DEFINISI MURTAD DALAM ISLAM

Kembali kepada kekafiran daripada keadaan beriman, baik iman itu didahului oleh kekafiran lain ataupun tidak, disebut sebagai murtad. Menurut sebahagian ulama, istilah itu hanya untuk orang yang kembali kepada sesudah beriman. Dalam al-Quran, kata “murtad” disebut sebanyak empat kali : dua kali secara tersurat (Q.2:217 dan Q.5:54) dan dua kali secara tersirat (Q.5:21 dan Q.47:25). Murtad juga diistilahkan sebagai “kafir” seperti yang disebut dalam surah al-Nisa’ ayat 137. Kata “murtad” berasal daripada bahasa Arab radda, yang bererti berbalik semula atau kembali dari tempat datang. Bentuk nomina murtad, irtidad, mempunyai makna umum di samping makna khusus. Misalnya, istilah irtidad digunakan untuk mengungkapkan peristiwa Nabi Ya’qub a.s yang dapat melihat semula setelah buta (Q.12:96).

PENYEBAB MURTAD

Menurut ulama fikah, sebab murtad ada dua. Pertama, keluar daripada Islam. Petunjuk yang menunjukkan seseorang keluar daripada Islam boleh berbentuk perbuatan, perkataan dan keyakinan. Kedua, tindakan murtad itu bersikfat mungkar. Maksudnya, orang berkenaan mengetahui dengan pasti sikap, perbuatan, perkataan dan keyakinannya telah menyebabkannya  keluar daripada Islam, sementara dia sendiri mengetahui dengan pasti bahawa yang diingkarinya itu benar (ajaran Islam). Imam al-Syafie dan ulama Mazhab al-Zahiri menambah bahawa murtad juga mesti disertai niat. Oleh itu, orang yang menjadikannya dirinya kafir tanpa disertai niat tidak dihukum sebagai murtad. Pendapat ini ditolak oleh ulama Mazhab Hanafi, Maliki, Hanbali dan Syiah.

HUKUM ORANG MURTAD

Ada beberapa hukuman yang boleh dikenakan kepada orang murtad: diminta untuk bertaubat, dibunuh, dihukum ta’zir (hukuman berdasarkan kebijaksanaan hakim), disita hartanya dan dihapuskan beberapa haknya. Menurut ulama fikah, jika orang murtad bertaubat bersungguh-sungguh; maka hukuman bunuh gugur lalu diganti dengan ta’zir.

SYARAT MURTAD

Ulama fikah bersepakat bahawa syarat murtad hanya dua: berakal dan dilakukan atas kesedaran sendiri. Sikap murtad anak kecil dan orang gila tidak sah. Para ulama berbeza pendapat tentang sikap murtad orang mabuk. Menurut kebanyakan ulama, sikap murtad orang mabuk adalah sah jika dia sengaja membuat dirinya mabuk, sedangkan menurut ulama Mazhab Hanafi, tidak sah. Menurut ulama Mazhab Hanafi, Maliki dan Hanbali, baligh tidak menjadi syarat bagi orang murtad. Jika anak kecil yang telah mumaiyiz menunjukkan sikap dan perkataan murtad, dia dihukum sebagai murtad. Menurut mereka, keislaman anak kecil yang telah mumaiyiz adalah sah. Pendapat itu ditolak oleh ulama Mazhab Syafie. Tentang syarat kedua, ulama fikah bersepakat bahawa jika seseorang dipaksa keluar daripada Islam, dia tidak dihukum sebagai murtad (Q.16:106).

PERANG RIDDAH

Peristiwa murtad besar-besaran terjadi pada awal pemerintahan Abu Bakar. Beberapa  kabilah keluar daripada Islam atau  meniadakan kewajipan zakat. Peristiwa ini menggoyahkan kestabilan dan kewujudan negara Islam yang baru didirikan. Meskipun Khalifah Abu Bakar terpaksa memerangi beberapa kabilah yang menentang, baginda berjaya menumpaskannya. Peristiwa ini dikenali dengan nama Perang Riddah.

