CERMIN -KACA- DIRI

(Eksistensi cermin begitu familiar. Semua manusia mengenal dan pernah bercermin. Tapi, tak semua manusia sempat, mau, atau segelintirnya tak mampu mengambil pelajaran (i'tibar) dari cermin. Padahal, dalam makna kiasan, cermin bisa digunakan untuk "melihat diri" (refleksi diri atau introspeksi untuk melihat karakter, kelebihan, dan kekurangan diri). 

Idealnya, cermin untuk melihat diri merupakan cermin datar dan bersih. Dalam ilmu psikologi, konsep melihat diri melalui pandangan orang lain disebut looking-glass self (cermin diri).

Dalam kehidupan ini, manusia berhadapan dengan beberapa jenis cermin, antara lain :

Pertama, Cermin hias (datar, cekung, dan cembung). Umumnya, cermin jenis ini digunakan untuk melihat kesempurnaan sisi fisik diri. Ketika ada "bopeng", aib diri, atau tampilan yang tak sempurna, maka berbagai upaya dilakukan untuk menutupi-nya. Ketika "bopeng kesalahan meluap", maka tempelan "make up kesalehan" men-dominasi untuk menutupi semua kesalah-an yang ada. Semua upaya dilakukan agar "bopeng diri" bisa tertutupi. Namun, acap-kali manusia lupa bila make up yang ber-lebihan (full coverage) dan terlalu sering digunakan untuk menutupi kekurangan diri akan menyumbat "pori-pori kebenaran" dan merusak kulit (amaliah). Apalagi jika tidak dibersihkan dengan benar (taubat an-nasuha). Akibatnya, kebenaran sulit masuk ke relung hati dan taubat tak lagi dipeduli.

KeduaKaca spion. Cermin jenis ini digunakan untuk membantu pengemudi melihat perilaku orang lain tanpa pernah melihat perilaku diri dan penumpang yang ada dalam "perintah supir". Fenomena sosok manusia berkarakter "kaca spion" begitu nyata. Pada aturan dan hukum yang sama untuk melihat persoalan yang sama, tapi berbeda "keputusan" yang berlaku dan diambil. Sebab, putusan dilihat dengan "kaca spion". Akibatnya, kaca hanya digunakan untuk melihat atau mencari kesalahan orang lain. Sementara kesalahan supir dan penumpang dalam mobil tak pernah terlihat. Padahal, kesalahan "sopir dan penumpang" begitu nyata, tapi sengaja ditutupi. Akibatnya, "sopir dan penumpang" berpotensi lebih "ugal-ugalan" melanggar aturan lalu lintas.

KetigaCermin sosial. Cermin jenis ini me-rupakan sosok teman sebagai cermin karakter diri. Sebab, karakter manusia terlihat pada pilihan (kualitas) sifat teman yang ada disekitar "ikat pinggangnya". Hal ini dinyatakan Rasululullah ﷺ dalam sabdanya  : "Seseorang itu bergantung pada agama teman dekatnya. Maka hendaklah salah seorang di antara kalian melihat siapa yang menjadi teman dekatnya" (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi).

Hadis di atas memberikan pesan tentang pengaruh lingkungan sosial terhadap karakter dan spiritualitas seseorang. Bila lingkungan sosial (teman) sosok yang amanah, maka nilai amanah akan mudah dimunculkan. Namun, ketika lingkungan sosial didominasi manusia khianat dan serakah, maka "tanaman" kemungkaran akan berkembang biak dan membuahkan kezaliman (keserakahan).

Sungguh, kehadiran teman merupakan cermin diri merupakan sarana bagi seorang muslim untuk tetap berada di jalan yang benar. Bijak memilih teman jadi ukuran. Teman yang saleh menjadi tempat untuk mengingatkan bila keliru atas jalan yang dipilih, tempat rujukan untuk mencari solusi yang tepat, dan nasehat bila lupa mensyukuri nikmat-Nya. Hal ini sesuai sabda Rasulullah ﷺ : “Sesungguhnya aku hanyalah manusia seperti kalian. Aku lupa sebagaimana kalian lupa. Oleh karenanya, ingatkanlah aku ketika diriku lupa” (HR. Bukhari).

