MUNCULNYA PEREMPUAN AL-MUTABARRIJAT JADI TANDA KIAMAT MAKIN DEKAT, SIAPAKAH DIA?

Kiamat adalah rahasia Allah SWT yang sudah pasti adanya, namun hanya Allah SWT yang tahu kapan datangnya. Meski begitu, di dalam Al-Quran sendiri telah dijelaskan tentang tanda-tanda datangnya kiamat. Seperti munculnya imam mahdi, munculnya dajjal, hadirnya kaum Ya'juj dan Ma'juj, dan sebagainya.

Selain itu, tanda kiamat yang menunjukkan semakin dekat adalah banyaknya perempuan al-mutabarrijat. Lalu, siapakah yang dimaksud dengan perempuan al-mutabarrijat?

Dikutip dari kitab Syaik Mahmud Al-Mishri, Rihlah Ila Ad-Dar Al-Kahirah, bahwa salah satu tanda kiamat segera datang adalah munculnya orang-orang yang berpakaian tetapi telanjang.

Bahkan Rasulullah saw juga memberitahukan bahwa perempuan yang dimaksud seperti itulah yang nantinya akan menjadi penghuni neraka. Di mana ia tidak istiqomah dengan hijabnya dan terus-menerus seperti itu.

Bagi sesiapa yang ingin mengetahui secara lebih dalam tentang perempuan al-mutabarrijat, berikut sebagaimana dirangkum melalui berbagai sumber.

Apa yang Dimaksud Berpakaian tapi Telanjang?

Mungkin kita akan bertanya-tanya tentang apa yang dimaksud dengan berpakaian tapi telanjang? Apakah ada bagian yang terbuka atau bagaimana?

Menurut Syekh Yusuf Al-Qardhawi melalui fatwa kontemporer, yang dimaksud dengan berpakaian tetapi telanjang adalah pakaian yang tida berfungsi untuk menutup auratnya. Bisa karena pakaian itu yang terlalu tipis atau pakaian itu yang terlalu sempit.

Bahkan dalam sebuah hadis dijelaskan bahwa Aisyah pernah menegur beberapa perempuan yang mengenakan pakaian sangat tipis.

Kalau kamu orang mukmin, maka bukan semacam ini pakaian wanita-wanita mukmin." (HR Thabrani dan lain-lain).

Selain itu, di dalam Al-Quran pun Allah SWT sudah memerintahkan umat-Nya untuk menutup aurat. Sebagaimana dijelaskan dalam surat An-Nur ayat 31:

Dan katakanlah kepada para perempuan yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali yang (biasa) terlihat. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau para perempuan (sesama Islam) mereka, atau hamba sahaya yang mereka miliki, atau para pelayan laki-laki (tua) yang tidak mempunyai keinginan (terhadap perempuan) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat perempuan. Dan janganlah mereka menghentakkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertobatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung." (QS. An-Nur: 31)

Mengenakan Pakaian yang Sesuai dengan Syariat Islam

Islam hadir di tengah umat manusia untuk mengatur bagaimana sebaiknya manusia hidup dengan baik dan mendatangkan dampak yang baik juga untuk manusia. Salah satunya dalam hal berpakaian.

Di mana Allah SWT sudah menetapkan bagaimana seharusnya seseorang harus berpakaian dengan baik, terutama pada perempuan. Melalui penjelasan di atas, hendaknya perempuan mengenakan pakaian yang sesuai dengan syariat Islam. Di mana tidak memperlihatkan lekuk tubuhnya yang bisa mendatangkan fitnah.

Syekh Yusuf Al-Qardhawi mengatakan bahwa model pakaian yang seperti itulah adalah ciptaan dari perancang busana Yahudi Internasional. Di mana mereka mempermainkan manusia seperti boneka.

Sumber : dream.co.id

SIAPAKAH YANG MEMINDAHKAN SINGGAHSANA RATU SABA’?

