DAJJAL DAN KEKHAWATIRAN RASULULLAH

Dalam eskatologi Islam, sosok Dajjal me-rupakan makhluk antagonis. Kemunculan-nya sebagai tanda datangnya hari kiamat dan ujian terbesar bagi umat manusia sepanjang sejarah. Hal ini sesuai sabda Rasulullah ﷺ  : "Sesungguhnya kiamat itu tidak akan terjadi sehingga kalian melihat sepuluh tanda-tandanya, di antaranya kemunculan Dajjal" (HR. Muslim).

Menurut Imam Nawawi (Syarah Shahih Muslim), Ibn Katsir (al-Bidayah wa an-Nihayah), dan Imam Ahmad bin Hambal (Musnad Ahmad) menyebutkan secara spesifik 10 tanda-tanda fisik Dajjal. Ciri-ciri tersebut bisa dimaknai dalam 2 (dua) perspektif, yaitu : (1) makna lafaz ; mudah teridentifikasi secara lahiriyah. (2) makna majaz (sifat atau karakter) ; sangat sulit teridentifikasi secara fisik. Sebab, bisa saja tampilan lahiriyah berwujud manusia sempurna (saleh), tapi menyembunyikan sifat dajjal dalam dirinya. Bila makna ini digunakan, maka sifat "dajjal" hanya akan terlihat pada sifat dan perilaku aslinya.

Meski kehadiran dajjal sangat menakutkan, tapi masih ada sosok lain yang lebih dikhawatirkan oleh Rasulullah ﷺ . Hal ini disampaikan melalui sabdanya : "Ada yang paling aku khawatirkan dari kalian ketim-bang Dajjal". Sahabat kemudian bertanya, 'Apa itu wahai Rasulullah ?` Beliau menjawab, yaitu ulama (ilmuan) su` adab (buruk adab)" (HR. Abu Daud dan Tirmidzi).

Imam al-Ghazali menjelaskan bahwa hadis di atas merupakan kisah Nabi Muhammad ﷺ ketika melakukan perjalanan isra' dan mi'raj. Rasulullah melihat ada sekelompok kaum yang bibirnya dipotong dengan gunting api neraka. Lalu Rasulullah ﷺ ber-tanya : "Sia­pa kalian ?". Mereka menjawab, "kami adalah orang-orang yang memerin-tahkan kebaikan, tapi tidak melakukan­nya. Kami selalu menyampaikan agar umat mencegah keburukan, tapi justeru kami sendiri mengerjakannya dengan penuh kesadaran". Ternyata, mereka mencari ilmu hanya untuk memperoleh kedudukan, menumpuk harta, dan menyombongkan diri atas jumlah pengikutnya.

Sungguh, ia telah terperdaya dan berteman dengan dajjal. Ilmu dan posisi sebatas berharap pujian duniawi. Dihalalkan semua cara untuk memperoleh apa yang diinginkan. Ia menyangka bila "topeng keilmuan dan kesalehan" yang ditampilkan bisa menipu Allah dan Rasul-Nya. Padahal, semua ibadah yang dikerjakan akan tertolak dan tak bermanfaat. Sebab, perkataannya tak berkorelasi dengan hati dan perilakunya. Hal ini diingatkan Rasulullah ﷺ : "Barang siapa yang melakukan amalan yang bukan ajaran kami, maka amalannya tersebut akan tertolak" (HR. Muslim).

Bahkan, Rasulullah ﷺ mempertegaskannya : "Barang siapa mencari ilmu yang seharusnya untuk Allah (ikhlas), namun dia mencarinya untuk mendapatkan harta benda dunia, maka dia tidak akan mencium bau surga pada hari kiamat" (HR. Abu Daud dan Ibnu Majah).

Ada beberapa alasan kekhawatiran yang disampaikan oleh Rasulullah, antara lain :

Pertama, Karakter (tabiat) ulama su'  lebih mengedepankan popularitas dan tampilan lahiriyah ketimbang isi hati yang sebenar-nya kotor. Ilmu, gelar, dan status yang di-miliki menjadi fak­tor penyebab terjadinya berbagai kemungkaran. Mengerti halal dan haram (hukum) atau perintah dan larangan, tapi kesemuanya sebatas kata (teori) semata. Sedangkan hati, kata, dan perilaku secara terang dan nyata telah menginjak-injak hukum dan ajaran agama.

Sosok ulama (ilmuan) su' di atas akan tampil di akhir zaman. Untuk itu, wajar bila Rasulullah ﷺ begitu khawatir ketimbang kehadiran dajjal. Sebab, sosok dajjal hanya bertujuan menyesatkan orang yang lemah imannya (jahil). Tapi, ulama su'  memiliki lidah yang "bercabang seribu" (munafik). Tampil begitu memukau dengan kata bijak tapi perilakunya berwujud kemungkaran, hatinya busuk menyimpan dendam dan kelicikan, serta mengaku berilmu tapi fatwa yang disampaikan demi menyenang-kan "junjungannya". Namun, mereka alpa atas kuasa-Nya yang --pada waktunya-- akan menampakkan semua tabiat aslinya.

Ulama su' menjadikan ilmunya sebatas sarana untuk meraih status (popularitas) guna menumpuk pundi dengan cara tak terpuji. Kata indah bila di podium, tapi buruk dalam tindakan nyata. Dirinya tak bisa disentuh karena dibela pengikut yang telah terhipnotis oleh tampilan dan kajian-nya. Sungguh, sosok ilmuan su' sangat berbahaya. Dengan keluasan ilmu, status, kedudukan, atribut, dan pengaruh, ia bisa menipu dan mempengaruhi manusia jahil secara masif. Sebab, semua perkataan dan perbuatannya akan menjadi acuan. Akibatnya, umat tersesat dan terpecah-belah. Dampak ini melebihi kesesatan yang dibawa oleh Dajjal. Tak ada yang berani menasehati atas status yang dimilikinya. Tampil saleh untuk menutupi kesalahan, lihai berdebat atas kefasihan lisannya, dan arogan dengan memanfaat-kan kemunafikan dan fanatik pengikutnya.

