MENGENAL SITT AL-MULK (DINASTI FATIMIYAH)

Perempuan dalam Khazanah Islam Abad Pertengahan (I)

Catatan peradaban Islam abad pertengahan selalu menarik untuk dikaji, masa yang diakui sebagai penaklukan dan kejayaan Islam membentang dari Afrika Utara hingga Hindukush India. Selain itu, Islam menjadi pusat intelektual, peletak dasar ilmu pengetahuan bidang sains, filsafat, dan kedokteran.

Historiografi di balik kejayaan peradaban ini tidak lepas dari kehadiran pemimpin revolusioner, memadukan kemajuan spiritualitas dan idealisme. Ilmu kalam dan sains berhasil menempatkan dirinya dalam lembaran tinta emas peradaban dunia yang tidak akan pernah pudar.
Akan tetapi, sumber-sumber sejarah tentang peran perempuan belum digali secara mendalam atau kurang mendapat perhatian. Kisah-kisah perjuangan mereka tertulis dalam bab terakhir sumber-sumber sejarah.

Padahal, kisah perjuangan dan kepemimpinan mereka penting untuk diamati dan dikaji, sebagai pembelajaran (ibrah) bagi generasi berikutnya, serta studi komparatif sejauhmana “peran perempuan” dalam khazanah kesejarahan Islam.

Salah satu kisah tentang kedudukan dan peran perempuan diabadikan dalam sejarah gemilang Daulah Fatimiyah, kekaisaran yang berkuasa selama lebih dari satu abad (909-1171). Di bawah otoritas para imam, Mesir menikmati masa kemakmuran ekonomi, stabilitas politik, serta administrasi tata kota pemerintahan yang baik.

Nasiri Kusraw mendeskripsikan tentang kondisi kehidupan abad kesebelas dalam naungan kerajaan terutama masyarakat yang tinggal dibagian utama ibukota; Fustat, Qarafa, dan Kairo.
“Di antara tempat ini, terkenal dua istana dengan arsitektur menakjubkan, Qasr al-Dzahab (istana emas) nan megah dan Qasr al-Bahr (istana sungai) yang dirancang astrolog kerajaan dengan mengikuti arah bintang-bintang. Arsitektur ini adalah maskot kerajaan yang tidak ditemukan di tempat lain.”

“Pasar lampu di dekat masjid Amr bin Ash, Fustat terbuat dengan kualitas terbaik tidak ada bandingannya di tempat manapun. Hampir dua ratus gudang menjual karya seni dari seluruh belahan dunia, termasuk artefak bertatahkan, batu kristal, tembikar halus, gading gajah dan segala macam buah dan sayuran serta madu dan gula ada di tempat ini.”

Di luar ibukota Fatimiyah, lanskap sosial mencerminkan keragaman agama penduduknya. Gereja, Sinagog dan tempat-tempat suci dilindungi secara hukum. Toleransi terjalin dengan baik, hidup berdampingan dan saling menghormati.

Di balik kesuksesan itu, terdapat seorang ratu bernama Sitt al-Mulk. Lahir di lingkungan gemerlap kekaisaran Ubaidillah, namanya masyhur di kalangan masyarakat Arab karena kecerdasannya dalam mengatur pemerintahan.

Dibesarkan dengan baik oleh sang ayah khalifah al-‘Aziz, menjadikannya sebagai pribadi unggul dan cerdas, terutama kemampuannya yang luar biasa dalam bidang hukum. Dan dicintai oleh masyarakat hingga atas nama khalifah ketiga, al-Dzahir mengangkatnya sebagai khalifah, menjalankan roda kekuasaan selama empat tahun antara 1020-1024 M.

Dalam buku Fatima Mernissi The Forgotten Queens of Islam, Sitt al-Mulk adalah salah satu putri khalifah yang paling cantik. Menggunakan wewangian langka dan perhiasan permata paling berharga ditambah tunik sutra, linen dan brokat terbaik kerajaan membuatnya terlihat makin mempesona.

Sikap toleran, dermawan dan pemberani adalah karakteristik pribadi Sitt al-Mulk. Keberhasilannya dalam menjaga stabilitas negara tidak lain karena sikap toleransi antarumat beragama karena potret Mesir pada saat itu sangat beragam.

