KISAH BUAH DELIMA: 1 JADI 10

Cuaca yang sedang panas ini sebenarnya ingin mengeluh. Tapi buat apa mengeluh. Toh semua sudah desain Allah. Saya jadi khawatir ‘jangan-jangan tidak ridha atas qadha dan qadhar dari Allah SWT.

Untuk menghibur diri, saya tulis suatu kisah tentang ‘rezeki mengejar” Ali bin Abi Thalib. Berikut ceritanya:

Suatu hari, Fatimah Az-Zahra sakit. Hingga ia tidak bisa bangun dari tempat tidur. Ali bin Abi Thalib sudah memberi beberapa makanan dan minuman. Ia tidak selera. Karena kondisi semakin memburuk, Ali memohon agar perutnya diisi dengan beberapa suap makanan agar sakit tidak bertambah parah.

Fatimah pun berkata: “Wahai sayang ku, tolong belikan delima. Rasa nya sungguh terasa nikmat dalam angan-angan ku”.

Ali pun bergegas pergi ke Pasar. Ia membeli satu buah delima. Setelah membeli, ia langsung bergegas pulang. Namun di tengah perjalanan bertemu orang miskin yang sedang kelaparan. Ia pun meminta belas kasihan. Akhirnya delima itupun diberikan kepada pengemis tersebut.

Ali pulang tidak membawa buah delima. Ketika suaminya tidak membawa apa yang diinginkan, fatimah pun menangis. Ali merasa serba salah. Ia pun keluar rumah dengan tujuan akan membeli delima ke Pasar.Di tengah jalan bertemu dengan Salman Al-Farisi. Ia membawa buah delima. Kata nya: “Wahai Ali, ini ada buah delima dari Rasulullah saw”.

Ali menghitung. Ada 9 buah delima di nampan. Dia pun tidak menerimanya. Bukan karena menolak rezeki tersebut. tapi jumlah tersebut tidak sesuai dengan sabda Rasulullah bahwa “orang yang membantu satu kebaikan akan dibalas sepuluh kebaikan”.

Salman Al-Farisi tersenyum. Ia pun mengeluarkan satu Delima kepada Ali hingga berjumlah 10 delima. Ali pun tersenyum dan pulang menemui Fatimah dengan membawa10 buah delima.

Kisah di atas mirip kejadianku tadi malam. Malam itu saya teringat ada seseorang ibu yang anak nya sedang sakit. Entah kenapa hatiku tergerak untuk membahagiakan nya. Secara spontanitas saya memberi nya Rp. 100.000,00-seratus ribu rupiah. Selesai memberi nya, saya pun jalan-jalan dengan anak ku membeli minyak wangi dan jajan di Mini Market.

Setelah sholat dhuha sekitar jam 09.15 menit, saya membuka laptop. Seperti biasa: menulis. Belum sempat menulis, ada seorang hamba allah menelpon ku. Dia tanya apakah saya berada di rumah. Saya menjawab kepadanya bahwa pagi ini saya berada di rumah.

Hamba Allah tersebut datang ke Rumah. Saya menyiapkan kueh donat dan buah melon dingin yang sudah diiris-iris kecil. Sisa belanja tadi malam. Setelah ngobrol ngalor-ngidul, dia pun mengatakan bahwa kedatangan nya ke rumah ku tiada lain ingin bersedekah uang. Berapa jumlah nya? 1 juta rupiah.

Subhanallah. Saya jadi teringat sedekah tadi malam: seratus ribu. Pagi ini Allah membalas 10X lipat: 1 juta rupiah.

Sepenggal kisah dan pengalaman pribadi ini tentu bukan menyamakan status seseorang. Sungguh sangat su’ul adab jika disamakan saya dengan sahabat yang tercinta Nabi Muhammad SAW.

Namun kisah tersebut di atas adalah suatu bukti bahwa kebenaran sunnah Nabi bukan terbatas pada masa nya, tetapi melintasi sepanjang masa. Siapapun yang berbuat baik, apakah pendosa atau tidak, muslim atau tidak selalu saja akan mendapatkan balasan kebaikan yang stimpal.

Saya-dan tentu saja mungkin anda-pernah berbuat baik dan merasa ‘tidak’ mendapatkan balasan apa-apa berkaitan dengan rezeki dalam wujud harta. Pada saat itu sebenarnya Allah telah bekerja dan membalas rezeki dalam bentuk lain. Bisa jadi rezeki ditukar dalam bentuk kesehatan, mendapatkan keturunan, dan kebahagiaan lahir dan batin. Tapi kadang kita tidak menyadarinya.

