlebih dahulu daripada perkara yang remeh-temeh dalam masalah khilafiah.

Sehubungan dengan ini, dapatlah kita amati dan insafi penegasan Allah s.w.t menerusi firman-Nya yang bermaksud: Bertakwalah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, jika benar kamu orang-orang yang beriman. (Al-Anfal: 1)

Kekuatan ukhwah Islamiah dan perpaduan inilah yang masih tinggal yang perlu dipertahankan oleh seluruh umat Islam. Sekiranya ikatan ukhwah Islamiah dan kekuatan perpaduan ini turut roboh maka tunggulah kehancuran dan malapetaka yang akan menimpa umat Islam.  Hujatul Islam Imam Al-Ghazali menegaskan, Bersatulah seperti dua tangan ini. Jangan bercerai seperti dua telinga ini. Ketika tangan kanan ke depan, tangan kiri ke belakang. Ketika tangan kiri ke depan, tangan kanan ke belakang. Akhirnya kita selesa jalan berlenggang. Tapi kalau kedua-duanya ke depan..atau kedua-duanya ke belakang...?

Ilustrasi tersebut menggambarkan betapa pentingnya kita semua yang berhimpun hari ini menjaga persaudaraan dan memupuk perpaduan  di antara kita kerana perbezaan yang muncul daripada keragaman (pemikiran, ideologi, dan sebagainya), tidak mustahil menjadi peledak lahirnya fanatisme buta, persaingan tidak sihat, perselisihan, kutuk mengutuk dan perpecahan yang berupaya meluluhlantakkan nilai  nilai kebersamaan, merapuhkan persaudaraan dan tidak mustahil pula membawa derita dan kehancuran ummah dan bangsa kita.

Kita sebenarnya menyedari hakikat bahawa umat Islam sedang menghadapi fasa perpecahan dan perbalahan yang kritikal. Perpecahan ini jika dibiarkan berterusan hanya akan merugikan umat Islam itu sendiri. 
Permusuhan selalunya dimulai dengan keinginan manusia atau sekumpulan manusia untuk memenuhi tuntutan nafsu. Dalam kes ini, jika ada halangan untuk memuaskan tuntutan nafsu, sesetengah manusia mengambil jalan mudah dan mengetepikan sifat kemanusiaannya.

”Bahawasanya orang-orang yang mencerai-beraikan agama mereka (dengan perselisihan-perselisihan yang berdasarkan hawa nafsu), dan mereka menjadi berpuak-puak, tiadalah engkau terkait sedikitpun dalam (perbuatan) mereka.Sesungguhnya perkara mereka hanya terserah kepada Allah. Kemudian Ia akan menerangkan kepada mereka (pada hari kiamat kelak), apa yang telah mereka lakukan (dan membalasnya)”. (Al-An'aam 6:159)

Bermula dengan sikap benci, berkembang menjadi perseteruan sementara dan seterusnya tanpa kawalan diri akan memuncak menjadi lebih buruk termasuk melibatkan pembunuhan dan pelbagai bentuk kezaliman. Rasa benci yang mula berakar menyebabkan manusia sanggup memutuskan perhubungan sebagai rakan atau saudara. Memutuskan ikatan persaudaraan seagama menjadi petanda bahawa berlakunya kekeruhan iman.
Perselisihan seperti ini harus diatasi dengan dakwah dan amar makruf nahi mungkar.

Apabila berlakunya sesuatu perselisihan, orang Islam diwajibkan untuk melupakan perbezaan dan kembali kepada dasar keimanan dengan jelas. Sebarang perbezaan pendapat perlu diselesaikan secara berhemah dan beretika. Tuduh-menuduh antara pihak yang berselisih pendapat perlu dielakkan.

Sehubungan ini Allah SWT berfirman yang bermaksud: "Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat mengenai sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah dan Rasul-Nya. Jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama dan lebih baik 

Fenomena IS
Begitu juga dengan fenomena Islamic State (IS) yang amat membimbangkan kita. Fahaman IS yang cuba dibawa masuk ke negara kita, tidak hanya bertentangan dengan fahaman Ahlu Sunnah wal Jamaah yang kita pegangi, akan tetapi ia juga membahayakan keselamatan negara kerana fahaman ekstrem yang dibawa IS berpotensi menghuru-harakan keharmonian dan ketenteraman. Pandangan ekstrem dan ganas IS juga bertentangan dengan cara yang digagas al Ghazali yang menekankan cara berdiplomasi dan menolak keganasan bagi menegur atau memperbaiki sikap penguasa.     

Ini kerana ia diasaskan kepada kehendak untuk melihat setiap orang dapat hidup dalam situasi aman, harmoni dan sejahtera tanpa ada prasangka serta pergeseran berasaskan kepentingan tertentu. Lebih penting  ini bukan sekadar laungan atau slogan 'menyelamatkan akidah ummah' tetapi lebih praktikal lagi bagaimana memikirkan cara-cara pengukuhannya nanti.

Ini kerana banyak lagi unsur-unsur lain yang perlu diketengahkan sebagai alat-alat pengukuhan akidah. Maknanya di samping kita menslogankan akidah, tidak patut pula diabaikan ajaran yang penting yang sering diistilahkan sebagai ibadah. Bahkan ibadah atau ilmu itu sendiri memainkan peranan penting bagi pengukuhkan akidah.