Sikap toleransi Sitt al-Mulk tercermin dari sikap hormat terhadap Kristen dan Yahudi. Bahkan, ia berhasil menyelesaikan perseteruan pamannya Arsenius dan Aristes dan memberikan mereka jabatan tinggi dalam kerajaan. Sikap dermawan dan pemberani Sitt al-Mulk sama dengan sifat sang ayah yang membawa kekaisaran Fatimiyah makin maju.

Rasa hormat Sitt al-Mulk kepada komunitas Yahudi dan Kristen tidak lain karena dua hal. Pertama, ibu Sitt al-Mulk berasal dari Kristen Jarya asal Byzantium yang secara tidak langsung mempengaruhi praktik politik pemerintahannya.

Kedua, nilai toleransi dan kedermawanan modal utama, tidak hanya bagi Yahudi dan Kristen, tapi aliran lain. Ia merangkul semua elemen masyarakat dengan cara membangun lembaga pendidikan dan melibatkan mereka dalam struktur pemerintahan.

“Pemimpin besar adalah pemimpin yang toleran dan dermawan. Sebaliknya, pemimpin yang gagal adalah yang menumpahkan darah.” Ungkapan Ibnu Kallikan, refleksi dari kepemimpinan khalifah al-‘Aziz dan Sitt al-Mulk yang tegas, toleran, dermawan dan berbudi luhur.

Peran Sitt al-Mulk paling dominan adalah menjaga stabilitas politik. Pada musim Semi 13 Februari 1021, Mesir dalam kondisi genting karena patron kekuatan istana mulai goyah ketika menyebar berita hilangnya imam al-Hakim saudara Sitt al-Mulk.

Desas-desus seputar kematian al-Hakim yang menyebar dalam masyarakat menyatakan  bahwa sang “khalifah” meninggal disebabkan pembunuhan berencana kalangan istana. Sedangkan lainnya percaya imam al-Hakim mati di medan perang.

Akan tetapi, mayoritas masyarakat Mesir mulai meyakini al-Hakim dibunuh. Hal ini dikisahkan oleh Ibnu al-Athir, “hilangnya al-Hakim Ibnu Amrillah terjadi pada saat melakukan inspeksi malam seperti yang biasa dilakukan, dia berjalan ke timur Hilwan dan didampingi oleh dua pengawal, kemudian hilang tanpa jejak.”

Tiga bulan kemudian, sebuah tim investigasi yang dipimpin Mudaffar Saqlabi menemukan keledai tunggangan al-Hakim yang luka.

Dalam keadaan seperti ini, kehadiran Sitt al-Mulk di istana semakin meyakinkan. Berusaha menjaga kondisi Mesir tetap kondusif dan menghindari kekacauan.

Selama lima hari berikutnya, Sitt al-Mulk mengirim tentara menyisir perbukitan Kairo dan mencegah kemungkinan elite oposisi campur tangan dan mengganggu stabilitas politik. Selama empat tahun kekuasaannya, Sitt al-Mulk melakukan transformasi dalam kerajaan mulai dari tata kota, lembaga pendidikan, hingga memperkuat elemen militer.

Sumber: Qureta.com

TAJ MAHAL LAMBANG CINTA

Sebuah bangunan terkenal di kota Agra (sekitar 190 km dari New Delhi, India) yang merupakan peninggalan Kerajaan Moghul dan lambang kejayaan kerajaan tersebut. Bangunan itu bernama Taj Mahal yang secara harfiah bererti “istana pilihan”. Seni bina bangunan itu sangat indah dan termasuk salah satu daripada tujuh keajaiban dunia. Taj Mahal didirikan oleh Syah Jehan, pemerintah Moghul ke-5. Pembinaan Taj Mahal dimulakan pada 1632 dan Syah Jehan mengupah tidak kurang daripaa 20 000 orang bagi menyiapkannya. Reka bentuknya merupakan hasil kerja para arkitek dari India, Parsi (Iran) dan Asia Tengah. Bangunan itu siap pada 1643 dan menjadi lambang puncak kejayaan Kerajaan Monghul. Syah Jehan mendirikan bangunan itu untuk memperingati isterinya Mumtaz Mahal yang meninggal dunia pada 1631. Di Taj Mahal itulah Mumtaz Mahal disemadikan. Ketika Syah Jehan meninggal dunia (1658), baginda disemadikan di sebelah makam isterinya.