Teman saleh akan senantiasa menasehati bila melakukan kesalahan dan mengingat-kan bila mendapatkan rezeki agar tak lupa diri. Kehadirannya bagaikan cermin untuk melihat kebaikan. Sementara, bila teman salah yang dijadikan cermin, maka tampil puji menggema untuk "cari muka". Pujian sekedar "tipuan" untuk meraih keuntungan. Semua berbondong-bondong hadir ketika tumpahan "madu" begitu manis. Tapi, begitu madu telah kering dan masa telah berganti, maka teman salah akan hilang meninggalkan serpihan luka dan kepiluan. Sebab, teman yang dijadikan cermin ternyata sosok maddahin (penjilat) yang hanya  memanfaatkan pertemanan selama ada keuntungan.  

Eksistensi sosok maddahin kadangkala terungkap ketika "madu" terasa "hambar". Padahal, ketika madu begitu manis, mereka bagaikan kumpulan semut yang antrean "sembako". Fenomena ini cermin besar yang acapkali terlambat untuk disadari. Hadir ketika "nasi telah menjadi bubur". Namun, karakter teman dihadirkan-Nya sesuai kualitas karakter pemimpin. Sebab, kualitas pemimpin tergambar pada kualitas yang dipimpin. Pemimpin amanah akan dikelilingi teman yang amanah. Hal ini dinyatakan Rasulullah ﷺ melalui sabdanya : “Jika Allah SWT menghendaki kebaikan bagi diri seorang pemimpin, maka Allah akan memberinya seorang pendamping (pembantu yang jujur yang akan mengingatkan jika dirinya lalai dan akan membantu jika dirinya ingat” (Shahih. HR. Abu Dawud).

Namun, ketika pemimpin khianat dan fasik, maka Allah hadirkan teman-teman yang sesuai dengan karakternya. Hal ini diingatkan dalam kata hikmah "kalian akan dipimpin oleh orang-orang yang seperti kalian". Keduanya menjadi cermin bagi yang lain. Cermin buram atau cermin retak seribu. Demikian Allah mempertontonkan gambaran watak manusia dengan menjadi-kan "teman sekelilingnya" sebagai cermin sosial yang begitu nyata.

Sungguh, berbagai kezaliman dapat di-berantas dan perilaku keliru mampu di-koreksi ketika teman yang saleh dimiliki dan menjalankan perannya. Tapi, anehnya justeru manusia lebih memilih teman yang salah agar bisa membantu "melegalkan kesalahan" dan menggelorakan puji tanpa henti. Akibatnya, pelaku kezaliman merasa benar dan kemungkaran dianggap lumrah. Untuk itu, tak heran bila teman yang membawa jalan kesalehan (kebenaran) patut disingkirkan. Sebab, kehadiran "cermin sosial" (teman saleh) akan membuat si fasik tak leluasa melakukan berbagai kesalahan.

Keempatcermin semesta (ayat kauniyah). Jenis cermin ini melihat semesta sebagai pantulan kebesaran Allah. Sebab, semesta menyajikan ayat-Nya kepada manusia untuk melihat keagungan (kebesaran-Nya) dan begitu daifnya hamba. Hal ini tertuang dalam firman-Nya : "Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal. (Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), "Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia; Mahasuci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka" (QS. Ali Imran : 190-191).

Menurut Ibnu Katsir, ayat di atas turun agar manusia merenungkan kuasa dan kebesaran Allah. Bahkan, ayat ini mem-buat Rasulullah ﷺ menangis ketika mem-bacanya. Ayat yang mengajak manusia menggunakan akal dan hatinya untuk memahami alam semesta guna meningkat-kan keimanan dan mendekatkan diri kepada Allah melalui zikir dan tafakur.  Namun, umatnya justeru begitu mudah "mempermainkannya". Sebab hati, telinga, mata, dan akalnya telah tertutup menerima kebenaran (QS. al-Baqarah : 7).

Kelima, cermin hati (qalbun salim). Cermin jenis ini merujuk sabda Rasulullah ﷺ : "Sesungguhnya dalam tubuh manusia ada segumpal daging. Jika ia baik, baiklah seluruh tubuh. Jika ia rusak, rusaklah seluruh tubuh. Daging itu adalah hati" (HR. Bukhari dan Muslim).

