SEPULANG DARI MAKKAH, APAKAH KITA MENJADI LEBIH BAIK?

SEPULANG DARI MAKKAH, APAKAH KITA MENJADI LEBIH BAIK?

Haji Mabrur Bukan Tentang Gelar, Tetapi Tentang Perubahan Akhlak dan Ketakwaan

Setiap tahun jutaan umat Islam dari seluruh dunia berangkat menuju Tanah Suci. Mereka meninggalkan keluarga, pekerjaan, kenyamanan, bahkan menghabiskan tabungan yang dikumpulkan bertahun-tahun demi memenuhi panggilan Allah SWT.

Sebagian menunggu antrean belasan hingga puluhan tahun. Sebagian lagi berangkat dalam usia senja dengan kondisi fisik yang tidak lagi sekuat dahulu. Namun mereka tetap berangkat karena ada kerinduan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata: kerinduan menjadi tamu Allah dan meraih haji yang mabrur.

Namun ada satu pertanyaan yang layak kita renungkan bersama:

Sepulang dari Makkah, apakah kita menjadi lebih baik?

Inilah pertanyaan yang sesungguhnya lebih penting daripada berapa kali seseorang telah berhaji.

Sebab Allah tidak hanya melihat perjalanan kaki menuju Baitullah, tetapi juga perjalanan hati menuju ketakwaan.

Rasulullah ﷺ bersabda yang bermaksud:
“Haji yang mabrur tidak ada balasan baginya selain surga.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menunjukkan bahwa haji mabrur bukan sekadar haji yang sah secara syariat, tetapi haji yang diterima oleh Allah SWT dan meninggalkan bekas yang nyata dalam kehidupan.

Ka’bah Mengajarkan Kerendahan Hati

Di depan Ka’bah, semua manusia menjadi sama.

Jabatan ditinggalkan.

Pangkat ditanggalkan.

Kekayaan tidak lagi menjadi ukuran.

Semua mengenakan pakaian ihram yang hampir serupa.

Seorang pejabat berdiri sejajar dengan rakyat biasa.

Seorang profesor berdampingan dengan petani.

Seorang pengusaha berjalan bersama buruh.

Tidak ada yang istimewa selain ketakwaan.

Allah SWT berfirman:
“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.”
(QS. Al-Hujurat: 13)

Jika setelah pulang dari haji seseorang masih dipenuhi kesombongan, merasa lebih tinggi dari orang lain, mudah merendahkan sesama, maka pelajaran besar dari ihram belum sepenuhnya meresap ke dalam jiwanya.

Kemabruran Tidak Terlihat dari Gelar, Tetapi dari Akhlak

Masyarakat sering memberikan penghormatan kepada seseorang dengan menyebutnya “Pak Haji” atau “Bu Hajjah”.

Itu baik sebagai bentuk penghargaan.

Namun di sisi Allah, kemabruran tidak diukur dari gelar yang disandang, melainkan dari akhlak yang ditampilkan.

Ukuran kemabruran sesungguhnya sederhana.

Apakah setelah haji kita menjadi lebih jujur?

Lebih sabar?

Lebih lembut kepada pasangan?

Lebih hormat kepada orang tua?

Lebih sayang kepada anak-anak?

Lebih amanah dalam pekerjaan?

Lebih takut melakukan dosa?

Karena orang pertama yang merasakan dampak kemabruran bukan masyarakat luas, melainkan keluarga terdekat.

Mereka yang hidup bersama kita setiap hari adalah saksi paling jujur atas perubahan itu.

Haji Mabrur Melahirkan Kepedulian Sosial

Di Arafah, jutaan manusia berkumpul tanpa membedakan bangsa, warna kulit, maupun status sosial.

Di sana Allah mengajarkan bahwa manusia adalah satu keluarga besar.

Karena itu salah satu tanda haji mabrur adalah meningkatnya kepedulian terhadap sesama.

Orang yang hajinya diterima tidak hanya rajin beribadah kepada Allah, tetapi juga semakin peduli terhadap manusia.

Ia ringan membantu.

Mudah memaafkan.

Senang berbagi.

Aktif menyelesaikan masalah masyarakat.

Bukan justru menjadi sumber perpecahan dan pertengkaran.

Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.”
(HR. Ahmad)

Semakin dekat seseorang kepada Allah, seharusnya semakin besar manfaatnya bagi sesama.

Bangsa Ini Memerlukan Lebih Banyak Haji Mabrur

Indonesia memiliki jutaan alumni haji.

Bayangkan jika seluruh jamaah haji yang telah pulang benar-benar membawa pulang nilai-nilai yang dipelajari di Tanah Suci.

Mereka menjadi pejabat yang amanah.

Pedagang yang jujur.

Guru yang ikhlas.

Pemimpin yang adil.

Tokoh masyarakat yang mempersatukan.

Maka yang berubah bukan hanya individu, tetapi juga bangsa.

Sesungguhnya bangsa ini tidak kekurangan orang pintar.

Tidak kekurangan lulusan perguruan tinggi.

Tidak kekurangan orang yang memiliki jabatan.

Yang masih sangat dibutuhkan adalah semakin banyak manusia yang berakhlak mulia.

Dan salah satu tujuan terbesar ibadah haji adalah melahirkan pribadi-pribadi seperti itu.

Muhasabah Setelah Pulang dari Tanah Suci

Mari kita bertanya kepada diri sendiri:

Apakah shalat kita lebih baik setelah haji?

Apakah Al-Qur’an lebih sering kita baca?

Apakah lisan kita lebih terjaga?

Apakah hati kita lebih mudah bersyukur?

Apakah kita lebih bermanfaat bagi keluarga dan masyarakat?

Jika jawabannya “ya”, maka itu pertanda baik.

Namun jika belum, maka perjalanan menuju kemabruran masih harus dilanjutkan.

Karena sejatinya haji bukanlah akhir perjalanan spiritual, melainkan awal dari kehidupan yang lebih dekat kepada Allah SWT.

Pada akhirnya, Allah tidak akan bertanya berapa kali kita mencium Hajar Aswad, berapa banyak foto yang kita ambil di depan Ka’bah, atau berapa kali kita berkunjung ke Tanah Suci.

Tetapi Allah akan melihat seberapa besar perubahan yang terjadi dalam diri kita setelah kembali dari sana.

Ka’bah tidak membutuhkan kita. Kitalah yang membutuhkan perubahan.

Dan haji mabrur adalah ketika perjalanan menuju Baitullah berhasil mengubah akhlak, memperkuat ketakwaan, serta menjadikan kita lebih bermanfaat bagi sesama manusia.

“Kemabruran haji tidak terlihat dari banyaknya cerita tentang Makkah yang kita sampaikan, tetapi dari banyaknya akhlak mulia yang kita tampilkan setelah pulang dari Makkah. Jika keluarga, tetangga, dan masyarakat merasakan kebaikan kita yang semakin besar, itulah salah satu tanda bahwa haji telah menyentuh hati, bukan sekadar kaki yang pernah melangkah ke Tanah Suci.”
— Jasman Jaiman
Pendidik Peduli Generasi Emas Riau

Hubungi Kami

Alamat:
No.5B, Jalan 3/70 Damai Point, Seksyen 3, 43650 Bandar Baru Bangi. Selangor

Telefon: +60 17-377 7732
Email: alfalahmadani2022 [@] gmail.com

Jumlah Pengunjung

048249
Hari ini: 364
Minggu Ini: 1,343
Bulan Ini: 1,343
Tahun Ini: 48,249
Tahun Lepas: 52,147
Image

Alfalahmadani.my merupakan sebuah portal yang bertanggungjawab untuk bertindak sebagai penampan bagi setiap tuduhan, fitnah, kekeliruan, ketidakfahaman dan kecelaruan yang berlegar di minda rakyat. Sama ada isu-isu yang timbul secara organik di media sosial, ataupun yang didorong sebagai naratif oleh pihak-pihak tertentu,

Alfalahmadani.my akan menjawab setiap permasalahan dengan pengetahuan, kebijaksanaan dan kebenaran. Tentunya, kehadiran Alfalahmadani.my bukan berhasrat menyatakan kesempurnaan pemikiran, tetapi sebagai wahana untuk menuju kesempurnaan pengetahuan dalam konteks pemikiran semasa, dan kebijaksanaan yang mampu diusahakan.