ANGKA: SATU PENEMUAN PENTING

Salah satu penemuan terpenting manusia adalah angka. Tanpa angka manusia akan mengalami kesulitan mengungkapkan suatu bilangan atau jumlah. Setiap bangsa memiliki cara tersendiri untuk mengucapkan sebuah bilangan.

Tetapi, tidak semua bangsa memiliki karakter atau lambang khusus penulisan angka. Arab adalah salah satu bangsa di dunia yang memiliki karakter khusus dalam penulisan angka. Bangsa lain adalah Romawi Kuno, yang memiliki karakter penulisan angka Romawi seperti I,II,III  dan seterunya.

Angka 1,2,3,4 dan seterusnya adalah yang kini paling banyak digunakan. Angka ini diciptakan oleh orang India yang kemudian diadoptasi oleh orang Arab pada masa awal kejayaan Islam (sekitar abad ke-7). Selama berabad-abad, penulisan angka ini diterapkan oleh ilmuwan dan penulis Arab muslim.

Di dunia Arab sendiri, penulisan angka seperti ini kini tidak popular lagi. Sebagai gantinya, orang Arab kini memiliki penulisan sendiri. Orang Arab moden tidak menggunakan angka yang mereka ciptakan sekitar 1.300 tahun silam. Sebagai gantinya, mereka menciptakan sendiri angka yang berbeza. Ada dua penulisan yang mereka kembangkan: penulisan angka Arab moden dan penulisan angka dengan abjad Arab. 

Para ilmuwan tidak mengetahui secara pasti asal-usul angka Arab yang kini banyak dipergunakan. Beberapa sumber menyebutkan bahawa bangsa Arab terpengaruh oleh cara penulisan angka India. Kendati telah menggunakan angka itu sejak abad ke-3 SM, orang India baru menggunakan angka nol pada abad ke-7, setelah orang Arab muslim menemukan bilangan nol ini dari India. Dalam pengertian di India, nol disebut sunya yang bererti “kosong”.

Skema munculnya angka yang kita gunakan sekarang, yakni angka Arab. Sistem angka Arab terutama dikembangkan oleh al-Khawarizmi (Ahli matematik awal abad ke-9) yang mengambil susunan angka decimal dari system angka India. Pada abd ke-12, bukunya mulai dikenal di Eropah, lalu orang Eropah mengambil system angka Arab tersebut untuk menggantikan angka Romawi.

Penemuan angka oleh kaum Arab muslim menyebar luas dengan cepat. Kerajaan baru Islam di Asia Tengah dan Eropah (Sepanyol khususnya) mengetahui angka ini lewat para pedagang dan dari yang datang ke wilayah taklukan Islam itu. Di Eropah, angka Arab diterima dengan baik. Angka ini menggantikan penulisan angka Romawi yang dianggap lebih rumit dan panjang. Ketika mesin cetak pertama kali ditemukan pada abad ke-14, angka Arab menjadi pilihan utama. Sejak itulah angka Arab klasik tersebar luas dan digunakan di seluruh Eropah.

Bangsa Arab muslim mengembangkan penulisan angka yang diadoptasi dari India seperti yang kita kenal sekarang: 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 0 (angka nol adalah penemuan asli ilmuwan Arab muslim). Untuk angka yang jumlahnya melebihi bilangan sepuluh, bangsa Arab muslim menggunakan system digit dalam penulisannya. Misalnya, untuk menyebut bilangan “tiga ratus lima puluh sembilan” dalam angka Arab ditulis 359. Digit 3 mewakili nilai tiga ratus, 5 mewakili nilai lima puluh dan 9 mewakili nilai sembilan. Begitu juga bilangan “enam ribu lima” ditulis 6005. Di sini, digit 6 memiliki nilai enam ribu, dan lima memiliki nilai lima, sedangkan 0 (nol) menempati posisi kosong yang tidak memiliki nilai.

AL-MAJRITI IBARAT ENSIKLOPEDIA MATEMATIK

Abu Al-Qasim Maslamah bin Ahmad atau Al-Majriti dapat diibaratkan sebagai ensiklopedia matematik, astronomi dan ilmu kimia, kerana memiliki pengetahuan luas dan mendalam mengenai sumber maklumat bidang-bidang berkenaan.

Beliau dilahirkan di Majrit (Madrid) pada tahun 338 Hijrah bersamaan tahun 950 Masihi. Beliau juga terkenal sebagai ilmuwan Islam yang sangat cemerlang di Andalus. Hakikat itu diakui ilmuwan Barat yang mengagumi buku hasil tulisannya, terutama mengenai akaun perdagangan.

Kepakarannya dalam teori bilangan dan angka menjadikan buku berkenaan rujukan seluruh dunia, selain hasil karangan mengenai perhitungan kejuruteraan. Al-Majriti berbeza dengan ilmuwan lain kerana ketelitian serta ingatannya yang kuat. Beliau sering menekankan bahawa mereka yang dikhususkan dalam bidang analisis sains seperti kimia, juga perlu mempelajari ilmu matematik dan sains.

Penghasilan air raksa menunjukkan ketekunan dan ketelitian Al-Majriti apabila melakukan eksperimen yang akhirnya membawa kejayaan kepada kerjaya beliau. Eksperimen yang terkenal itu memperlihatkan bagaimana beliau menukarkan satu perempat tabung air raksa menjadi serbuk berwarna merah, selepas diletak di atas api selama 40 hari.