Merujuk hadis di atas, Imam al-Ghazali menggambarkan hati manusia layaknya cermin. Ketika hati bersih dari nafsu dan dosa, maka cahayanya akan memantulkan ma'rifatullah (mengenal Allah). Untuk itu, manusia yang rindu bersama-Nya akan senantiasa berupaya membersihkan hati (tazkiyatun nafs) dari berbagai penyakit (iri, sombong, fasik, dusta, cinta dunia, dan lainnya). Ketika hati bersih dari kotoran, maka ia akan memantulkan cahaya kebenaran. Namun, jika hati --begitu-- kotor dan tak lagi bisa menjadi cermin diri, maka manusia semakin jauh dari cahaya Ilahi (hidayah-Nya). Hal ini diingatkan Allah dalam QS. al-Baqarah : 74 dan 283 (hati keras membatu dan kotor), QS. al-Muthaffifin : 14 (karat / noda hitam akibat maksiat), QS. Luqman : 7 (sombong), QS. Muhammad : 16 (mengikuti hawa nafsu). Anehnya, meski firman-Nya dan sabda Rasulullah begitu jelas, namun manusia semakin nyata mengingkarinya. Sungguh, sifat dan karakter manusia yang demikian melebihi sifat iblis (QS. al-A'raf : 13).

Agar manusia tak terjerumus pada sifat hewan atau iblis, maka diperlukan cermin hati yang suci. Dalam Islam, hati yang suci (qalbun salim) tumbuh pada jiwa yang ter-hindar dari penyakit hati. Hati yang suci melahitkan sifat tawadhu', ikhlas, dan senantiasa berbaik sangka terhadap ketetapan-Nya. Ketika hati terjaga, maka ketenangan dan kesehatan (mental) akan diraih. Tapi, ketika cermin hati kotor, maka kemunafikan, kesombongan, dan kezalim-an berkembang biak tanpa bisa dicegah. Bahkan, fenomena ini semakin parah bila pemilik hati kotor berbuah perilaku nista tapi "disanjung dan dipuja-puja".

Sungguh, Allah SWT telah mengingatkan manusia melalui "cermin-cermin-Nya". Ter-pulang pada setiap manusia untuk men-jadikan ayat-Nya sebagai cermin-Nya atau hanya peduli dengan cermin hias (melihat kehebatan diri) dan kaca spion (melihat ke-kurangan orang lain). Andai kedua pilihan ini yang diambil, maka kesombongan dan kezaliman akan muncul kepermukaan. Ke-tika sifat nista sebagai pilihannya, berarti berharap murka-Nya.  Sebab, janji Allah adalah pasti (QS. ar-Ruum : 60). Untuk itu, diperlukan pilihan bijak untuk memilih jenis cermin (kaca). Pilihan cerdas akan meng-hantarkan sosok hamba pilihan yang tawadhu' dan hanya berharap ridho-Nya. 

Wa Allahua'lam bi al-Shawwab.***

Prof Samsul Nizar adalah Guru Besar IAIN Datuk Laksemana Bengkalis

 

BERKAT KEHADIRAN AULIA ALLAH

Jabir ra, mengisahkan, ada seorang pemuda Anshar bernama Taalabah bin Abdurrahman. Suatu hari, ia melewati rumah salah seorang Anshar, lalu memperhatikan keadaan sekelilingnya. Matanya tertuju pada seorang perempuan yang sedang mandi, la berhenti sejenak untuk melihatnya. Tiba-tiba terbersit dalam hatinya, jangan-jangan perbuatan saya ini menjadi penghalang turunnya wahyu kepada Nabi Muhammad saw. la kemudian amat menye-sali perbuatannya.

Dengan penuh penyesalan, Tsalabah meninggalkan perkampungan menuju sebuah gunung yang terletak di antara Makkah dan Madinah, Di gunung itulah, ia menangis sejadi-jadinya selama 40 hari. Sampai akhirnya Rasulullah bertanya tentang Tsalabah. Pada saat itu, wahyu tidak turun selama 40 hari hingga orang-orang kafir mengejek, "Tuhan telah melupakan Muhammad." Tiba-tiba malaikat Jibril datang dan mengabarkan bahwa ada seorang pemuda yang mengharapkan siksa api neraka.

Rasul saw. mengutus Umar bin Khatab dan Salman al-Farisi untuk membawa Tsalabah ke hadapannya. Keduanya lalu meninggalkan kota Madinah. Mereka bertanya pada seorang penggembala setempat. la menjelaskan bahwa pemuda yang sedang mereka cari, selama 40 hari terus melolong sambil meletakkan kedua tangannya di atas kepala, "Andai saja... jiwaku tercabut dan aku tidak lagi dibangkitkan di hari kiamat."

Malam perlahan mulai bergerak, ketika dua sahabat Nabi tiba di atas gunung. Tsalabah menampakkan dirinya sambil berkata, "Andai saja jiwa dan ragaku ini musnah". Umar berusaha menenangkan Tsalabah hingga akhirnya berhasil mengajaknya pulang, "Tenanglah! Siapa pun tak ada yang rela dengan perbuatan dosanya," kata Umar.

