PENGGEMBALA KAMBING VS DOMBA, CATATAN AWAL TAHUN

Dalam sejarah Islam dikisahkan, Abdullah bin Umar bin Khattab sedang melakukan perjalanan bersama sahabat lainnya. Dalam perjalanannya, mereka bertemu dengan seorang pemuda yang sedang menggembalakan kambing milik majikannya.

Ibnu Umar ingin menguji integritas pemuda tersebut. Ia menemui si pemuda dan menawarkan untuk membeli seekor kambing. Tapi, si penggembala menolak tawaran tersebut. Dengan jujur si pemuda berkata "maaf, semua kambing ini bukan milikku, melainkan milik tuanku. Aku hanya menerima amanah untuk menggem-balakan kambing milik tuanku".

Ibnu Umar kemudian berkata, "jual saja seekor. Katakan pada majikanmu ada kambing yang dimakan serigala. Dengan demikian, tuanmu pasti akan percaya". Namun, dengan tegas dan penuh keyakinan si pemuda penggembala menjawab, "memang benar majikanku tak akan tahu, tapi Allah SWT senantiasa mengetahui dan melihat setiap perbuatan hamba-Nya".

Mendengar jawaban pemuda tersebut, Ibnu Umar terharu dan kagum atas keimanan dan kejujuran yang dimiliki. Karakter mulia dari seorang hamba, miskin, tak memiliki ilmu, dan berasal dari strata yang rendah. Untuk itu, sekembalinya ke Madinah, Ibnu Umar menemui tuan si penggembala untuk membeli budaknya dan semua kambingnya.

Lalu, Ibnu Umar memerdekakan si pemuda dan menyerahkan semua kambing tersebut sebagai hadiah atas kejujurannya. Sungguh wajah peradaban mulia (keemasan) yang begitu menghargai pemilik kejujuran dengan nilai kemuliaan. Sedangkan, wajah peradaban "besi tua" hanya memandang dan menghargai "bingkisan" sesuai negosiasi (transaksi).

Melalui kisah Ibnu Umar dan si penggembala kambing mengajarkan sesuatu yang hilang dalam kehidupan akhir zaman. Nilai tersebut antara lain:

Pertama, sifat jujur dan amanah bisa di-miliki setiap manusa tanpa memandang status. Ia hadir pada sosok pemilik iman. Meski secara akademik si penggembala kambing tak berpendidikan, rakyat jelata, dan hidup sederhana (miskin), namun berbekal iman yang kokoh, ia mampu menghadirkan kejujuran dan amanah tanpa tergoyahkan. Apa yang dilakukan mengimplementasikan ajaran Islam yang substansial. Hal ini dinyatakan Rasulullah ﷺ : "Sesungguhnya Allah tidak melihat (rupa) fisik dan harta kalian, tetapi Ia melihat hati dan amal kalian" (HR. Muslim, Ibnu Majah, dan Ahmad).

Hadis di atas begitu jelas. Sungguh, Allah mementingkan kualitas hati dan perbuat-an hamba-Nya, bukan penampilan dan asesories (kekayaan materi atau posisi). Untuk itu, Rasulullah menekankan agar manusia selalu memperbaiki diri secara internal (hati), ketimbang hanya fokus pada membangun citra kemunafikan.

Kejujuran si penggembala kambing meng-implementasikan sabda Rasulullah ﷺ: "Hendaklah kalian senantiasa berlaku jujur, karena sesungguhnya kejujuran akan megantarkan pada kebaikan dan sesung-guhnya kebaikan akan mengantarkan pada surga. Jika seseorang senantiasa berlaku jujur dan berusaha untuk jujur, maka dia akan dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Hati-hatilah kalian dari berbuat dusta, karena sesungguhnya dusta akan mengantarkan kepada kejahatan dan kejahatan akan mengantarkan pada neraka. Jika seseorang sukanya berdusta dan berupaya untuk berdusta, maka ia akan dicatat di sisi Allah sebagai pendusta” (HR. Muslim).

Sementara manusia kadangkala mengaku sebagai pemilik, padahal bukan miliknya. Hal ini bertujuan agar dianggap hebat dan kaya. Bentuk pengakuan yang dilakukan bervariasi. Bahkan, bukan sebatas peng-akuan, tapi "penyerobotan" atas hak dan "masa depan" orang lain. Rasulullah ﷺ mengingatkan: "Sesungguhnya darah, harta, dan kehormatan saudara kalian itu haram bagi kalian" (HR. Bukhari dan Muslim).

Demikian tegas Allah dan Rasul-Nya menjelaskan kualitas seorang hamba. Manusia beriman akan berpihak pada kejujuran. Ia dimuliakan-Nya sebagai penghuni surga (QS. at-Taubah : 119). Sementara, manusia tanpa iman akan berpihak pada kemunafik-an. Ia akan ditempatkan dikerak api neraka (QS. an-Nisa' : 145).