Sebagai ilmuwan yang teliti dalam kerjayanya, beliau sentiasa mendorong penyelidik untuk mengkaji bahan kimia melalui proses percubaan di makmal. Sebuah penulisan ilmiah Al-Majriti yang terkenal ialah mengenai astrolab, iaitu sebuah peralatan kuno untuk mengukur ketinggian bintang di langit. Ia adalah cakera yang diperbuat daripada kayu atau logam mempunyai ukuran darjah di tepinya dan di tengahnya ada sebuah jarum penunjuk yang boleh bergerak.

Beliau menulis dua buku dalam bidang kimia bertajuk Rutbaj Al-Hakim dan Ghayah Al-Hakim yang menjadi rujukan ilmuwan Timur mahupun Barat hingga ke hari ini. Menyedari pentingnya buku Ghayah Al-Hakim, Raja Alfonso memerintahkan agar buku itu diterjemahkan ke dalam bahasa Latin pada tahun 1252 Masihi.

Buku lain karangan Al-Majriti ialah Thimar Al-Adad yang dikenali sebagai Al-Muamalat, Ikhtisar Tadil Al-Kawakib Min Zij Al-Battani, Rutbah Al-Hakim Fi Al-Kimiya, Al-Ahjar Rawdhah Al-Hadaiq wa Riyadh Al-Khalaiq serta Risalah Al-Asturlab, merangkumi ilmu sejarah, tabii dan pengaruh alam sekitar terhadap kehidupan.

Al-Majriti mempunyai ramai murid yang berjaya dalam kehidupan, seperti Abu Al-Qasim Al-Ghirnati, seorang jurutera dan ilmuwan dalam bidang perubatan dan Abu Al-Hakam Al-Karmani, seorang penduduk Cordova yang sangat terkenal sebagai pakar bedah dan jurutera. 

BIOGRAFI IMAM ASY-SYAUKANI

Nama dan nasab

Abu Ali Badruddin Muhammad bin Ali bin Muhammad bin Abdullah bin Al-Hasan bin Muhammad bin Shalah bin Ibrahim bin Muhammad Al-‘Afif bin Muhammad bin Rizq, Asy-Syaukani. Dinisbahkan kepada ‘Syaukan’, yaitu sebuah desa dari desa-desa As-Sahamiyyah, salah satu kabilah Khawlan, yang jaraknya dengan Sana’a kurang dari jarak perjalanan satu hari.”

Kelahiran

Beliau rahimahullahu Ta‘ala lahir pada hari Senin, tanggal 28 Zulhijah tahun 1173 H di desa Hijrah Syaukan.

Pertumbuhan dan perjalanan menuntut ilmu

Beliau rahimahullahu Ta‘ala tumbuh besar di Shan‘a, Yaman, dan dibesarkan di rumah ilmu dan kemuliaan, sehingga ia tumbuh dengan pendidikan agama yang suci. Ia menerima pengetahuan awalnya dari ayahnya dan para ulama serta orang-orang mulia di kampungnya. Ia menghafal Al-Qur’an Al-Karim dan membacanya dengan baik.

Di antara faktor yang membantu Imam Asy-Syaukani dalam menuntut ilmu dan mencapai kecerdasan sejak dini adalah keberadaan dan pendidikannya di rumah ilmu dan kemuliaan. Ayahnya rahimahullah adalah salah satu ulama terkemuka di masanya, dan kebanyakan penduduk desa tersebut juga termasuk dari kalangan ulama dan orang-orang mulia.

Asy-Syaukani berkata tentang ayahnya dan penduduk desanya,

 

“… Desa Hijrah ini dihuni oleh orang-orang yang memiliki kemuliaan, kesalehan, dan agama sejak zaman dahulu. Tidak pernah kosong dari keberadaan seorang ulama pada setiap masa, hanya saja terkadang berada di sebagian kabilah dan terkadang di kabilah lainnya. Mereka memiliki kedudukan yang agung di sisi para imam terdahulu, dan di antara mereka terdapat tokoh-tokoh besar yang membantu para imam, khususnya dalam peperangan melawan Turki, di mana mereka memiliki jasa yang besar. Pada masa itu, di antara mereka terdapat para ulama dan orang-orang mulia yang dikenal di seluruh negeri Khawlan dengan sebutan para qadhi.”

Dengan demikian, Asy-Syaukani mampu memanfaatkan keberadaan para ulama di masanya yang jumlahnya sangat banyak untuk menuntut ilmu di berbagai bidang. Imam Syaukani juga melakukan perjalanan menuntut ilmu di berbagai negeri untuk mulazamah dengan ulama yang ada di negeri tersebut.

Ciri fisik dan akhlak

Kitab-kitab sejarah dan biografi tidak banyak menyebutkan tentang sifat fisik Asy-Syaukani, kecuali bahwa beliau bertubuh sedang, berkepala besar, memiliki dahi yang lebar, tampak sehat, dan memiliki kondisi fisik yang prima.

Adapun sifat-sifat akhlaknya sangat banyak dan terkenal. Dalam kehidupan Asy-Syaukani, terlihat jelas bahwa beliau memulai hidupnya dengan sikap menjauh dari keramaian, tidak bergaul dengan orang kecuali untuk menuntut dan menyebarkan ilmu.

Kehidupannya sederhana dan zuhud, hidup secukupnya dari nafkah yang diberikan ayahnya. Ketika ia menjabat sebagai qadhi dan menerima gaji yang besar, beliau mulai menikmati makanan, minuman, pakaian, dan kendaraan yang layak, serta memberi kepada murid-murid dan guru-gurunya dari rezeki yang Allah berikan kepadanya.

Sebagian sejarawan menyebutkan bahwa Asy-Syaukani mendapatkan banyak tanah garapan dan sedekah, namun mereka menegaskan bahwa beliau tidak menyisakan sedikit pun dari itu setelah mengabdi di bidang peradilan selama lebih dari 40 tahun. Semua itu dihabiskannya di jalan kebaikan dan amal saleh.