Kedua, Kekhawatiran Rasulullah terhadap ilmuan (ulama) su’ bukan pada bidang agama semata, tapi menerpa pada semua manusia yang berilmu secara umumnya. Artinya, ilmuwan dalam bidang apapun berpotensi menyandang predikat ilmuan (ulama) su’ tatkala kata indah tapi berperi-laku nista, menyampaikan yang haq (benar) tapi bertabiat bathil (salah), bicara adab tapi biadab, menerima amanah tapi khianat, meraih status dengan menghalal-kan segala cara, menjaga hukum tapi menjual hukum, atau varian nista lainnya.

Dalam Islam, seorang ulama (ilmuan) idealnya berada di jalan kebenaran (adil), mencerdaskan umat, mengayomi, suluh yang menerangi, serta adabnya dijadikan pedoman. Namun, ketika ulama (ilmuan) su' terobsesi pada kepentingan pribadi atau kelompok (subyektif), maka sosoknya akan selalu "menginjak" moral (adab) dan kebenaran. Anehnya, fanatisme dan dukungan umat acapkali di luar nalar.

Hadir "pembela" para ilmuan (ulama) su' yang siap "pasang badan" tatkala sosok "idolanya" disalahkan. Berbagai dalil dan teori pembenaran dimunculkan. Kondisi ini menyebabkan "sang idola" menikmati ke-salahan yang berterusan. Kondisi ini diper-parah atas "anugerah amanah" politis yang diraihnya. Pilihan yang salah memberikan amanah pada ilmuan su'  akan sangat berbahaya. Sungguh tak ada manusia yang sempurna. Setiap manusia berpotensi melakukan kesalahan. Tapi, hal ini bukan jadi alasan melakukan kemungkaran. Ketika umat terlalu fanatik terhadap sosok ulama (ilmuan) su', serta kontrol sosial dan politis begitu lemah, maka tampil pem-bela subyektif (komunitas jahil) yang digunakan sebagai "mesin pembela" perilaku kemungkarannya.

Ketiga, Karakter ilmuan (ulama) su'  lebih mengedepankan subyektifitas kepentingan subjektif. Tampil lebih dominan dengan "menyingkirkan ulama hakiki". Fatwanya direkayasa untuk menjilat "sang idola". Untuk itu, Rasulullah ﷺ mengingatkan : "Jika kamu melihat seorang 'alim (ulama atau ilmuan *pen) yang banyak bercampur (bergaul) dengan penguasa, ketahuilah, sesungguhnya dia itu adalah pencuri (atas amanahnya *pen)" (HR. ad-Dailamy).

Sedangkan ulama (ilmuan) hakiki senan-tiasa istiqomah menjaga kebenaran dan mencerdaskan. Ia senantiasa menjaga marwah (muru'ah) diri, membimbing umat ke jalan kebenaran, beradab mulia, dan lentera yang menerangi umat. Sosok ini sesuai firman-Nya : "... sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama (beradab *pen). Sungguh, Allah Maha Perkasa, Maha Pengampun" (QS. al-Fathir : 28). 

Ibnu Katsir menjelaskan bahwa sosok ulama sejati adalah orang yang memiliki ilmu yang menuntun pada kebesaran dan kekuasaan Allah. Mereka memahami tanda kebesaran-Nya yang membuatnya takut dan taat kepada-Nya. Sosok ulama hakiki senantiasa menegakan kebenaran dan moralitas. Meski upayanya akan ber-tentangan dengan "pemilik kepentingan", tapi kebijaksanaannya bisa menyadarkan. Sebab, ulama sejati akan selalu menegak-an kebenaran-Nya, bukan merekayasa ke-benaran untuk kepentingan dirinya. Hal ini sesuai firman-Nya : "Wahai orang-orang yang beriman !. Jadilah kamu penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah, walaupun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapak dan kaum kerabatmu. Jika dia (yang tergugat) kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka jangan-lah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang (dari kebenaran). Dan jika kamu memutarbalikkan (kata-kata) atau berpaling (dari kebenaran), maka sungguh, Allah Mahateliti terhadap segala yang kamu kerjakan" (QS. an-Nisa' : 135).

Menurut Ibnu Katsir, ayat di atas menjelas-kan perintah-Nya agar manusia beriman menjadi penegak keadilan dan saksi yang jujur karena Allah. Meski hal tersebut akan menjadikan dirinya hina di bumi, tapi mulia dihadapan-Nya. Allah melarang manusia melakukan memanfaatkan status yang di-berikan untuk memuaskan hawa nafsu dengan menebar kezaliman. Padahal, melalui ibadah puasa, Allah mengajarkan manusia untuk mengendalikan diri dari per-buatan yang membatalkan puasa (syariat) dan semua yang bisa menggerus nilai puasa (hakikat). Namun, semua sebatas euforia. Bahkan, ilmuan (ulama) su' al-adab acapkali melampaui batas. Demi mengejar "status" --tak peduli-- menyewa joki, menyiapkan "onggokan pundi", dan berharap pundi berlipat kembali. Anehnya, kebanyakan tokoh (ilmuan) membisu dan sekedar menyaksikan.