MURTAD ZAMAN NABI MUHAMMAD S.A.W.

Pada zaman Nabi Muhammad s.a.w. peristiwa murtad berlaku sebanyak tiga kali, iaitu yang melibatkan Bani Mudlaj yang dipimpin oleh al-Aswad, Bani Hanifah yang dipimpin oleh Musailamah al-Kazzab dan Bani Asad yang dipimpin oleh Tulaihah bin Khuwailid. Al-Aswad dibunuh di Yaman oleh Fayruz al-Dailami. Musailamah dibunuh oleh Khalid bin al-Walid manakala Tulaihah dan kaumnya memeluk agama Islam semula setelah ditawan oleh Khalid bin al-Walid.

Surah al-Nahl ayat 106 menjelaskan bahawa jika seseorang itu dipaksa menjadi kafir, dia tidak dihukum oleh Allah S.W.T sebaliknya jika dilakukan secara sukarela, dia akan dikenakan azab yang besar.

MISTERI ORANG HIDUP DIDALAM KUBUR

Orang yang ruhnya sudah terpisah dengan badan disebut dengan istilah mati (meninggal). Orang yang meninggal sudah tidak dapat melakukan hal apapun, namun berbeza dengan orang yang meninggal dalam keadaan tertentu, seperti misalnya para syuhada. 

Ternyata para syuhada hidup meskipun mereka telah meninggal dunia, mereka dapat berdo'a dan mendapatkan rizeki dari Allah SWT. Salah satunya, kisah tentang ayah salah seorang sahabat Jabir berikut ini yang bermaksud:

Nabi bertanya kepada Jabir: “Apakah aku kabarkan kepadamu apa yang diberikan oleh Allah kepada bapakmu?” Jabir menjawab: “Ya, wahai Rasul Allah”. Nabi bersabda: “Allah tidaklah berfirman kepada seorang pun kecuali dari belakang hijab. Dan Allah MENGHIDUPKAN bapakmu lalu Allah berfirman kepada bapakmu SECARA LANGSUNG. Allah berfirman: “Wahai hamba Ku, mintalah pada Ku maka Aku berikan”. Ayah Jabir berkata: “Wahai Tuhanku, hidupkan aku (ke dunia), maka aku akan berperang di jalan Mu untuk kedua kalinya”.

Allah Azza wa Jalla menjawab: “Sudah menjadi takdir dari Ku, jika mereka mati maka tidak dapat kembali ke dunia”. Lalu turun ayat yang bermaksud: “Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati, bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezeki [Ali Imran: 169]” (HR al-Tirmidzi, ia menilai hasan)


Sumber : muslimedianews.com

KETAHANAN IDEOLOGI ISLAM

“Pensil mengenai Diri menuliskan seratus hari-hari ini, guna mencapai fajar suatu hari esok. Apinya membakar seratus Ibrahim, sehingga sebuah lampu Muhammad dapat diyalakan.”

—Muhammad Iqbal—

Islam merupakan agama yang nilai aksiomatiknya paling berpengaruh terhadap pemeluknya. Ia tidak hanya dijadikan sebagai ritual keagamaan, tidak hanya dijadikan sebagai way of life, tetapi juga sebagai ideologi atau pemikiran yang sepanjang sejarahnya, telah membuktikan dirinya sebagai suatu kekuatan yang berkali-kali terus memperbarui dirinya sendiri.

Islam membuktikan bahwa ia berhasil hidup kembali dari mati suri yang dikatakan oleh para pengamat Barat—seperti Marshall Hodgson dan Albert Hourani—sebagai “lonceng kematian pandangan dunia Islam”, Ideologi Islam menggerakkan organisasi-organisasi sempalan, partai-partai politik, serta gerakan-gerakan masyarakat dan keagamaan. Ideologi ini terbukti memiliki ketahanan kuat, menolak dengan realitas nyata atas anggapan bahwa ia tak dapat bertahan terhadap modernitas.