Kedua, kesadaran akan pengawasan Allah (muraqabah). Meski memiliki kesempatan untuk berbuat curang, tapi ia tahu bahwa Allah Maha Melihat dan Maha Tau. Allah mengingatkan : "Dia mengetahui (pandang-an) mata yang khianat dan apa yang di-sembunyikan oleh hati" (QS. al-Ghafir : 19).

Menurut Ibnu Katsir, ayat di atas menjelaskan bahwa Allah SWT mengetahui segala sesuatu, baik yang terlihat maupun tersembunyi, termasuk "pandangan mata yang khianat" (kerlingan pengkhianatan) dan apa yang tersembunyi di dalam hati (niat buruk di hati). Peringatan ini bertujuan agar manusia merasa diawasi Allah dan meningkatkan ketakwaan. Sungguh, ilmu-Nya meliputi yang tampak nyata dan ter-sembunyi. Dengan ayat-Nya, seyogyanya manusia menjadi sadar (beradab) dan meninggalkan semua perbuatan tercela. Namun, bagi manusia biadab, semua ajaran agama dan i'tibar yang nyata --di depan mata-- akan dinafikan. Semua di-anggap hanya sebatas kisah semata.

Fabel Penggembala Domba

Fabel pengembala domba merupakan versi masyarakat Eropa tentang sifat manusia yang "silau materi" dan mau menerima tawaran "transaksi". Dikisahkan, hiduplah seorang penggembala di sebuah peternakan domba. Dalam melaksanakan tugasnya, ia dibantu seekor anjing yang setia. Dengan begitu tekun, penggembala domba menjaga dan merawat semua domba tuannya dengan baik.

Suatu hari, datang seorang saudagar kaya yang ingin menguji kejujuran penggembala tersebut. Si saudagar berkata "aku sangat tertarik pada anjingmu. Tubuhnya sehat, kekar, dan sangat setia. Maukah kamu menjual anjingmu ?. Jika engkau mau, maka akan kubeli dengan harga yang tinggi". Mendengar tawaran yang menggiurkan tersebut, awal-nya si penggembala ragu. Tapi, bayangan tumpukan uang emas membuatnya setuju untuk menjual anjingnya tersebut. Ia tak peduli atas jasa si anjing yang begitu setia membantu dan menemaninya.

Dalam pikirannya hanya ada tumpukan uang emas berkilau yang akan membuatnya kaya raya. Setelah uang diterima, saudagar kembali berkata, "maukah engkau menyembelih, menguliti, dan mencincang daging anjing ini? Jika engkau mau, maka akan kubayar pengerjaannya sebesar harga tadi". Si penggembala kembali tergiur dan mau melaksanakan penyembelihan anjing tersebut.

Setelah anjing disembelih, dikuliti, dan dipotong-potong, si saudagar kembali berkata, "maukah engkau memasak daging anjing ini agar bisa kita memakannya bersama? Jika engkau mau, maka akan kubayar sebesar harga tadi". Mendengar tawaran tersebut, si penggembala tanpa ragu menyanggupi dan melaksanakan perintah si saudagar. Setelah daging anjing selesai dimasak dan dihidangkan, keduanya dengan lahap memakannya. Derai tawa menghiasi bibir keduanya. Si penggembala sangat bahagia dengan tumpukan uang yang diperoleh, meski secara sadar mengorbankan "nilai kesetiaan" temannya (si anjing).

Kisah penggembala domba di atas menjelaskan fenomena nyata karakter manusia sepanjang sejarah, yaitu:

Pertama, Karakter manusia yang serakah, khianat, dan lupa diri. Ia begitu mudah mengkhianati kepercayaan tuannya dan begitu mudah "menjual" temannya. Bah-kan, ia tega membunuh (menyembelih), memasak, dan memakan teman (anjing) sendiri. Padahal, meski seekor anjing, tapi ia telah membantu dan setia bersamanya. Hanya disilaukan oleh tumpukan materi, si penggembala tega mengorbankan teman.

Fenomena ini seakan menjawab dinamika manusia pemilik sifat tercela. Ketika masa sulit dan menghadapi dinamika, eksistensi teman begitu diperlukan. Tapi, bila berkaitan materi dan posisi, tak ada teman yang abadi. Hanya kepentingan bermuatan ambisi yang lebih utama. Sifat manusia yang demikian bukan sebatas keserakahan, tapi pengkhianatan atas nilai kesetiaan dan teman yang pernah membantunya.

Kedua, Karakter manusia tak tahu balas budi dan lupa diri. Ternyata, tak ada teman yang setia bila berhadapan dengan "pundi-pundi dan posisi". Meski si anjing telah menemani dan membantunya, tapi tega dijual, disembelih, bahkan dicincang, dimasak, dan memakan "temannya". Semua disebabkan gemerlap pundi dan posisi (kaya). Dorongan ini membuatnya begitu tega mengorbankan dan memakan "teman", meski terhadap sosok yang telah membantunya.