Kisah tentang kerajaan Nabi Sulaiman menjadi cerita yang menarik dari generasi ke generasi. Al-Quran pun menceritakan dengan lengkap, namun kita tidak sepenuhnya mampu memahami makna dan hikmah yang Allah sampaikan melalui ayat-ayat itu. Tidak sedikit dari kita hanya menceritakan kembali apa yang pernah kita dengar dari orang tua atau saudara kiita, tanpa pernah meneliti kembali bahagian-bahagian penting dari kisah itu, sehingga boleh melepaskan diri dari kesalahan yang mungkin diwariskan secara turun-temurun.

Bahagian yang penting dan perlu diteliti adalah, mengenai siapa yang memindahkan singgahsana Ratu saba’ ke dalam Islatana Nabi Sulaiman.Sebahagian besar berpendapat bahwa yang memindakan singgahsana itu adalah Jin Ifrit, kerana dia dikenal sebagai jin yang cerdik dan kuat fizikalnya. Akan tetapi, apabila diteliti baris-baris dari ayat al-Quran dalam surah an-Namal ayat 39-40 Allah berfirman dengan bermaksud,

“Akulah dari golongan jin berkata, ‘Akulah yang kan membawanya kepadamu sebelum engkau berdiri dari tempat dudukmu; dan sungguh, aku kuat melakukannya dan dapat dipercaya.’

Seorang yang mempunyai ilmu dari Kitab berkata, ‘Aku akan membawa singgahsana itu kepadamu sebelum matamu berkedip.’

Maka, ketika dia (Sulaiman) melihat singgahsana itu terletak dihadapannya, dia pun berkata, ‘Ini termaasuk kurnia Rabbiku untuk mengujiku, apakah aku bersyukur, maka sesungguhnya dia beryukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri, dan barang siapa ingkar, maka sesungguhnya Rabbiku Mahakaya, Mahamulia.”

Ayat di atas jelas menayatakan bahawa, yang membawa singhsana itu ke dalam istana Nabi Sulaiman bukan jin Ifrit, kerana dia tidak cepat dan tidak cerdik dari seorang hamba Allah yang memiliki ilmu dari Kitab. Hamba Allah itu mampu membawa singghsana itu ke hadapan Nabi Sulaiman sebelum dia mengedipkan mata. Sedangkan jin Ifrit hanya mampu membawanya ke hadapan Nabi Sulaiman sebelum bangkit dari tempat duduknya.

Peristiwa ini memberikan pelajaran yang tetap mengukuhkan keunggulan manusia di atas makhluk Allah yang lain, bahkan jin sekalipun. Hamba Allah yang berhasil membawa singghsana itu digambarkan dengan kata alladzi ‘indahu ‘ilmun minal kitab (yang mempunyai ilmu dari Kitab). Mengamati kata-kata itu dengan baik dan berfikir, apakah pesan yang ingin Allah sampaikan kepada kita melalui peristiwa tersebut.

Hamba Allah itu mampu menempuh jarak antara negeri Saba’ yang di sekitar wilayah Yaman dan kerajaan Nabi Sulaiman yang berada di Wilayah Jurusalem (sekitar 2.022 km) dengan membawa singgahsana besar dengan berat ratusan kilogram, hanya dalam waktu kurang dari kerdipan mata. Apakah ini sebuah mukjizat, atau karomah, atau mungkin sebagai bahagian dari kemajuan teknologi pengangkutan di zaman Nabi Sulaiman?

Bila peristiwa itu disebut sebagai mukjizat atau karomah, redaksi kata dalam ayat itu sangat jelas menyatakan bahawa hamba Allah itu memiliki ilmu yang digali dari kitab (alladzi indahu ilmun minal kitab). Ilmu yang membuat dia mampu melakukannya. Sehingga Nabi Sulaiman sangat bangga dengan apa yang dilakukan hamba tersebut dengan berucap, “Ini termasuk kurnia Tuhanku untuk mengujiku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya), dan siapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan siapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Mahakaya lagi Mahamulia.”

Apakah kemajuan teknologi saat ini sudah ada yang mampu menggabungkan kekuatan dan kecepatan seperti itu dalam satu jenis alat pengangkutan?