Teori Kebangkitan Islam

Dalam memahami fenomena bangkitnya ideologi atau pemikiran Islam, terdapat istilah revivalisme Islam atau Islamic resurgence. Dalam buku Politik Kebangkitan Islam (2001) yang dieditori oleh Shireen T. Hunter, tersirat bahwa revivalisme Islam adalah suatu gerakan yang menginginkan adanya pengidentifikasian kembali atau membangkitkan kembali jati diri yang sudah melemah atau bahkan hilang.

Revivalisme Islam kontemporer muncul karena satu faktor utama, yaitu merosotnya moral dan perilaku umat Islam yang disebabkan oleh terutama: adanya sekulerisasi dan westernisasi.

John L. Esposito dalam Ancaman Islam: Mitos atau Realitas? (1994), juga menjelaskan bahwasannya kebangkitan Islam itu muncul karena pandangan Barat—yang hadir di negeri-negeri muslim—terhadap umat Islam sebagai suatu masyarakat yang anti-modernitas dan dengan demikian merupakan rintangan bagi kemajuan sosial dan politik.

Oleh sebab itu, mereka “membantu” peradaban muslim dengan melakukan sekulerisasi, marginalisasi nilai-nilai Islam dan meredupkan aktivitas orang Islam sebagai suatu umat, agar dapat mewujudkan perubahan yang mereka anggap sesuai dengan modernitas.

Akan tetapi, kata Esposito, pada kenyataannya, para ulama dan aktivis gerakan revivalis Islam justru memanfaatkan teknologi modern untuk menggerakkan dukungan massa dan menyampaikan pandangan dan pesan-pesan kepada umat Islam, baik dalam skala nasional maupun transnasional.

Mereka berhasil membangun kekuatan dari dalam sehingga Islam menjadi penting kembali. Islam mendapatkan kembali prestige dan harga dirinya. Mereka menunjukkan bahwa umat Islam tidak anti modernisasi. Di lain pihak, menurut Chandra Muzaffar dalam esai “Kebangkitan Islam: Suatu Pandangan Global dengan Ilustrasi dari Asia Tenggara”, kebangkitan Islam sering dipandang sebagai ancaman bagi mereka yang memegang nilai lain. Islam sebagai alternatif, dianggap tantangan terhadap sistem sosial yang dominan pada saat ini.

Beberapa Contoh Ketahanan Ideologi Islam

Sejak invasi peradaban Barat ke negara-negara muslim di Asia-Afrika sejak abad ke-15 hingga 20, serta runtuhnya Khilafah Ustmani pada 1922 akibat kekalahan dalam Perang Dunia I, umat Islam kehilangan kepercayaan diri terhadap tatanan hidup dan sistem nilai yang bersumber dari agamanya.

Kesultanan-kesultanan dan khilafah yang berdiri selama berabad-abad, runtuh tak kuasa menangkal serbuan peradaban Barat. Rakyat di negeri-negeri Asia-Afrika didiktekan apa yang baik untuk mereka, apa yang disebut dengan modernitas, apa yang disebut dengan moral yang beradab, apa yang disebut dengan toleransi, dan apa yang disebut dengan pemerintahan yang baik. Semuanya berdasarkan pengalaman dan sudut pandang Barat.

Ketahanan ideologi Islam dapat kita temukan di berbagai negara, mulai dari Turki, wilayah-wilayah Maghribi hingga Indonesia. Pada 1970, revolusi Islam Iran berhasil menumbangkan rezim Shah. Adalah Imam Khomeini, pemimpin spiritual di Iran yang menjadi tokoh sentral yang mampu menggerakkan massa menuju revolusi.

Dua dekade kemudian, milisi-milisi jihad yang bersatu dibawah Komando Aksi Jihad Gabungan Afghanistan, berhasil menumbangkan rezim komunis dan mendirikan negara Republik Afghanistan yang berlandaskan Islam. Keberhasilan yang sama juga terjadi di Pakistan dan Checnya.