Sungguh, mencermati 2 (dua) kisah di atas memperlihatkan karakter manusia dalam kehidupan. Sosok "Karakter penggembala kambing yang amanah dan jujur semakin sulit untuk ditemukan. Sementara, karakter penggembala domba yang khianat dan munafik sangat mudah ditemukan". Feno-mena pengkhianatan dan kemunafikan selalu berkaitan dengan materi dan posisi. Sifat ini berpotensi terjadi pada setiap diri tanpa terkecuali. Hal ini diingatkan oleh Rasulullah ﷺ dalam sabdanya : "Setiap manusia pasti akan menjadi tua. Namun jiwanya tetap muda mengenai dua perkara, yaitu tamak akan harta benda dan selalu ingin panjang umur" (HR. Muslim).

Sungguh, manusia acapkali lupa pada janji kematian dan pertanggungjawaban yaumil hisab (QS. al-Ghasyiyah : 88). Seakan tak lagi ada pengaruh ajaran agama pada diri. Beragama hanya sebatas aksories, bukan substansi yang seyogyanya dimiliki dan dipedomani. Tampil perilaku memuaskan nafsu duniawi tanpa peduli --menjual-- agama (QS. Ali Imran : 77).

Konsekuensi pilihan begitu jelas disampai-kan-Nya. Semua kembali pada kualitas keimanan setiap diri, yaitu sadar sebagai hamba-Nya atau merasa tuhan berwujud manusia. Hanya manusia nista yang me-milih derajat hewan (QS. al-A'raf : 179).

Wa Allahua'lam bi al-Shawwab.***

Prof Samsul Nizar adalah Guru Besar IAIN Datuk Laksemana Bengkalis

BERMAKSIAT DISEBUT JAHIL, KENAPA?

Kenapa Allah menyebutkan dalam Al-Quran kalau yang berbuat maksiat disebut bodoh (jahil)?

Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah menerangkan mengenai ayat berikut ini yang bermaksud.

Sesungguhnya taubat di sisi Allah hanyalah taubat bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan lantaran kejahilan, yang kemudian mereka bertaubat dengan segera, maka mereka itulah yang diterima Allah taubatnya; dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. An-Nisa’: 17)

Berbuat kejahatan yang dimaksud di sini adalah berbuat berbagai macam kejahatan, baik dosa kecil mahupun dosa besar. Sedangkan yang dimaksud berbuat dalam keadaan jahil adalah lebih mengutamakan berbuat dosa padahal sudah tahu kalau itu adalah dosa.

Setelah menyebut hal di atas, Ibnu Rajab rahimahullah lantas mengatakan,

“Setiap orang yang bermaksiat pada Allah, ia adalah jahil (bodoh). Siapa yang berbuat taat pada Allah, ia adalah ‘alim.”

Ada dua penjelasan kenapa sampai yang bermaksiat disebut bodoh (jahil):

1. Siapa saja yang memahami kebesaran dan keagungan Allah, pasti  rasa takut pada Allah. Kalau ia memahami seperti itu, tentu ia sulit untuk mendurhakai Allah Ta’ala. Sebagian orang menyatakan, cukup seseorang disebut alim (berilmu) jika ia menpuyai rasa takut pada Allah. Dan ia disebut jahil (bodoh) ketika itu tertipu pada Allah.

2. Siapa saja yang mendahulukan maksiat dari ketaatan, maka ia menyangka bahwa akan ada manfaat yang segera dari maksiat tersebut. Jika ia memiliki iman, ia ingin nantinya lepas dari dosa di akhir umurnya. Itu cuma muncul dari kejahilan (kebodohan).

Itulah kenapa orang yang bermaksiat disebut jahil. Kalau kita sekalian ingin tidak disebut jahil (bodoh) padahal sudah tahu dosa itu dosa, marilah senantiasa menjauhi setiap tindakan maksiat. Moga Allah mudahkan.

Sumber: nahimunkar.com

KEWAJIPAN MEMBAYAR HUTANG

HUTANG pendidikan merupakan satu bentuk bantuan kewangan untuk pelajar yang ingin melanjutkan pengajian ke peringkat tertinggi tanpa beban kewangan yang besar. Walaupun pinjaman ini memberikan peluang kepada ramai pelajar untuk ke menara gading, ia tetap merupakan satu bentuk hutang yang perlu dijelaskan selepas tamat pengajian.

Oleh itu, peminjam hendaklah mengambil berat terhadap bayaran balik pinjaman PTPTN kerana ia merupakan satu tuntutan agama. Dalam hadis disebutkan bahawa seseorang akan terhalang masuk syurga jika masih meninggalkan hutang yang belum dijelaskan.

“Barangsiapa yang datang pada hari kiamat dalam keadaan bebas dari tiga perkara iaitu takabur, khianat dan hutang maka mereka akan masuk surga” (Hadis riwayat Nasai dan Ibnu Hiban).

Hakikatnya, apa yang berlaku didalam masyarakat hari ini terdapat satu amalan burok dikalangan pelajar iaitu cuba melengah-lengahkan hutang PTPTN. Padahal sebenarnya mereka mempunyai kemampuan untuk menjelaskan hutangnya.