Tidak mengapa kita tidak menyadarinya. Tapi kita harus tetap berprinsip dalam hidup bahwa kita sekuat tenaga selalu menanam kebaikan. Apapun yang bis akita lakukan. Mungkin hari ini kita tidak memanen kebaikan tersebut. bisa jadi nanti anak-anak kita atau cucu-cucu kita yang akan menanam kebaikan. Dari sini bukti bahwa kebaikan tidak akan tertukar dengan kejelekan sampai kapan pun. Kebaikan akan dibalas kebaikan. Begitu juga sebaliknya.

Sumber: imamghozali.id

MERENUNGI USIA YANG TAK PERNAH KEMBALI

Lihatlah helai-helai rambut yang dahulu hitam pekat, kini mulai disusupi uban. Kulit yang dulu kencang mulai mengendur di sana-sini. Tenaga yang dulunya seolah tak pernah habis, kini mudah terkuras, dan tubuh lebih sering menuntut untuk istirahat. Jika Anda merasakan hal itu semua, sesungguhnya cermin itu sedang menyampaikan suatu pesan yang sering terabaikan oleh kita. Bahwa umur kita tidak lagi muda, dan jatah hidup di dunia kian menyusut.

Tentu, kita sering mendengar kabar duka. Tetangga, teman, atau kerabat yang seusia—bahkan lebih muda—telah mendahului kita. Kita hadir di pemakaman, memanjatkan doa, lalu pulang dan sibuk kembali dengan urusan dunia. Padahal, esok atau lusa, telah menjadi suatu keniscayaan bahwa giliran kita pula lah yang akan diturunkan ke liang lahat. Kematian adalah kepastian yang paling nyata, namun kita pun sering melalaikannya seakan-akan mustahil kita menghadapi kematian. Padahal Rasulullah ﷺ mengingatkan yang bermaksud,

“Perbanyaklah mengingat pemutus kenikmatan, yaitu kematian.” (HR. At-Tirmidzi no. 2307, An-Nasa’i no. 1824, dan disahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih At-Tirmidzi)

Maka, bagi kita yang rambutnya mulai beruban, yang langkahnya mulai melambat, dan yang napasnya mulai sering tersengal, ini adalah momen paling krusial untuk berhenti sejenak untuk melakukan muhasabah. Melihat diri kemudian bertanya, “Untuk apa sisa usia ini akan aku habiskan?”

Tidak diciptakan sia-sia

Saudaraku yang dirahmati Allah, pernahkah kita bertanya: Apa sih tujuan kita hidup di dunia? Apakah hanya sekadar untuk lahir, makan, minum, bekerja, menikah, memiliki anak, menua, lalu mati begitu saja? Pasti ada maksud dan tujuan mulia yang lebih besar dari semua ini. Allah Ta’ala tidak mungkin menciptakan manusia dan alam semesta yang begitu megah hanya untuk kesia-siaan. Allah Ta’ala berfirman yang bermaksud,

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Az-Zariyat [51]: 56)

Ayat ini pendek, tetapi pertanggungjawabannya panjang sekali di akhirat kelak. Kita semua dituntut untuk tunduk pada aturan Sang Pencipta sepanjang hidup kita di dunia. Namun, ada fenomena yang mengherankan di tengah kita. Ada orang yang begitu taat dan loyal pada peraturan pekerjaannya. Ia rela bangun dini hari, menerobos kemacetan, dan takut terlambat hanya karena ancaman potongan gaji atau surat peringatan dari atasannya. Ia hafal betul SOP pekerjaannya. Tapi, kepada Allah yang menggenggam nyawanya, yang memberinya rezeki dan kesehatan, ia begitu berani menunda-nunda perintah-Nya. Salat diakhirkan. Tobat ditunda. Al-Qur’an dibiarkan berdebu.

Apakah kita mengira akan dibiarkan begitu saja tanpa dimintai pertanggungjawaban?

Allah Ta’ala berfirman yang bermaksud,

“Apakah manusia mengira bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggungjawaban)?” (QS. Al-Qiyamah [75]: 36)

Kata “سُدًى” dalam ayat ini berarti sia-sia, tanpa perintah, tanpa larangan, tanpa hisab. Sungguh, ini adalah sanggahan yang sangat keras. Manusia yang lalai mungkin merasa hidupnya bebas, tetapi hakikatnya ia sedang berjalan menuju mahkamah pengadilan Allah yang mahaadil. Di hari itu, tidak ada pengacara. Tidak ada suap. Yang ada hanyalah catatan amal yang akan berbicara. Maka, selagi masih ada waktu, sebelum kita menjadi penghuni liang lahat, mari tanyakan pada diri sendiri: apakah sisa usia yang Allah berikan ini akan saya gunakan untuk mengejar dunia yang pasti saya tinggalkan, ataukah untuk mengejar akhirat yang kekal?