Di lain pihak, kita juga dapat menemukan gerakan revivalis atau Islamic resurgence yang berhasil membawa warna hijau di ladangnya masing-masing. Pada abad ke-18, terdapat tokoh Muhammad Abdul Wahhab yang sukses menyebarkan pahamnya—purifikasi konservatif yang biasa disebut dengan wahhabisme—di Saudi Arabia, dan Shah Waliyullah yang membawa gagasan penafsiran kembali Islam yang progresif di India.

Kemudian pada abad ke-19, empat tokoh besar dalam sejarah telah menaikkan prestige dan reidentifikasi umat Islam ke tingkat yang lebih baik dari masa sebelumnya, yakni Sayyid Muhammad bin Ali al-Sanusi di Libya, Jamaluddin al Afghani. Muhammad ‘Abduh dan Rasyid Ridha di Mesir, dan Mulla Hadi Sabziwari di Iran.

Di abad ke-20, revivalisme Islam kembali mendapatkan momentumnya melalui pemikiran dan gerakan Hasan al Banna, Sayyid Hawa, dan Sayyid Quthb di Mesir. KetIganya merupakan think tank gerakan Ikhwan al Muslimin, sebuah organisasi Islam terbesar di dunia yang ada di 70 negara dengan nama yang berbeda.  Kemudian Badiuzzaman Said Nursi di Turki, ABIM (Angkatan Belia Islam Malaysia) dan Darul Arqam di Malaysia, serta Ahmad Dahlan dengan Muhammadiyah-nya dan Gerakan Tarbiyah di Indonesia.

Ideologi Islam: Renewing Itself

Ideologi Islam berhadapan dengan loyalitas-loyalitas  baru yang muncul di setiap zaman. Ia pernah berhadapan dengan penguasa dan kelompok-kelompok yang meminggirkannya, bahkan memusuhinya dalam lingkup publik. Akan tetapi, ideologi ini selalu muncul kembali sebagai salah satu penentu loyalitas serta identitas masyarakat yang paling signifikan di dunia Islam. Atheisme, sekulerisme, liberalisme, komunisme, materialisme, nyatanya tidak berhasil menembus benteng keimanan dan kecintaan banyak muslim terhadap ideologi Islam, hingga kini.

Ideologi Islam muncul dalam berbagai tipe. Ia diperbarui kembali, memjelma menjadi sebuah gerakan kembali, menjawab tantangan zaman kembali, dan berpengaruh kembali. Ideologi ini didekap mulai dari yang menafsirkan Al-Qur'an secara dangkal, hingga yang telah mencapai ma'rifat dalam kesufian. Ideologi ini tahan dari kelapukan, menyalahi tanggapan seorang orientalis yang mengatakan "Islam seharusnya berada di museum".

"Ideologi tak hanya sekadar abstrakis yang dicari di belahan otak mana pun, di lipatan kulit mana pun, dan di sel darah mana pun, tidak akan ditemukan. Ideologi itulah nyata yang lebih nyata daripada tinta. Nyata dalam darah yang tumpah di setiap peperangan. Nyata dalam kejatuhan-kejatuhan. Nyata dalam teriakan revolusi dari timur hingga barat. Nyata dalam pertemanan dan permusuhan."

AYAT KURSI LAMBANG KEKUASAAN ALLAH SWT

Ayat 255 surah Al-Baqarah disebut ayat Kursi kerana dalam ayat tersebut terdapat kata “kursi Allah” yang meliputi langit dan bumi. Kata kursi mempunyai erti: takhta, singgahsana, tempat duduk, kekuasaan, pengetahuan dan symbol otoriti. Itulah sebabnya ayat itu di sebut “ayat Kursi” yang melambangkan kekuasaan Allah SWT yang meliputi langit dan bumi. Ayat ini sepanjang zaman telah menghidupkan suasana keagamaan umat Islam dari masa ke masa. Ayat Kursi begitu popular hingga kaligrafi ayat ini sering terdapat di rumah kaum muslim.