Namun kerana telah menjadi perangai dan tabiat buruk yang sudah mendarah daging, kebiasaan itu seolah-olah menjadi amalan biasa. Hal ini berlaku kerana di masyarakat sudah tertanam satu sikap untuk memandang enteng masalah hutang.

Hutang dianggap masalah kecil. Padahal hakitatnya ia amat berkait rapat dengan menjaga hubungan dengan orang lain yang perlu dijaga dengan baik. Hubungan yang baik merupakan perkara yang wajib dijaga dalam Islam. Selagi hutang itu tidak dijelaskan, selagi itulah perkara itu menjadi bebanan sehingga ke hari akhirat kelak.

Siapa yang mempunyai hutang, sudah tentu ia wajib membayar hutangnya. Sungguh rugi, siapa yang meninggal dunia masih mempunyai hutang yang belum dibayarnya. Niat kita yang menjadi dasar kepada waktu kita berhutang, harus betul, iaitu harus berniat untuk membayar hutang kita dan tidak niat untuk menipu. Ini penting sekali kita perhatikan sebab kemampuan kita untuk dapat membayar hutang kita pada akhirnya besar atau kecil, dipengaruhi oleh bagaimana niat kita sewaktu berhutang.

Rasulullah bersabda: “Barangsiapa mengambil harta orang lain dengan maksud akan membayarnya, maka Allah akan memberikan kemampuan kepadanya untuk membayarnya dan barang siapa yang mengambil harta orang lain dengan maksud merosakkan orang itu, tidak memberikan kemampuan kepadanya untuk membayar hutangnya.” (Riwayat Bukhari)

Ayat yang berbicara tentang hutang piutang antara lain berpesan:
“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu melakukan transaksi tidak secara tunai, untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menulisnya.” (al-Baqarah ayat 282)

Penggalan kalimat “untuk waktu yang ditentukan” bukan sahaja mengisyaratkan bahawa ketika berhutang kita harus menentukan masa untuk menbayarnya, bukan dengan berkata, “Kalau saya ada wang”, tetapi untuk mengisyaratkan bahawa ketika berhutang, sudah tergambar dalam hati kita bagaimana,serta dari mana, sumber pembayar yang dijangka diperoleh itu.

Ini secara tidak langsung mengajar kita agar lebih berhati-hati dalam masalah hutang-piutang ini.

Sehubungan dengan ini Nabi bersabda yang bermaksud: “Diampuni bagi syahid semua dosanya, kecuali hutang.” (Riwayat Muslim)

Demikian juga orang yang menunda membayar hutang ini ternyata orang yang sebenarnya mampu membayar hutang itu tepat pada waktunya, maka penundaan yang dilakukannya adalah satu kezaliman. Iaitu kezaliman kepada orang yang memberi hutang kepadanya.

Seseorang yang tidak merasa resah kerana berhutang sebenarnya ia bukanlah seorang yang menghayati tuntutan agama. Ia seorang yang telah hilang harga diri. Bagaimanapun hutang adalah beban yang sedikit sebanyak membuat hidup kita terasa tidak lapang.

Lebih-lebih kalau hutang kita terlalu banyak dan waktu untuk membayarnya demikian dekat, padahal kita belum bersedia untuk menbayarnya, hidup kita menjadi sangat terseksa. Hidup yang dikejar-kejar oleh banyak hutang, sungguh tidak tenteram. Kerana itu hendaknya kita mengusahakan dan mengatur kehidupan ini dalam situasi sebaik-baiknya, supaya kita dapat hidup bahagia dan tidak dibebani banyak hutang.

Itulah sebabnya, Rasulullah SAW pernah berpesan kepada kaum Muslimin:
Kurangilah berbuat dosa, supaya mudah menghadapi mati, dan kurangilah berhutang, supaya engkau hidup merdeka!”

Selain itu, Rasulullah pernah berdoa, yang antara lain juga memohon kepada Allah untuk dijauhkan daripada hidup yang terjerat oleh banyak hutang.

Baginda bersabda yang bermaksud:
“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari dukacita dan susah hati, aku berlindung kepada-Mu dari penakut dan bakhil, dan aku berlindung kepada-Mu dari banyak hutang dan dikuasai orang lain.” (Hadis Sahih)

Bagi pelajar yang yang masih berhutang dengan PTPTN harus menyedari kerugian-kerugian yang ditimbulkan oleh hutangnya itu. Sebenarnya kerugian orang yang berhutang, tidak hanya hidupnya di dunia menjadi tidak tenteram tetapi ia juga menderita kerugian di akhirat.

Dalam sejarah disebutkan, bahawa Rasulullah SAW tidak mahu menyembahyangkan jenazah orang yang meninggal dunia yang masih mempunyai hutang. Kata beliau kepada orang-orang yang membawa jenazah itu:
“Sembahyangkan orang yang mati itu, sesungguhnya aku tidak mahu menyembahyangkan jenazah seseorang yang masih mempunyai hutang dan ia mati tidak melunasnya.”