Maut semakin mendekat

Pernahkah Anda merasakan bahwa hari-hari terasa begitu cepat berlalu? Pagi baru saja berganti siang, tiba-tiba sore sudah menyapa, lalu malam datang, dan tanpa terasa, Subuh kembali berkumandang. Rasanya baru kemarin kita merayakan Ramadan yang lalu, kini Ramadan berikutnya sudah di ambang pintu. Ini bukan sekadar perasaan. Rasulullah ﷺ telah mengabarkan bahwa salah satu tanda dekatnya hari kiamat adalah waktu yang terasa semakin singkat. Beliau bersabda yang bermaksud,

“Tidak akan terjadi hari kiamat hingga ilmu dicabut, banyak terjadi gempa, dan waktu terasa berdekatan (sangat cepat).” (HR. Al-Bukhari no. 1036)

Dalam riwayat lain, Rasulullah ﷺ bersabda yang bermaksud:

“Waktu akan terasa saling berdekatan, sehingga setahun terasa seperti sebulan, sebulan terasa seperti sepekan, sepekan terasa seperti sehari, dan sehari terasa seperti satu jam.” (HR. Ahmad no. 10943 dan At-Tirmidzi no. 2332, disahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 8093)

Waktu terasa cepat berlalu dan jatah hidup kita juga lebih cepat habis. Maka, semakin kita sibuk dengan urusan dunia, semakin kita tidak terasa bahwa umur terus terpangkas. Oleh karenanya, sadarilah bahwa tidak ada kata “pensiun” dalam ibadah. Kewajiban kita untuk menyembah Allah melekat hingga malaikat maut datang menjemput. Allah Ta’ala berfirman yang bermaksud,

“Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu keyakinan (kematian).” (QS. Al-Hijr [15]: 99)

Lalu, setelah mendengar dalil-dalil mulia ini, masihkah ada alasan bagi kita untuk menunda-nunda tobat? Maut tidak menunggu kita siap. Ia datang tiba-tiba. Bisa jadi malam ini adalah malam terakhir kita. Bisa jadi sujud kita barusan adalah sujud terakhir. Jangan sampai penyesalan datang di waktu yang sudah tidak berguna.

Bekal sebelum datangnya penyesalan

Salah satu tipu daya setan yang paling sering memakan korban adalah bisikan untuk menunda-nunda amal. “Nanti saja kalau sudah tua, baru fokus ibadah. Sekarang mumpung masih kuat, cari uang dulu, nikmati hidup dulu.”

Bisikan ini begitu halus, tetapi mematikan. Padahal, tidak ada satu pun dari kita yang mendapat jaminan akan mencapai masa tua. Dan seandainya pun kita diizinkan Allah mencapai usia senja, beribadah dalam kondisi fisik yang melemah tentu tidak akan seoptimal ketika tubuh masih prima. Salat malam yang dulu sanggup kita lakukan, kini mungkin hanya menjadi kenangan karena lutut sudah berderak saat sujud. Puasa sunnah yang dulu ringan, kini terasa berat karena lambung sudah tak lagi kuat.

Oleh karena itulah, Rasulullah ﷺ memberikan wasiat yang sangat agung dan layak kita jadikan sebagai wallpaper hati kita yang bermaksud,

“Manfaatkanlah lima perkara sebelum datangnya lima perkara: masa mudamu sebelum datang masa tuamu, masa sehatmu sebelum datang masa sakitmu, masa kayamu sebelum datang masa miskinmu, masa luangmu sebelum datang masa sibukmu, dan masa hidupmu sebelum datang kematianmu.” (HR. Al-Hakim no. 7846 dalam Al-Mustadrak, dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 1077)

Coba kita telaah satu per satu:

1) Masa muda sebelum masa tua. Jika Anda sekarang sudah merasa tidak muda lagi, maka ini semakin mendesak. Sisa kekuatan yang ada, gunakanlah segera. Jangan ditunda.

2) Masa sehat sebelum masa sakit. Syukuri kesehatan hari ini, karena besok bisa saja kita terbaring tak berdaya.

3) Masa kaya sebelum masa miskin. Harta kita yang sebenarnya bukanlah saldo rekening yang akan diwariskan kepada ahli waris. Harta kita yang sejati adalah yang kita infakkan di jalan Allah saat kita masih hidup.

Rasulullah ﷺ pernah bertanya kepada para sahabatnya yang bermaksud,

“Siapakah di antara kalian yang lebih mencintai harta ahli warisnya daripada hartanya sendiri?”

Para sahabat menjawab, “Tidak ada, wahai Rasulullah. Setiap kami lebih mencintai hartanya sendiri.”

Beliau pun bersabda yang bermaksud,

“Sesungguhnya hartanya (yang sebenarnya) adalah apa yang ia dahulukan (infakkan), sedangkan harta ahli warisnya adalah apa yang ia tinggalkan.” (HR. Al-Bukhari no. 6442)

Hadis ini sering kali membuat penulis terdiam lama. Kita bekerja keras siang dan malam, tapi yang kita kumpulkan justru menjadi milik orang lain. Lalu, berapa banyak yang sudah kita kirimkan lebih dulu ke akhirat?