"Wahai Umar! Bawalah aku ke hadapan Rasul saw saat beliau sedang shalat atau ketika Bilal sedang menguman-dangkan iqamah," jawab Tsalabah.

Ketika Tsalabah mendengar bacaan al-Quran Rasul (dalam shalat), ia tidak sadarkan diri. Selesai menunaikan shalat, Rasul saw. datang menghampirinya. Cahaya Rasul yang mulia membangunkan Tsalabah dan memberinya ketenangan. Ringkas ia berkata, "Ya Rasulullah! Betapa aku malu dan menyesal atas dosa yang kulakukan." Rasul lalu menjawab, "Aku akan mengajarkan kepadamu sebuah ayat yang dengannya dosa-dosa seorang hamba akan diampuni,

"Di antara mereka ada juga yang berdoa, 'Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat serta lindungilah kami dari azab neraka." (QS. al-Baqarah [2]: 201)

Tsalabah kembali berkata, "Dosaku sungguh besar." Rasul bersabda, "Tapi firman Allah jauh lebih besar dari dosa yang engkau lakukan." Tsalabah kemudian kembali ke rumahnya. Tiga hari tiga malam ia shalat dalam keadaan berlinang air mata. Rasul saw. datang dan membisikkan kepadanya bahwa dosa-dosanya telah diampuni.

“ Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menzalimi diri sendiri, (segera) mengingat Allah, lalu memohon ampunan atas dosa-dosanya, dan siapa (lagi) yang dapat mengampuni dosa-dosa selain Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan dosa itu, sedang mereka mengetahui”.(Surah Al-Imram 135)

JADI MANUSIA PEMAAF

Jalaluddin Rumi, penyair sufi terkenal sepanjang sejarah Islam, mengingatkan kita bahawa beragama yang tulus dan ikhlas walaupun kecil mampu mengubah dunia. Beragama yang tidak tulus dan bersifat munafik, betapa pun besar ia sebenarnya tidak memberi kesan kecuali menjauhkan orang dari agama Islam yang sebenar.
 
Kemunafikan manusia hari ini jelas tergambar melalui pengakuan mereka sebagai pejuang Islam dan meletakkan diri mereka setaraf dengan ulama serta merasai lebih alim daripada manusia lain tetapi hakikatnya mereka jahil dan bodoh.
 
Atas perbezaan ideologi yang disertai dengan kejahilan, telah menutup pintu hati dan pemikirannya sehingga berani membuat tuduhan kafir ke atas sesama Muslim. Malah mereka mengkhususkan syurga hanya untuk puaknya dan neraka untuk puak lain.
 
Pengucapan dua kalimah syahadah, ikhlas atau tidak bukanlah urusan orang lain untuk menilainya kerana dalam masalah ini hanya Allah yang berhak memberi penilaian. Dalam satu peperangan, panglima tentera Islam iaitu Khalid al-Walid telah membunuh musuh yang mengucapkan syahadah kerana pada sangkaannya musuh pura-pura kerana takut pedangnya. Peristiwa ini telah menarik perhatian Rasulullah s.a.w. dan Nabi menegur dengan sabdanya: 
Maksudnya: Bagaimana boleh mengaku mengetahui isi hati orang itu. Apakah ia pura-pura atau tidak?
 
Kita memerlukan Islam yang tampil dengan wajah yang ramah dan penuh kasih sayang. Kita tidak memerlukan Islam yang terikat pada bentuk-bentuk lahiriah yang terlalu setia sehingga mengabaikan inti sebenar daripada ajaran Islam. Demikian juga apa yang berlaku kepada sesetengah golongan apabila memberi syarahan agama yang bertujuan mengajak manusia dekat dengan agama, tetapi bentuk ceramah itu pula disirami dengan celaan, ejekan, kecaman dan teriakan sehingga menjauhkan kecintaan orang ramai kepada agama.
 
Apa bentuk keimanan yang sebenarnya adalah keimanan yang dapat menarik semua orang ke pangkuan Islam.
Jangan bersikap angkuh dan takbur dalam apa juga bentuk perjuangan apatah lagi atas nama Islam. Rasulullah s.a.w. pernah berkata kepada Abu Dzar.
Wahai Abu Dzar, barang siapa mati dan dalam hatinya wujud sebesar debu daripada takbur, maka ia tidak akan mencium bau syurga kecuali ia sempat bertaubat sebelum maut menjemputnya.
 