MUMTAZ MAHAL

Nama asal permaisuri Syah Jehan ialah Arjuman Banu Begum, tetapi beliau lebih dikenal dengan nama Mumtaz Mahal atau Nur Jehan. Wanita cantik ini dinikahi Syah Jehan pada 1612. Mumtaz meninggal di Burhanpur pada 1631, ketika melahirkan anaknya yang ke-14. Semasa hidupnya, Mumtaz mendirikan banyak sekolah, rumah untuk fakir miskin, dan tempat ibadat semua penganut agama, meskipun beliau dan suaminya beragama Islam.

MAKAM DIRAJA

Makam di raja Taj Mahal, tempat Syah Jehan dan isterinya disemadikan, berbentuk segi lapan. Bahagian atasnya ditutupi kubah. Dinding dan lantai bangunan ini diperbuat daripada batu marmar putih. Bangunan tersebut terdiri daripada lima ruang. Runag tengah, iaitu ruang terbesar, dihubungkan dengan empat ruang lainnya. Di ruang tengah inilah terletak makam Mumtaz Mahal dan makam Syah Jehan yang diperbuat daripada marmar putih.

KOMPLEKS TAJ MAHAL

Jalan masuk ke kompleks Taj Mahal dihiasi taman dan kolam air pancut yang indah. Pintu gerbangnya terletak di bahagian Selatan. Sebagai bangunan utama, makam diraja ini diapit oleh dua bangunan, masjid di sebelah barat dan balai pertemuan di sebelah timur. Di bahagian luar berdiri tegak empat buah menara berbentuk bulat yang berada di tiap-tiap sudut makam diraja.

SYAH JEHAN

Taj mahal didirikan oleh Shah Jehan, pemerintah Monghul ke-5. Sebelum meninggal dunia Syah Jehan merancang membina Taj Mahal versi lain yang bermarmar hitam sebagai makamnya. Namun sebelum keinginannya tercapai, beliau digulingkan dan dipenjara oleh anaknya, Aurangzeb dan meninggal dunia pada 1666.

PEMULIHARAAN

Setelah ratusan tahun, beberapa kerosakan mula timbul di Taj Mahal. Pada awal abad ke-20, pemerintah Inggeris di India memulakan pemuliharaan Taj Mahal dilindungi daripada pencemaran dengan menutupnya dengan fabrik dan menempatkan alat kawalan pencemaran.

CINTA SAJA TIDAK CUKUP UNTUK SELAMATKAN ANAK KITA

Kisah Nabi Nuh a.s. bukan sekadar kisah tentang banjir besar dan sebuah bahtera. Ia adalah kisah tentang iman, keluarga, kasih sayang, tanggungjawab ibu bapa dan hakikat bahawa cinta seorang ayah kepada anaknya tidak semestinya mampu menyelamatkan anak itu daripada kebinasaan jika anak tersebut memilih untuk berpaling daripada Allah.

Di sinilah letaknya salah satu pengajaran paling mendalam daripada kisah Nabi Nuh a.s.: kita boleh melahirkan seorang anak, membesarkannya, menyayanginya dan mendoakannya, tetapi kita tidak memiliki hatinya. Hidayah tetap milik Allah, sementara anak itu sendiri mempunyai pilihan dan tanggungjawab terhadap keimanannya.

Anak seorang nabi pun tidak terkecuali daripada hukum ini.

Al-Quran menceritakan bahawa Nabi Nuh a.s. mempunyai seorang anak yang enggan beriman. Ketika banjir besar melanda dan bahtera sedang bergerak di atas gelombang yang tinggi seperti gunung, Nabi Nuh masih memanggil anaknya:

“Wahai anakku, naiklah bersama kami dan janganlah engkau bersama orang-orang yang kafir.”

Namun anak itu menjawab bahawa dia akan berlindung di sebuah gunung yang akan menyelamatkannya daripada air bah.

Nuh menjawab:

“Tidak ada yang dapat melindungi pada hari ini daripada ketetapan Allah selain orang yang dirahmati-Nya.”

Lalu gelombang memisahkan antara mereka dan anak itu termasuk orang yang ditenggelamkan.

Bahtera Hari Ini Bukan Kayu, Tapi Didikan

Nabi Nuh menyediakan bahtera kayu yang menyelamatkan jasad. Kita hari ini perlu menyediakan bahtera didikan yang menyelamatkan iman. Ramai ibu bapa sibuk menyediakan kapal persiaran dunia untuk anak - tuisyen mahal, gajet canggih, baju berjenama - tetapi lupa membina bahtera solat, Al-Quran dan akhlak di dalam rumah. Tanpa bahtera ini, anak akan karam dalam banjir fitnah akhir zaman.