Disebutkan dengan penuh penghormatan seorang ulama mulia, Isma‘il bin Ali bin Hasan, yang biasa menghadiri majelis Imam Asy-Syaukani dan berkata,

“Selama waktu yang panjang aku duduk bersamanya di majelis itu, aku tidak pernah mendengar sedikit pun tanda-tanda beliau tunduk pada tuntutan duniawi, baik secara terang-terangan maupun secara sindiran.”

Asy-Syaukani sangat berbakti kepada guru-guru dan murid-muridnya, membuka peluang kerja di pemerintahan bagi mereka, membela mereka, dan memohonkan pertolongan kepada para imam dalam setiap masalah yang menimpa mereka. Meski beliau memiliki kecerdasan yang tajam, daya ingat yang kuat, serta keteguhan dalam pandangan dan ijtihadnya, beliau tidak merendahkan ilmunya untuk terlibat dalam perdebatan kosong dengan orang-orang yang berpura-pura berilmu.

Akidah

Asy-Syaukani berpendapat bahwa metode para ahli kalam tidak akan sampai pada keyakinan yang pasti dan tidak mungkin mencapai kebenaran yang mereka tuju. Sebab, kebanyakan metode mereka dibangun di atas dasar-dasar yang bersifat dugaan, tanpa sandaran kecuali klaim sepihak atas akal dan tuduhan terhadap fitrah. Setiap kelompok di antara mereka membuat prinsip-prinsip yang berbeda dengan prinsip kelompok lain, lalu menegakkan prinsip itu berdasarkan apa yang mereka anggap benar menurut akal mereka yang terbatas. Akibatnya, sesuatu yang benar menurut satu kelompok menjadi batal di mata kelompok lain. Mereka menimbang firman Allah dan sabda Rasul-Nya dalam masalah ketuhanan dan akidah dengan prinsip-prinsip yang saling bertentangan itu, sehingga setiap kelompok meyakini kebalikan dari keyakinan kelompok lainnya.

Asy-Syaukani berkata tentang masalah ini,

“Jika engkau ragu akan hal ini, maka rujuklah kitab-kitab kalam dan lihatlah masalah-masalah yang dianggap pokok oleh ahlinya, seperti masalah al-husn wal-qubh (baik dan buruk), penciptaan perbuatan, taklif dengan sesuatu yang tidak mampu dilakukan, dan masalah Al-Qur’an adalah makhluk. Engkau akan menemukan apa yang aku sampaikan ini persis adanya.”

Karena itu, jalan yang lurus dalam masalah ketuhanan dan keimanan terhadapnya adalah jalan salaf saleh, dari para sahabat dan tabi‘in, yaitu menetapkan sifat-sifat Allah sesuai zahirnya, memahami ayat-ayat dan hadis-hadis sesuai makna bahasa umumnya, tanpa menakwilkannya, dan beriman kepadanya seperti itu tanpa paksaan dan penyimpangan, tanpa tasybih (penyerupaan) maupun ta‘thil (penolakan sifat). Mereka menetapkan sifat-sifat yang Allah tetapkan untuk diri-Nya dengan cara yang hanya Dia yang mengetahuinya. Sebagaimana firman-Nya yang bermaksud,

“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Asy-Syura: 11)

Dia menetapkan bagi diri-Nya sifat mendengar dan melihat, namun sekaligus menafikan keserupaan dengan makhluk. 

Asy-Syaukani menganut prinsip ini, menjadikan dua ayat sebagai landasan dakwahnya kepada mazhab salaf:

Yang pertama, firman Allah ‘Azza wa Jalla yang bermaksud,

“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Asy-Syura: 11)

Yang kedua yang bermaksud,

“Dia mengetahui apa yang ada di hadapan mereka dan apa yang ada di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa pun tentang-Nya kecuali apa yang Dia kehendaki.” (QS. Thaha: 110)

Kedua ayat ini mengandung penetapan dan penafian sekaligus: penetapan sifat-sifat Allah dan penafian keserupaan sifat itu dengan makhluk, serta membatasi penetapan itu pada zahir yang dijelaskan ayat, dan melarang membahas bagaimana sifat-sifat tersebut.

Asy-Syaukani menulis pandangannya ini dalam banyak kitabnya, khususnya At-Tuhaf fi Madzahib as-Salaf dan Kasyf asy-Syubuhat ‘an al-Musytabihat.

Ia menganut akidah ini setelah penelitian panjang dan membaca kitab-kitab ilmu kalam, sehingga menegaskan bahwa ia tidak mengikuti mazhab salaf karena taklid, melainkan melalui ijtihad dan keyakinan pribadi.

Karena itu, ia berkata,

“Ketahuilah bahwa aku tidak mengatakan ini karena taklid kepada sebagian orang yang menasihatimu untuk meninggalkan ilmu kalam, sebagaimana yang terjadi pada sebagian ulama yang meneliti. Akan tetapi, aku mengatakannya setelah membuang waktu cukup lama dalam mempelajarinya, bertanya kepada orang yang menguasainya, belajar dari para tokoh yang terkenal di bidangnya, membaca banyak ringkasan dan kitab tebalnya.”