Allah s.w.t memberikan stimulasi untuk kita mau memperlajari dan meneliti hanya dalam beberapa ayat al-Quran. Menyingkap suatu disiplin ilmu yang belum terungkap agar boleh memberi lebih banyak manfaat bagi kehidupan. Pada setiap ayat tersebut pula, Allah s.w.t selalu menyertakan pemberitahuan bahawa tidak ada sesuatu pun di dunia ini yang berada di luar kendali-Nya; dan kepada Allah pula kita akan kembali dan mempertanggungjawabkan apa yang pernah kita perbuat selama hidup. Sebagaimana firmannya, “Tidakkah kamu tahu bahwa Allah memiliki kerajaan langit dan bumi? Dan tidak ada bagi kalian pelindung dan penolong selain Allah.” Surah al-Baqarah ayat 107.

REZEKI, KASIH SAYANG DAN CINTA DALAM MEMBANGUN KEHIDUPAN

Burung pipit (sparrow) adalah antara burung yang terkecil dan dalam kehidupan seharian, kita mudah temuinya. Pipit kadangkala juga dikenali sebagai ciak, dan tentunya bila mendengarkan perkataan itu kita akan segera teringat tentang burung ciak rumah; burung kecil yang bertenggek di celahan atap, kayu perabung atau ruang sisi atap rumah.
 
Dalam kehidupan psikologi, burung pipit membawa banyak pengajaran yang boleh kita pelajari, bahkan merenung secara mendalam tentang ghairah hidup, cinta dan kasih sayang. Salah satu cerita yang masyhur ialah kecewa seekor burung pipit betina, setelah siap membina sarangnya, tiba-tiba malam itu muncul angin kencang. Angin itu meruntuhkan seluruh sarangnya, dengan hari yang kecewa, burung pipit berkeluh kesah, lalu mengecam apa yang berlaku.
 
Kecaman itu didengar, lalu keluhan itu dijawab dengan suatu suara: angin kencang muncul pada malam itu, ketika pipit sedang nyenyak tidur, Tuhan ingin menyelamatkan penghuninya. Seekor ular besar sedang menerpa ke arah sarang itu, lalu muncullah angin kencang. Sarang itu jatuh, tetapi burung pipit terbang bertenggek di dahan yang lain. Pipit selamat walaupun sarangnya musnah, yang penting dirinya selamat.
 
Ketika kita dilanda musibah, kita seorang mengeluh menyalahkan apa sahaja, termasuk keadaan dan iklim. Dalam dunia sufi, dan juga dalam kepercayaan umat Islam, setiap apa yang berlaku ada pengajarannya dan setiap musibah ada ikhtibar yang perlu difahami, kerana Allah SWT tidak menjadikan "sesuatu dengan sia-sia".
 
Seorang ulama sufi Mesir, Muhammad bin Abu Bakar al-Ushfuri yang hidup pada abad ke-17 telah menyusun sebuah buku mengandungi 40 hadis Rasulullah SAW yang dikaitkan dengan cinta dan kasih sayang. Setiap hadis yang ditadaburkan itu mempunyai cerita atau hikayatnya sendiri, yang berkaitan dengan peristiwa ataupun kisah-kisah khusus dalam kehidupan yang dikumpulkan.
 
Kisah itu terkumpul dalam Kitab Mawaizh Ushfuriyah yang menjadi salah satu koleksi pengajaran di pesanteran sebagai "cerita petang" bagi meneguhkan keimanan secara deduktif kepada para pelajar. Kitab itu diterjemahkan ke bahasa Indonesia dengan judul, Belajar Cinta Dari Seekor Burung Pipit (2019), dengan hampir setiap hadis ada cerita yang berkait (hikayat), kecuali lapan hadis.
 
Dalam Islam, sebagaimana kita fahami bahawa penciptaan makhluk, alam semesta, udara, air dan sebagainya adalah bukti kasih sayang Allah. Allah SWT adakan semuanya itu untuk manusia (makhluk) sedangkan Allah SWT tidak mengharapkan kasih sayang makhluk. Cara memposisikan kedudukan itu, Syeikh Muhammad bin Abu Bakar yang lahir di Damascus tetapi menetap lama di Mesir sehingga kematiannya pada tahun 1103H/1692M cukup sederhana dan penuh kerendahan hati.
 