Gunung Yang Disangka Selamat

Anak Nuh berkata, “Aku akan berlindung di gunung.” Hari ini anak-anak kita juga mempunyai gunungnya sendiri. Gunung kawan-kawan, gunung populariti di TikTok, gunung alasan “nanti besar pandailah dia”. Gunung itu nampak tinggi dan selamat, tetapi semuanya akan tenggelam apabila ombak ujian Allah datang jika tidak ada iman sebagai sauh.

Isteri Nuh Juga Tenggelam - Didikan Ibu Sama Penting

Al-Quran menyebut isteri Nuh juga termasuk orang yang menentang (Surah At-Tahrim:10). Ini isyarat besar. Nuh berdakwah di luar selama ratusan tahun, tetapi di dalam rumah ada isteri yang tidak sehaluan. Iktibarnya: kesolehan ayah tidak cukup jika ibu tidak bersama mendayung bahtera yang sama. Bahtera keluarga mesti didayung oleh dua tangan, ayah dan ibu.

Jangan Berhenti Memanggil Walaupun Ombak Sudah Tinggi

Paling menyentuh hati ialah, Nuh memanggil anaknya ketika air sudah setinggi gunung dan bahtera sudah mula belayar. Maknanya, selagi nyawa anak masih ada, jangan pernah berhenti memanggil. Walaupun dia sudah jauh, sudah degil, sudah hanyut bersama kawan-kawannya, panggil lagi dengan cinta: “Wahai anakku, naiklah bersama kami.”

Di sinilah hati seorang ayah diuji pada tahap yang paling dahsyat. Nabi Nuh bukan seorang ayah yang tidak menyayangi anaknya. Sebaliknya, kasih seorang ayah tetap ada walaupun anaknya memilih jalan yang salah. Dalam keadaan bahaya yang hampir menelan segala-galanya, baginda masih memanggil anaknya supaya naik ke bahtera. Itulah cinta seorang ayah.

Tetapi kisah ini juga mengajar bahawa cinta tidak sama dengan hidayah. Cinta boleh memanggil, tetapi tidak mampu memaksa hati. Cinta boleh menasihati, tetapi tidak mampu menggantikan iman. Cinta boleh menyediakan bahtera, tetapi anak itu sendiri mesti memilih untuk menaikinya.

Cinta Tidak Dapat Menggantikan Iman

Selepas anaknya tenggelam, Nabi Nuh a.s. masih memohon kepada Allah. Baginda berkata:

“Wahai Tuhanku, sesungguhnya anakku itu daripada keluargaku dan sesungguhnya janji-Mu itu benar.”

Allah kemudian menjelaskan kepada Nabi Nuh bahawa anak tersebut bukanlah daripada keluarganya dalam pengertian yang dijanjikan keselamatan kerana amalannya bukan amal yang soleh.

Ayat ini bukan bermaksud hubungan darah menjadi tidak bernilai. Sebaliknya, ia mengajar bahawa hubungan darah mempunyai batas, sedangkan hubungan iman mempunyai kedudukan yang lebih tinggi di sisi Allah. Seorang anak tetap anak kita dari sudut darah. Kita tetap wajib menyayanginya, menjaganya dan menunaikan tanggungjawab terhadapnya. Tetapi keselamatan akhirat bukan diwarisi melalui nama keluarga, keturunan atau kedudukan ibu bapanya. Anak nabi tidak mendapat tiket percuma ke syurga. Demikian juga anak orang soleh. Kesolehan ibu bapa tidak boleh dipindahkan kepada anak seperti harta pusaka.

Cinta Perlu Tegas Dengan Kebenaran

Inilah puncak cinta yang tidak mengkhianati. Cinta sejati bukan bermaksud membela anak walaupun dia salah. Cinta sejati ialah berani mengatakan “Ini salah, wahai anakku,” walaupun hati sendiri remuk. Kita sayang anak, tetapi kita lebih sayang kebenaran Allah.

Nabi Tidak Mampu Memaksa Hidayah

Kisah Nabi Nuh juga mengajar satu hakikat yang sangat besar kepada ibu bapa: tugas kita ialah mendidik, menyeru dan menunjukkan jalan; hidayah adalah milik Allah.

Nabi Nuh berdakwah selama beratus-ratus tahun. Baginda menyeru kaumnya siang dan malam, secara terang-terangan dan secara sembunyi-sembunyi. Namun tidak semua menerima dakwahnya.