Tak tersisa muru'ah yang layak dibanggakan. Padahal, keterpu-rukan moral semakin akut. Akibatnya, kemungkaran dan kezaliman merajalela dengan memanfaatkan gelar dan status mulia, tapi wujud cara dan perilaku tercela. Sungguh, Allah saja tega ditipu dan diper-mainkan, apatahlagi aturan dan terhadap sesamanya. Meski perilaku su' al-adab terpampang nyata, tapi sanjungan dan pembelaan terus mengalir deras. Sungguh, "salah dan silaf memang sifat manusiawi. Tapi perilaku kesalahan yang berulang, tanda hobi dan watak asli".  Mungkin ini alasan yang membuat Rasulullah ﷺ begitu khawatir terhadap ilmuan (ulama) su' al-adab yang akan melebihi dajjal. 

Wa Allahua'lam bi al-Shawwab.***

Prof Samsul Nizar adalah Guru Besar IAIN Datuk Laksemana Bengkalis

KEBIASAAN ALA KERBAU

Sebagai hamba-Nya, eksistensi ibadah merupakan keniscayaan. Sebab, rangkaian ibadah merupakan bentuk kesadaran diri sebagai hamba di hadapan Allah Yang Maha Besar. Untuk itu, ibadah hakikatnya merupakan kebutuhan hamba untuk menyadarkan diri lebih mengenal Rabb-nya. Hal ini tertuang pada firman-Nya : "Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku" (QS. az-Zariyat : 56).

Menurut Ibn Katsir, sesungguhnya Allah menciptakan semua makhluk untuk beribadah bukan karena Allah membutuhkan makhluk, tapi makhluk yang membutuhkan dan berhajat pada Allah. Pendapat ini diperkuat oleh Ibnu Juraij bahwa tujuan ibadah sebagai bentuk pengakuan kehambaan,  upaya mengenal-Nya, dan menggantung-kan harapan. Untuk itu, Allah mengutus para nabi dan Rasul untuk menyampaikan risalah-Nya. Bahkan, Allah menciptakan semesta sebagai ayat-Nya untuk manusia. Hal ini sesuai firman-Nya : "Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesar-an Allah) bagi orang yang berakal" (QS. Ali Imran : 190).

Ayat di atas merupakan dorongan agar manusia meneliti dan merenungkan alam semesta (saintifik) yang terintegrasi dengan dimensi spiritual. Bahkan, Ibn Katsir menegaskan bahwa penciptaan langit, bumi, dan pergantian siang-malam merupakan --di antara-- tanda kebesaran Allah bagi ululalbab (berakal nan beradab).

Di antara sekian banyak ciptaan-Nya yang berkaitan dengan ibadah adalah perilaku kerbau. Melalui kerbau, manusia berakal akan berkaca atas karakter dan kualitas imannya, antara lain :

Pertama, Setiap kerbau dibersihkan oleh pemiliknya, ia tetap mencari dan kembali "ke kubangan" yang kotor. Agar kerbau "jinak dan patuh pada tuannya", maka  hidungnya akan ditusuk. Ketika manusia "dicucuk hidungnya", maka hilang kemer-dekaan akal dan punah kebenaran oleh pengaruh kepentingan. Ia patuh bak kerbau yang bekerja untuk melayani keinginan tuannya "membajak sawah" menghasilkan pundi. Sebab, ia juga akan memperoleh "bagian" atas kesetiaannya.

Tapi, si tuan tak peduli bila kerbau menyukai kubangan lumpur (kotor). Ketika kerbau mencari kubangan karena kelenjar keringatnya sedikit dan tidak tahan panas. Sedangkan manusia "main dilumpur kotor" karena "kelenjar kehewanannya" yang lebih dominan. Bila kerbau didorong oleh nafsu dan syahwat "kenikmatan" biologis, maka perilaku manusia pun demikian pula. Tak terpikir kotornya lumpur (dosa) dan lintah (hukum) yang akan menggigit dan menang-kapnya. Meski ketika ibadah jasmani dan rohani suci, tapi pemilik sifat kerbau akan melanjutkan kebiasaan mencari "kumbang-an lumpur" yang kotor dan bernajis.

Kedua, kerbau makan semua rumput tanpa peduli siapa pemiliknya. Bahkan, tanpa dosa mengumbar nafsu syahwat di depan umum. Sebab, ia makhluk tanpa akal dan rasa malu. Ia lebih mengedepankan nafsu biologis tanpa peduli terhadap lingkungan-nya. Anehnya, segelintir manusia meniru tabi'at kerbau. Menghalalkan segala cara untuk "mengenyangkan" nafsunya. Tak tersisa rasa malu, justeru bangga bila berhasil melakukan kejahatan di depan umum. Fenomena ini menempatkan pe-laku kesalahan dianggap "raja" dan pen-jaga kebenaran dipandang "rakyat jelata". Akibatnya, para "pendosa" diagungkan dan jadi rujukan, pengkhianat diberi amanah, serta pelanggar hukum berbicara tentang dalil hukum (agama). Sungguh perilaku yang begitu memilukan dan menjijikan.

Ketiga, Tegak mengedepankan kepala di depan, tapi tanpa malu ketika mengeluar-kan kotoran dengan penuh "kebanggaan". Hanya beda waktu dan tempat, tapi substansinya tetap kotoran dan bernajis. Berbeda dengan manusia ala kerbau. Ia meninggikan kepala (sombong) dan menyembunyikan kotorannya. Andai ada manusia yang memperlihatkan kotoran hanya waktu bayi atau hilang ingatannya.

Bila dianalisa fenomena biologis kerbau, terlihat berkorelasi dengan sifat manusia. Semakin tinggi kepalanya (sombong) dengan berbagai variannya, maka semakin banyak "kotoran" yang ingin disembunyi-kan. Padahal, Allah mencela manusia yang sombong (QS. Lukman : 18).