Walaupun tidak banyak maklumat mengenai kehidupan sehariannya, kita dapat menggambarkan bagaimana kerendahan hati sehariannya, dengan ungkapan dan pengakuan yang jujur dan ikhlas. Syeikh Muhammad menyifatkan dirinya sebagai "hamba yang penuh dosa", yang telah lama "terbenam dalam lautan dosa dan angkara". Jarang kita temui kejujuran begitu dalam diri seseorang, kecualilah pada diri mereka yang zuhud, dan sentiasa bergerak dalam setiap nafas untuk membersihkan diri. Tanpa sentiasa mengekalkan keadaan diri yang bersifat, tidak akan muncul ketenangan. Itulah jalan tasawuf atau jalan yang dilalui oleh sufi sejati.
 
Apa yang kita dapati, Belajar Cinta Dari Seekor Burung Pipit (BCBP) ini menggambarkan antara "kedalaman spiritual" dan "kesungguhan taubat" di mana sabda Rasulullah SAW sejumlah 40 yang dipilih diberikan makna sebagai "pelita hidup", juga sebagai "perjalanan batin" pengarangnya dalam perjalanan batin yang penuh kerendahan hati dan penyesalan, dengan mengharapkan rahmat Allah SWT.
 
Apa yang kita faham tentang burung pipit? Selain kisah sarangnya yang jatuh ditiup angin, kita juga memahami sifat asasnya burung pipit ialah sangat penyayang. Burung pipit juga digambarkan telah membantu menyelamatkan nasib Khalifah Umar RA dari siksaan kubur.
 
Suatu hari, ketika menyusuri kota Madinah, Umar terserempak dengan seorang anak remaja lelaki yang sedang memegang dan bermain-main dengan seekor burung. Hari kecil Umar cukup terasa, lalu menawarkan remaja itu untuk menjualnya. Setelah dibeli, Umar kemudian melepas-bebas burung itu untuk pertama kalinya sejak ditangkap.
 
Setelah Umar meninggal dunia, ulama bermimpi bertemu. Laku ditanyakan lah apa yang berlaku kepada Umar: Apa yang telah Allah lakukan terhadapmu?". Umar menjawab: "Allah memaafkanku dan mengampuni dosa-dosamu.". Ulama masih belum puas dengan jawapan itu, lalu terus bertanya: Apa yang telah membuatkan Allah mengampunimu? Apakah kerana kedermawananmu, atau kerana kezuhudanmu?"
 
"Tidak lama setelah kamu menguburku dan menimbuskanku dengan tanah, kamu meninggalkan aku bersendirian. Ketika itu datanglah dua malaikat yang cukup bengis. Akalku melayang dan seluruh sendiku terasa sakit dan sengal. Kedua malaikat itu memegangku, kedudukan dan hendak bertanya, tiba-tiba muncul suara ghaib: "Tinggalkanlah hamba-Ku ini dan jangan kamu berdua menyakitinya. Sesungguhnya aku menyayanginya dan telah Ku-ampuni dosa-dosanya. Sebab, di dunia ia menyayangi seekor burung sehingga Aku pun menyayanginya di akhirat ini." (hal. 2-3)
 
Kisah itu merupakan hikayat pertama daripada dua hikayat yang menjadi kisah sebuah hadis yang bermaksud: Dari Abdullah bin Umar RA, Rasulullah SAW bersabda: Para penyayang akan disayangi oleh Sang Maha Penyayang. Maka, sayangilah semua makhluk di muka bumi, nescaya kamu akan disayangi oleh sesiapa pun yang ada di langit.".
 
Hikayat kedua, yang dikaitkan dengan hadis tersebut ialah kisah seorang ahli ibadah dari Bani Israel. Ahli ibadah itu menemukan segundukan [selonggok] pasir, lalu berkhayal: Seandainya gundukan [longgokan] itu tepung, nescaya aku akan berikan kepada sebuah Bani Israil sehingga setiap perutnya kenyang."
 