Jika seorang nabi yang begitu lama berdakwah pun tidak mampu menjadikan semua orang beriman, apatah lagi kita sebagai ibu bapa.

Sebab itu kita jangan terlalu cepat menyalahkan diri sendiri apabila anak melakukan kesilapan. Tetapi pada masa yang sama, jangan pula menjadikan alasan “hidayah milik Allah” sebagai alasan untuk kita tidak mendidik mereka.

Hidayah milik Allah, tetapi pendidikan adalah tanggungjawab kita. Kita tidak boleh berpeluk tubuh. Kita mesti bina bahteranya hari ini, sebelum banjirnya tiba esok.

HIDUP BERAT, MENIKAH ADALAH PILIHAN YANG TEPAT?

“Ah, berat sekali hidup ini. Banyak sekali beban. Lebih baik menikah saja. Pasti menyenangkan. Ada seseorang yang bisa diandalkan.”

Memiliki hidup yang membosankan dan dirasa berat, beberapa perempuan rentang usia 17-20 tahunan pasti pernah mengeluh seperti itu. Lelah dengan perkuliahan dan tugas yang tiada akhir menjadi salah satu alasan terbesar yang mengantarkan pikiran mereka untuk segera menikah. Perempuan pikir dengan menikah, kuliah bukanlah menjadi sebuah prioritas. Padahal menikah atau tidak menikah, sebuah pendidikan adalah hal yang penting dan harus diselesaikan.

Ada pula yang berpikir bahwa menikah adalah pilihan yang tepat daripada menjalani hidupnya sekarang ini. Merasakan hidup yang monoton, kesepian, dan tak ada teman berbagi cerita kala di rumah juga bisa mengantarkan pikiran bahwa menikah mungkin lebih indah. Apalagi memiliki orangtua yang sibuk dengan pekerjaannya dan bahkan suka mengekang, menikah pasti menjadi sebuah bayang-bayang untuk kabur dari rumah.

Melihat teman-teman, sahabat, orang sekitar, dan bahkan selebriti yang menikah muda, perempuan pasti juga ingin merasakannya. Kebahagian pasangan menikah muda yang mereka lihat menjadi iming-iming bahwa menikah pasti menyenangkan. Terngiang bahwa menikah itu indah dan mudah dijalani.

Pernah merasa disakiti dan kecewa serta lelah bergonta-ganti pacar menjadikan perempuan berpikir lebih baik menikah. Menikah mungkin bisa menjadikan laki-laki setia hingga akhir hidupnya karena sudah terikat oleh agama dan negara. Maka, perasaan kecewa dan sakit hati karena pasangan tak akan dirasakannya. 

Dengan berbagai alasan, bukan sesuatu yang asing lagi bahwa perempuan berkeinginan menikah lantaran berpikir jika semua masalah yang ada dan tengah dihadapi akan selesai dan hilang begitu saja.

Realitas kebanyakan pasangan menikah muda setelah menikah tidak merasakan seperti apa yang dibayangkannya. Menikah bukan tentang menjemur pakaian berdua, saling bercerita di teras rumah, menghitung bintang di kala malam, saling bertukar pelukan, atau saling mengecup di kala jumpa atau berpisah. Menikah bukan hanya mencari sponsor baru pengganti orangtua, yang akan memberi kita makan, minum, atau uang untuk sekadar bersenang-senang. 

Menikah ternyata adalah perkara yang lebih rumit dari itu. Menikah terkadang bukan menyelesaikan masalah, justru menambah beban dan tanggung jawab yang berat. Tanggung jawab terhadap keluarganya sendiri, terhadap keluarga besar, dan terlebih kepada Tuhan. Kamu juga tidak akan bebas sebebas apa yang kamu pikirkan.

Menikah muda membutuhkan adaptasi yang besar karena pada usia 17-20 tahunan pola pikir belum begitu matang dan masih ingin merasakan kebebasan. Akan sulit menjalani berbagai hal yang benar-benar kamu inginkan sambil memikirkan perasaan pasangan kamu dan meminta izin mereka sebelum melakukan sesuatu, bukan? 

Saat menghadapi konflik, kondisi emosi yang cenderung belum stabil mengakibatkan perbedaan ego dan pendapat sehingga sering terjadi pertengkaran. Membangun rumah tangga juga memerlukan pengelolaan uang yang baik. Sedangkan sifat kekanakan, ingin bebas, suka menghamburkan uang menyebabkan kondisi penghasilan tidak mencukupi untuk kebutuhan sehari-hari.