Fenomena sifat manusia yang cenderung bak kerbau telah diingatkan oleh Allah me-lalui firman-Nya : "Sungguh, Kami benar-benar telah menciptakan banyak dari kalangan jin dan manusia untuk (masuk neraka) jahanam (karena kesesatan mereka). Mereka memiliki hati yang tidak mereka pergunakan untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan memiliki mata yang tidak mereka pergunakan untuk melihat (ayat-ayat Allah), serta memiliki telinga yang tidak mereka pergunakan untuk mendengarkan (ayat-ayat Allah). Mereka seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lengah" (QS. al-A'raf : 179).

Dalam beribadah, manusia seyogyanya bercermin pada ulat, bukan ular. Ketika ulat berganti kulit akan lahir kupu-kupu yang indah di pandang mata. Sementara, meski ular berganti kulit, ia tetap seekor ular berbisa dan mematikan. Demikian per-bedaan antara kualitas manusia beribadah sejati dan berbadah imitasi.

Ketika kerbau bergelimang lumpur karena biologisnya, tapi manusia "bergelimang ko-toran" karena hatinya yang rusak. Hal ini dinyatakan oleh Rasulullah ﷺ : "Ketahui-lah, sesungguhnya di dalam tubuh manusia terdapat segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh tubuh. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh tubuh. Ketahuilah, segumpal daging itu adalah hati (qalbu)" (HR. Bukhari dan Muslim).

Hadis di atas memperlihat analogi posisi hati bak raja, akal bak menteri, dan tubuh bak rakyat. Bila raja bijaksana dan menteri cerdas beradab, maka rakyat negeri jasmani akan berakhlak mulia. Namun, bila raja zalim dan menteri bodoh, maka rakyat negeri jasmani akan melakukan perilaku kemungkaran yang melanggar hukum. Semua tergantung pada setiap diri yang telah diingatkan Allah dalam firman-Nya : "Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya" (QS. asy-Syams : 9-10).

Menurut Ibnu Katsir, jiwa disucikan dengan menaati Allah, membersihkannya dari akhlak tercela, dan mengisinya dengan sifat terpuji (ketaatan, ikhlas, dan jujur). Sedangkan jiwa yang kotor akan menutupi potensi kebaikan dan justru menyuburkan perilaku kemaksiatan (kezaliman).

Namun, "kejahilan" manusia akhir zaman telah melampaui batas. Bak pepatah me-nyebut "bagai srigala berbulu domba". Tampil anggun manusia sempurna, tapi perilaku melebihi hewan strata terbawah.  Komunitas pemilik "kesucian jiwa" justeru dibenci dan disingkirkan. Sedangkan komu-nitas pemilik "jiwa yang kotor" --secara terang melakukan kriminalitas-- justeru di-hargai, dihormati, dipelihara, dipercaya, dan dilindungi oleh pundi-pundi. Akibat-nya, jiwa yang kotor semakin terjerumus dan tenggelam dalam kemungkaran, syubhat, dan sulit meninggalkan kemak-siatan. Mungkin demikian gerak pilihan manusia akhir zaman yang ingin bebas melebihi hewan. Hanya mempertahankan tampilan wujud biologis, tapi tak peduli pada sisi "jiwanya" yang begitu tercela dan hina (QS. al-A'raf : 179).

Sungguh, ramadhan hadir untuk menyadarkan dan menunjukan manusia arah jalan pulang pada agama-Nya. Namun, ada kala-nya petunjuk agama justru dipermainkan. Rangakaian ibadah sebatas "menggugur-kan" kewajiban (syariat), tanpa mampu menemukan tujuan penghambaan sejati (hakikat), apatahlagi berbuah pada adab dan ketaqwaan yang hakiki (makrifat).

Jasmani bisa dipoles tampil menawan dan kata bisa merangkai kalimat seakan penuh kebaikan. Namun, kualitas dan kata hati (al-qalb) tak bisa dibohongi. Ia merupakan fitrah Ilahiah (tempat kesadaran) dan per-janjian (alam mitsaq) yang mengakui Allah sebagai Rabb-nya (ma'rifatullah). Hal ini diingatkan-Nya melalui QS. al-A'raf : 172. Namun, manusia yang jiwanya kotor justeru ingin "membohongi kebenaran hatinya" sendiri. Jika hal ini terjadi, maka semakin sulit ditemukan nilai kebenaran dari dirinya terhadap orang lain. Padahal, hati yang fitrah akan menemukan ketena-ngan saat mengingat Allah (QS. ar-Ra'd : 28). Sebaliknya, hati yang kotor akan resah dan keras, serta diterpa kegelisahan yang berkepanjangan (QS. al-Baqarah : 74).

Ketika berbicara hati, kerbau kadangkala lebih jujur dan tau balas budi. Setelah di-pelihara dan diberi makan, ia balas dengan kerja keras membantu tuannya. Sementara manusia, melebihi kerbau yang "dicucuk hidung" untuk meraih apa yang diinginkan, bahkan rela "menghambakan diri" untuk "tuannya". Namun, setelah tercapai yang diinginkan, terlihat nyata sifat aslinya yang tersembunyi. Tegak sifat angkuh, khianat, zalim, munafik, dan lupa pada si penolong-nya. Mungkin manusia ingin melampaui kerbau yang tak memiliki perasaan dan "membungkuk untuk menanduk" setiap yang coba menghalanginya. Sosok muna-fik yang menyebabkan "tak ada perteman-an dan kesetiaan sejati, tapi kokohnya onggokan kepentingan yang akan abadi".