Manusia yang takbur akan sentiasa dilaknati Allah kerana mereka meyaingi kebesaran keagungan Allah dan juga kerana mereka telah membesarkan diri mereka sendiri. Mereka seumpama iblis yang pada mulanya makhluk yang sangat kuat beribadat tetapi takburnya pada Allah satu saat sahaja, ia dilaknati Allah.
 
Demikian juga segala niat dan perbuatan kita, jika ditegakkan atas dasar sikap takbur maka akan hancur dan sia-sialah hidup serta amalnya. Dengan takbur, hajinya akan ditolak, puasanya akan sia-sia, solatnya akan membawa kepada kecelakaan.
 
Salman Al-Farisi ketika ditanya Apakah perbuatan buruk yang menyebabkan semua kebaikan menjadi sia-sia. Salman menjawab: Takbur.
 
Janganlah kita membangga diri dengan ilmu yang banyak dan tinggi sehingga meletakkan orang lain semuanya bodoh dan jahil. Janganlah kita bertakbur menimbulkan keosakan di muka bumi ini, apabila ada segolongan manusia yang seagama menghulurkan tangan untuk bermaafan demi agama Islam yang murni.
 
Orang yang mulia dan baik di sisi Allah ialah mereka yang memulakan salam dan menghulurkan tangan pada saudaranya untuk berdamai. Manakala orang yang paling jahat adalah sebaliknya. Oleh itu golongan yang menolak tawaran berdamai adalah orang yang paling di benci oleh Allah.
 
Allah s.w.t. berfirman:
Maksudnya: Dan janganlah kamu memalingkan mukamu (kerana memandang rendah) kepada manusia dan janganlah engkau berjalan di muka bumi dan berlagak sombong takbur lagi membanggakan diri. (Surah Luqman: 18) 
 
Kesombongan bukan sahaja merugikan manusia di dunia malah mengheretnya kepada kehinaan di akhirat, walaupun sombong itu hanya sebesar zarah. Kharithsah bin Wahab r.a. berkata, Nabi bersabda yang bermaksud:
Mahukah kamu aku beritahu tentang ahli neraka? Iaitu setiap sifat keras hati, berjalan dengan angkuh dan sombong. (Muttaffa-Qalaih)
 
Malah Rasulullah s.a.w. apabila bertemu sesama Islam ia terlebih dahulu memberi salam dan apabila bersalaman tidak akan dilepaskan tangannya kecuali orang itu yang melepaskannya dahulu.

AGAR MULIA DI MATA ALLAH SWT

Berbahagialah orang yang meninggalkan dunia sebelum dunia meninggalkannya, yang membangun kuburannya sebelum memasukinya dan yang redha kepada Tuhannya sebelum berjumpa dengan- Nya. (Yahya bin Muad ar- Razi dalam An- Nawawi, Nashaih al- ibad, hlm 12).

Imam an-Nawawi menyatakan, Pertama: meninggalkan dunia sebelum dunia meninggalkannya bermakna menghabiskan harta dalam berbagai amal kebajkan sebelum Allah mencabut harta itu dari dirinya. Kedua: membangun kuburan sebelum memasukinya bermakna memperbanyak amal solih ketika di dunia sehingga ia boleh merasakan kedamaian di alam kuburnya setelah kematiannya. Ketiga: redha kepada Tuhannya sebelum berjumpa dengan- Nya  dengan menjalankan seluruh perintah Allah dan menjauhi semua larangan- Nya sebelum menghadap Allah SWT untuk mempertanggungjawabkan seluruh perbuatannya.

Jika direnungkan kenyataan di atas, sesungguhnya amat dalam maknanya dan amat berharga. Apalagi jika dikaitkan dengan realiti kehidupan orang Islam saat ini. Sekarang ini sebagaimana kita lihat, banyak orang Islam yang hidupnya berkecukupan. Namun, banyak di antara yang berkecukupan itu menghabiskan hartanya justeru dalam perkara- perkara yang kurang bermanafaat, bahkan dalam perkara- perkara maksiat. Ramai di kalangan kita dengan mudah membeli segelas kopi berharga  puluhan ringgit di hotel mewah, tetapi begitu susah mengeluarkan beberapa ringgit sahaja untuk bersedekah. Ramai juga dikalangan kita dengan ringan memasukkan koceknya dengan ratusan ringgit bahkan jutaan ringgit untuk menyewa bilik hotal mewah untuk beberapa malam sahaja tetapi betapa beratnya  hati untuk menyumbang kepada majlis dakwah/ ilmu atau membangunkan  masjid meskipun dengan jumlah yang sedikit.