Pernikahan muda juga sering kali menyebabkan seorang perempuan tidak lagi meneruskan sekolahnya. Berpikir bahwa menikah adalah sebuah bentuk ibadah dan lebih baik daripada kuliah. Padahal apakah menuntut ilmu bukan bentuk ibadah juga? Adapun alasan dikarenakan ia merasa mempunyai tanggung jawab baru sebagai istri dan calon ibu.  

Pernikahan muda juga bisa menyebabkan gangguan perkembangan kepribadian dan menempatkan anak yang dilahirkan berisiko terhadap kekerasan dan keterlantaran. Akibat sifat kekanakan dan keegoisan orangtua mereka yang belum cukup matang dan pendewasaan yang masih berkembang.

Namun bukan berarti semua pasangan yang menikah muda pasti mengalami kegagalan dalam perjalanan rumah tangganya. Seperti artis Natasha Rizky yang memutuskan untuk menikah pada umur 19 tahun. 

Menikah muda bukanlah suatu halangan untuk dirinya dalam berkarier dan melakukan kegiatan lainnya. Rumah tangganya bersama Desta juga cukup tenteram, tak ada sorotan media yang menunjukkan pertengkaran. Dibuktikan bahwa ia juga mampu menjadi seorang ibu yang baik kepada dua anaknya walaupun disibukkan dengan dunia kerja.

Menikah adalah sebuah pilihan masing-masing orang. Pilihan yang diputuskan dengan banyak pertimbangan. Termasuk tentang pertimbangan bahwa menikah itu bukan hanya sekadar menemukan pasangan hidup. 

Menikah sebenarnya adalah sebuah perjalanan baru. Menikah membutuhkan kesiapan, baik kesiapan biologis ataupun psikologis. Kedewasaan dan tingkat kematangan psikologis tidak ditentukan dari segi usia, melainkan dari cara berpikir seseorang terhadap sesuatu. 

Setiap orang pasti berbeda, tidak bisa dipaksakan untuk mengikuti satu standar tertentu. Menikah sekarang atau menikah nanti semuanya tergantung pada diri sendiri. Kapan pun kamu menentukannya, pasti akan tiba masanya menjalani peran sebagai seorang istri dan ibu untuk anakmu. Asalkan sudah benar-benar matang dan siap dari segi pola pikir, mental, dan finansial, menikah bukan lagi menjadi hal yang sulit dilakukan.

Sumber: Qureta.com

HADIAH DARI ISLAM UNTUK KAUM PEREMPUAN

Perempuan adalah makhluk ciptaan Allah yang sangat luar biasa, darinya lah kemudian lahir generasi-generasi hebat dengan bermacam-macam ilmu yang dikuasainya. Bahwa perjuanagan seorang perempuan dalam mengandung calon anak-anaknya kurang lebih sembilan bulan, waktu yang tidak sebentar. Selain itu pada proses melahirkannya nanti ia berjuang antara hidup dan mati, nyawa sebagai taruhannya. Perempuan adalah sekolah pertama bagi anak-anak keturunannya. Anak-anak adalah fitroh tergantung bagaimana orang tuanya mendidik dan memberikannya pendidikan.

Ada banyak catatan lembar hitam tentang perempuan bagaimana ia diperlakukan dulu masa jahiliyah sebelum Islam datang. Pelecehan, penghinaan, pelampiasan syahwat, dan diskriminasi lainnya adalah hal yang biasa mereka dapatkan. Seolah predikat perempuan  waktu itu memang untuk diperlakukan demikian. Sanagat tidak manusiawi sama sekali.

Akibat dominasi budaya jahiliyah, tidak sedikit perempuan terpaksa dipingit, dipasung dan dibelenggu. Mereka tidak diidzinkan menuntut ilmu, menikmati pendidikan tinggi, berkarir, bekerja dan memiliki profesi. Posisi perempuan dalam lingkum sosial masyarakat juga kurang diperhitungkan, perempuan hanya terbatas di wilayah domistik saja sebagai penjaga kasur, sumur dan dapur.

Kedudukan Perempuan Pra Islam, Penindasan dan Penyiksaan  

Kaum perempuan zaman jahiliyah dulu sebelum Islam datang biasa mereka diperlakukan semena-mena, tidak dihargai dan selalu disakiti. Bahkan kehadiran bayi wanita dianggap aib yang akan merendahkan martabat suatu kabilah. Mereka menilai mengubur hidup-hidup bayi wanita lebih terhormat daripada membiarkannya hidup.