Jelas Syeikh Muhammad bin Abu Bakar, maka Allah SWT berfirman kepada salah seorang nabi dari mereka: "Sampaikanlah kepada di fulan ' Allah akan tetap memberiku pahala meskipun engkau hanya membayangkan seandainya gundukan pasir itu tumpukan tepung maka engkau akan menuedekahkannya"
 
"Ketahuilah", tegas ulama sufi itu "barang siapa menyayangi hamba-hamba Allah, nescaya Allah akan menyayanginya." Tetapi, seseorang itu perlu ingat bahawa "ketika di hamba tadi menunjukkan rasa sayangnya kepada sesama hamba Allah dengan ucapan 'Seandainya gundukan ini adalah tepung nescaya aku akan membuat orang-orang itu kenyang", tambah Syeikh " ia sudah mendapat pahala seperti kalau dia benar-benar melakukannya." Jelaslah, niat baik akan meraih pahala dan bertambah lagi jika niat baik itu dilaksanakan dengan rendah hati dan sejujurnya.
 
(Bersambung)

PERNIKAHAN DAN SEBUAH PENGAKUAN

Pernikahan sebuah momen yang sakra; bagi sepasang kekasih. Di mana mereka disatukan lalu saling berucap janji meresmikan ikatan perkahwinan secara norma agama, norma hukum, norma adat dan norma sosial.

Di Indonesia, upacara pernikahan sudah diatur sedemikian rupa oleh adat serta budaya yang mengikat, agar kesakralan sebuah pernikahan tidak hilang. Dan diharapkan kedua mempelai mampu mempertahankan pernikahan mereka sehingga maut memisahkan.

Menurut Wikipedia, budaya merupakan suatu cara hidup atau kebiasaan yang berkembang, dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang, dan diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya merupakan bagian tak terpisahkan dari diri manusia.

Masing-masing daerah memiliki budaya upacara pernikahannya sendiri. Seperti, upacara pernikahan budaya Jawa akan berbeda dengan upacara pernikahan budaya minanh; lalu ada upacara pernikahan budaya Batak, Bali dan masih banyak lagi.

Harus kita akui, pada saat ini, semua orang berpacu untuk memenuhi standar yang diciptakan oleh sosial, termasuk dalam hal pernikahan. Budaya untuk mendapatkan sebuah pengakuan sudah tertanam di benak masyarakat.

Jika melangsungkan acara pernikahan dengan mewah dan meriah, maka tentu akan diakui keberadaan, kekayaan, serta kedudukannya di dalam suatu lingkungan sosial.

Para orang tua sengaja membuat mewah pernikahan yang digelarkan untuk anaknya demi memperlihatkan betapa ber-uangnya dia, agar status sosialnya selalu menjadi buah bibir dan disanjung oleh orang yang hadir ataupun yang mendengar.

Banyak pasangan kekasih ingin menikah, namun terkendala oleh berbagai macam tuntutan, baik tuntutan dari pihak keluarga maupun mempelai sendiri. Semua tak lepas dari keinginan agar mendapatkan sebuah pengakuan.

Menikah itu tidak perlu mewah, yang penting berkah. Tak jarang karena terlalu sibuk mempersiapkan acara resepsi mewah, lupa dengan keberkahan dari pernikahan. Menikah dengan bermewah-mewahan hanya akan menambah beban pikiran bagi pasangan mempelai maupun keluarga.

Bukan hanya ketika mempersiapkan pernikahan, setelah resepsi pernikahan pun akan dipusingkan oleh biaya yang belum terselesaikan. Bagi seorang crazy rich dari kalangan selebritis lainnya, tentu ini tidak akan menjadi masalah.

Jangan takut dibilang pernikahanmu tidak berkelas hanya karena digelar sederhana; karena indahnya pernikahan itu tidak tergantung kepada seberapa besar kamu menyelenggarakan resepsi pernikahan, tetapi seberapa besar niatmu memutuskan untuk saling mencintai dengan jalur yang telah ditetapkan dalam pernikahan, serta menjaga janji pernikahan yang harus dipertanggungjawabkan.

Percayalah, sebenarnya pernikahan berkelas itu di mana ketika kita mampu menyederhanakannya dengan ilmu, cinta dan kasih sayang.