Mazhab

Asy-Syaukani pada awal kehidupannya mempelajari fikih dengan berpegang pada mazhab Imam Zaid bin Ali bin al-Husain, dan beliau unggul dalam mazhab tersebut hingga melampaui para ulama pada zamannya. Sampai akhirnya beliau melepaskan diri dari belenggu taqlid dan menghiasi dirinya dengan kedudukan sebagai seorang mujtahid. Beliau pun menulis kitabnya as-Sail al-Jarrar al-Mutadaffiq ‘ala Hadaiq al-Azhar. Dalam kitab tersebut, beliau tidak membatasi dirinya pada mazhab Zaidiyah, melainkan menguatkan pendapat yang menurut hasil ijtihadnya benar berdasarkan dalil, dan melemahkan pendapat yang tidak memiliki landasan dalil.

Hal ini membuat para pengikut mazhabnya, dari kalangan Zaidiyah yang fanatik terhadap mazhab mereka dalam masalah pokok maupun cabang agama, marah dan menentangnya. Beliau pun menghadapi mereka dengan dalil dari Al-Qur’an dan Sunnah. Setiap kali mereka semakin keras menentangnya, beliau semakin teguh berpegang pada jalannya. Hingga akhirnya beliau menulis sebuah risalah berjudul al-Qaul al-Mufid fi Adillat al-Ijtihad wa at-Taqlid, yang berisi celaan dan pengharaman terhadap taqlid. Risalah ini justru semakin menambah fanatisme mereka terhadap penentangan beliau, bahkan sampai menuduh beliau ingin meruntuhkan mazhab Ahlul Bait.

Akibatnya, terjadi fitnah di kota Shan‘a antara para penentangnya dan para pendukungnya. Beliau membalas tuduhan tersebut dengan menegaskan bahwa dirinya bersikap sama terhadap semua mazhab, dan tidak khusus mengharamkan taqlid hanya pada mazhab Zaidiyah saja.

Demikianlah, asy-Syaukani memilih jalan bermazhab yang tidak terikat pada satu pendapat tertentu dari para ulama terdahulu, melainkan mengikuti apa yang dihasilkannya melalui ijtihad. Hal ini dapat terlihat oleh pembaca kitabnya Nail al-Awthar, di mana beliau menukil pendapat-pendapat dan mazhab para ulama di berbagai negeri, pendapat para sahabat dan tabi‘in, beserta hujjah masing-masing, lalu menutupnya dengan pendapat pribadinya, memilih apa yang menurutnya lebih kuat.

Beliau berpendapat bahwa pintu ijtihad telah dimudahkan oleh Allah Ta‘ala bagi para ulama yang datang belakangan, bahkan lebih mudah dibandingkan masa generasi awal. Beliau berkata,

“… Tidaklah samar bagi siapa pun yang memiliki sedikit saja pemahaman, bahwa ijtihad telah dimudahkan oleh Allah bagi para ulama muta’akhkhirin dengan kemudahan yang tidak dimiliki para pendahulu. Sebab, kitab-kitab tafsir terhadap Al-Qur’an telah ditulis dan jumlahnya kini sangat banyak hingga tak terhitung, begitu pula sunnah Nabi ﷺ, dan para imam telah membahas tentang tafsir, jarh wa ta‘dil, serta tarjih dengan pembahasan yang lebih dari cukup bagi seorang mujtahid. Padahal para ulama salaf dahulu — bahkan sebelum mereka yang mengingkari ijtihad ini — kadang menempuh perjalanan jauh hanya untuk mendapatkan satu hadis, dari satu negeri ke negeri lain. Maka, ijtihad bagi ulama belakangan ini lebih mudah dan ringan dibandingkan ijtihad bagi ulama terdahulu. Dan tidaklah hal ini diingkari oleh siapa pun yang memiliki pemahaman yang benar dan akal yang lurus.”

Guru-guru

Asy-Syaukani adalah sosok yang memiliki semangat besar untuk mencari ilmu dan pengetahuan di berbagai sumber. Ia berpindah-pindah dari satu guru ke guru lain untuk menimba ilmu, sehingga sulit untuk melacak semua gurunya. Di sini kita hanya akan menyebutkan sebagian guru beliau yang terkenal, di antaranya:

  1. Ayahnya: Ali bin Muhammad bin Abdullah bin al-Hasan al-Syaukani (w. 1211 H).
  2. Ahmad bin Muhammad bin Ahmad bin Muthahhar al-Qabali (1158–1227 H).
  3. Ahmad bin ‘Amir al-Hada’i (1127–1197 H / 1715–1783 M).
  4. Ahmad bin Muhammad al-Harazi (1158–1227 H).
  5. Isma’il bin al-Hasan al-Mahdi bin Ahmad bin al-Imam al-Qasim bin Muhammad (1120–1206 H).
  6. al-Hasan bin Isma’il al-Maghribi (1140–1208 H).
  7. Shadiq ‘Ali al-Mazzajaji al-Hanafi (1150–1209 H).
  8. ‘Abd al-Rahman bin Hasan al-Akwa‘ (1135–1207 H / 1724–1772 M).
  9. ‘Abd al-Rahman bin Qasim al-Madani (1121–1211 H / 1709–1796 M).
  10. ‘Abd al-Qadir bin Ahmad Syarf al-Din al-Kawkabani (1135–1207 H).

Dan masih banyak lagi guru-guru beliau rahimahullah.