Ibadah segogyanya menghantarkan setiap manusia lebih mengenal dan taat pada Allah dan Rasul-Nya. Namun, ketaatan yang hadir acapkali sebatas pelaksanaan dan tampilan. Begitu rangkaian aktivitas ibadah telah selesai dilaksanakan, maka manusia kembali mencari dan berendam dalam kubangan untuk menyejukan nafsu hewani bak kerbau. Sungguh, "ajakan ber-agama" terhadap diri perlu dilakukan secara berkelanjutan. Namun, manusia acapkali lupa dan hanya sibuk mengajak sesamanya, tapi membiarkan dirinya berperilaku melebihi kerbau. Jati diri ala manusia pilihan atau ala kerbau akan terlihat selama Ramadan, bahkan semakin nyata pasca ramadhan berlalu. Setiap pilihan sangat tergantung kualitas karakter diri. Semua akan terlihat meski ditutup rapat oleh barisan pendusta yang membela dengan topeng kemunafikan. 

Wa Allahua'lam bi al-Shawwab.***

Prof Samsul Nizar adalah Guru Besar IAIN Datuk Laksemana Bengkalis

MAKNA ORANG YANG LALAI DALAM SALATNYA

Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah mengatakan bahwasanya tujuan, ruh, dan intisari salat adalah menghadapkan hati kepada Allah Ta’ala di dalamnya. Beliau berkata, ”Jika engkau salat tanpa hati, maka itu seperti jasad yang tidak mempunyai ruh di dalamnya.”

Syekh Abdurrazaq bin Abdil Muhsin Al-Badr hafizhahullah menjelaskan perkataan Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab di atas bahwa ini adalah tujuan salat. Maknanya adalah bahwa salat disyariatkan dan diminta untuk ditegakkan demi tujuan tersebut, yaitu menghadapkan hati kepada Allah Ta’ala. Ketika hati itu dihadapkan kepada Allah, maka hadirlah hakikat dari salat. Terwujudlah hubungan di antara hamba dan Allah. Adapun jika dia salat tanpa menghadapkan hati kepada Allah, maka perkara ini seperti yang telah disebutkan oleh Syekh, yakni, “Seperti jasad yang tidak mempunyai ruh di dalamnya.” Jasad yang tidak ada ruh, artinya adalah jasad yang tidak ada kehidupan di dalamnya.

Maka bagaimana keadaan salat yang tidak menghadirkan hati kepada Allah? Jasadnya hadir, tapi hatinya kabur menjauh, lalai, meremehkan, berpaling, dan tersibukkan oleh hal lain. Maka, hal yang paling dibutuhkan oleh seorang muslim adalah menyadari makna (hakikat) salat ini.

Maksud menghadirkan hati kepada Allah adalah khusyuk di dalam salat. Dan tempat khusyuk adalah di dalam hati, yang dampaknya akan terlihat pada anggota badan. Khusyuk tidak hanya sekadar diamnya anggota badan, namun hatinya berpaling dan pikirannya tidak fokus.

Terdapat atsar dari Abu Darda radhiyallahu ‘anhu, ia mengatakan, “Mintalah perlindungan kepada Allah dari khusyuknya orang-orang munafik.” Kemudian, dikatakan kepadanya, “Wahai Abu Darda, apa itu khusyuknya orang-orang munafik?” Ia menjawab, “Engkau melihat jasad itu khusyuk, namun hatinya tidak khusyuk.” (Mushannaf Ibnu Abi Syaibah no. 35711)

Khusyuk bukanlah sekedar diamnya anggota badan. Khusyuk sebenarnya hanyalah dengan kekhusyukan hati yang menimbulkan kekhusyukan badan.

Adapun orang yang berpura-pura khusyuk anggota badannya, namun hatinya berpaling jauh, maka dia berpura-pura khusyuk hanya karena manusia, bukan karena Allah Ta’ala. Hal ini semakin jauh dari intisari, ruh, dan hakikat salat. Ini seperti orang yang tidak khusyuk anggota badannya dikarenakan hatinya tidak khusyuk. Yang ini menyebabkan dia semakin menjauh dari kedudukan salat yang agung.

Oleh karena itulah, diriwayatkan oleh Sa’id bin Musayyib rahimahullah (riwayat ini marfu’ namun tidak shahih), bahwasanya ia melihat seorang laki-laki bermain-main di dalam salatnya. Maka ia mengatakan, “Seandainya hati itu khusyuk, maka anggota badan juga akan khusyuk.” (Mushannaf Abdurrazaq no. 3308 dan Mushannaf Ibnu Abi Syaibah no. 6787)

Allah Ta’ala berfirman yang bermaksud,

Celakalah orang-orang yang melaksanakan salat, (yaitu) yang lalai terhadap salatnya. (QS. Al-Ma’un: 4-5)

Kata وَيْلٌ  dalam bahasa Arab bermakna ‘celaka’, ‘kebinasaan’, atau ‘azab yang menyakitkan’. Hal ini ditunjukkan kepada الْمُصَلِّيْنَ, yaitu orang-orang yang salat. Maka, bagaimana ungkapan kebinasaan ini disandarkan kepada orang-orang yang salat? Allah Ta’ala melanjutkan firman-Nya yang bermaksud,

 “(Yaitu) yang lalai terhadap salatnya.

Sehingga sudah menjadi keharusan bagi seorang muslim untuk mengetahui hakikat lalai dalam salat yang terdapat ancaman bagi orang yang melakukannya. Ini adalah ancaman agar orang-orang menghindarinya sehingga tidak termasuk dalam ancaman kebinasaan ini.

Syekh As-Sa’di menjelaskan tafsir dari ayat ini bahwa yang dimaksud dengan lalai adalah orang yang meremehkan, salat tidak tepat waktu, dan luput dari rukun-rukunnya disebabkan tidak perhatian dengan perintah Allah dalam salat. Sedangkan salat ini adalah ketaatan yang paling penting, cara untuk mendekatkan diri kepada Allah yang paling afdhal. Sehingga ketika orang lalai dari salat, dia pantas untuk mendapatkan celaan.