Perempuan tak ubahnya seperti budak-budak, ketika suaminya meninggal maka ia boleh diwariskan layaknya sebagai harta suami. Ia tidak boleh menikah lagi jika tidak mendapatkan persetujuan dari keluarga sang suami. Tetapi ia boleh bebas menikah asalkan mampu menebus dirinya dengan sejumlah harta.

Seorang laki-laki boleh menikah dengan perempuan banyak tanpa ada batasan khusus, bahkan ada laki-laki yang mempunyai isteri lebih dari 900. Dalam praktek seperti ini bagaimana mungkin satu laki-laki mampu memberikan nafkah secara adil terhadap isteri-isterinya, karena sifat manusia memiliki keterbatasan-keterbatasan. Praktek menikah dengan banyak perempuan sangat tidak bermoral sama sekali dan hanya untuk memuaskan syahwat diri sendiri.

Selain itu isteri-isteri sang suami boleh ditukar dalam jangka tertentu sesuai kesepakatan dengan laki-laki lain. Perempuan-perempuan tak lebih dari sebuah barang yang tidak berharga dan tidak ada nilainya. Para lelaki memperlakukan semena-semena terhadap mereka. Suami juga bebas menceraikan isteri-isteri sesuai kehendak dirinya, sedang sang isteri tidak mempunyai hak cerai sama sekali.

Kita yang hidup saat ini hanya bisa menerka-nerka bagaimana ketidak adilan yang dilakukan terhadap para perempuan dan diskriminasi lalu membandingkan dengan penghormatan yang diberikan terhadap mereka setelah datangnya Islam. Memang masa jahiliyah dalam sejarahnya norma-norma belum diajarkan dengan benar, perempuan hidup dalam posisi sangat tidak menguntungkan sama sekali.

Kedudukan Perempuan Setelah Islam Datang, Hadiah Untuk Mereka

Di antara misi datangnya Islam adalah  untuk memperbaiki norma dan moral ummat manusia pada saat itu, meskipun dalam perjalanannya masuknya Islam tidak langsung diterima dengan baik, tetapi banyak yang menolak bahkkan mengancam untuk membunuh Nabi Muhammad sebagai pembawa risalah. Tetapi pelan-pelan atas gigih dan semangat perjuangan beliau akhirnya Islam dapat diterima oleh sebagian orang sedang yang lain tetap melakukan perlawanan terhadap Nabi Muhammad akan ajaran yang dibawanya.

Moral-moral bejat yang ada pada masa jahiliyah dan sudah membudaya pelan-pelan diperbaiki oleh Islam. Islam datang memproklamirkan kemanusiaan perempuan sebagai manusia utuh. Perempuan adalah mahluk yang memiliki harkat dan martabat yang setara dengan laki-laki sebagaimna ditegaskan dalam an-nisa’ ayat 1 bahwa perempuan dan laki-laki diciptakan dari unsur yang satu. Muhammad sangat gigih mengikis budaya jahiliyah yang tidak manusiawi dan melecehkan perempuan. beliau memperjuangkan terwujudnya ajaran Islam yang akomodatif terhadap nilai-nilai kemanusiaan.  Secara bertahap beliau mengembalikan hak-hak asasi perempuan sebagai manusia utuh dan merdeka.

Termasuk perlakuan dan diskriminasi terhadap kaum perempuan yang sudah membudaya. Praktek mengubur anak perempuan hidup-hidup di larang oleh Islam. Sebagaimana ditegasakan dalam al-Anam ayat 151. Dalam ayat tersebut dikatakan bahwa kehadiran anak perempuan jangan dijadikan beban karena takut kemiskinan, karena Allah lah yang akan memberi rezeki. Islam mengajarkan bahwa perempuan sama seperti laki-laki. Maka perlakuan terhadapnya juga harus sama, bukan malah di tindas atau diperlakukan semena-mena.

Secara tegas Islam juga melarang tradisi mewariskan perempuan setelah ditinggal suami sebagaimana ditegaskan dalam an-Nisa’ ayat 19. Selain itu Islam memberikan hak waris terhadap kaum perempuan sebagamana ditegaskan dalam an-Nisa’ ayat 7.

Islam juga membatasi laki-laki dalam menikah dengan perempuan yaitu maksimal empat orang dengan syarat si suami bisa berlaku adil terhadap isteri-isterinya sebagaimana termaktub dalam an-nisa’ ayat 3. Jika tidak bisa maka satu isteri labih baik.