DAISH AGENDA YAHUDI?

Sekitar tahun 2009, saya masih ingat saya menyaksikan beberapa video klip yang memaparkan beberapa puak Islam di Amerika Syarikat dan United Kingdom yang melaungkan slogan tuntutan pembentukan negara Islam di US dan United Kingdom. Saya tersenyum kerana puak-puak ini tidak sedar status di negara mana mereka tinggal, sementelahan pula majoriti penduduknya bukan Islam. Puak-puak ini sedikitpun tidak ambil kisah perasaan orang bukan Islam di sekitar mereka yang rata-ratanya beragama Kristian. Dan para pembacapun tahu istilah negara Islam sekiranya diterjemahkan ke bahasa Inggeris ialah Islamic State. Sejak dari itu, lahir pula istilah Daish (singkatan kepada Al-Dawlah Al-Islamiyyah fi Al-‘Iraq wa Al-Sham) yang merujuk kepada Negara Islam, bukan sebagai satu istilah yang positif dan baik, tetapi satu istilah yang telah mendapat imej yang buruk dan negatif kerana aktiviti radikalisme dan terrorisme. Angkara siapakah ini hingga Islamic State menjadi satu konotasi yang digeruni dan ditakuti kerana aktiviti keganasannya (Daish atau ISIS) sedangkan “negara Islam” (Islamic State) adalah perjuangan suci kebanyakan gerakan Islam yang sah di dunia.

Keganasan global telah mengalami perubahan besar-besaran dengan kebangkitan kumpulan pengganas baharu. Sama ada ia agenda Yahudi, salah faham terhadap konsep jihad atau konspirasi negara-negara Barat, kita masih belum pasti. Sejak tahun 2011, Arab Spring dan Perang Saudara Syria telah memberikan nafas baharu kepada militan jihad dan melahirkan gelombang yang tidak pernah berlaku sebelum ini dalam konteks paradigma latihan pengganas muda generasi pasca 9/11. Hari ini dunia menghadapi beberapa ancaman terrorisme daripada Negara Islam Iraq dan Syria (Daish, IS, ISIS atau ISIL), siri-siri keganasan di Timur Tengah, Daish dan Jemaah Islamiah (JI)  di Asia Tenggara, militia pengganas di Libya, aktiviti pengganas oleh Boko Haram di Nigeria, Al-Shabab di Somalia, Taliban dan Al-Qaeda di Afghanistan dan Pakistan serta gerakan Daish (IS atau (ISIS) yang sedang berkembang dan mewabak di Eropah Barat.

Timur Tengah – pusat tamadun dan tempat kelahiran tiga agama monoteistik utama telah menjadi zon persengketaan pelampau agama dan fasisme. Orang ramai terutamanya pihak Barat sering mengaitkan radikalisme dengan Islam hingga ke satu tahap timbulnya persepsi bahawa agama Islam adalah agama yang membajai kecemerlangan ekstremisme. Namun penilaian tersebut secara amnya gagal untuk mengambil kira trend radikalisme yang sama-sama berbahaya yang telah berlaku di rantau Timur Tengah selama beberapa dekad iaitu Zionisme. Agenda Zionisme kekal sebagai satu realiti yang mengancam umat Islam sama ada pada jangka masa pendek atau jangka masa pendek kerana ideologinya melibatkan dan mengesahkan penghapusan seluruh orang-orang Islam. Ini bertepatan dengan pernyataan Rabbi Meir Hirsh, ahli Neturei Karta, berkaitan usaha Yahudi untuk mendapatkan semula dan mengekalkan kononnya tanah air mereka sendiri iaitu "Land of Israel." Menyedari bahawa kebangkitan Zionisme bukan sahaja melibatkan isu Palestin, Rabbi Meir Hirsh memberi amaran bahawa penyerapan dan pendudukan Zionis di Palestin adalah langkah pertama ke arah kebangkitan “Greater Israel." Hal ini tidak menghairankan di mana pihak Google Inc. baru-baru ini telah menghilangkan negara yang sah iaitu Palestin daripada peta dunia.

Dari segi sokongan dan sumber kewangan, Zionis mendapat bantuan terus daripada Amerika Syarikat, sekutu dan proksinya, manakala Daish kemungkinan pernah mendapat bantuan latihan ketenteraan daripada Amerika Syarikat atau Rusia dan sumber kewangan daripada penjualan minyak dalam pasaran gelap. Sumber kewangan Daish semakin meningkat yang bersumberkan daripada pengeluaran minyak, penyeludupan barangan melalui Turki dan gandum yang tumbuh di kawasan yang luas di Syria. Daish telah menggunakan sumber-sumber ini untuk mendapatkan sokongan sosial dan ekonomi serta menyediakan bantuan kepada rakyat di bawah pemerintahannya. Pendapatan Daish dianggarkan berjumlah kira-kira USD3.000.000 sehari pada tahun 2014 manakala asetnya dianggarkan antara USD1.3 hingga USD2 bilion. Daish di Syria telah menyediakan pendidikan percuma, perumahan percuma, perkhidmatan penjagaan kesihatan percuma, air percuma, elektrik percuma, roti percuma, petrol percuma, minyak yang sangat murah, perkhidmatan penjagaan anak dan bantuan penjagaan hidup untuk isteri dan anak-anak orang yang kononnya mati “syahid” itu. Dalam konteks inisiatif ini, Daish mengendalikan tiga empangan dan dua loji janakuasa di Raqqa dan Aleppo dan menggerakkan sekurang-kurangnya lima kilang roti berskala industri besar. Daish juga telah melabur dalam infrastruktur dan pembangunan fasiliti rakyatnya. Mereka membina saluran air dan paip kumbahan dan merekrut tenaga kerja untuk mengendalikan mesin berat dan melaksanakan perkara-perkara teknikal.