Murid-murid

Di antara murid-muridnya yang terkenal adalah:

  1. Putranya, Ahmad bin Muhammad bin Ali Asy-Syaukani
  2. Muhammad bin Ahmad As-Sudi
  3. Muhammad bin Ahmad Musyham As-Sha‘di Ash-Shan‘ani
  4. Ahmad bin Ali bin Muhsin
  5. Muhammad bin Muhammad bin Hasyim bin Yahya Asy-Syami
  6. Abdurrahman bin Ahmad Al-Bahlaki Adh-Dhamadi Ash-Shibya‘i
  7. Ahmad bin Abdullah Adh-Dhamadi
  8. Ali bin Ahmad bin Hājar Ash-Shan‘ani

Karya tulis

Imam asy-Syaukani rahimahullah meninggalkan warisan besar berupa karya tulis yang mencapai 278 judul. Sebagian besar dari karya tersebut masih dalam bentuk manuskrip, tersimpan di laci dan rak, dan hingga kini belum berkesempatan terbit atau dicetak. Di antara karya tulisnya adalah:

  1. Fath al-Qadir al-Jami’ bayna Fannay ar-Riwayah wa ad-Dirayah min at-Tafsir
  2. Al-Fawaid al-Majmu’ah fi al-Ahadits al-Maudhu’ah
  3. Ad-Durar al-Bahiyyah
  4. Ad-Darari al-Mudiyyah fi Syarh ad-Durar al-Bahiyyah
  5. As-Sail al-Jarrar al-Mutadaffiq ‘ala Hadaiq al-Azhar
  6. Nail al-Autar Syarh Muntaqa al-Akhbar
  7. Irsyad al-Fuhul ila Tahqiq al-Haqq min ‘Ilm al-Ushul
  8. Tuhfah adz-Dzakirin
  9. Al-Fath ar-Rabbani min Fatawa al-Imam asy-Syaukani
  10. Al-Badr ath-Thaali’ bi Mahasin man Ba’da al-Qarn as-Sabi’

Dan masih banyak lagi karya lainnya.

Pujian ulama

Ibrahim bin ‘Abdullah al-Houthi berkata tentangnya,

“Pemimpin para ahli takwil, ia mendengar (hadis), menulis, dan membuat telinga terpukau dengan fatwa-fatwanya yang indah. Ia meriwayatkan dan memberi manfaat, lembaran-lembaran fatwanya tersebar di berbagai negeri. Ia masyhur dengan ketelitian dan ketajaman analisis. Kepemimpinan ilmu dalam bidang hadis, tafsir, ushul, furu‘, sejarah, serta ilmu rijal dan keadaan sanad—dalam memperoleh sanad yang tinggi, membedakan antara sanad tinggi dan rendah, serta lain-lain—berakhir (berpusat) padanya.”

Luthf bin Ahmad Juhaf berkata tentang asy-Syaukani,

“Beliau adalah seorang mufassir, muhaddits, faqih usuli, sejarawan, sastrawan, ahli nahwu, logika, ilmu kalam, dan hikmah. Karya-karyanya telah tersebar di berbagai negeri sejak masa hidupnya, dan manusia tetap mengambil manfaat darinya setelah wafatnya. Tafsir beliau Fath al-Qadir dan kitab hadis Nayl al-Awthar termasuk sebaik-baik karya yang pernah disajikan untuk umat. Terlihat bahwa asy-Syaukani masuk dalam diskusi-diskusi fikih, menyebutkan pendapat para ulama beserta dalil-dalil mereka dalam menafsirkan setiap ayat yang berkaitan dengan hukum.”

Wafat

Imam asy-Syaukani rahimahullah wafat pada malam Rabu, tiga hari tersisa dari bulan Jumadal Akhirah tahun 1250 H / 1834 M, pada usia 76 tahun 7 bulan. Beliau disalatkan di Masjid Agung Sana’a dan dimakamkan di pemakaman Khuzaymah yang terkenal di kota Sana’a. Semoga Allah Ta’ala merahmati beliau dengan rahmat yang luas dan membalas jasanya kepada kita dengan sebaik-baik balasan.

Al-‘Allamah Hasan bin Ahmad al-Bahkali berkata tentangnya,

“Tahun lima puluh setelah dua ratus dan seribu (1250 H), pada bulan Jumada al-Akhirah, wafat guru kami Muhammad bin ‘Ali al-Syazkani, yang merupakan Qadhi al-Jama‘ah, Syekhul Islam, ulama peneliti yang alim, imam, sultan para ulama, imam dunia, penutup para huffazh tanpa keraguan, hujjah yang ahli kritik, memiliki sanad tinggi, yang terdepan di medan ijtihad.”

Wallahu a’lam.

Sumber: https://muslim.or.id/110177-biografi-imam-asy-syaukani.html

PERLUKAH DIALOG ANTARA TAMADUN?

Malaysia sebagai negara Islam yang maju dan progresif. Malaysia turut dilihat sebagai sebuah negara yang mampu mengekalkan diri-ciri kesederhanaan dan ini dapat apabila wakil negara kuasa besar yang datang itu mahu menjadikan negara ini sebagai contoh sebuah negara Islam yang berjaya.

Kita mengharapkan Malaysia dapat menganjurkan dialog antara agama yang melibatkan pelbagai negara bagi membolehkan terbentuknya persefahaman masyarakat berbilang bangsa. Ini dimungkinkan oleh sikap pelbabagi pihak yang berprasangka dan melihat perbezaan antara agama sebagai faktor yang menyebabkan persengketaan. Pelbagai pendapat dan teori mengenai ketidaktentuan pandangan telah menyebabkan agama dilihat sebagai impuls yang menjerumuskan konflik, perbalahan dan perseteruan yang berpanjangan, khususnya antara Islam dan Kristian.

Berdasarkan perubahan paradigma politik antarabangsa semasa, faktor perbezaan agama dikatakan berjaya membangkitkan kekacauan dan pengingkaran terhadap martabat kemanusiaan.  Ia dicuba dijawab oleh agama-agama dengan cara yang berbeza-beza.  Justeru sesuai dengan “Kebangkitan Kembali Agama-Agama” pada Milenium Ke 3, ekoran kemerosotan moral yang berlaku dalam faham kapitalis, sistem pengurusan dan perniagaan baru mencar-cari bentuk penyelesaian melalui kaedah kekuatan spiritual, emosi dan mistik korporat.