Budaya menceraikan perempuan sesuka hati di ataur oleh Islam dimana dahulu laki-laki bebas menceraikan tanpa batas maksimal. Dengan datangnya Islam suami hanya mempunyai hak cerai maksimal dua kali dan setelah itu tidak boleh rujuk kembali. Demikian pula seorang isteri juga mempunyai hak cerai, yaitu khuluk.

Islam datang untuk memberikan hak-hak yang memang dimiliki perempuan, memanusiakan perempuan secara utuh. Bagaimana mungkin perempuan yang juga manusia diperlakukan tidak seperti manusia.

Tetapi Islam tetap memberikan batasan-batasan khusus terhadap kaum perempuan abik lingkup domestik maupun publik, dan itu bukan berarti merusak moral. Ruang lingkup domistik misalnya, setelah beristeri perempuan terbatasi dengan suami-suaminya. Ia tidak boleh keluar rumah tanpa ada idzin dari suami, berpuasa sunnah juga harus ada idzin dari suami. Dan ini bukan brarti diskriminasi perlakuan laki-laki, tetapi untuk mengangkat derajat perempuan itu sendiri karena peranan seorang suami dalam keluarga adalah sebagai pemimpin.

Kehadiran kaum perempuan dan laki-laki merupakan satu pasangan yang saling melengkapi, sesuai dengan asas ketentuan umum dalam penciptaan alam semesta secara keseluruhan. Dengan keberadaaan yang saling melengkapi ini jika salah satu unsur tidak menjalankan tugas dan fungsinya secara benar maka akan mengalami kerusakan atau ketidak beresan pada unsur yang lain.

Dari sifat saling melengkapi anatara perempuan dan laki-laki, Allah menjadikan perempuan mempunyai tugas dan barangkali sebgai fitroh yang berbeda dalam beberapa hal dengan laki-laki. Seperti mengandung, melahirkan, menyusui dan semacamnya. Pun demikian seorang laki-laki mempunyai kewajiban lain yang bertujuan membentu perempuan dalam melaksanakan kewajibannya dan fitrah tersebut, seperti mencari nafkah, memenuhi kebutuhan perempuan dan anak-anak, dan semacamnya.

Menurut Sayyid Qutub kehadiran pria dan wanita tidak bisa dipisahkan dengan keutuhan dan keserasian sebuah keluarga. Keserasian dan keutuhan ini bisa berjalan dengan lancar manakala masing-masing pria dan perempuan menjalankan tugas dan fungsinya masing-masing dengan baik. Pada gilirannya, keberhasilan sebuah keluarga merupakan suatu dasar keberhasilan bangsa dan tanah air.  

Zamakhsyari mengatakan bahwa perbedaan kewajiban dan hak dalam Islam bertujuan untuk menciptakan kemaslahatan bersama, bukan untuk mendorong menghalalkan praktek diskriminasi.

Jadi memang posisi dan tugas perempuan itu tidak sama, ada wilayah yang memang khusus untuk laki-laki dan ada wilayah yang khusus untuk perempuan dan itu untuk kemaslahatan dan agar saling melengkapi satu dan yang lain.

Hubungi Kami

Alamat:
No.5B, Jalan 3/70 Damai Point, Seksyen 3, 43650 Bandar Baru Bangi. Selangor

Telefon: +60 17-377 7732
Email: alfalahmadani2022 [@] gmail.com

Jumlah Pengunjung

112478
Hari ini: 34
Minggu Ini: 1,487
Bulan Ini: 8,846
Tahun Ini: 112,478
Tahun Lepas: 52,147
Image

Alfalahmadani.my merupakan sebuah portal yang bertanggungjawab untuk bertindak sebagai penampan bagi setiap tuduhan, fitnah, kekeliruan, ketidakfahaman dan kecelaruan yang berlegar di minda rakyat. Sama ada isu-isu yang timbul secara organik di media sosial, ataupun yang didorong sebagai naratif oleh pihak-pihak tertentu,

Alfalahmadani.my akan menjawab setiap permasalahan dengan pengetahuan, kebijaksanaan dan kebenaran. Tentunya, kehadiran Alfalahmadani.my bukan berhasrat menyatakan kesempurnaan pemikiran, tetapi sebagai wahana untuk menuju kesempurnaan pengetahuan dalam konteks pemikiran semasa, dan kebijaksanaan yang mampu diusahakan.