Ramai yang berlumba- lumba membangunkan rumah atau apartment mewah meski pun untuk hidup sementara sahaja,  anehnya tidak sedikitpun tertarik untuk berlumba- lumba membangunkan kuburnya (baca: dengan memperbanyak amal soleh sebagai bekalan didalamnya). Padahal alam kubur itulah yang akan kita duduki sebagai alam penantian, sebelum akhirnya tinggal di alam akhirat dengan abadi. Begitu juga dengan perintah Allah, ramai yang jarang menunaikan perintah- perintah Allah SWT dan malah meninggalkan larangan- larangan- Nya, seolah- olah tidak redha menerima semua itu dari Tuhannya dan tidak akan bertemu dengan- Nya di Akhirat nanti, untuk mempertanggungjawabkan seluruh sikap dan amal perbuatannya itu saat di dunia.

Agar kita tidak terjebak dengan perilaku- perilaku di atas, alangkah baiknya kita merenungkan kata- kata Syaikh Abdul Qadir al- Jailani, Jika seseorang berjumpa dengan seseorang, hanya melihat keutamaan dan keunggulan dirinya lalu berkata, Boleh jadi Allah menjadikan dia lebih baik dan lebih tinggi derajatnya daripada aku. Jika orang yang ditemui itu lebih muda darinya lalu berkata,  Sudah tentu dia lebih sedikit bermaksiat kepada Allah , sedangkan aku telah banyak bermaksiat kepadanya sehingga tentu ia lebih baik daripada aku. Jika orang yang yang dijumpai lebih tua, lalu berkata,  Dia tentu lebih banyak beribadah daripada aku, sudah tentu dia mendapatkan karunia dari Allah apa yang tidak aku perolehi, mengetahui banyak hal dari apa yang tidak banyak aku ketahui dan dia pasti telah banyak mengamalkan ilmunya.” Jika orang yang dijumpai itu adalah orang awam/ bodoh darnya, lalu berkata Kalaupun ia bermaksiat kepada Allah tentu kerana ketidaktahuan dari ketidak- sedarannya, sedangkan jika aku bermaksiatkan kepada- Nya tentu dengan sepenuh pengetahuan dan kesedaraanku

Dengan kata- katanya ini tentu Syaikh Abdul Kadir al- Jailani tidak menyuruh kita bersikap persimis dan berkecil hati. Beliau hanya ingin agar kita selalu bersikap rendah hati dan tahu diri, bahawa dalam hal kebajikan dan amal soleh boleh jadi kita belum apa- apa dibandingkan dengan orang lain. Dengan itu, kita akan selalu terpacu untuk menjadi orang yang lebih baik daripada orang lain. Sebaliknya , kita pun dituntut untuk sedar diri, bahawa boleh jadi kita lebih banyak berdosa dan bermaksiat dibandingkan dengan orang lain. Dengan itu, kita akan lebih banyak bertaubat dan meninggalkan lebih banyak lagi maksiat. Dengan semua itu,kita akan lebih mulia dalam pandangan Allah SWT. Benarlah kata- kata Imam Ali kw., Jadilah Anda  Besar (mulia dalam pandangan Allah SWT) dan kecil dalam pandangan Anda sendiri.

MENJADI MUSLIM YANG KUAT

Segala puji bagi Allah Ta’ala yang dengan karunia dan rahmat-Nya memuliakan hamba-hamba beriman dengan petunjuk Al-Qur’an dan sunah Nabi Muhammad ﷺ. Salah satu keutamaan besar yang Allah anugerahkan adalah kemampuan seorang hamba untuk bertumbuh, menguat, dan menjadi pribadi yang matang secara ruhani, akhlak, dan tanggung jawab. Setiap Muslim diperintahkan untuk berbuat ihsan, memaksimalkan diri, dan menempuh jalan yang benar menuju kedewasaan iman.

Di tengah zaman yang penuh kemudahan namun juga melemahkan mental, banyak pemuda Muslim mencari cara agar dapat menjadi pribadi yang kuat, tegar, dan matang dalam waktu relatif cepat. Bukan kuat secara fisik semata, tetapi kuat akidahnya, ibadahnya, karakternya, dan cara berpikirnya.