Agama sebagai sumber utama membangkitkan kekuatan moral, kembali ditonjolkan sebagai sumber motivasi dan agen perubahan yang semakin memberikan kesan. Dan, kerana itulah kekuatan nilai-nilai Islam telah dipandang serong oleh segelintir penganut agama Islam sehingga dianggap sebagai cabaran dan musuh terbesar.  

Kesan dari perubahan tanggapan inilah banyak pihak mula memberikan perhatian kepada Islam, termasuk alternative bagi menyelesaikan kemerosotan sistem kewangan kapitalis. Islam semakin meluas dikaji dan diteliti walaupun semakin banyak dicemoh, bilangan penganutnya semakin bertambah berbanding dengan agama-gama lain.

Bagi beberapa pengkaji hubungan antara Islam dan Kristian sama ada dari Amerika Syarikat, Eropah dan negara-negara timur telah melibat Islam mempunyai kekuatan tersendiri dan mampu menarik transformasi pemikiran dan peradaban. John Louis Esposito misalnya, amat tertarik dengan hasil tinjauan yang dilaksanakan oleh Gallups World Poll sepanjang tahun 2001 hingga 2007 ke atas 35 buah negara mojoriti penduduknya beragama Islam.

Melalui tinjauan tersebut, beliau merumuskan dapatan bahawa ahli-ahli yang mengkaji mengenai terosisme selama ini sebenarnya tidak mempunyai data lengkap untuk menjelaskan sikap Islam. Tinjaun tersebut memberikan gambaran bahawa 93 peratus responden muslim tidak pernah membenci Barat walaupun sebahagian besarnya bersikap kritis terhadap Barat.

Menurutnya lagi, walaupun muslim kritis terhadap Barat mereka tetap mengagumi banyak hal yang dilakukan Barat, seperti bidang teknologi dan kebebasan. Dan, kerana itulah beliau terus menggesa masyarakat antarabangsa supaya melihat kepada keputusan tinjauan tersebut dan biarkanlah data yang memimpin percakapan atau pembahasan mengenai Islam. Jangan lagi biarkan para ahli mengatakan hal-hal yang mereka fikirkan. Rumusan ini dapat dikaji melalui buku yang ditulis bersama Dalia Mogahed, Who Speaks For Islam: What A Billion Muslims Really Think, N.York: Gallup Press, 2007.

Namun keperluan mengenai dialog antara agama bukanlah merupakan desakan baru, ia telah begitu lama bertunjang dalam pemikiran masyarakat antarabangsa, cuma yang berbeza ialah apa tujuan dialog itu diadakan. Menurut Hans Kung, seorang pakar teologi Kristian menggambarkan bahawa adakalanya dialog antara agama terlalu berlebihan apabila cuba menggunakan aspek kemanusiaan sebagai kebenaran sesuatu agama. Setiap agama mempunyai dogmanya yang tersendiri, walau bagaimanapun etika dan pola perilaku agama-agama mempunyai banyak persamaan. Melalui pandangan itulah beliau sering mengharapkan akan munculnya dialog antara agama bagi mengurangkan konflik dan persengketaan yang berpanjangan atas masalah agama.

Kepelbagaian agama merupakan sifat semula jadi manusia, kerana itulah Karen Armstrong turut menjadi tokoh akademik yang banyak berusaha meluruskan pandangan negatif terhadap Islam. Berdasarkan pengalaman awalnya sebagai seorang rahib Katholik beberapa tahun, beliau kecewa mengenai Krsitian yang melihat agama-agama lain sebagai musuhnya. Setelah keluar dari lingkungan gereja, Karen Armstrong menjadi pengkaji tegar mengenai hubungan antara agama dengan mempelajari Islam secara menyeluruh dan  mendalam termasuk bahasa Arab klasik.

Pengkajiannya telah memperluaskan pandangan Barat terhadap Islam sehingga turut dianggap sebagai dua besar Islam di dunia Barat bersama-sama John L. Esposito, walaupun kedua mereka tetap berpegang kepada fahaman akademik, tidak memilih Islam sebagai pegangan agama.  

Berdasarkan kajiannya mengenai sejarah awal manusia mencari Tuhan dan memperkatakan sikap beragama, dalam The Great Transformation (Jakarta: Mizan Pustaka 2007), menjelaskan  zaman Aksial (zaman sebelum kewujudan Nabi Ibrahim a.s. sekitar tahun sebelum 1600 hingga 900 SM), Zoroaster, Konfusius, Buddha, Amos dan Socrates hidup dalam masa penuh kekerasan. Kekerasan, pergolakan politik, ketegangan agama mendominasi masyarakat zaman itu, dan agama-agama Aksial bertindak dengan cara mengembangkan sikap berbela rasa, cinta dan keadilan, melampaui ego dan kebencian.  

Jika zaman sebelum kelahiran nabi Ibrahim a.s agama-agama terawal sudah menunjukkan kerjasama masyarakat, saling bekerjasama maka tidak ada masalah untuk meluruskan hubungan antara Islam dan Kristian. Berdasarkan sikap dan keyakinan itulah Karen Armstrong menjadi terkenal dan dianggap tokoh penting dalam dialog antara agama selepas peristiwa pengeboman Pusat Dagangan Dunia pada 11 September 2001.  