Ayat Kursi dinilai sebagai salah satu ayat yang termulia dalam Al-Quran kerana di dalamnya terdapat 17 kata yang menunjuk kepada Allah SWT dari 50 kata yang terdapat didalamnya. Apabila dihayati, 17 kata yang menunjukan nama Allah itu akan memberi kekuatan batin pembacanya. Ada ulama yang mengatakan bahawa 50 kata adalah lambang 50 kali solat yang pernah diwajibkan Allah kepada Muhammad ketika mikraj dan 50 kali itu diringankan menjadi 5 kali dengan 17 rakaat sehari semalam. Di sisi lain perjalanan menuju Allah ditempuh oleh malaikat dalam 50 tahun menurut perhitungan manusia.

Ayat Kursi lebih agung jika dibandingkan dengan ayat-ayat lain. Dalam ayat Kursi terdapat sejumlah nama dan sifat Allah SWT yang melebihi ayat-ayat lain. Esensi nama dan sifat Allah SWT yang berjumlah 99 itu diungkapkan dalam satu ayat hanya pada ayat Kursi.

 

Di antara terjemahan maksud ayat kursi tersebut ialah:”Allah tidak ada Tuhan melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus-menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Siapakah yang dapat memberi syafaat di sisi Allah tanpa izin-Nya? Allah mengetahui apa-apa yang dihadapan mereka dan dibelakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar (Surah Al-Baqarah ayat:255).

Dalam satu kisah disebutkan bahawa ketika para sahabat sedang bertukar fikiran tentang ayat-ayat yang paling mulia, Ali berkata kepada mereka, “Bagaimana pandangan kamu tentang ayat Kursi?” Ali kemudian berkata, “Rasulullah SAW berkata kepadaku, ‘Hai Ali, penghulu sekalian manusia adalah Adam, penghulu bangsa Arab adalah Muhammad tanpa rasa sombong, kalam yang terbaik adalah Al-Quran, penghulu Al-Quran adalah al-Baqarah dan penghulu al-Baqarah adalah ayat Kursi

Ada beberapa hadis yang menjelaskan keutamaan ayat Kursi, misalnya yang diriwayatkan Ali bin Abi Talib. Hadis itu berbunyi: “Tidak dibaca ayat ini (ayat Kursi) dalam sebuah rumah kecuali syaitan-syaitan lari meninggalkannya selama 30 hari, dan tukang sihir laki-laki dan wanita tidak akan memasukinya selama 40 hari.” Ali juga menceritakan bahawa ia pernah mendengar Nabi SAW berkhutbah di atas mimbar dan berkata: “….. dan barangsiapa yang membacanya pada saat tidurnya, Allah akan mengamankannya, tetangganya, tetangga dari tetangganya dan rumah-rumah yang ada sekitarnya.” Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Abu Bakar bin Mardawaih, Nabi SAW bersabda: “Barangsiapa yang membaca ayat Kursi setiap penghujung solat wajib, maka tidak ada yang mencegahnya masuk syurga kecuali kematian, dan tidak ditetapkan padanya kecuali sebagai sidik (benar atau jujur) dan ‘abid (tekun beribadah).”

AYAT KURSI ANTARA LAMBANG KEKUASAAN ALLAH SWT

Ayat 255 surah Al-Baqarah disebut ayat Kursi kerana dalam ayat tersebut terdapat kata kursi Allah yang meliputi langit dan bumi. Kata kursi mempunyai erti: takhta, singgahsana, tempat duduk, kekuasaan, pengetahuan dan symbol otoriti. Itulah sebabnya ayat itu di sebut ayat Kursi yang melambangkan kekuasaan Allah SWT yang meliputi langit dan bumi. Ayat ini sepanjang zaman telah menghidupkan suasana keagamaan umat Islam dari masa ke masa. Ayat Kursi begitu popular hingga kaligrafi ayat ini sering terdapat di rumah kaum muslim.