Dari penafsiran surah Al-Ma’un ayat 4 sampai 5 di atas, dapat dilihat bahwa ada tiga makna dari kelalaian dalam salat:

Pertama: Lalai dari waktunya

Maksudnya adalah meremehkan waktu salat. Misalnya, seseorang salat subuh setelah terbitnya matahari. Bahkan, dia terus-menerus salat subuh setelah matahari terbit, alias menjadi kebiasaan. Dia bangun, wudu, kemudian salat hanya sekedar untuk menggugurkan kewajibannya. Padahal Allah Ta’ala berfirman yang bermaksud,

“Sesungguhnya salat itu merupakan kewajiban yang waktunya telah ditentukan atas orang-orang mukmin.” (QS. An-Nisa: 103)

Maksudnya adalah salat harus ditunaikan sesuai dengan waktunya yang sudah ditentukan. Barang siapa yang menunda dan mengakhirkannya, maka dia termasuk dalam ancaman ini.

Kedua: Lalai dari kewajiban-kewajiban di dalam salat

Makna lain dari lalai dalam salatnya adalah lalai dalam kewajiban-kewajiban di dalam salat. Tidak perhatian dengan kewajiban-kewajiban di dalam salat. Tidak perhatian dengan syarat-syarat salat dan yang lainnya. Dia meremehkannya. Dia salat, namun tidak memperhatikan kewajiban-kewajiban di dalam salatnya, seperti orang yang buru-buru dalam salat, sehingga terlihat seperti ayam yang sedang mematuk.

Ketiga: Lalai dalam menghadirkan hati

Ini adalah makna ketiga dari lalai dalam salat yang masuk ke dalam ancaman. Dia salat dengan jasad, namun tanpa hati. Hatinya lalai dengan perdagangan duniawi, perkerjaan, dan lain-lain. Bahkan, terkadang sebagian orang salat dan hatinya tersibukkan dengan memikirkan maksiat, membayangkannya, dan lain sebagainya. Maka itulah tiga makna lalai dalam salat yang diancam dalam ayat ini.

Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Lalai itu bukanlah artinya ia meninggalkan salat. Bahkan, kalau seperti itu, maka tidak akan dikatakan sebagai orang-orang yang salat. Yang dimaksud lalai di sini adalah meninggalkan kewajiban-kewajibannya, baik pada waktunya, sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Mas’ud dan yang lainnya; juga pada kehadiran dan kekhusyukan hati. Dan yang benar adalah mencakup keduanya.” (Madarijus Salikin, 1:524)

Ringkasnya, yang dimaksud lalai adalah meremehkan waktu salat, meremehkan kewajiban-kewajibannya, dan meremehkan dari menghadapkan dirinya kepada Allah Ta’ala dan menghadirkan hatinya.

Allahu a’lam.

Sumber: muslimah.or.id

BILA WUDUK PERTAMA KALI DISYARI’ATKAN?

Kita, umat Islam telah pun memiliki cara pandang bahawa wuduk dan solat adalah dua perkara yang tidak dapat dipisahkan. Dalam ilmu fiqh, wuduk merupakan syarat sah mendirikan salat. Dengan kata lain, solat kita tidak sah jika tidak melaksanakan wuduk. 
 
Ramai juga yang mengetahui bila perintah salat pertama kali diturunkan. Pada kebiasaannya, setiap kita memperingati peristiwa Israk Miraj, para pendakwah biasanya akan menyatakan bahawa pada peristiwa inilah Rasulullah Saw diperintahkan mendirikan solat. Pada awalnya, solat diperintahkan sebanyak 50 waktu. Lalu atas “cadangan” Nabi Musa AS kepada Nabi Muhammad SAW., diturunkan sampai hanya 5 waktu saja. 
 
Tapi, jarang yang bertanya bila pertama kali wuduk disyariatkan? apakah ia diperintahkan bersama dengan solat, berasingan atau sesudahnya, atau sebelumnya ? 
 
Di beberapa kitab fiqh, seperti Fath al-Mu’in, tidak dinyatakan secara tepat bila wuduk pertama kali diperintahkan. Kitab itu hanya menyebutkan solat disyariatkan sebelum Nabi hijrah ke Madinah iaitu pada tahun ke-10 kenabian Muhammad SAW. Dalam kitab fiqh Syafi’iyyah lain seperti Hasyiyah Qalyubi ‘ala al-Mahalli karya Imam Qalyubi, memberikan sejumlah pendapat lain. Menurutnya, ada yang berpendapat bahawa kewajipan wuduk baru disyariatkan 16 bulan selepas hijrah. Namun, menarik juga apabila al-Qalyubi juga menyatakan pendapat ulama lain yang menyatakan bahawa syariat wuduk adalah syariat umat-umat sebelumnya. 
 
Penjelasan yang ber’genre’ sejarah mengenai ibadah solat dapat ditemukan dalam sebuah buku setebal 94 halaman berjudul Tarikh al-Shalat karya Dr. Jawwad Ali. Sebagai seorang sejarahwan, beliau turut memperincikan sejarah syariat wuduk dengan Hadis sebagai sumber rujukan yang pertama dan utama. Dalam satu hadis riwayat al-Baihaqi dalam al-Dalail al-Nubuwwah disebutkan bahawa wuduk disyariatkan pada masa yang sama dengan pelajaran solat oleh malaikat Jibril kepada Nabi SAW.