Ada beberapa prinsip penting yang dapat mempercepat proses penguatan jiwa dan akhlak seorang muslim. Prinsip-prinsip ini berakar pada tuntunan syariat dan teladan Nabi ﷺ dalam membangun karakter generasi terbaik. Di antara prinsip tersebut adalah berani mengambil risiko dengan bertawakal kepada Allah, berguru kepada guru yang lurus dan berpengalaman, serta menempuh perjalanan (safar) sebagai sarana penggemblengan mental.

Mengambil risiko dengan tawakal kepada Allah

Pertama, seorang Muslim harus berani mengambil risiko dalam hidup selama berada dalam ketaatan kepada Allah. Risiko di sini merupakan keberanian untuk melangkah meski hasil masih gaib dan tidak pasti. Allah Ta’ala berfirman yang bermaksud,

“Dan barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupinya.” (QS. Ath-Thalaq: 3)

Saudaraku, ketidakpastian bukan alasan untuk berhenti bergerak. Seorang Muslim justru diuji pada saat ia tidak mengetahui hasil akhir. Dalam kehidupan Nabi ﷺ, terdapat banyak momen ketika beliau ﷺ bertindak sebelum mengetahui hasil, seperti saat berhijrah, berdakwah secara terang-terangan, dan menghadapi berbagai ancaman. Semua dilakukan dengan tawakal, bukan menunggu kepastian hasil.

Ketakutan terhadap hal yang belum diketahui sering membuat sebagian orang terjebak dalam analysis paralysis. Mereka menunda, menimbang terlalu lama, dan akhirnya tidak bergerak sama sekali. Padahal Rasulullah ﷺ bersabda yang bermaksud,

“Jika engkau meminta sesuatu, mintalah kepada Allah. Jika engkau memohon pertolongan, mohonlah kepada Allah.” (HR. At-Tirmidzi no. 2561, hasan shahih)

Hadis ini menunjukkan bahwa keberanian seorang hamba lahir dari keyakinan kepada Allah, bukan dari kepastian duniawi. Melangkah sambil berdoa dan berusaha adalah bentuk ibadah.

Selain itu, risiko sering kali mengantarkan seseorang kepada kegagalan. Namun, kegagalan adalah bagian dari takdir yang membawa hikmah. Allah berfirman yang bermaksud,

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu; dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216)

Oleh karenanya, hal yang penting untuk kita camkan pada diri sendiri bahwa kegagalan tidak boleh menghancurkan iman, tetapi justru memperkuat tawakal dan kerendahan hati seorang Muslim.

Pentingnya memiliki guru

Kedua, setiap Muslim yang ingin tumbuh dengan cepat membutuhkan seorang guru atau mentor. Belajar kepada orang berilmu adalah prinsip dasar yang tidak pernah berubah. Allah Ta’ala berfirman yang bermaksud,

“Maka bertanyalah kepada ahli ilmu jika kalian tidak mengetahui.” (QS. An-Nahl: 43)

Seorang mentor bukanlah orang yang sekadar fasih berbicara, tetapi seseorang yang memiliki pengalaman, hikmah, dan istikamah. Di antara keutamaan belajar kepada guru/ulama adalah bahwa mereka menunjukkan aplikasinya sesuai pemahaman para salaf. Inilah yang dimaksud oleh sebagian ulama: ilmu itu diwariskan, bukan hanya dipelajari dari buku.

Para ulama klasik maupun kontemporer menekankan pentingnya duduk bersama guru karena keberkahan ilmu hadir melalui talaqqi (belajar langsung).

Cahaya itu tidak dapat diperoleh hanya dengan membaca, tetapi dengan bimbingan seorang guru yang mengarahkan. Pengalaman para da’i yang pernah belajar di kota-kota ilmu seperti Madinah dan Mekkah menunjukkan betapa seorang Syekh dengan hafalan kuat dan akhlak mulia dapat membantu muridnya memahami agama lebih tepat dan lebih cepat.

Selain itu, penting pula memiliki mentor yang memahami konteks lokal. Ilmu agama itu satu, tetapi penerapannya memiliki rincian sesuai tempat dan kondisi. Seorang guru yang memahami realitas sosial dan budaya muridnya, dia akan mampu memberikan nasihat yang relevan, bukan sekadar teoritis. Dari sinilah seorang Muslim tumbuh lebih matang dalam memahami urusan hidupnya.