Menjadi orang asing di dunia

Dunia ini hanyalah tempat persinggahan sementara. Sayangnya, banyak dari kita yang terbalik dalam menyikapinya. Lihatlah, kita membangun istana di dunia yang akan kita tinggalkan, tetapi lupa membangun rumah di surga yang abadi. Kita mati-matian mencicil KPR rumah di perumahan elit, tetapi lupa mencicil amal untuk istana di surga. Rasulullah ﷺ pernah memegang kedua pundak Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma, lalu memberikan nasihat yang demikian membekas yang bermaksud,

“Jadilah engkau di dunia ini seakan-akan sebagai orang asing, atau bahkan seorang pengembara (yang sekadar lewat).” (HR. Al-Bukhari no. 6416)

Seorang musafir yang sedang dalam perjalanan jauh tidak akan pernah berpikir untuk membangun rumah permanen di rest area jalan tol. Fokusnya hanya satu, yaitu mengumpulkan perbekalan yang cukup agar selamat sampai ke kampung halaman. Dan kampung halaman kita yang sesungguhnya adalah surga—tempat asal ayah kita, Adam alaihissalam, dahulu tinggal sebelum diturunkan ke bumi.

Subhanallah. Petuah ini mengajarkan kita untuk hidup dalam mode urgency—rasa mendesak. Tidak ada waktu untuk bersantai-santai dalam kelalaian. Setiap hembusan napas harus dimaknai sebagai langkah menuju akhirat, bukan sekadar rutinitas yang hampa makna.

Nikmat yang sering membunuh sisa usia

Di sisa usia kita, ada dua nikmat besar yang sering kali menjadi jebakan, yaitu kesehatan dan waktu luang. Dua nikmat ini adalah anugerah, tetapi bagi orang yang lalai, keduanya justru menjadi pintu kerugian. Rasulullah ﷺ mengingatkan yang bermaksud,

“Dua kenikmatan yang banyak manusia merugi di dalamnya: kesehatan dan waktu luang.” (HR. Al-Bukhari no. 6412)

Betapa banyak kita saksikan di sekitar kita, anak-anak muda atau orang-orang yang sudah lanjut usia, justru menghabiskan waktunya untuk hal-hal yang sia-sia. Dari pagi hingga sore, waktunya habis untuk hobi yang tidak mendekatkan diri kepada Allah, seperti memancing yang melalaikan salat, touring yang tidak membawa perubahan iman, atau sekadar nongkrong dan bergosip ria. Mereka seolah-olah hidup seribu tahun lagi. Mereka lupa bahwa malaikat maut tidak pernah pensiun. Ia bekerja 24 jam, tanpa henti, tanpa libur, siap menjemput kapan saja dan di mana saja.

Secara khusus, Allah memberikan teguran yang sangat lembut dan mendalam bagi mereka yang usianya telah menginjak 40 tahun. Usia ini adalah masa puncak kedewasaan; masa di mana seseorang seharusnya sudah tidak lagi main-main dengan dunianya. Allah Ta’ala berfirman yang bermaksud,

“… Sehingga apabila dia telah dewasa dan usianya mencapai empat puluh tahun, ia berdoa, ‘Ya Tuhanku, berilah aku petunjuk untuk mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku, dan agar aku dapat beramal saleh yang Engkau ridai. Dan berilah aku kebaikan kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertobat kepada-Mu, dan sungguh aku termasuk orang-orang yang berserah diri.'” (QS. Al-Ahqaf [46]: 15).

Para ulama tafsir, seperti Imam Ibnu Katsir dan Al-Qurthubi, menjelaskan bahwa ayat ini adalah bimbingan ilahi bagi mereka yang mencapai usia 40 tahun untuk memperbarui tobatnya, memantapkan inabah (kembali kepada Allah), dan memfokuskan diri pada tiga hal, yaitu: syukur, amal saleh, dan mendidik keturunan. Tidak pantas lagi bagi orang yang sudah berusia 40 tahun ke atas untuk sibuk berkeluh kesah tentang rezeki yang kurang, atau menghabiskan waktu di majelis yang tidak bermanfaat. Ini adalah waktu yang kritis. Sisa umur yang ada harus diisi dengan memperbanyak syukur, memaksimalkan amal, dan meninggalkan warisan iman kepada anak cucu.

Sebelum nafas sampai di tenggorokan

Saudaraku yang dimuliakan Allah, umur adalah modal utama kita dalam berdagang dengan-Nya. Setiap tarikan napas yang masih kita rasakan hingga detik ini adalah kesempatan emas yang mungkin tidak akan datang lagi esok hari. Barangsiapa yang menghabiskan sisa umurnya dalam ketaatan, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu. Namun sebaliknya, barangsiapa yang di sisa umurnya masih terus bergelimang dalam kemaksiatan dan kesia-siaan, maka ia akan dimintai pertanggungjawaban atas seluruh usianya: yang telah berlalu dan yang tersisa.