“Dari Muhammad ibn Ishaq berkata: bahawa Khadijah adalah orang pertama yang beriman kepada Allah SWT dan Rasul-Nya dan meyakini kebenaran ajarannya. Kemudian, Jibril alaihi-s-salam mendatangi Rasulullah SAW ketika sudah (diturunkan perintah) diwajibkan solat. Lalu, Malaikat Jibril menekan tumi Nabi di salah satu sisi lembah, lalu terpancutlah mata air yang sejuk dan digunakan oleh malaikat Jibril dan Nabi Muhammad SAW berwuduk, kemudian mereka berdua solat dua rakaat dan empat sujud. Setelahnya, Rasulullah SAW pulang dan mata airnya itu dijadikan oleh Allah tetap memancut. Betapa berbahagianya perasaan Rasulullah dan balik semula ke sumber air itu bersama Khadijah untuk melakukan solat. Keduanya berwuduk seperti yang dilakukan Jibril, kemudia solat dua rakaat dan empat sujud secara sembunyi-sembunyi.” (HR. Al-Baihaqi dalam Dalail al-Nubuwwah)
 
Dari Hadis ini juga, dapat diambil kesimpulan bahawa ada perbezaan pendapat di kalangan pakar sejarah mengenai tahun terjadinya Isra’ Mi’raj dan wafatnya Khadijah. Ibn Ishaq, seperti yang kemudian dipetik oleh Ibn Hisyam menyatakan bahwa Khadijah baru wafat setelah peristiwa Isra’ Mi’raj. Sebab itu, perintah wuduk sudahpun diketahui oleh Khadijah dan beberapa umat muslim lain sebelum hijrah ke Madinah. 

Lalu bagaimana dengan ayat “Idza qumtum ila-s-shalaati fa-ghsiluu wujuuhakum...” ?
 
Oleh sebahagian ulama, ayat 5 dari surah al-Maidah ini menjadi dalil kepada berlakunya wuduk  yang baru disyariatkan di Madinah. Ia berasaskan kepada asbab al-nuzul ayat ini. Tahir ibn ‘Ashur, mufasir asal Tunisia menyatakan bahawa surah al-Maidah merupakan antara surat yang turun paling akhir. Oleh itu, ayat ini tidak menunjukkan wuduk baru disyariatkan. Justeru, wuduk telahpun diajarkan bersama-sama dengan diperintahkan solat, berdasarkan hadis riwayat al-Baihaqi tadi. Sementara kedudukan ayat ini, adalah penjelasan mengenai nikmat-nikmat Allah Swt. yang diberikan kepada umat manusia yang bertakwa. 

Demikan pendapat Ibn ‘Ashur dalam tafsirnya dan pendapat Ibn Hazm dalam karyanya di bidang sejarah, al-Sirah al-Halbiyah seperti dipetik dalam Jawwad Ali, bahawa perintah wuduk sifatnya adalah ‘makiyyun fi al-fardh, wa madaniyyun fi al-tilaawah’ (diwajibkan di Mekkah, namun diturunkan nas al-Quran di Madinah).

Wallahu A’lam. 

Sumber: mediamuslimnews.com

 

KEHARUSAN IKTIKAF PADA BULAN RAMADAN

Sedar atau tidak dalam konteks komuniti Islam di Malaysia sejak awal, ibadah penting yang satu ini iaitu iktikaf di masjid pada bulan Ramadan tidak begitu popular dan seolah-olah ditinggalkan. Sedangkan, al-Quran menyebutnya beberapa kali, walaupun tidak dalam bentuk diwajibkan seperti dalam perintah puasa, qishash dan wasiat atau fi il amr (perintah seperti solat, haji, berperang, dan sebagainya). Dalam kitab-kitab hadis juga banyak membicarakan satu bab khusus tentang iktikaf ini.

Rasulullah SAW memberi teladan dalam syariat iktikaf kerana sesungguhnya dalam hati manusia itu ada kekusutan jiwa dan masalah-masalah yang tidak dapat diatasi kecuali dengan menghadapkan diri kepada Allah SWT.

Tujuan iktikaf itu adalah membersihkan hati dengan mendekatkan diri kepada Allah serta menghentikan aktiviti keduniaan pada waktu-waktu tertentu semata-mata untuk beribadah kepada-Nya. Oleh kerana itu, dianjurkan iktikaf dilakukan dalam keadaan berpuasa, bagi mendekatkan lagi diri kepada Allah.

Pernahkah kita terfikir mengambil cuti bekerja untuk beriktikaf? Pertanyaan ini sangat ganjil. Tetapi ganjil bukan bererti salah.

Sebelum ini kita hanya mengambil cuti berehat untuk bersama keluarga. Demikian juga untuk balik kampung menjelang hari raya. Itu sama sekali tidak salah. Tetapi kalau difikir-fikir secara mendalam apakah semua ini tidak boleh dilakukan sebelum hari raya sehingga harus mengorbankan momentum ibadah yang sangat penting dan hanya datang sekali dalam setahun itu?

Mengunjungi orang tua dan sanak saudara boleh dilakukan pada bila-bila masa. Tetapi iktikaf 10 hari terakhir Ramadan tidak dapat dipindah pada waktu lain. Dalam hal ibadah ini kita harus mencontohi Nabi. Seandainya kita dan keluarga pernah merasakan betapa indah ibadah ini (iktikaf) nescaya kita akan berlumba-lumba memohon cuti untuk melaksanakan ibadah iktikaf itu.

Malam Qadar yang ditemui atau yang menemui Nabi pertama kali Baginda menyendiri di Gua Hira, merenung tentang diri beliau dan masyarakat, saat jiwa Baginda mencapai kesucian, turunlah Ar-Ruh (Jibril) membawa ajaran dan membimbing beliau sehingga terjadilah perubahan keseluruhan dalam perjalanan hidup Baginda bahkan perjalanan hidup umat manusia.

Kerana itu pula Baginda mengajarkan kepada umatnya, dalam rangka menyambut kehadiran lailatulqadar itu, antara lain adalah melakukan iktikaf. Mengapa nabi memilih iktikaf pada 10 hari terakhir Ramadan, bukan pada 10 hari terawal? Alasannya mungkin berkaitan kedudukan puasa nabi yang kian hari kian meningkat dan alasan kedua kerana ia berkaitan dengan lailatulqadar.

