MURTAD ERA MODERN

MURTAD ERA MODERN

Tatkala mendengar kata murtad hampir semua orang berasumsi bahwa telah terjadi perpindahan agama atau seseorang telah keluar dari agama yang diyakini sebelum ini kepada agama lain di luar agamanya. Istilah murtad dikenal oleh semua agama. Secara sederhana, istilah ini dipahami :keluarnya seorang pemeluk agama dari keyakinan agamanya dan berpindah pada agama lain. Dalam Islam, murtad adalah termasuk salah satu dosa besar yang utama. Bagi mereka yang murtad akan kekal selamanya di neraka sebagai balasan atas kedurhakaannya terhadap Allah dan akan kekal bersama iblis laknatullah.

Murtad dalam sejarah telah berulang kali terjadi. Praktek murtad selalu hanya dibahas pada saat terjadinya murtad. Agaknya, upaya untuk memurtadkan seseorang bukanlah pekerjaan mudah. Hal ini disadari oleh kaum Yahudi dan Nasrani bahwa sulitnya untuk memurtadkan umat Islam dalam arti pindah agama. Untuk itu, merka berusaha melakukan aktiviti memurtadkan umat Islam dengan cara yang semakin halus.

Dalam konteks modern, murtad dalam arti klasik perlu diperbincangkan kembali. Sebab, jika makna ini akan tetap dipertahankan, maka generasi Islam akan tidak mampu diselamatkan. Sebab, upaya pemurtadan saat ini bukan lagi dengan mengajak generasi Islam untuk pindah agama, sebab hal tersebut akan sulit terjadi. Untuk itu, kaum Yahudi dan Nasrani telah merubah siasat mereka untuk memurtadkan generasi Islam dengan merusak karakter generasi Islam. Ibaratkan sebuah rumah, kaum Yahudi dan Nasrani tidak lagi berusaha merusak rumah karena mereka sadar akan mendapat tantangan keras dar umat Islam. Oleh karenanya, yang mereka lakukan adalah merusak pondasi dan isi rumah. Mungkin rumah cantik dan megah, namun pondasi dan isi sangat rapuh. Hal inilah yang perlu diwaspadai terhadap upaya-upaya pemurtadan era modern.

Umat Islam lupa bahwa upaya pemurtadan era modern terhadap generasi Islam telah berlangsung terus menerus. Hal ini dapat dilihat dari berbagai bentuk, yaitu : Pertama, mengambil peduli terhadap orang-orang miskin. Bukankah Rasulullah pernah berpesan, bahawa kemiskinan lebih dekat kepada kekufuran. Di sinilah upaya awal yang dilakukakan yaitu denga  mengambil kira terhadp orang-orang miskin. Mereka tak segan-segan turun langsung ke akar umbi dan mengeluarkan uang jutaan ringgit untuk mengambil hati orang-orang yang terhimpit ekonominya. Kepedulian mereka tak jarang mendapat simpati dari umat Islam dari kelas ekonomi rendah. Sementara, umat Islam terkadang lengah dengan kondisi ekonomi saudara seimannya. Kita kadang terlupa dengan saudara kita yang kurang bernasib baik. Akibatnya, mereka terlantarkan dengan himpitan ekonomi. Kondisi psikologis ini kemudian dimanfaatkan oleh kaum Yahudi dan Nasrani untuk mengambil hati, sekaligus secara perlahan memasukkan jarum jahat ajaran agamanya. Untuk itu, umat Islam dan lembaga dakwah sudah saatnya menyelamatkan kaum dhuafa dan turun padang yang selama ini kurang mendapat perhatian.