Kritikan terhadap Israel telah menjadi pantang larang sosial dan politik yang menyebabkan ramai orang telah buta dengan kebenaran atau dituduh sebagai anti Semitisme. Ramai orang tidak lagi boleh melihat bahawa Israel dan Daish sebagai dua entiti yang sama radikal, tidak bertoleransi dan melampau. Daish sebenarnya membawa ciri-ciri Zionis yang membimbangkan, bukan sahaja dalam ideologi radikalismenya bahkan dasar-dasarnya, walaupun ia mendakwa berusaha untuk menghancurkan Israel. Hakikatnya Daish tidak pernah “menyentuh” Israel atau kepentingan-kepentingannya. 

Walau bagaimanapun, dunia Islam menjadi terkejut apabila WikiLeaks mendedahkan bahawa Daish (ISIS) dilatih oleh Mossad. Maklumat ini dikatakan dibocorkan oleh bekas perisik CIA, Edward Snowden. Edward Joseph Snowden adalah seorang pakar komputer dan pernah bekerja sebagai perisik dengan Central Intelligence Agency (CIA) dan sebagai kontraktor dengan kerajaan Amerika. Beliau menjadi terkenal selepas membelot terhadap CIA. Pada tahun 2013, beliau telah menyalin dan membocorkan rahsia rasmi maklumat yang diperolehi daripada National Security Agency (NSA), agensi keselamatan nasional Amerika. Agensi Keselamatan Negara (NSA) adalah sebuah organisasi perisikan kerajaan Amerika Syarikat yang bertanggungjawab untuk memantau sehingga ke peringkat global pengumpulan dan pemprosesan maklumat serta data untuk tujuan perisikan dan counter-intelligence negara asing, disiplin yang dikenali sebagai isyarat perisikan (SIGINT). Pendedahan beliau melibatkan pelbagai program pemantauan global yang dikendalikan oleh NSA dan Kerjasama Perisikan 5 Negara (Five Eyes Intelligence Alliance) dengan kerjasama syarikat-syarikat telekomunikasi dan beberapa negara Eropah. Dokumen-dokumen rahsia NSA dibocorkan kepada beberapa pemberita seperti Glenn Greenwald, Laura Poitras dan Ewen MacAskill. Glenn Greenwald merupakan penyebar maklumat rahsia yang paling aktif dan diterbitkan oleh The Guardian, The Washington Post, Der Spiegel dan The New York Times. Pada 23 Jun 2013 Snowden bertolak ke Moscow dan beberapa bulan selepas itu pihak berkuasa Rusia memberikannya suaka politik selama setahun, yang kemudiannya dilanjutkan kepada tiga tahun. Pada 2015, dia masih tinggal di lokasi yang tidak didedahkan di Rusia.

Edward Snowden sering memuji WikiLeaks sebagai satu organisasi yang benar-benar tidak mengenal erti takut dalam meletakkan prinsip-prinsip politik dalam usaha mereka untuk membina budaya yang merentas sempadan dalam konteks ketelusan dan perlindungan data yang penting. Mereka mencari risiko ketika semua orang cuba mengelakkan diri. WikiLeaks melaporkan dalam tweetnya, “#Snowden mendedahkan #ISIS dilatih oleh Mossad” (pada 8 Ogos 2014) yang kemudiannya mendapat 478 retweets dalam tempoh beberapa jam siaran beritanya. Sungguhpun laporan WikiLeaks ini diragui, kita perlu sentiasa berwaspada. Adakah benar pemimpin Daish, Abu Bakr Al-Baghdadi dilatih oleh Mossad dan Operasi Hornet Nest benar-benar wujud?

Majalah Time pada 19 Julai 2014 dalam satu artikelnya menyangkal berita bahawa Daish (ISIS) dilatih oleh Mossad seperti yang dilaporkan oleh banyak sumber dari Iran termasuk Agensi Berita Iran (IRNA). Majalah Time menyatakan bahawa ia adalah satu teori konspirasi dari Iran dan bahawa berita itu tidak benar. Walau bagaimanapun, Snowden tidak pernah menolak atau menafikan berita IRNA itu. Hal ini agak menarik kerana dalam kerangka disiplin intelektual, apa yang dilaporkan oleh IRNA boleh dianggap sebagai benar selagimana ia tidak disangkal oleh Snowden atau dibuktikan sebagai palsu. 