Bagi umat Islam, dialog antara agama akan memberikan peluang untuk menjernihkan salah faham terhadap Islam terutamanya mengenai pandangan terhadap pengertian Jihad. Jihad yang dianggap sebagai punca terrosisme global berpunca daripada tingkahlaku ektrim penganut Islam apabila memperkatakan mengenai fundamentalisme. 
Fundamentalisme Islam dilihat bangkit setelah berlakunya Revolusi Iran pada tahun 1979 yang berjaya menumbangkan penguasaan Barat melalui pentadbiran Regim Shah Pahlavi.  Kegoncangan faham materialism dan kapitalisme penghujung abad ke-20 menjadikan Islam semakin dibenci dan telah menarik minat Pope John Paul II (1920-2005) untuk menganjurkan dialog dengan umat Islam.

Sebelumnya telah terdapat beberapa dialog antara cendekiawan Islam dan Kristian, sebahagiannya telah dibukukan antaranya dialog antara M.H.Finlay dengan Sumali Alwi pada tahun 1979, dan Ahmad Deedat dengan seorang paderi Kristian yang dibukukan pada tahun 1986.

Menurut Alwi Shihab, bekas Menteri Luar Indonesia di dalam bukunya Islam Inklusif, perkara yang penting dalam menganjurkan dialog antara agama ialah bukanya siapa  yang paling benar atau salah, bukan tujuan dialog.  Tujuan utama dialog ialah untuk mencari titik pertemuan atau garis persamaan antara agama, kerana bagi menentukan kebenaran dan kesalahan ia adalah urusan Allah SWT.  

Hasrat mencari titik pertemuan atau persamaan antara agama ialah bagi mengelakkan sikap fanatik, ego terhadap kebenaran agama yang dianuti dan terlalu menekankan perbezaan, lalu menghukumkan sesuatu perkara berdasarkan prinsip yang saling bertentangan.

Kerukunan hidup dan bermasyarakat antara manusia adalah menjadi asas titik pertemuan dialog antara agama. Dan, kerana itulah menurut  Leornard Swidler, penerbit Journal Ecumenical Studies,  dan Profesor Pemikiran Katolik di Universiti Temple berhasrat dengan melakukan dialog akan dapat mepersiapkan penganut-penganut pelbagai agama meneruskan kehidupan  secara aman dan harmoni.  

Berdasarkan pengertian mengenai perkataan agama, Al-Asfahani (meninggal pada tahun 503H) menjelaskan ad-Din digunakan bagi hal-hal berkaitan ketaatan dan balasan. Perkataan tersebut turut dimaksudkan dengan syariah. Walaupun ada pandangan mengatakan mencari definisi agama secara tepat adalah sia-sia dan tidak mungkin boleh dibuat, kerana sehingga kini belum ada definisi agama yang benar dan dapat diterima, menyebabkan ramai sarjana lebih berminat melihat sikap Bergama itu sebagai fenomena agama.

Menurut Ramli Awang, Dialog Antara Agama dari Perspektif Al-Quran (Skudai: Penerbit Universiti Teknologi Malaysia, 2008), nyatalah agama pada lazimnya bermakna kepercayaan kepada Tuhan, atau sesuatu kuasa yang ghaib dan sakti seperti dewa, selain ia juga melibatkan amalan dan tradisi yang berkait dengan kepercayaan tersebut. Justeru kepercayaan yang hanya melibatkan seorang individu lazimnya tidak dianggap sebagai sebuah agama. Sebaliknya agama haruslah melibatkan sebuah komuniti  manusia.

“Atas dasar itulah, agama adalah fenomena masyarakat yang dapat dikesan melalui perlakuan (seperti sembahyang, membuat sajian, perayaan dan upacara), sikap (sikap hormat, kasih ataupun takut kepada kuasa luar biasa dan pada anggapannya suci dan bersih di sisi agama), pernyataan (seperti jampi, mentera dan kalimat suci), dan benda-benda material yang zahir (bangunan contohnya masjid, gereja, kuil, biara,azimat dan tangkal).”

Dialog antara agama yang diasaskan untuk mencari nilai-nilai positif persamaan secara adil merupakan satu keperluan yang amat mendesak pada masa ini. Melalui aktiviti ini, setiap mereka yang mengambil bahagian akan dapat meluruskan salah faham di sampinng menghormati setiap perbezaan yang terdapat. Secara jelasnya, itulah yang diharapkan oleh Barrack Obama yang hendak disampaikan kepada Malaysia, agar Islam dan Barat akan tetap dilihat saling memerlukan.

Barat akan lebih menghormati sikap penganut Islam manakala percubaan menjadikan agama sebagai bentuk hagemoni baru dapat dikurangkan. Masing-masing individu menghormati kepelbagaian agama dan perbezaan asas, tidak lagi cuba mengungkit-ungkitkannya sebagai faktor utama membawa kepada persengketaan. Anatara Islam dan Kristian tetap ada harapan untuk bekerjasama, berhubung dan seterusnya menyumbang kepada keamanan sejagat.

NURUDDIN ZANGI: PEMBINA TAMADUN MELALUI KEADILAN, ILMU DAN KEBANGKITAN UMMAH

Nuruddin Zangi merupakan antara tokoh penting dalam sejarah kebangkitan dunia Islam sebelum era Salahuddin Al-Ayyubi. Walaupun namanya tidak selalu disebut sebaris dengan panglima besar yang membebaskan Baitulmaqdis, peranannya sangat asas dalam membina struktur tamadun yang menjadi landasan kepada kebangkitan tersebut.

Beliau bukan sekadar seorang pemerintah yang mengurus wilayah, tetapi seorang pembina sistem yang memahami bahawa tamadun tidak akan berdiri hanya dengan kekuatan tentera, tetapi dengan kekuatan iman, ilmu, keadilan dan institusi masyarakat yang kukuh.