Madrasah kehidupan yang membentuk kedewasaan

Ketiga, safar (perjalanan) adalah salah satu sarana terbaik untuk mempercepat kematangan jiwa. Nabi ﷺ bersabda yang bermaksud, “Safar adalah bagian dari azab (siksa). Ketika safar, salah seorang dari kalian akan sulit makan, minum, dan tidur. Jika urusannya telah selesai, bersegeralah kembali kepada keluarganya.” (HR. Bukhari no. 1804 dan Muslim no. 1927)

Kesulitan itulah yang mendewasakan. Safar mengajarkan seseorang untuk bersabar, bertawakal, mengelola stres, berinteraksi dengan budaya baru, dan menghadapi keadaan yang tidak terduga. Setiap perjalanan membuka wawasan bahwa dunia ini luas dan manusia beragam.

Setiap momen dalam safar — kehilangan barang, tersesat, menghadapi cuaca ekstrem, atau bertemu orang yang berbeda karakter — adalah pelajaran hidup. Kesulitan-kesulitan itu membuat seseorang lebih rendah hati, lebih tegar, dan lebih bersyukur kepada Allah Ta’ala.

Salah satu bentuk safar paling besar manfaatnya adalah haji dan umrah. Selain sebagai ibadah wajib/utama, perjalanan ini melatih keikhlasan, kesabaran, kepemimpinan, serta kemampuan melindungi keluarga atau rombongan. Seorang lelaki Muslim akan diuji dalam menjaga adab, mengelola kelelahan, dan menyelesaikan masalah tanpa banyak fasilitas.

Safar juga membuat seseorang memahami bahwa dunia tidak berputar di sekelilingnya. Ketika melihat orang yang hidup tanpa listrik atau air bersih namun tetap bahagia, seorang Muslim akan menyadari betapa banyak nikmat yang selama ini ia tidak syukuri.

Menggabungkan ketiganya untuk menjadi Muslim yang kuat

Mengambil risiko, berguru kepada mentor, dan melakukan safar adalah tiga komponen pembentuk jiwa yang saling melengkapi. Risiko melatih keberanian dan tawakal. Mentor memberikan arah agar tidak tersesat. Safar memperkuat mental dan memperluas wawasan.

Nabi ﷺ bersabda yang bermaksud, “Mukmin yang kuat itu lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah, namun pada keduanya ada kebaikan.” (HR. Muslim no. 2664)

Kekuatan yang dimaksud ulama adalah kekuatan iman, ketegasan karakter, ketangguhan menghadapi cobaan, dan kemauan untuk menapaki jalan kebaikan. Dengan tiga langkah ini, seorang Muslim dapat mencapai kedewasaan spiritual lebih cepat daripada sekadar menunggu pengalaman hidup datang dengan sendirinya.

Pada akhirnya, semua proses ini harus dibingkai dengan niat yang ikhlas. Tidak ada gunanya menjadi kuat secara mental atau fisik jika tidak diarahkan untuk ibadah kepada Allah. Langkah-langkah ini juga harus ditempuh dengan doa, muhasabah, dan komitmen menjaga amal-amal dasar: salat, tilawah, zikir pagi–petang, dan menjauhi maksiat.

Semoga Allah menjadikan kita sebagai hamba yang kuat, tawakal, dan bermanfaat bagi umat. 

Aamiin.

Sumber: muslim.or.id

Hubungi Kami

Alamat:
No.5B, Jalan 3/70 Damai Point, Seksyen 3, 43650 Bandar Baru Bangi. Selangor

Telefon: +60 17-377 7732
Email: alfalahmadani2022 [@] gmail.com

Jumlah Pengunjung

029611
Hari ini: 61
Minggu Ini: 1,470
Bulan Ini: 5,541
Tahun Ini: 29,611
Tahun Lepas: 52,147
Image

Alfalahmadani.my merupakan sebuah portal yang bertanggungjawab untuk bertindak sebagai penampan bagi setiap tuduhan, fitnah, kekeliruan, ketidakfahaman dan kecelaruan yang berlegar di minda rakyat. Sama ada isu-isu yang timbul secara organik di media sosial, ataupun yang didorong sebagai naratif oleh pihak-pihak tertentu,

Alfalahmadani.my akan menjawab setiap permasalahan dengan pengetahuan, kebijaksanaan dan kebenaran. Tentunya, kehadiran Alfalahmadani.my bukan berhasrat menyatakan kesempurnaan pemikiran, tetapi sebagai wahana untuk menuju kesempurnaan pengetahuan dalam konteks pemikiran semasa, dan kebijaksanaan yang mampu diusahakan.