Kedua, upaya mendangkalkan akidah generasi Islam melalui berbagai publikasi melalui media massa yang secara terang-terangan menjurus pada terjadinya pemurtadan, seperti publikasi perdukunan, ramalan, dan sejenisnya.   Ketiga, merusak budaya Islam dengan budaya kapitalis yang bermuara pada menjadikan jabatan, harta, pangkat dan pergaulan bebas sebagai tuhan baru yang dikemas dengan bentuk budaya modern. Keempat, merubah orientasi umat Islam kepada kehidupan materialistic dan paham hedonistic. Pandangan ini menjadikan barat dengan Yahudi dan Nasrani sebagai pemicunya sebagai pandangan dan kiblat modern. Akibatnya, seluruh system umat Islam kehilangan sendi agama (tauhid). Asumsi ini merubah pandangan hidup generasi Islam untuk tidak begitu peduli dengan pendidikan agama, akan tetapi sangat peduli dengan pendidikan modern yang kekurangan nilai Islamnya.

Teori-teori ilmiah dianggap hanya milik Barat. Sumber rujukan lebih diagungkan dari Barat. Generasi Islam lebih kenal dengan teori Big Bang yang dikembangkan Barat ketimbang teori emanasi yang dikembangkan oleh Al-Farabi yang juga mengetengahkan teori penciptaan alam. Generasi Islam lebih kenal dengan Maslow, Harbert Spencer, Elizabeth B. Horlock dengan teori psikologinya ketimbang teori Ibnu Sina yang lebih lengkap membicarakan tentang psikologi. Di sini secara jelas bahawa generasi Islam sengaja dijauhkan dari pemikiran Islam dan dijauhkan dari mengenal pemikir Islam agar generasi Islam hanya mengenal pemikir Yahudi dan Nasrani. Akhirnya, kita menjadi sangat mendewakan mereka.

Seori Ibnu Sina yang lebih lengkap membicarakan tentang psikologi. Di sini secara jelas bahawa generasi Islam sengaja dijauhkan dari pemikiran Islam dan dijauhkan dari mengenal pemikir Islam agar generasi Islam hanya mengenal pemikir Yahudi dan Nasrani. Akhirnya, kita menjadi sangat mendewakan mereka.

Sudah saatnya isu pemurtadan ini menjadi topic yang patut diperbincangkan secara serius. Bila kita terlalu memahami murtad hanya seseorang berpindah agama, maka kita akan terlalaikan. Sebab, upaya memurtadkan generasi Islam yang dilancarkan kaum Yahudi dan Nasrani tidak lagi dalam bentuk upaya klasik. Justru mereka saat ini telah memainkan upaya yang halus. Mereka tidak lagi menjadikan pindah agama sebagai matlamat murtad, akan tetapi membiarkan kelompok generasi untuk tetap kepada agama yang diyakininya, namun jati diri dan kepribadiannya yang terlepas dari agama yang diyakininya.

Hubungi Kami

Alamat:
No.5B, Jalan 3/70 Damai Point, Seksyen 3, 43650 Bandar Baru Bangi. Selangor

Telefon: +60 17-377 7732
Email: alfalahmadani2022 [@] gmail.com

Jumlah Pengunjung

025012
Hari ini: 430
Minggu Ini: 1,480
Bulan Ini: 942
Tahun Ini: 25,012
Tahun Lepas: 52,147
Image

Alfalahmadani.my merupakan sebuah portal yang bertanggungjawab untuk bertindak sebagai penampan bagi setiap tuduhan, fitnah, kekeliruan, ketidakfahaman dan kecelaruan yang berlegar di minda rakyat. Sama ada isu-isu yang timbul secara organik di media sosial, ataupun yang didorong sebagai naratif oleh pihak-pihak tertentu,

Alfalahmadani.my akan menjawab setiap permasalahan dengan pengetahuan, kebijaksanaan dan kebenaran. Tentunya, kehadiran Alfalahmadani.my bukan berhasrat menyatakan kesempurnaan pemikiran, tetapi sebagai wahana untuk menuju kesempurnaan pengetahuan dalam konteks pemikiran semasa, dan kebijaksanaan yang mampu diusahakan.