Sebelum itu pada 6 Julai 2014, laman sesawang IRNA melaporkan berita bertajuk: “Snowden: Abu Bakr Al-Baghdadi, Natijah Daripada Kerjasama Agensi Perisikan Tiga Negara.” Pada pertengahan Julai 2014, Majalah Time cuba campur tangan dan menolak berita yang melibatkan Edward Snowden. Tajuk artikel dalam Majalah Time berbunyi: "Mengapa Iran Percaya Kumpulan Militan ISIS Adalah Satu Plot Amerika" dalam cubaan untuk menolak berita yang disiarkan oleh IRNA. Perlu diingatkan, teori konspirasi bukanlah perkara baharu di Timur Tengah. Majalah Time mendakwa bahawa berita ini hanyalah khabar angin dengan merujuk kepada beberapa pautan dan postings dalam laman sesawang dan internet. Majalah Time juga menuduh bahawa artikel tersebut bertujuan untuk menarik perhatian para pengganas di seluruh dunia untuk memporak-perandakan rantau Timur Tengah dan mengucar-kacirkan Israel sebagai musuh umat Islam. IRNA bertindak balas dengan segera untuk menolak hujah Majalah Time dengan menyatakan bahawa Time gagal untuk merujuk kepada sumber asal berita tersebut dalam The Intercept, portal dokumen dan penerbitan dalam talian milik jutawan dan pengasas E-Bay, Pierre Omidyar yang dilancarkan pada Februari 2014 oleh First Look Media. Apa yang menarik ialah portal ini bertindak sebagai platform untuk melaporkan dan menerbitkan dokumen yang dibocorkan oleh Edward Snowden dalam jangka masa pendek dan untuk menghasilkan secara agresif pemberitaan yang bertentangan dalam pelbagai isu-isu dalam jangka masa panjang. Apakah benar terdapat rujukan mengenai perkara ini dalam The Intercept? Semua dokumen yang dimuatnaik daripada dokumen rahsia yang diperolehi oleh Snowden terdapat dalam laman sesawang http://cryptome.org. The Washington Post melaporkan sekurang-kurangnya terdapat 250,000 muka surat dalam fail Snowden, tetapi kurang daripada 1% telah dibocorkan. Pada 13 September 2014, Glenn Greenwald mendakwa Snowden mempunyai beratus-ratus ribu dokumen. Kebanyakannya disiarkan dalam The Intercept dan boleh dicapai menerusi laman sesawang https://theintercept.com/.

Mari kita bandingkan perjuangan Zionisme dengan Daish (ISIS, ISIL atau IS). Negara Yahudi Israel dan Levant (JSIL) dan Daish (ISIS, ISIL atau IS) mempunyai persamaan dari satu segi iaitu ideologi kedua-duanya berpunca dari eksklusivisme keagamaan. Pada masa yang sama kumpulan Islam radikal Daish (ISIS, ISIL atau IS) banyak yang berpegang kepada prisip Takfirisme (mengkafirkan orang lain) dan Zionis berkongsi ciri-ciri yang sama iaitu manusia Yahudi adalah masyarakat yang dipilih oleh Tuhan (The choosen people of God) dan manusia yang lain sebagai goyem (binatang).

Takfirisme merupakan ideologi yang berabad-abad lamanya berlegar dalam kalangan pentakfir dan ditandai dengan amalan menggunakan kanta dogmatik yang keras untuk menghakimi orang lain sebagai kafir dan mereka sahaja yang betul-betul Muslim. Mereka menyeru kepada para pengikut untuk menetap bersama-sama dalam masyarakat yang terpencil dan memerangi orang-orang kafir yang dianggap sebagai musuh. Pada tafsiran mereka tiada orang kafir yang baik. Mereka tidak mahu memandang kepada pengertian toleransi, muhibah, muafakat, kesatuan dan dialog serta interaksi sosial dalam konteks hubungan antara kaum. Bagi mereka, orang kafir mesti dibunuh.

Zionisme mengalami kebangkitan semula pada tahun 1967 apabila Mesir tiba-tiba berhadapan dengan kekuatan dan keunggulan tentera Israel sehingga beberapa daerah dalam negara Arab jatuh ke bawah penguasaan Israel. Daish (ISIS, ISIL atau IS) dan Zionis, bukan sahaja mempunyai persamaan dari segi pandangan mereka yang radikal tetapi juga kepercayaan yang berakar umbi bahawa ideologi selain daripada mereka adalah salah dan perlu diperangi. Kedua-duanya juga menyokong prinsip perluasan wilayah dan penyerapan kuasa politik mereka dengan apa cara sekalipun.

Daish (ISIS, ISIL atau IS) bukan sahaja telah terbukti melakukan pembunuhan terhadap orang awam yang tidak bersalah bahkan melakukan hukuman mati di tempat awam secara mengerikan, Israel juga boleh dikatakan sama. Apa tidaknya, Ariel Sharon, ketika menjadi Menteri Pertahanan Israel, telah mengarahkan pembunuhan beramai-ramai umat Islam di Sabra dan Shatila, di mana ribuan penduduk awam Palestin terbunuh? Pihak Zionis Israel mensasarkan kanak-kanak, wanita dan warga emas yang tidak bersenjata.