YANG TERBAIK UNTUK KELUARGAKU

Semua orang yang bergelar ibu dan bapa ingin menjadi yang terbaik buat anak-anaknya. Malah rasa keinginan itu menjadi kuat apabila mengingatkan sabdaan Nabi s.a.w, daripada Aisyah r.a, “Sebaik-baik kamu adalah yang paling baik kepada keluarganya, dan aku adalah yang paling baik kepada keluargaku.” (Riwayat al-Tirmizi)

Ini bermaksud, menjadi yang terbaik buat anak-anak dan keluarga bukan sahaja merupakan suatu keinginan, tetapi saranan dan sunnah baginda s.a.w. Rasulullah memberikan pujian secara tidak langsung menjadi galakan kepada lelaki supaya berbuat baik kepada keluarganya dengan gelaran ‘sebaik-baik kamu’.

Apabila melihat anak-anak, maka kita sedang melihat refleksi diri semasa masih kanak-kanak dan remaja. Mereka bagaikan cermin yang memantulkan kembali kenangan silam yang penuh dengan kesilapan dan pembetulan. Kita sentiasa melihat perjalanan hidup menjadi dewasa pada hari ini adalah dengan melewati jejak-jejak naif yang memberi kesan pelajaran serta kebangkitan pada masa lalu.

Banyak sekali peristiwa atau kenangan pada zaman kanak-kanak yang masih kita ingati sampai hari ini seperti menerima sijil kecemerlangan, dipuji di hadapan orang lain dan pelbagai lagi. Begitu juga dengan kenangan pahit yang masih terpahat di ingatan kita, seperti dimarahi oleh guru, pergaduhan dengan rakan sekelas, atau dimalukan oleh ahli keluarga di hadapan orang lain.

Interaksi dua hala pada zaman kanak-kanak merupakan tempoh mempengaruhi minda separa sedar seorang insan. Kenangan termanis akan terakam dan kenangan terpahit akan terpahat dan mudah terpancar dalam ingatan bila sudah dewasa kelak. Dewasanya kita pada hari ini adalah hasil interaksi orang lain, khususnya ibu bapa kita semasa kanak-kanak.

Perhatikan bagaimana layanan Rasulullah s.a.w terhadap kanak-kanak. Apabila baginda melewati kanak-kanak sedang bermain, baginda akan menegur mereka. Apabila baginda menziarahi kaum Ansar, baginda akan menyapa anak-anak mereka dan meletakkan tangannya di atas kepala mereka menunjukkan belas kasihan baginda. Apabila tentera Islam pulang dari medan Mu’tah, Rasulullah s.a.w melihat kanak-kanak yang datang menyambut mereka dalam perjalanan pulang ke Madinah. Rasulullah s.a.w bersabda, “Ambil anak-anak itu dan dukung mereka dan berikan saya Ibnu Ja‘far.” Mereka memberikan ‘Abdullah bin Ja‘far kepada baginda dan baginda memegang tangan kanak-kanak itu. Begitulah halus dan penuh kasih sayangnya cara interaksi Rasulullah s.a.w kepada kanak-kanak.

Apabila kita berbicara tentang cara interaksi kepada anak-anak, maka perbincangan ini tidak lengkap sekiranya kita melupakan cara interaksi dengan ibu anak-anak itu. Malah sepatutnya perbincangan ini perlu dimulakan dengan cara interaksi dengan isteri dahulu kerana interaksi pertama bagi seorang lelaki sebelum adanya anak-anak adalah interaksi kepada isterinya.

Cara interaksi yang bijak dengan seorang wanita adalah dengan mencari kunci kepada emosinya. Rasulullah s.a.w menasihatkan para lelaki untuk melayani kaum wanita dengan penuh kebaikan dan sentiasa berusaha memahami emosi mereka. Rasulullah s.a.w menasihati para bapa untuk mendidik anak perempuan mereka dengan cara yang terbaik. Malah ganjaran menjaga anak perempuan dengan baik ini adalah keakraban dengan Rasulullah s.a.w di Akhirat kelak. Sabda Rasulullah s.a.w, “Barangsiapa yang menjaga dua orang anak perempuan sehingga mereka dewasa, dia dan aku pada Hari Kebangkitan nanti seperti ini.” Rasulullah s.a.w bersabda sambil merapatkan dua jarinya.