Mari kita tata kembali niat dan langkah kaki kita. Jangan biarkan waktu berlalu begitu saja tanpa arti. Matikan layar ponsel sejenak. Ambil mushaf yang mungkin sudah lama tidak disentuh. Sujudlah lebih lama pada malam ini. Karena bisa jadi, ini adalah malam terakhir kita bersimpuh di hadapan-Nya.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Sumber: muslim.or.id

WASPADA BEBAN HUTANG

DALAM hidup bermasyarakat dan dalam bergaul dengan orang lain, tentulah kita sering meminta pertolongan kepada orang lain tetapi sebaliknya kadang-kadang kita juga memberi pertolongan kepada orang lain. Jadi dalam hidup bermasyarakat kita saling tolong-menolong. Dan saling tolong-menolong dan terjadi antara sesama kita ini ada kalanya wujud apa yang bernama pinjam-meminjam, atau lebih tepat lagi bernama hutang-piutang kalau pinjam-meminjam itu berkaitan dengan soal wang.

Kenapa terjadi pinjam-meminjam atau hutang-piutang dalam masyarakat? Salah satu sebabnya, ialah kerana tidak samanya kekuatan ekonomi atau kewangan di antara orang-orang di dalam satu masyarakat. Di antara anggota masyarakat ada orang yang ekonominya kuat dan ada pula orang yang ekonominya lemah. Dan mereka yang tergolong lemah dari segi ekonomi ini merupakan golongan yang terbesar. Mereka kemudian meminjam atau berhutang kepada orang yang kukuh dari segi ekonomi.

Demikianlah proses terjadinya pinjam-meminjam atau hutang-piutang dalam masyarakat. Menurut Islam, berhutang adalah perbuatan yang sedapat mungkin kita hindari, dan kalaupun kita berhutang hendaklah kerana terpaksa. Hutang adalah kehinaan disiang hari dan keresahan di malam hari, demikian sabda Rasul s.a.w, "Seseorang yang tidak merasa resah kerana berhutang sebenarnya ia bukanlah seorang yang menghayati tuntutan agama. Ia seorang yang telah hilang harga diri. Bagaimanapun hutang adalah beban yang sedikit sebanyak membuat hidup kita terasa tidak lapang."

Lebih-lebih kalau hutang kita terlalu banyak dan waktu untuk membayarnya demikian dekat, padahal kita belum bersedia untuk membayarnya, hidup kita menjadi sangat terseksa. Hidup yang dikejar-kejar oleh banyak hutang, sungguh tidak tenteram.  Kerana itu hendaknya kita mengusahakan dan mengatur kehidupan ini dalam situasi sebaik-baiknya, supaya kita dapat hidup bahagia dan tidak dibebani banyak hutang. Itulah sebabnya, Rasulullah s.a.w pernah berpesan kepada kaum Muslimin:
Kurangilah berbuat dosa, supaya mudah menghadapi mati, dan kurangilah berhutang, supaya engkau hidup merdeka!

Selain itu, Rasulullah pernah berdoa, yang antara lain juga memohon kepada Allah untuk dijauhkan daripada hidup yang terjerat oleh banyak hutang. Beliau bersabda yang bermaksud:
"Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari duka cita dan susah hati, aku berlindung kepada-Mu dari penakut dan bakhil, dan aku berlindung kepada-Mu dari banyak hutang dan dikuasai orang lain." (Hadis Sahih)

Banyak orang yang mempunyai hutang, tetapi mereka tidak menyedari kerugian-kerugian yang ditimbulkan oleh hutangnya itu. Sebenarnya kerugian orang yang berhutang, tidak hanya hidupnya di dunia menjadi tidak tenteram tetapi ia juga menderita kerugian di akhirat.

Dalam sejarah disebutkan, bahawa Rasulullah s.a.w tidak mahu menyembahyangkan jenazah orang yang meninggal dunia yang masih mempunyai hutang. Kata beliau kepada orang-orang yang membawa jenazah itu: 
Sembahyangkan orang yang mati itu, sesungguhnya aku tidak mahu menyembahyangkan jenazah seseorang yang masih mempunyai hutang dan ia mati tidak melunasnya.

Dalam sebuah hadis riwayat Imam Tirmidzi diterangkan bahawa kalau orang yang mempunyai hutang itu meninggal dunia Allah menahan pahala amal baik orang itu, sampai ada orang (misalnya ahli warisnya) yang mahu melunas semua hutang yang ditinggalkannya. Kata orang-orang tua kita, si mayat tergantung-gantung di awang-awang (angkasa) kerana belum terbayar hutangnya.