Sebenarnya untuk mendapatkan lailatulqadar tidak cukup dengan kesungguhan beribadah pada malam itu saja. Ibadah harus dirintis dari awal sehingga kita bersedia dari segi persiapan rohani untuk mene­rima kedatangannya. Ketika Nabi Ibrahim berjaya menunaikan beberapa perintah Tuhan, termasuk di antaranya membangun Baitullah - (Kaabah) bersama anaknya Ismail - Tuhan lalu memerintahkan kepada keduanya agar tetap menyucikan rumah Allah itu bagi melaksanakan tiga kegiatan ibadah.

"Dan (ingatlah) ketika Kami menjadikan rumah itu (Baitullah) tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman. Dan jadikanlah sebahagian makam (tempat berdiri) Ibrahim sebagai tempat solat. Dan kami telah membuat janji dengan Ibrahim dan Ismail agar menyucikan rumah-Ku untuk orang-orang yang tawaf, yang iktikaf, yang rukuk, dan yang sujud.’’ (al-Baqarah ayat 125).

Ayat ini jelas menyebut bahawa salah satu fungsi tempat ibadah ialah iktikaf. Tapi kini di manakah fungsi itu? Hampir kita tidak menemuinya lagi. Bahkan ada sebahagian pengurus masjid melarang orang untuk iktikaf. Masjid ditutup dan dikuncinya. Iktikaf mereka bolehkan tetapi dalam pengertiannya yang sangat sempit, iaitu sekadar berdiam sejenak.

Padahal Nabi jelas mencontohkan iktikaf selama 10 hari terakhir di bulan Ramadan. Surah al-Baqarah yang menerangkan secara terperinci pelaksanaan puasa berserta hal-hal berkait dengannya juga jelas bersambung dengan iktikaf ini.

Perhatikanlah maksud ayat berikut ini:

"Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri kamu. Mereka adalah pakaian bagi kamu dan kamu (juga) pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahawasanya kamu tidak dapat menahan diri, kerana itu Dia menerima taubat dan memaafkan kamu. Maka sekarang campurilah mereka dan carilah apa yang Allah telah tetapkan bagi kamu; makan minumlah hingga terang bagi kamu (perbezaan antara) benang putih dan benang hitam, di waktu fajar.

"Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai malam. Tetapi janganlah kamu mencampuri mereka (isteri kamu) sementara kamu sedang beriktikaf di masjid. Itulah larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayatnya kepada manusia, mudah-mudahan mereka bertakwa." (al-Baqarah ayat 187).

Riwayat lain menyebutkan: Sesungguhnya Nabi melakukan iktikaf di 10 hari kedua dari bulan Ramadan dan 10 terakhir bulan tersebut. Baginda terus melakukan amalan ini sampai akhir hayatnya. Kemudian amalan tersebut dilanjutkan oleh isteri-isterinya. Di sini bererti ada dua kemungkinan waktu iktikaf Nabi. Pertama, beliau beriktikaf selama 20 hari terakhir dari bulan Ramadan. Kedua, Nabi kadang-kadang melakukannya pada 10 hari kedua dan kadang-kadang 10 hari terakhir.)

Nabi menganjurkan sambil mengamalkan iktikaf di masjid dalam merenung dan menyucikan jiwa. Masjid adalah tempat suci. Segala aktiviti kebajikan bermula di situ. Di masjid pula seseorang diharapkan merenung tentang diri dan masyarakatnya, serta dapat menghindar dari hiruk-pikuk yang menyesakkan jiwa dan fikiran bagi memperoleh pengetahuan dan pengayaan iman. Itu sebabnya ketika melaksanakan iktikaf, dianjurkan untuk memperbanyak doa dan bacaan al-Quran, atau bacaan-bacaan lain yang dapat memperkaya iman dan takwa.

Memang iktikaf boleh dilakukan di mana saja. (Sebelum diangkat jadi rasul, Nabi Muhammad melakukannya di Gua Hira). Tetapi berdasarkan sunah yang ditunjukkan Nabi sepanjang hidupnya di Madinah, Baginda terus melakukannya di masjid. Ingatlah iktikaf bukannya wahana untuk berdiskusi, apa lagi untuk berbual kosong. Juga bukan tempat istirehat atau tidur. Tidur dilakukan untuk sekadar menjaga keadaan tubuh agar sihat. Iktikaf adalah wahana untuk bersungguh-sungguh dalam memperbanyak ibadah.

Hubungi Kami

Alamat:
No.5B, Jalan 3/70 Damai Point, Seksyen 3, 43650 Bandar Baru Bangi. Selangor

Telefon: +60 17-377 7732
Email: alfalahmadani2022 [@] gmail.com

Jumlah Pengunjung

020585
Hari ini: 249
Minggu Ini: 624
Bulan Ini: 5,727
Tahun Ini: 20,585
Tahun Lepas: 52,147
Image

Alfalahmadani.my merupakan sebuah portal yang bertanggungjawab untuk bertindak sebagai penampan bagi setiap tuduhan, fitnah, kekeliruan, ketidakfahaman dan kecelaruan yang berlegar di minda rakyat. Sama ada isu-isu yang timbul secara organik di media sosial, ataupun yang didorong sebagai naratif oleh pihak-pihak tertentu,

Alfalahmadani.my akan menjawab setiap permasalahan dengan pengetahuan, kebijaksanaan dan kebenaran. Tentunya, kehadiran Alfalahmadani.my bukan berhasrat menyatakan kesempurnaan pemikiran, tetapi sebagai wahana untuk menuju kesempurnaan pengetahuan dalam konteks pemikiran semasa, dan kebijaksanaan yang mampu diusahakan.