Walaupun ramai yang mencari persamaan di antara Daish dan Zionis, mereka akan gagal sekiranya mereka tidak mengkaji nilai-nilai dan ideologi yang menjadi telah menjadi tema utama perjuangan keduanya. Israel Shahak dan Michel Chossudovsky mengakui bahawa Daish dan Zionis tidak ada banyak bezanya dari segi nilai yang dijunjung dan ideologi yang dipegang. Kita mengandaikan bahawa Daish tidak lebih daripada satu ciptaan Zionis untuk merealisasikan agenda hegemoni Zionis terutamanya dalam lapangan dan realiti politik yang akhirnya menjurus ke arah Greater Israel. Ini bertepatan pula dengan teori konspirasi Snowden. James Henry Fetzer juga mempunyai pandangan yang hampir serupa. Baginya, Daish adalah operasi Barat untuk mewujudkan Israel yang lebih besar (Greater Israel). Nafeez Ahmed dalam artikel yang diterbitkan semula oleh MintPress bertajuk "Bagaimana Barat Mencipta ISIS," menyatakan bahawa sejak 2003, Amerika Syarikat telah secara diam-diam dan terang-terangan menyatakan sokongan secara langsung dan tidak langsung kepada kumpulan pengganas Islam yang dikaitkan dengan al-Qaeda di seluruh Timur Tengah dan Afrika Utara. Ini adalah gabungan teras geostrategik yang didorong oleh cita-cita lama untuk menguasai sumber minyak serantau, mempertahankan perluasan kuasa Israel dan merobah peta Timur Tengah. 

Apa yang Israel inginkan ialah penguasaan Israel dan Greater Israel ("Israel Raya"). Israel tidak mencari sesuatu yang ada dalam keluhuran agama Yahudi. Bahkan Tel Aviv telah melemahkan kepercayaan Yahudi. Nilai Zionisme arus perdana yang diuar-uarkan oleh Theodor Herzl adalah berdasarkan pemisahan orang-orang Yahudi dari kepercayaan Yahudi atau dalam erti kata lain, menjadikan orang-orang Yahudi tidak beriman dan tidak percaya kepada Elohim. Menurut Theodor Herzl, Zionisme sebagai sebuah gerakan politik-agama yang bermula pada abad ke-19 mahukan penubuhan negara Yahudi yang terbentang dari sungai Mesir hingga Efrat. Rabbi Fischmann, membuat perisytiharan yang sama dalam keterangannya kepada Jawatankuasa Khas Inkuiri PBB pada 9 Julai 1947 bahawa The Promised Land (Tanah yang Dijanjikan) bermula dari Sungai Mesir sehingga ke Efrat; ia termasuk sebahagian Syria dan Lubnan. Sejak Zionisme muncul sebagai satu entiti politik di Eropah pada abad ke-19, para penyokong gerakan ini telah melobi untuk mewujudkan semula dengan apa yang mereka anggap sebagai warisan politik dan agama mereka dan menubuhkan sebuah negara Yahudi, eksklusif kepada orang-orang Yahudi dalam wilayah yang ditakrifkan oleh Kitab Suci Yahudi sebagai Tanah Perjanjian Israel. Projek Greater Israel ("Israel Raya") Zionis menyokong gerakan penempatan semula Yahudi di Timur Tengah di mana akhirnya kedua-dua Tebing Barat dan Gaza jatuh ke tangan Israel. Greater Israel juga termasuk sebahagian Lebanon, Jordan, Syria, Sinai, serta sebahagian Iraq dan Arab Saudi.

Idea "Israel Raya", hanya dapat dibina di atas runtuhan dunia Arab-Islam. Ia telah didokumentasikan pada tahun 1980 oleh Livia Rokach. Rokach telah menceritakan dengan panjang lebar bagaimana Zionis pada pertengahan tahun 1950-an merancang untuk menggunakan Lubnan sebagai tapak untuk merealisasikan Greater Israel. Hujah Rokach juga adalah berasaskan kepada memoir dan manifesto politik salah seorang pengasas Israel yang juga bekas Perdana Menteri Israel, Moshe Sharett. Serangan Israel ke atas Lubnan pada tahun 1978 dan 1982 boleh difahami sebagai pelaksanaan sebahagian kecil Pelan Yinon Israel dan satu satu strategi untuk memecah-belahkan dan melemahkan negara-negara jiran untuk memastikan keunggulan serantau Israel. Usaha Israel pada tahun 1982 adalah untuk memecah-belahkan bukan sahaja Lebanon, tetapi juga Syria dan Jordan, adalah juga sebagai batu loncatan untuk dasar pecah-belah Zionis di Timur Tengah. Israel juga mengukuhkan sektarianisme yang sudah wujud dalam etnik mereka dengan menyokong kepentingan etnosentrik di negeri-negeri jiran. Inilah sebabnya mengapa Israel mahu melihat Lebanon, Syria dan Iraq dibahagikan kepada entiti politik bagi orang Arab dan Kurd; pada peringkat etnik, dan bagi orang Kristian; Druze, Syiah Dua Belas, Alawi, dan umat Islam Sunni, pada peringkat agama.