Jiwa orang mukmin tergantung itu oleh sebab hutangnya sampai hutangnya itu dibayarkan. Demikian Sabda Rasulullah dalam hadis riwayat Tirmidzi itu. Siapa yang mempunyai hutang, sudah tentu ia wajib membayar hutangnya. Sungguh rugi, siapa yang meninggal dunia masih mempunyai hutang yang belum dibayarnya.

Nafsu untuk berhutang yang banyak, perlu kita kendalikan. Supaya kita terhindar dari berhutang yang di luar kemampuan kita untuk membayarnya. Kemudian, selain itu niat kita yang menjadi dasar kepada waktu kita berhutang, harus betul, iaitu harus berniat untuk membayar hutang kita dan tidak niat untuk menipu.

Ini penting sekali kita perhatikan sebab kemampuan kita untuk dapat membayar hutang kita pada akhirnya besar atau kecil, dipengaruhi oleh bagaimana niat kita sewaktu berhutang. Rasulullah bersabda: "Barangsiapa mengambil harta orang lain dengan maksud akan membayarnya, maka Allah akan memberikan kemampuan kepadanya untuk membayarnya dan barang siapa yang mengambil harta orang lain dengan maksud merosakkan orang itu, tidak memberikan kemampuan kepadanya untuk membayar hutangnya." (Riwayat Bukhari)

Ayat yang berbicara tentang hutang piutang antara lain berpesan, "Hai orang-orang yang beriman,apabila kamu melakukan transaksi tidak secara tunai, untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menulisnya. (al-Baqarah ayat 282)

Penggalan kalimat untuk waktu yang ditentukan bukan sahaja mengisyaratkan bahawa ketika berhutang kita harus menentukan masa untuk membayarnya, bukan dengan berkata, Kalau saya ada wang, tetapi untuk mengisyaratkan bahawa ketika berhutang, sudah tergambar dalam hati kita bagaimana, serta dari mana, sumber pembayar yang dijangka diperoleh itu..Ini secara tidak langsung mengajar kita agar lebih berhati-hati dalam masalah hutang-piutang ini. Sehubungan dengan ini Nabi bersabda yang bermaksud: "Diampuni bagi syahid semua dosanya, kecuali hutang." (Riwayat Muslim)

Demikian juga orang yang menunda membayar hutang ini ternyata orang yang sebenarnya mampu membayar hutang itu tepat pada waktunya, maka penundaan yang dilakukannya adalah satu kezaliman. Iaitu kezaliman kepada orang yang memberi hutang kepadanya.

GABENOR DAN WANITA HODOH

Seorang Gubernur pada zaman Khalifah Al-Mahdi, pada suatu hari mengumpulkan sejumlah tetangganya dan menaburkan wang dinar dihadapan mereka. Semuanya saling berebut memunguti wang itu dengan suka cita. Kecuali seorang wanita kumal, berkulit hitam dan berwajah jelek. Ia terlihat diam saja tidak bergerak, sambil memandangi para tetangganya yang sebenarnya lebih kaya dari dirinya, tetapi berbuat seolah-olah mereka orang-orang yang kekurangan harta.

Dengan kehairanan sang Gubernur bertanya, “Mengapa engkau tidak ikut memungut wang dinar itu seperti tetangga engkau?” Janda bermuka buruk itu menjawab, “Sebab yang mereka cari wang dinar sebagai bekal dunia. Sedangkan yang saya perlukan bukan dinar melainkan bekal akhirat.” “Maksud engkau?” tanya sang Gubernur mulai tertarik akan kepribadian perempuan itu. “Maksud saya, wang dunia sudah cukup. Yang masih saya perlukan adalah bekal akhirat, iaitu sholat, puasa dan zikir. Sebab perjalanan di dunia amat pendek dibanding dengan pengembaraan di akhirat yang panjang dan kekal.”

Dengan jawapan seperti itu, sang Gubernur merasa telah disindir tajam. Ia insaf, dirinya selama ini hanya sibuk mengumpulkan harta benda dan melalaikan kewajiban agamanya. Padahal kekayaannya melimpah ruah, tak kan habis dimakan keluarganya sampai tujuh keturunan. Sedangkan umurnya sudah di atas setengah abad, dan Malaikat Izrail sudah mengintainya.

Akhirnya sang Gubernur jatuh cinta kepada perempuan lusuh yang berparas jelek itu. Kabar itu tersebar ke segenap pelosok negeri. Orang-orang besar tak habis fikir, bagaimana seorang gubernur menaruh hati kepada perempuan jelata bertampang jelek itu.

Maka pada suatu kesempatan, diundanglah mereka oleh Gubernur dalam sebuah pesta mewah. Juga para tetangga, termasuk wanita yang membuat heboh tadi. Kepada mereka diberikan gelas crystal yang bertakhtakan permata, berisi cairan anggur segar. Gubernur lantas memerintah agar mereka membanting gelas masing-masing. Semuanya bengong dan tidak ada yang mahu menuruti perintah itu. Namun, tiba-tiba terdengar bunyi berdenting, petanda ada orang gila yang melaksanakan perintah itu. Itulah si perempuan berwajah buruk tadi. Di kakinya pecahan gelas berhamburan sampai semua orang tampak terkejut dan kehairanan.