Ayat Kursi dinilai sebagai salah satu ayat yang termulia dalam Al-Quran kerana di dalamnya terdapat 17 kata yang menunjuk kepada Allah SWT dari 50 kata yang terdapat didalamnya. Apabila dihayati, 17 kata yang menunjukan nama Allah itu akan memberi kekuatan batin pembacanya. Ada ulama yang mengatakan bahawa 50 kata adalah lambang 50 kali solat yang pernah diwajibkan Allah kepada Muhammad ketika mikraj dan 50 kali itu diringankan menjadi 5 kali dengan 17 rakaat sehari semalam. Di sisi lain perjalanan menuju Allah ditempuh oleh malaikat dalam 50 tahun menurut perhitungan manusia.

Ayat Kursi lebih agung jika dibandingkan dengan ayat-ayat lain. Dalam ayat Kursi terdapat sejumlah nama dan sifat Allah SWT yang melebihi ayat-ayat lain. Esensi nama dan sifat Allah SWT yang berjumlah 99 itu diungkapkan dalam satu ayat hanya pada ayat Kursi.

Diantara terjemahan maksud ayat kursi tersebut ialah: Allah tidak ada Tuhan melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus-menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Siapakah yang dapat memberi syafaat di sisi Allah tanpa izin-Nya? Allah mengetahui apa-apa yang dihadapan mereka dan dibelakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar (Surah Al-Baqarah ayat:255).

Dalam satu kisah disebutkan bahawa ketika para sahabat sedang bertukar fikiran tentang ayat-ayat yang paling mulia, Ali berkata kepada mereka, Bagaimana pandangan kamu tentang ayat Kursi? Ali kemudian berkata, Rasulullah SAW berkata kepadaku, Hai Ali, penghulu sekalian manusia adalah Adam, penghulu bangsa Arab adalah Muhammad tanpa rasa sombong, kalam yang terbaik adalah Al-Quran, penghulu Al-Quran adalah al-Baqarah dan penghulu al-Baqarah adalah ayat Kursi

Ada beberapa hadis yang menjelaskan keutamaan ayat Kursi, misalnya yang diriwayatkan Ali bin Abi Talib. Hadis itu berbunyi: Tidak dibaca ayat ini (ayat Kursi) dalam sebuah rumah kecuali syaitan-syaitan lari meninggalkannya selama 30 hari, dan tukang sihir laki-laki dan wanita tidak akan memasukinya selama 40 hari. Ali juga menceritakan bahawa ia pernah mendengar Nabi SAW berkhutbah di atas mimbar dan berkata: .. dan barangsiapa yang membacanya pada saat tidurnya, Allah akan mengamankannya, tetangganya, tetangga dari tetangganya dan rumah-rumah yang ada sekitarnya. Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Abu Bakar bin Mardawaih, Nabi SAW bersabda: Barangsiapa yang membaca ayat Kursi setiap penghujung solat wajib, maka tidak ada yang mencegahnya masuk syurga kecuali kematian, dan tidak ditetapkan padanya kecuali sebagai sidik (benar atau jujur) dan abid (tekun beribadah).

Hubungi Kami

Alamat:
No.5B, Jalan 3/70 Damai Point, Seksyen 3, 43650 Bandar Baru Bangi. Selangor

Telefon: +60 17-377 7732
Email: alfalahmadani2022 [@] gmail.com

Jumlah Pengunjung

113975
Hari ini: 200
Minggu Ini: 2,984
Bulan Ini: 10,343
Tahun Ini: 113,975
Tahun Lepas: 52,147
Image

Alfalahmadani.my merupakan sebuah portal yang bertanggungjawab untuk bertindak sebagai penampan bagi setiap tuduhan, fitnah, kekeliruan, ketidakfahaman dan kecelaruan yang berlegar di minda rakyat. Sama ada isu-isu yang timbul secara organik di media sosial, ataupun yang didorong sebagai naratif oleh pihak-pihak tertentu,

Alfalahmadani.my akan menjawab setiap permasalahan dengan pengetahuan, kebijaksanaan dan kebenaran. Tentunya, kehadiran Alfalahmadani.my bukan berhasrat menyatakan kesempurnaan pemikiran, tetapi sebagai wahana untuk menuju kesempurnaan pengetahuan dalam konteks pemikiran semasa, dan kebijaksanaan yang mampu diusahakan.