Israel bercadang untuk memperluaskan wilayahnya dengan bukan hanya sekadar Palestin manakala Daish juga mempunyai matlamat memperluaskan wilayah kepada semua negara Islam. Walaupun Daish pernah bersumpah bahawa mereka tidak akan berehat sehingga Israel dikalahkan dan hak kedaulatan Palestin dikembalikan, sekali gus meletakkan diri mereka sebagai musuh-musuh Israel, adakah Daish pernah menyerang Israel? Pada musim panas 2013, Daish telah mewujudkan satu unit khas yang bertujuan untuk menghapuskan Israel dan menguasai semula Palestin. Pasukan itu dinamakan Unit Al-Quds; yang berusaha untuk meluaskan pengaruhnya di lebih 60 kem pelarian Palestin. Memandangkan pemimpin terkenal Daish, Abu Bakr Al-Baghdadi telah membuat beberapa deklarasi anti-Semitik yang menyatakan kebencian terhadap Israel, apakah gunanya kita membuat perbandingan antara Zionis dan Israel? Deklarasi Al-Baghdadi itu sebenarnya hanyalah cakap kosong yang bertujuan mendapatkan simpati umat Islam kerana mereka tidak pernah merancang menyerang Israel. Bahkan saya juga tidak fikir Unit Al-Quds akan menyerang Israel. Apatah lagi, prinsip Takfirisme yang didokong oleh Daish memang merupakan ekspresi dan kehendak Zionis, sebagai alat dan wahana Israel untuk memusnahkan struktur sosio-agama di Timur Tengah. Apabila umat Islam saling kafir-mengafir, mereka kemudiannya akan berpecah dan berperang. Inilah yang diinginkan oleh pihak Zionis. Hal ini telahpun berlaku bertahun-tahun. Tidak syak lagi Israel telah berkomplot melawan negara-negara Arab di rantau ini dengan memainkan isu kafir mengafir, ketegangan dan konflik antara mazhab dan isu etnik untuk menjana ketidakstabilan dalam rantau Arab demi melanjutkan dan memperluaskan agenda hegemoninya.

Kaedah Daish memperluaskan wilayah-wilayahnya adalah mencurigakan. Dengan melihat peta Timur Tengah, adalah jelas bahawa kedudukan militan Daish tepat dengan gambaran di mana Zionis mahu lahirkan Greater Israel. Adakah kita percaya bahawa kempen keganasan Daish di Iraq dan Syria menuju ke arah Mesir dan Jordan hanyalah satu kebetulan? Bukankah tindakan Daish ini selaras dengan kepentingan Israel dan mendokong aspirasi dan agenda Israel? Perkara ini juga telah diperakui oleh Brian Whitaker, bekas editor Guardian di Timur Tengah. 

Sebagai kesimpulan, kita telah berbahas mengenai strategi Daish dan Israel yang mempunyai persamaan yang mengejutkan tentang keadaan huru-hara yang berlaku di tengah-tengah semangat Daish untuk menubuhkan negara Islam. Israel telah membentuk persekitaran yang strategik dengan terlebih dahulu mengusahakan penyingkiran Saddam Hussein. Jordan dan Turki akan bersama-sama dengan Israel untuk melemahkan Syria dan cuba memulihkan Syria. Tindakan ini juga akan melemahkan pengaruh Lebanon, Syria dan Iran ke atas puak-puak Syiah. Untuk berjaya, Israel perlu mendapatkan sokongan Amerika Syarikat. Akhirnya Daish tercipta!

KEWAJIPAN BERLAKU ADIL

Salah satu sifat yang harus dimiliki setiap orang untuk dapat menegakkan kebenaran adalah sifat adil. Kata adil banyak disebut dalam al-Quran dengan pelbagai pengertian dan konteks, seperti seimbang (Q.82: 7), Benar (Q.2: 282) dan tebusan (Q.6: 70). Keadilan memang merupakan doktrin pusat dalam teologi Islam.

Dalam bahasa Arab, pengertian keadilan dibezakan menjadi dua istilah. Iaitu al-adl dan al-idl. Al-adl adalah keadilan yang ukurannya didasarkan pada gerak hati atau rasional, sementara al-idl adalah keadilan yang pada gerak hati atau rasional, sementara al-idl adalah keadilan yang dapat diukur secara jasmani, yang dapat dirasakan dengan pancaindera, seperti timbangan atau hitungan.

Prinsip keadilan perlu diterapkan dalam semua aspek kehidupan termasuklah dalam urusan perbankan. Islam memerintahkan manusia untuk bersikap adil dan perlakukan adil wajib ditegakkan terhadap sesiapa sahaja (Q. 42: 15).

KEWAJIPAN AGAMA
Berbuat atau sikap adil merupakan salah satu perintah wajib dalam agama Islam. Allah s.w.t dalam salah satu firman-Nya menyatakan hal tersebut secara tegas: Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil, dan berbuat kebaikan. (Q.16: 90). Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Abu Daud dan Iman Ahmad bin Hanbal. Rasulullah saw bersabda ;Ilmu itu ada tiga antaranya ialah kewajipan berlaku adil dalam membahagi.