Dalam sebuah hadis riwayat Imam Tirmidzi diterangkan bahawa kalau orang yang mempunyai hutang itu meninggal dunia Allah menahan pahala amal baik orang itu, sampai ada orang (misalnya ahli warisnya) yang mahu melunas semua hutang yang ditinggalkannya.

Kata orang-orang tua kita, si mayat tergantung-gantung di awang-awang (angkasa) kerana belum terbayar hutangnya. “Jiwa orang mukmin tergantung itu oleh sebab hutangnya sampai hutangnya itu dibayarkan.” Demikian Sabda Rasulullah dalam hadis riwayat Tirmidzi itu.

MENGAPA HATI MUDAH LELAH PADAHAL ILMU BERTAMBAH?

Ada satu fasa yang—entah disadari atau tidak—sering dialami oleh penuntut ilmu. Ilmu bertambah, kajian rutin, catatan makin rapi, kitab mulai berganti dari yang tipis ke yang tebal dan audio kajian tak pernah sepi di perjalanan. Namun anehnya, di saat yang sama, hati justru mudah lelah, ibadah terasa berat. Semangat yang dulu menyala, kini sering redup tanpa sebab yang jelas. Kesalahan kecil orang lain terasa mengganggu. Nasihat yang dulu menenangkan, kini malah membuat dada sesak. Padahal secara lahir, kita “maju”. Secara data, kita “naik level”. Lalu, apa yang sebenarnya terjadi?

Allah ﷻ berfirman,

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ

“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah para ulama.” (QS. Fāṭir: 28)

Ayat ini sederhana, tapi dalam maknanya. Ilmu yang benar seharusnya melahirkan khashyah (rasa takut). Jika ilmu bertambah, namun rasa takut kepada Allah justru menipis, berarti ada yang perlu dikoreksi.

Bisa jadi, ilmunya memang bertambah, tapi keikhlasan tidak ikut dirawat. Pemahaman meningkat, tapi adab tertinggal di belakang. Dan amal masih ada, namun penyakit hati dibiarkan tumbuh.

Allah ﷻ  mengingatkan,

فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ فَزَادَهُمُ اللَّهُ مَرَضًا

“Dalam hati mereka ada penyakit, lalu Allah menambah penyakit itu.” (QS. Al-Baqarah: 10)

Bertambah sesuatu—termasuk ilmu—tidak selalu menyehatkan, jika penyakit hati tidak diobati. Rasulullah ﷺ bahkan mengajarkan doa,

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لَا يَنْفَعُ

Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat.” (HR. Muslim no. 2722)

Ilmu yang tidak menenangkan hati, tidak melunakkan akhlak, dan tidak mendekatkan diri kepada Allah—itulah ilmu yang melelahkan. Imam Ahmad رحمه الله juga menegaskan,

الْعِلْمُ لَا يَعْدِلُهُ شَيْءٌ لِمَنْ صَحَّتْ نِيَّتُهُ

“Ilmu tidak ada bandingannya bagi orang yang niatnya benar.” (Jāmi‘ Bayān al-‘Ilm wa Faḍlih, 1: 27; oleh Ibnu ‘Abdil Barr)

Dan Sufyan ats-Tsauri رحمه الله mengakui dengan jujur,

مَا عَالَجْتُ شَيْئًا أَشَدَّ عَلَيَّ مِنْ نِيَّتِي

“Tidak ada yang lebih berat aku perbaiki selain niatku.” (Ḥilyatul Auliyā’, 7: 5; oleh al-Aṣbahānī)

Maka wajar jika hati menjadi penat, ketika ilmu tidak lagi dibarengi muhasabah dan pembenahan niat. Ilmu yang tidak dibarengi dengan muhasabah, perlahan berubah menjadi beban. Bukan lagi sarana mendekat kepada Allah, tapi alat untuk merasa lebih paham dari orang lain. Sesekali, mungkin yang perlu kita tanyakan bukan:

“Kenapa orang-orang kok begini?”

Tapi:

“Apakah ilmu yang aku pelajari masih membuatku takut kepada Allah… atau justru sibuk mengoreksi manusia?”

Karena ilmu yang berkah itu menenangkan, bukan melelahkan. Dan jika hari ini hati terasa berat, bisa jadi bukan ilmunya yang bermasalah, melainkan cara kita membawa ilmu itu di dalam dada. Semoga Allah memperbaiki niat kita, melembutkan hati kita, dan menjadikan ilmu sebagai jalan mendekat—bukan menjauh.

Semoga bermanfaat….

              ***

Penulis: Junaidi Abu Isa

Junaidi, S.H., M.H.- S1 STDI Imam Syafi'i Jember - S2 Universitas Muhammadiyah Surakarta

Sumber: Muslim.or.id

 

TIGA GOLONGAN YANG TIDAK AKAN MASUK SYURGA

Dari Abu Musa r.a. bahawa Rasulullah SAW bersabda: Ada tiga golongan (manusia) yang tidak akan masuk syurga: Pecandu khamar, pemutus hubungan silaturrahim, dan orang yang membenarkan sihir.
[ HR Ibnu Hibban ]

Para ulama menafsirkan redaksi hadis tidak akan masuk syurga dengan dua penafsiran; iaitu mereka tidak akan masuk syurga bersama dengan orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama masuk Islam, dan yang kedua adalah mereka tidak akan masuk syurga tanpa diazab terlebih dahulu oleh Allah SWT.