Perhatikan wanita-wanita di sekeliling kita mengikut peringkatnya. Yang pertama tentulah ibu, kedua adalah isteri, dan yang ketiga adalah anak perempuan. Justeru, kebaikan yang kita tonjolkan kepada anak perempuan tidak bermakna, tanpa didahului dengan kebaikan yang ditonjolkan kepada isteri, bahkan didahului dengan ibu sendiri!

Asas interaksi sesama manusia ini boleh disuluh melalui hadith Rasulullah s.a.w, “Sesungguhnya Allah menciptakan Nabi Adam dari segenggam tanah, yang Allah ambil dari semua (arah) bumi, maka bani Adam datang (tercipta) mengikut kadar bumi, di antara mereka ada yang (berkulit) merah, putih dan hitam, dan di antara mereka ada yang lembut, keras, jelik (perangai) dan bagus (perangai).” (Riwayat al-Tirmizi)

Perhatikan rupa bentuk bumi yang berbeza. Jenis tanah yang berbeza. Langsung memberi kesan perbezaan kita berjalan dan merentas di atasnya. Cara kita berjalan di atas tanah keras berbeza dengan cara kita berjalan di atas tanah yang lembut. Seseorang akan berjalan dengan bersahaja di atas tanah yang keras, tetapi penuh berhati-hati berjalan di atas tanah yang lembut.

Sifat semulajadi insan yang berbeza mempengaruhi keputusan yang diambil. Jika kita bertanya soalan yang sama kepada beberapa individu mesti kita akan menemukan jawapan yang tidak sama, bersesuaian dengan karakter individu-individu tersebut.

Cuba kita bertanya kepada seorang individu yang mungkin agak keras karakternya tentang bagaimana dia memperlakukan anaknya yang suka membidas suruhannya. Mungkin jawapannya adalah dengan merotan. Berbanding soalan sama yang kita tanya dengan individu yang lembut karakternya. Mungkin jawapannya adalah dengan menasihati.

Malah cara interaksi setiap individu juga berbeza. Mungkin ada orang yang bercakap dengan penuh emosi, atau berbicara dengan kata-kata yang tajam menikam hati, atau berkata-kata dengan penuh sopan dan teratur. Cuba bertanya pengalaman orang yang pernah menjadi panel temuduga mengambil pekerja, pasti dia akan menemukan dengan pelbagai karakter manusia dan pelbagai bentuk jawapan.

Justeru, persoalan yang perlu kita jawab adalah – apakah kita telah berpuas hati dengan ilmu yang kita miliki pada hari ini? Apakah kita merasakan kita sudah cukup menjadi yang terbaik untuk isteri dan anak-anak?

Ya, kita tidak boleh berasa cukup. Apabila kita mula berasa sudah cukup, maka kita tidak akan mampu untuk menerima ilmu dan pembaharuan. Air hanya turun di tempat yang rendah. Ilmu hanya boleh dicurahkan kepada hati yang rendah.

Hubungi Kami

Alamat:
No.5B, Jalan 3/70 Damai Point, Seksyen 3, 43650 Bandar Baru Bangi. Selangor

Telefon: +60 17-377 7732
Email: alfalahmadani2022 [@] gmail.com

Jumlah Pengunjung

029611
Hari ini: 61
Minggu Ini: 1,470
Bulan Ini: 5,541
Tahun Ini: 29,611
Tahun Lepas: 52,147
Image

Alfalahmadani.my merupakan sebuah portal yang bertanggungjawab untuk bertindak sebagai penampan bagi setiap tuduhan, fitnah, kekeliruan, ketidakfahaman dan kecelaruan yang berlegar di minda rakyat. Sama ada isu-isu yang timbul secara organik di media sosial, ataupun yang didorong sebagai naratif oleh pihak-pihak tertentu,

Alfalahmadani.my akan menjawab setiap permasalahan dengan pengetahuan, kebijaksanaan dan kebenaran. Tentunya, kehadiran Alfalahmadani.my bukan berhasrat menyatakan kesempurnaan pemikiran, tetapi sebagai wahana untuk menuju kesempurnaan pengetahuan dalam konteks pemikiran semasa, dan kebijaksanaan yang mampu diusahakan.