ADIL SEBAGAI SYARAT
Dalam banyak aspek kehidupan beragama, sifat adil seringkali ditetapkan sebagai mutlak dalam sesuatu perkara. Tanpa sifat tersebut, maka perkara itu menjadi batal. Misalnya, seorang perawi hadis haruslah adil, dalam erti berpegang pada kebenaran dan kejujuran. Jika perawi tidak adil, maka hadisnya dianggap tidak sahih. Sifat adil juga menjadi syarat mutlak yang harus dimiliki oleh seorang hakim, pemerintah dan saksi dalam sesuatu perkara. Dalam menjalankan tugas, hakim dituntut untuk bersikap adil.

SUNNATULLAH
Dalam al-Quran, keadilan disebut sebagai bahagian daripada hukum alam semesta, iaitu hukum keseimbangan (al-mizan), yang menjadi hukum alam atau sunatullah. Kerana merupakan sunnatullah, maka menegakkan keadilan merupakan suatu kemestian yang mutlak.

Apabila keadilan dilaksanakan, maka akan tercipta kebaikan; sebaliknya apabila tidak dilaksanakan, maka akan timbul malapetaka.

TAKWA
Al-Quran menjelaskan bahawa bersikap adil itu adalah tidak memilih bulu. Kepada golongan yang kita benci pun kita harus tetap adil. Menerapkan sikap adil dalam keadaan demikian akan mendelkatan kita kepada takwa, seperti firman Allah s.w.t: Dan janganlah sekali-kali kebencian kamu terhadap sesuatu kamu itu mendorong kamu kepada tidak melakukan keadilan. Hendaklah kamu berlaku adil (kepada sesiapa jua), kerana sikap adil itu lebih hampir kepada takwa. (Q.5: 8)

ZALIM
Berlaku adil berkait rapat dengan hak dan kewajipan. Hak yang dimiliki oleh seseorang, termasuk hak asasi harus diperlakukan dengan adil dan tidak boleh dengan zalim semena-mena. Zalim iaitu sifat sewenang- wenang dalam suatu perkara, merupakan kebalikan daripada sifat adil. Orang yang berbuat zalim diancam dengan siksaan yang sangat pedih di akhirat nanti, kerana berbuat zalim termasuk salah satu dosa besar.

APABILA RASUAH MENJADI-JADI

Membanteras gejala rasuah di dalam masyarakat adalah satu jihad sosial yang sangat utama demi keadilan yang dituntut oleh Allah SWT. Perbuatan ini dengan sendirinya mencemar Islam dan negara. Mereka bukan sahaja pengkhianat kepada rakyat, malah mereka telah mengakibatkan agama Islam tercela dan negara musnah.

Rasuah terus bermaharajalela, amaran tidak sedikitpun menakutkan mereka. Tetapi buat mereka yang imannya sudah diselaputi oleh serakah duniawi, amaran tidak akan mencecah ke hati nuraninya. Rasulullah SAW juga meramalkan akan datang muncul satu zaman yang mana manusia menjadikan wang sebagai berhala mereka.

Setiap kepingan wang atau dolar menjadi agama mereka. Perut-perut mereka menjadi tuhan-tuhan mereka. Perempuan-perempuan mereka menjadi kiblat mereka. Imam mereka sudah hilang kecuali namanya sahaja. Seks menjadi tumpuan mereka. Kemuliaan seseorang itu akan diukur berdasarkan kekayaannya.

Dalam hal ini, terdapat banyak hadis sahih yang menunjukkan baginda melaknat orang yang memberi rasuah dan penerima rasuah. Rasuah adalah satu daripada dosa besar manakala rasuah paling keji dan besar dosanya ialah rasuah berkaitan hukum. Ini kerana hukum ditetapkan oleh Allah SWT, sementara manusia hanya pelaksana.

Dalam konteks rasuah di Malaysia, paling banyak kita menerima laporan ialah mengenai salah laku penjawat awam kerana seolah-olah mereka sahaja yang bersalah dalam hal ini. Sebenarnya, yang patut juga dipersalahkan ialah tangan yang memberi kerana dalam sistem persaingan, mereka sanggup melakukan apa sahaja demi mencapai hasrat dan tujuan.

Persoalan yang melingkari penjawat awam, misalnya dalam kes yang melibatkan negara kehilangan lebih satu bilion ringgit ekoran masalah kutipan cukai oleh pihak berkuasa kastam memberikan gambaran seolah-olah penjawat awam sahaja yang bersalah. Penjawat awam dikatakan menerima sejumlah wang bagi memberikan laluan kepada kemasukan barangan yang diisytiharkan cukai yang rendah ataupun dilepaskan begitu sahaja.

Seharusnya pihak SPRM perlu juga membuat penyiasatan mendalam mengenai kejujuran syarikat atau orang perseorangan yang membawa masuk barangan tersebut. Tanpa membuat siasatan dan bertindak mengenakan hukuman yang berat ke atas syarikat terbabit, maka semakin lama akan menyebabkan penjawat awam terasa seolah-olah mereka terus dijadikan kambing hitam dalam usaha kerajaan menghapuskan gejala rasuah dalam masyarakat.

Perlu juga disiasat secara jelas apakah motif sebenar sesebuah syarikat yang banyak bertindak sebagai philanthropist atau dermawan dengan mengeluarkan bantuan dan tajaan dalam jumlah yang besar kepada sesebuah badan sukarela ataupun pertubuhan. Apakah syarikat-syarikat itu benar-benar ikhlas sebagai memenuhi tanggungjawab sosialnya?