Golongan Pertama Adalah Pecandu Khamar

Allah SWT berfirman : Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah adalah perbuatan keji dan termasuk perbuatan syaitan, maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.  Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu dan menghalangimu dari mengingat Allah dan sembahyang; maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu). (QS. al-Maidah [5] : 90-91)

Rasulullah SAW bersabda: Allah mengutuk khamar dan orang yang meminumnya, orang yang menuangkannya, penjualnya, pembelinya, pembuatnya, pengedarnya, pembawanya dan pengirimnya. [HR. Tirmidzi, Ahmad, dan Ibn Majah]

Dalam riwayat Ibnu Majah disebutkan: Siapa yang minum khamar hingga mabuk, maka Allah tidak akan menerima solatnya selama 40 pagi, jika ia mati dalam masa ini, maka ia masuk neraka; tetapi apabila ia bertaubat, maka Allah akan menerima taubatnya.

Dalam riwayat Muslim disebutkan: “Sesungguhnya Allah SWT berjanji akan memberi minum kepada peminum khamar dengan thinatu al-khabal. Para sahabat bertanya: Wahai Rasulullah, apa itu thinatu al-khabal?  Rasulullah SAW menjawab: Keringat para penghuni neraka atau aroma tubuh mereka.

Keimanan dan minuman keras tidak akan pernah boleh berkumpul pada diri orang-orang yang beriman berdasarkan sabda Rasulullah SAW:Tidak akan berzina seorang penzina ketika ia berzina jika ia seorang mukmin dan tidak akan meminum khamar ketika meminumnya jika ia seorang mukmin. [HR Bukhari dan Muslim]

Siapa yang meminum khamar semasa hidupnya di dunia, maka ia tidak akan meminumnya ketika di akhirat berdasarkan sabda Rasulullah SAW yang diriwayatkan dari Ibnu Umar ra.: Setiap yang memabukkan itu khamar dan setiap yang memabukkan itu haram.  Siapa yang minum khamar di dunia kemudian meninggal sedangkan ia pecandu khamar serta tidak bertaubat darinya, maka ia tidak akan meminumnya di akhirat. [HR Muslim]

Dalam kitab Musnad Imam Ahmad disebutkan bahawasanya Rasulullah SAW bersabda: Pecandu khamar jika ia mati (dan belum bertaubat), maka ia akan bertemu Allah seperti penyembah berhala.

Segala sesuatu yang memabukkan seperti ganja, heroin, narkotika, alkohol, dan lain sebagainya mempunyai status hukum yang sama dengan khamar, tidak ada seorang pun yang menentang pendapat ini kecuali orang-orang yang keras kepala; kerana hilangnya akal sihat merupakan tanda yang paling jelas, sehingga syariat mempersamakannya dengan khamar, begitu juga bahaya yang ditimbulkannya jelas-jelas merosak kehidupan dan agama.

Qais bin Ashim al-Minqari ra. Pada masa jahiliah adalah seorang pecandu khamar, namun pada suatu ketika sebelum memeluk Islam, ia mengharamkan dirinya dari minuman tersebut. Penyebabnya adalah ketika ia sedang dalam keadaan mabuk, ia meraba-raba lipatan kulit perut anak perempuannya, kemudian ia mencaci-maki kedua orang tuanya dan memberikan sejumlah wang yang sangat banyak kepada penjual arak!  Ketika kesedarannya telah pulih, orang-orang memberitahu apa-apa yang telah dilakukannya ketika mabuk, maka dari saat itu ia mengharamkan khamar pada dirinya sendiri sambil berkata:

Aku kira khamar adalah minuman yang baik, dan ternyata di dalamnya merusak perilaku orang berakal
Maka demi Allah, ketika aku meminumnya aku dalam keadaan sihat
Dan setelahnya aku menjadi sakit dan tidak boleh sembuh selamanya
Tidak akan kuserahkan hidupku yang berharga pada khamar
Tidak akan pernah kusebut namanya sehingga ku menyesal selamanya
Khamar membuka aib para peminumnya
Dan menjadikan mereka berbuat dosa-dosa besar

Al-Qurtubi mengatakan bahawa peminum khamar itu menjadi bahan tertawaan bagi orang-orang yang berakal, ia bermain-main dengan air seni dan kotorannya, dan boleh jadi ia mengusap mukanya dengan air kencing dan kotorannya, bahkan ada yang melihat salah seorang dari peminum khamar tersebut,ketika dalam keadaan mabuk, mengusap mukanya dengan menggunakan air seni dan berdoa: Ya Allah jadikanlah hamba termasuk dari golongan orang-orang yang bertaubat dan jadikanlah hamba termasuk dari golongan orang-orang yang mensucikan diri. Ada juga yang melihat salah seorang dari mereka ketika dalam keadaan mabuk, mukanya dijilati anjng, kemudian ia berkata: Semoga Allah memuliakanmu!