1. Membina Tamadun Melalui Keadilan

Dalam pemerintahan Nuruddin Zangi, keadilan menjadi asas utama. Beliau dikenali sebagai pemerintah yang sangat menitikberatkan hak rakyat tanpa mengira kedudukan. Pemerintahannya menunjukkan bahawa kezaliman adalah musuh utama tamadun, manakala keadilan adalah tulang belakangnya.

Beliau memastikan pegawai-pegawai negara tidak menindas rakyat, dan beliau sendiri sering turun melihat keadaan masyarakat. Sikap ini menjadikan rakyat merasakan bahawa pemerintah bukan jauh di istana, tetapi dekat dengan kehidupan mereka.

2. Membina Institusi Ilmu dan Pendidikan

Salah satu sumbangan terbesar beliau dalam membina tamadun ialah penubuhan madrasah, pusat ilmu dan institusi pendidikan. Beliau memahami bahawa kekuatan sesebuah umat bukan terletak pada jumlah tentera semata-mata, tetapi pada tahap ilmu dan kesedaran rakyatnya.

Melalui sistem pendidikan ini, lahirlah generasi ulama, pemikir dan pemimpin yang memiliki kefahaman agama yang mendalam serta kesedaran sosial yang tinggi. Ini menjadi asas kepada pembentukan masyarakat yang berilmu dan berakhlak.

3. Menghidupkan Ruh Futuwwah dalam Kepimpinan

Nuruddin Zangi menghidupkan konsep futuwwah dalam pemerintahannya—iaitu keberanian yang berpaksikan akhlak dan ketundukan kepada Tuhan. Futuwwah baginya bukan sekadar keberanian di medan perang, tetapi keberanian untuk berlaku adil, menolak kezaliman, dan mengutamakan kepentingan umat berbanding kepentingan diri.

Beliau menunjukkan bahawa seorang pemimpin sejati bukan hanya kuat dari segi kuasa, tetapi kuat dalam menahan nafsu, mengawal kemarahan, dan menjaga amanah.

4. Membina Kesatuan Umat

Pada zamannya, dunia Islam berpecah kepada banyak wilayah kecil yang sering bertelingkah. Nuruddin Zangi berusaha menyatukan kekuatan umat Islam di bawah satu matlamat yang lebih besar, iaitu mempertahankan agama dan maruah umat.

Beliau menyedarkan bahawa perpecahan hanya melemahkan tamadun, manakala perpaduan menjadi asas kepada kebangkitan. Usahanya dalam menyatukan wilayah-wilayah Islam membuka jalan kepada kemunculan kekuatan besar yang kemudiannya diteruskan oleh Salahuddin Al-Ayyubi.

5. Membina Jiwa Kepimpinan yang Zuhud dan Tawaduk

Walaupun memiliki kuasa dan pengaruh, Nuruddin Zangi dikenali sebagai seorang pemimpin yang zuhud dan tidak terikat dengan kemewahan dunia. Beliau hidup sederhana dan menunjukkan contoh bahawa kepimpinan bukan ruang untuk kemegahan, tetapi medan amanah dan pengorbanan.

Sikap ini menjadikan beliau dihormati oleh rakyat dan ulama, kerana beliau memimpin dengan hati yang tunduk kepada Allah, bukan dengan kesombongan kuasa.

6. Asas kepada Kebangkitan Tamadun Besar

Warisan terbesar Nuruddin Zangi bukan hanya pada wilayah yang beliau perintah, tetapi pada sistem yang beliau bina—sistem keadilan, pendidikan, perpaduan dan akhlak kepimpinan. Semua ini menjadi asas kepada kebangkitan besar dunia Islam pada era selepasnya.

Beliau membuktikan bahawa tamadun tidak dibina dalam sehari, tetapi melalui proses panjang membentuk manusia, institusi dan nilai.

Kesimpulan: Tamadun Bermula dari Sistem Jiwa dan Sistem Masyarakat

Kisah Nuruddin Zangi mengajar bahawa tamadun yang kukuh tidak lahir daripada kekuatan sementara, tetapi daripada struktur yang dibina atas iman, ilmu dan keadilan.

Daripada keadilan lahir kepercayaan rakyat, daripada ilmu lahir kesedaran umat, daripada kesedaran lahir perpaduan, dan daripada perpaduan tertegaknya

Hubungi Kami

Alamat:
No.5B, Jalan 3/70 Damai Point, Seksyen 3, 43650 Bandar Baru Bangi. Selangor

Telefon: +60 17-377 7732
Email: alfalahmadani2022 [@] gmail.com

Jumlah Pengunjung

090414
Hari ini: 65
Minggu Ini: 990
Bulan Ini: 535
Tahun Ini: 90,414
Tahun Lepas: 52,147
Image

Alfalahmadani.my merupakan sebuah portal yang bertanggungjawab untuk bertindak sebagai penampan bagi setiap tuduhan, fitnah, kekeliruan, ketidakfahaman dan kecelaruan yang berlegar di minda rakyat. Sama ada isu-isu yang timbul secara organik di media sosial, ataupun yang didorong sebagai naratif oleh pihak-pihak tertentu,

Alfalahmadani.my akan menjawab setiap permasalahan dengan pengetahuan, kebijaksanaan dan kebenaran. Tentunya, kehadiran Alfalahmadani.my bukan berhasrat menyatakan kesempurnaan pemikiran, tetapi sebagai wahana untuk menuju kesempurnaan pengetahuan dalam konteks pemikiran semasa, dan kebijaksanaan yang mampu diusahakan.