Gubernur lalu bertanya, “Mengapa kau banting gelas itu?” Tanpa takut wanita itu menjawab, “Ada beberapa sebab. Pertama, dengan memecahkan gelas ini berarti berkurang kekayaan Tuan. Tetapi, menurut saya hal itu lebih baik daripada wibawa Tuan berkurang lantaran perintah Tuan tidak dipatuhi.” Gubernur terkesima. Para tamunya juga kagum akan jawaban yang masuk akal itu. Sebab lainnya?” tanya Gubernur. Wanita itu menjawab, “Kedua, saya hanya mentaati perintah Allah. Sebab di dalam Al-Quran, Allah memerintahkan agar kita mematuhi Allah, Utusan-Nya, dan para penguasa. Sedangkan Tuan adalah penguasa, atau ulil amri, maka dengan segala resikonya saya laksanakan perintah Tuan.” Gubernur kian takjub. Demikian pula para tamunya. “Masih ada sebab lain?”

Perempuan itu mengangguk dan berkata, “Ketiga, dengan saya memecahkan gelas itu, orang-orang akan menganggap saya gila. Namun, hal itu lebih baik buat saya. Biarlah saya dicap gila daripada tidak melakukan perintah Gubernurnya, yang berarti saya sudah berbuat durhaka. Tuduhan saya gila, akan saya terima dengan lapang dada daripada saya dituduh durhaka kepada penguasa saya. Itu lebih berat buat saya.”

Maka ketika Gubernur yang telah ditinggal mati oleh istrinya itu melamar lalu menikahi perempuan bertampang jelek dan hitam legam itu, semua yang mendengar bahkan berbalik sangat gembira karena Gubernur memperoleh jodoh seorang wanita yang tidak saja taat kepada suami, tetapi juga taat kepada Tuhannya, kepada Nabinya, dan kepada gubernurnya.


Sumber: pengusahamuslim.com/

PENJARAKAN LISANMU

Imam An-Nawawi –rahimahullah– mengatakan, “Ketahuilah, patut bagi setiap orang untuk menjaga lisannya dari setiap perkataan, kecuali perkataan yang dia yakin perkataan itu mempunyai kebaikan, dan jika perkataan tersebut tidak ada kebaikannya, maka hendaknya ia tahan lisannya. Karena perkataan yang mubah pun dapat terseret menjadi perkataan yang haram atau makruh. Bahkan, ini sering terjadi dan sudah menjadi kebiasaan di tengah masyarakat. Dan keselamatan itu tidaklah ternilai harganya.” (Al-Adzkar, halaman 284).

Sering kali kita ketahui di masyarakat, apabila kita mendengar sedang bercakap kepada temannya tentang seseorang, mungkin percakapan tersebut diawali oleh sesuatu yang dibolehkan. Tapi hawa nafsu dirinya dapat menyeret perkataan tersebut menjadi perkataan yang haram seperti ghibah atau namimah. Atau jika kita temui penjual yang menawarkan barangnya, mungkin diawali dengan perkataan yang mubah, namun hawa nafsu dirinya menyeret perkataan tersebut menjadi perkataan yang haram semisal sumpah palsu, dusta, an-najsy, dan yang lain. Mungkin kita temui seseorang sedang membicarakan tentang politik. Kita temua mereka membicarakan hal yang mubah, namun bisa jadi hawa nafsu mereka menyeret perkataan tersebut menjadi debat yang tercela. Bahkan perkataan haram tersebut bisa menjadi hal yang lebih banyak keharamannya daripada yang mubah. 

Maka ketahuilah, selamat dari itu semua, selamat dari lisan yang kotor, selamat dari penyimpangan, dosa, dan kejelekkan itu tidak ternilai harganya.

Dan Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasalam bersabda, “Di antara baiknya Islam seseorang adalah meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat” (H.R At-Tirmidzi dan Ibnu Majah).

Siapa yang tidak menyibukkan diri dengan hal bermanfaat, maka dia akan tersibukkan denga hal yang berbahaya.

Jatuhnya seseorang karena lisan.
Selayaknya seorang yang ingin memiliki keislaman yang baik, ia meninggalkan perkataan-perkataan yang tidak ada manfaat baginya. ‘Mulutmu adalah harimaumu.’ Betapa banyak orang yang terjatuh disebabkan lisannya. Seseorang jatuh boleh disebabkan kakinya, namun luka di kaki tidak memerlukan waktu yang lama untuk sembuh, namun seseorang boleh kehilangan kepalanya karena lisannya. Banyak orang yang dihukum, bahkan dengan hukuman mati disebabkan karena lisannya. Bisa karena lisannya yang kotor, fitnah, dusta dan yang lainnya hingga karena lisannya hilanglah kepalanya.