Golongan Kedua Adalah Pemutus Tali Silaturrahim

Allah SWT berfirman: Orang-orang yang merosak janji Allah setelah diikrarkan dengan teguh dan memutuskan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan dan mengadakan kerosakan di bumi,orang-orang itulah yang memperoleh kutukan dan bagi mereka tempat kediaman yang buruk (Jahannam). (QS ar-Rad [13] : 25)  

Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerosakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan?  Mereka itulah orang-orang yang dilaknat oleh Allah dan ditulikan-Nya telinga mereka dan dibutakan-Nya penglihatan mereka (Muhammad [47]: 22-23)

Sesungguhnya orang-orang yang memutus hubungan silaturrahim adalah orang-orang yang tercela dan merugi. Allah SWT menutup pintu antara mereka dengan-Nya, dan siapa yang menjauhkan dirinya dari Allah SWT maka kehancuran lebih dekat kepadanya daripada hembusan angin yang berada di sekelilingnya.  Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan dari Abu Hurairah disebutkan bahawasanya Rasulullah SAW bersabda : Allah menciptakan semua makhluk hingga selesai, setelah selesai maka berdirilah rahim dan berkata: Ini adalah tempat orang yang berlindung kepadamu dari pemutus tali silaturrahim.  Allah SWT berfirman: Ya,relakah kamu jika Aku menyambung orang yang menyambungmu dan Aku putuskan orang yang memutusmu?  Rahim menjawab: Bersedia, wahai Tuhan. Kemudian Allah SWT berfirman: Maka itulah bahagianmu.  Kemudian Abu Hurairah membacakan ayat: Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerosakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan? [HR. Bukhari dan Muslim]

Adapun yang dimaksud dengan memutuskan hubungan silaturrahim di sini antara lain berupa keengganan memberi nafkah kepada kerabat, tidak memperhatikan keadaan mereka dan berpura-pura tidak tahu akan kebutuhan mereka.

Memutus hubungan silaturrahim diancam dengan azab di dunia dan di akhirat berdasarkan hadis Rasulullah SAW yang diriwayatkan dari Abu Bakrah ra.: Tidak ada dosa yang lebih pantas untuk disegerakan oleh Allah seksaannya terhadap pelakunya di dunia beserta seksaan yang ditangguhkan oleh Allah untuknya di akhirat daripada kezaliman dan memutuskan tali silaturahim [HR. Ahmad dan Abu Dawud]

Amal perbuatan seorang yang memutus hubungan silaturrahim tidak akan diterima oleh Allah SWT berdasarkan hadis Rasulullah SAW yang diriwayatkan dari Abu Hurairah ra. : Sesungguhnya amal perbuatan anak Adam ditunjukkan kepada Allah pada hari Khamis dan malam Jumaat, maka amal perbuatan orang yang memutus hubungan silaturrahim tidak diterima (oleh-Nya) [HR. Ahmad]

Pemutus hubungan silaturrahim tidak akan masuk syurga.  Rasulullah SAW bersabda : Tidak akan masuk syurga orang yang memutus hubungan silaturrahim [HR. Bukhari dan Muslim]

Seorang hamba dituntut untuk menyambung silaturrahim dengan keluarga terdekat, para kerabat dan bertaqwa kepada Allah SWT sesuai kemampuannya.  Hubungan kekerabatan ini boleh terwujud dengan cara saling mengunjungi antara yang satu dengan yang lainnya, telefon dan berkirim surat, dan yang lebih penting adalah hubungan ini harus berdasarkan kepada kebaikan dan kebajikan yang dapat diwujudkan dalam berbagai aktiviti seperti memenuhi undangan, mengucapkan salam jika bertemu, bertanya tentang keadaan, berbagi rasa dalam keadaan suka dan duka, berlapang dada, memberi petunjuk untuk berbuat kebajikan, mengajak berbuat makruf dan melarang dari perbuatan munkar dengan penuh bijaksana dan cara yang baik, tidak menyebarkan aib dan keburukan, membantu mengurangi beban hidup dengan memberi sedekah, kerana dengan memberi sedekah kepada kerabat, engkau mendapat dua pahala kebajikan, iaitu pahala dari sedekah dan pahala dari menyambung hubungan kekerabatan. Dalam hal ini Rasulullah SAW bersabda: memberi sedekah kepada orang miskin (mendapat satu pahala) sedekah,dan memberi sedekah pada kerabat mendapat dua pahala, iaitu pahala dari sedekah dan pahala dari menyambung hubungan kekerabatan. [HR. Tirmidzi]

Golongan Ketiga Adalah Orang Yang Membenarkan Sihir

Atau orang yang membenarkan dan mempercayai perkataan para penyihir atau dukun, kerana tidak ada seorang pun yang mengetahui perkara ghaib selain Allah SWT.