Perbuatan rasuah sejak permulaan sejarah lagi sudah berlaku. Rasuah datang dalam pelbagai kaedah. Ada melalui acara permainan golf, janji pakej umrah malah tidak keterlaluan rasuah menggunakan wanita cantik untuk memperoleh sesuatu perkara yang dihajatinya, selain menggunakan wang dan menaja percutian mewah seseorang. Kebiasaannya, orang yang dijadikan sasaran ialah mereka yang mempunyai kedudukan atau ada kuasa membuat keputusan berhubung dengan apa yang diinginkan itu.

Menurut anggaran terbaru, negara dikatakan mengalami kerugian besar jika gejala rasuah tidak dapat dibendung. Baru-baru ini didedahkan pula lebih RM1 bilion telah berlegar dalam kelompok tertentu sehingga menyebabkan SPRM membuat sasaran untuk mendapatkan kembali RM3 bilion menerusi siasatan yang melibatkan kakitangan kastam secara besar-besaran. Lebih enam puluh orang telah disiasat dan sebahagian besar sedang menunggu untuk didakwa di mahkamah.

Kesedaran mengenai keburukan rasuah yang dikempenkan setiap masa nampaknya kurang memberi kesan menyeluruh. Dengan menjadikan penjawat awam sebagai sasaran utama, ia tidak boleh dilihat sebagai sesuatu yang bermaruah, kerana puncanya masih belum dapat dibasmi sepenuhnya.

Disebabkan rekayasa perniagaan moden memerlukan persaingan, maka syarikat yang inginkan projek kerajaan sanggup memperuntukkan sebahagian kecil wang untuk melobi dan belanja keraian tertentu asalkan projek itu menjadi miliknya.

Senario ini perlu diselidiki secara mendalam jika kita ingin menghapuskan rasuah. Persoalan rasuah adalah tidak sama dengan tanggapan apabila penawaran menjadi lebih kecil manakala permintaan semakin meningkat, menyebabkan perlumbaan menjadi sengit. Asas persaingan adalah membentuk suasana pertandingan yang sihat, tetapi tentunya ada muslihat lain di sebalik persaingan tersebut. Inilah yang seharusnya dibasmi secara menyeluruh oleh SPRM ataupun pihak berkuasa.

Seseorang penjawat awam yang dikaitkan dengan rasuah haruslah diurus dengan baik dan tidak menjadikan mereka berada dalam tekanan yang melampau. Kemungkinan rasa tertekan yang dialami oleh mereka yang tertuduh menyebabkan lebih menyakitkan hati penjawat awam apabila mereka dibawa ke balai polis dengan tangan bergari. Mereka seharusnya diberikan layanan yang mesra, dan cara siasatan yang tidak menyebabkan tertuduh terasa bagaikan berada dalam suasana aib yang besar.

Persoalan mengurus mereka yang tertuduh perlu dilaksanakan secara berhemah. Meskipun mempunyai bukti, tetapi sebenarnya berdasarkan undang-undang, selagi mahkamah belum membuat keputusan bersalah, maka tertuduh perlu dilayan sebaik mungkin.

Pihak yang mengurus usaha membanteras rasuah sepatutnya juga dapat mencari bukti untuk mendakwa mereka yang memberi rasuah. Pemberi rasuah perlu dikenakan hukuman lebih berat berbanding mereka yang menerima. Jika pemberi rasuah dikenakan hukuman lebih berat, bermakna intensiti penjawat awam melakukannya adalah kecil kerana tidak ada pihak terlalu terdesak meminta untuk diberikan kelonggaran atau pelenturan undang-undang.

Semua pihak perlu memperkuatkan iktikad dan memasang semangat untuk membanteras rasuah. Orang politik jangan menjadi kumpulan pendesak yang kuat kerana teladan yang diperoleh penjawat awam membekas dalam karier mereka sendiri.

Hubungi Kami

Alamat:
No.5B, Jalan 3/70 Damai Point, Seksyen 3, 43650 Bandar Baru Bangi. Selangor

Telefon: +60 17-377 7732
Email: alfalahmadani2022 [@] gmail.com

Jumlah Pengunjung

041981
Hari ini: 154
Minggu Ini: 1,149
Bulan Ini: 8,096
Tahun Ini: 41,981
Tahun Lepas: 52,147
Image

Alfalahmadani.my merupakan sebuah portal yang bertanggungjawab untuk bertindak sebagai penampan bagi setiap tuduhan, fitnah, kekeliruan, ketidakfahaman dan kecelaruan yang berlegar di minda rakyat. Sama ada isu-isu yang timbul secara organik di media sosial, ataupun yang didorong sebagai naratif oleh pihak-pihak tertentu,

Alfalahmadani.my akan menjawab setiap permasalahan dengan pengetahuan, kebijaksanaan dan kebenaran. Tentunya, kehadiran Alfalahmadani.my bukan berhasrat menyatakan kesempurnaan pemikiran, tetapi sebagai wahana untuk menuju kesempurnaan pengetahuan dalam konteks pemikiran semasa, dan kebijaksanaan yang mampu diusahakan.