Sepatutnya seorang muslim tidaklah mengeluarkan kata-kata yang tidak jelas. Wajib baginya menjaga kata-kata dengan tidak berbicara, kecuali dengan perkara yang menguntungkan dan menambah iman dan takwanya. Jika ingin berkata hendaklah menimbang ada faidah atau tidak. Jika tidak, hendaklah tahan lidahnya. Jika iya maka timbanglah yang kedua. Janganlah dia buang sesuatu yang lebih menguntungkan dibanding yang kurang menguntungkan.

Lalai dalam menjaga lisan.
Satu hal yang mengherankan, mudah bagi banyak orang jaga diri dari makan yang haram, uang yang haram, yang katanya enak sekali pun. Bisa menjaga diri dari kedholiman, zina, mencuri, minum khamr, memandang yang haram. Namun sulit baginya menjaga lisan. Jika masyarakat ditanya siapa yang bagus agamanya adalah dia, namun ternyata dia berbicara dengan perkataan yang dibenci Allah tanpa kawalan. Seorang boleh turun karena satu ucapan, dan dia akan jatuh ke neraka dengan jarak yang sangat jauh.

Penyakit lisan juga merupakan penyakitnya orang-orang sholih
Banyak orang yang jaga diri dari perbuatan keji. Namun lidahnya terjulur membahas kehormatan orang yang hidup atau mati tanpa peduli. Penyakit lisan adalah penyakitnya orang-orang shalih. Jika Anda ingin mengetahuinya, maka lihatlah pada hadits dari Jundab radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasalam bersabda,
“Ada seseorang berkata, ‘Demi Allah, Allah tidak akan mengampuni si Fulan.’ Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, ‘Siapakah yang telah bersumpah mendahuluiKu bahwa Aku tidak akan mengampuni si Fulan? Sungguh, Aku telah mengampuni si Fulan dan menghapuskan amal kebajikanmu.’” (H.R Muslim).

Hadits ini bercerita tentang orang Bani Israil, ahli ibadah dan ahli maksiat. Ahli ibadah sering memberi nasihat. Suatu ketika si ahli maksiat berkata, “Jangan campuri urusannya.” Maka ahli ibadah marah, dan mengatakan, “Demi Allah, Allah tidak akan mengampuni si fulan.” Dan Nabi ceritakan tentang kisah ini. Seorang ahli ibadah, yang dia menjadi seorang alim dan mengumpulkan amal ibadahnya dalam waktu yang sangat lama, maka dihapuslah gara-gara satu baris kalimat yang dia katakan. Dan menjadi sebab amalan yang puluhan tahun dihapus semata-mata karena satu kalimat.

Kerusakan lisan adalah kerusakan yang paling besar.
Ibnu Masud bersumpah “Demi Allah tidak ada sesuatu di bumi ini yang membutuhan penjara dalam waktu yang lama, selain lidahku.” (Jaami’ Ulumu wal Hikaam, halaman 241)

Dan sedarilah anggota badan yang paling mudah bergerak adalah lisan. Dan lisan pulalah yang kerusakannya paling besar. Tidak ada perkataan yang pergi tanpa manfaat. Di hari kiamat, ada yang membawa pahala sebesar gunung, namun lisannya menghancurkan seluruh amalnya. Ada juga orang yang mempunyai segunung kesalahan, dan dia berdzikir, maka terhapuslah segunung kesalahannya.


Sumber: Muslimah.or.id

Hubungi Kami

Alamat:
No.5B, Jalan 3/70 Damai Point, Seksyen 3, 43650 Bandar Baru Bangi. Selangor

Telefon: +60 17-377 7732
Email: alfalahmadani2022 [@] gmail.com

Jumlah Pengunjung

089222
Hari ini: 382
Minggu Ini: 3,160
Bulan Ini: 15,689
Tahun Ini: 89,222
Tahun Lepas: 52,147
Image

Alfalahmadani.my merupakan sebuah portal yang bertanggungjawab untuk bertindak sebagai penampan bagi setiap tuduhan, fitnah, kekeliruan, ketidakfahaman dan kecelaruan yang berlegar di minda rakyat. Sama ada isu-isu yang timbul secara organik di media sosial, ataupun yang didorong sebagai naratif oleh pihak-pihak tertentu,

Alfalahmadani.my akan menjawab setiap permasalahan dengan pengetahuan, kebijaksanaan dan kebenaran. Tentunya, kehadiran Alfalahmadani.my bukan berhasrat menyatakan kesempurnaan pemikiran, tetapi sebagai wahana untuk menuju kesempurnaan pengetahuan dalam konteks pemikiran semasa, dan kebijaksanaan yang mampu diusahakan.