Siapa yang mendatangi dukun, peramal, penyihir atau ahli nujum untuk bertanya tentang permasalahan kepadanya, maka keadaan orang tersebut tidak terlepas dari empat hal berikut ini, iaitu:

Tidak mempercayainya, golongan ini tidak diterima solatnya selama empat puluh hari berdasarkan sabda Rasulullah SAW.: Siapa yang mendatangi peramal, kemudian bertanya kepadanya tentang sesuatu yang ghaib (lalu ia tidak memeprcayainya), maka tidak akan diterima solatnya selama empat puluh malam.  [HR Muslim]

Membenarkan ucapannya, golongan ini dihukumi kafir berdasarkan sabda Rasulullah SAW: Siapa mendatangi dukun atau peramal, kemudian membenarkan ucapannya,maka ia telah kafir kepada apa yang telah diturunkan kepada Muhammad SAW.  [HR Ahmad, Abu Dawud dan Ibnu Majah].  Jika demikian halnya dosa yang ditanggung oleh orang yang bertanya kepada dukun atau peramal, lantas dosa apa yang akan ditanggung oleh para dukun dan peramal?

Sekadar ingin tahu, perbuatan ini adalah perbuatan fasik. Allah SWT berfirman: Dan sungguh Allah telah menurunkan ketentuan kepada kamu di dalam al-Quran bahawa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan (oleh orang-orang kafir), maka janganlah kamu duduk beserta mereka, sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain, kerana sesungguhnya (kalau kamu berbuat demikian), tentulah kamu serupa dengan mereka.  Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan semua orang-orang munafik dan orang-orang kafir di neraka jahannam. [QS. an-Nisa [4] : 140)

Menjelaskan kepalsuan ahli sihir, para peramal dan dukun; ini hukumnya sunnah. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan dari Abdullah bin Umar r.a. disebutkan bahawasanya Umar bin Khaththab ra. pergi bersama Rasulullah SAW dalam suatu rombongan menuju tempat Ibnu Shayyad dan menjumpainya sedang bermain dengan anak-anak kecil di dekat gedung Bani Maghalah, sedangkan pada waktu itu Ibnu Shayyad sudah mendekati usia baligh.  Ia tidak merasakan kedatangan Nabi SAW sehingga beliau menepuk punggungnya, lalu Nabi SAW berkata kepada Ibnu Shayyad: Apakah kamu bersaksi bahawa aku utusan Allah? Ibnu Shayyad memandang beliau lalu berkata: Aku bersaksi bahawa engkau adalahutusan orang-orang yangbuta huruf. Ibnu Shayyad balikbertanya kepada Rasulullah SAW: Apakah engkau bersaksi bahawa aku utusan Allah? Rasulullah SAW menolaknya dan besabda: Aku beriman kepada Allah dan para rasul-Nya. Kemudian Rasulullah SAW berkata kepadanya: Apa yangkamulihat? (maksudnya peristiwa-peristiwa yang akan terjadi dimasa yang akan datang). Ibnu shayyad berkata: Aku didatangi orang yang jujur dan pendusta. Maka Rasulullah SAW bersabda: Perkara ini telah menjadi kabur bagimu.  Akumenyembunyikan sesuatu untukmu. Ibnu Shayyad berkata: Asap.  Beliau bersabda: Pergilah engkau orang yang hina danengkau tidakakanmelewati takdirmu! kemudian Umar bin Khaththab ra.berkata: Wahai Rasulullah,izinkan aku memenggal lehernya! Beliau berasbda : Kalau dia Dajjal, dia tidak akan dapat dikalahkan, kalau bukan, maka tidak ada baiknya apabila engkau membunuhnya. [HR Bukhari dan Muslim]

Hubungi Kami

Alamat:
No.5B, Jalan 3/70 Damai Point, Seksyen 3, 43650 Bandar Baru Bangi. Selangor

Telefon: +60 17-377 7732
Email: alfalahmadani2022 [@] gmail.com

Jumlah Pengunjung

003229
Hari ini: 32
Minggu Ini: 996
Bulan Ini: 3,229
Tahun Ini: 3,229
Tahun Lepas: 52,147
Image

Alfalahmadani.my merupakan sebuah portal yang bertanggungjawab untuk bertindak sebagai penampan bagi setiap tuduhan, fitnah, kekeliruan, ketidakfahaman dan kecelaruan yang berlegar di minda rakyat. Sama ada isu-isu yang timbul secara organik di media sosial, ataupun yang didorong sebagai naratif oleh pihak-pihak tertentu,

Alfalahmadani.my akan menjawab setiap permasalahan dengan pengetahuan, kebijaksanaan dan kebenaran. Tentunya, kehadiran Alfalahmadani.my bukan berhasrat menyatakan kesempurnaan pemikiran, tetapi sebagai wahana untuk menuju kesempurnaan pengetahuan dalam konteks pemikiran semasa, dan kebijaksanaan yang mampu diusahakan.