KARAKTER 'ABU LAHAB'

Abu Lahab (Abdul Uzza bin Abdul Muthalib) merupakan salah seorang paman dekat Rasulullah. Awalnya, Tsuwaibah meng-khabarkan bahwa Siti Aminah telah melahirkan seorang putra yang sempurna dan diberi nama Muhammad.

Kabar yang membuat hatinya begitu senang dan bahagia. Di sepanjang jalan yang dilalui, ia ungkapkan kata-kata pujian atas kelahiran keponakannya tersebut. Kebahagiaannya diluapkan dengan mengundang tetangga, teman, dan para kerabat untuk merayakan kelahiran keponakannya.

Di hadapan para undangan, ia berkata kepada budaknya, ”wahai Tsuwaibah, sebagai tanda syukurku atas kelahiran keponakanku, anak dari saudara laki-lakiku Abdullah, maka mulai hari ini kamu adalah lelaki merdeka.” Kebahagiaan Abu Lahab di hari kelahiran Rasulullah men-jadi wasilah ia memperoleh keringanan siksa-Nya setiap hari senin. Hal ini diceritakan oleh Abbas bin Abdul Muthalib (paman Nabi), bahwa beliau ber-mimpi melihat Abu Lahab seraya bertanya, "bagaimana keadaanmu ?".

Abu Lahab menjawab, aku seperti yang engkau lihat. Tersiksa di alam barzah. Tapi setiap hari senin, Allah SWT meringankan siksa-Nya kepadaku. Sebab, pada hari itu, aku begitu gembira dengan kelahiran keponakanku (Muhammad).” 

Kegembiraan Abu Lahab terhadap ponak-annya tak berlangsung lama. Meski memiliki hubungan darah, tapi Abu Lahab sangat membenci dan penentang keras agama yang dibawa oleh keponakannya tersebut. Kebencian ini didukung oleh isterinya (Ummu Jamil binti Harb) dan be-berapa tokoh elit Quraisy lainnya, di antara-nya Abu Jahal (Amr Ibn Hisyam). Dengan posisi, pengaruh, dan kekuatan finansial-nya, Abu Jahal bersekutu dengan Abu Lahab untuk memusuhi Nabi Muhammad ﷺ dan pengikutnya.

Bila al-Qur'an dan masyarakat Arab mem-beri julukan Abu Lahab (berarti bapak api yang berkobar) karena pipinya yang selalu kemerahan, maka gelar Abu Jahal (bapak kebodohan) karena kesombongan dan gengsinya yang luar biasa melakukan ter-hadap kebenaran ajaran Rasulullah. Pada-hal, ia tau kebenaran, tapi mengingkarinya. Bukti pengingkaran terlihat ketika setiap kali Abu Jahal berpapasan dengan Rasulullah ﷺ, ia selalu menutup matanya dengan kain sorbannya.

Perilaku aneh ini membuat kaum kafir Quraisy heran dan bertanya : "wahai Abu Jahal, kenapa eng-kau menutup mata dan wajahmu setiap berpapasan dengan Muhammad ?". Abu Jahal menjawab, "demi Allah, setiap aku bertemu dan melihat Muhammad, hatiku menjadi luluh. Sebab, wajahnya bukan wajah pendusta, perkataannya bukan per-kataan orang gila, dan perilakunya begitu terpuji yang tak pernah aku temukan. Aku takut bila melihatnya, hatiku lebih dahulu memuliakannya mendahului mulutku". 

Kisah "kejahilan" Abu Lahab dan Abu Jahal begitu banyak ditemukan. Namun, kisah yang penuh i'tibar (pelajaran) ini tak pernah dijadikan sebagai renungan memperbaiki diri, tapi justeru selalu diikuti. Padahal, karakter Abu Lahab dan Abu Jahal begitu nyata dan berpotensi tampil pada perilaku lintas generasi. Sebab, keduanya merupa-kan arsitek utama terjadimya penyiksaan atas para sahabat Nabi, pemboikotan terrhadap kaum muslim, dan provokator (menghasut) orang lain untuk membeci Rasulullah. Bila kebencian Abu Lahab dilakukan secara langsung (vis a vis), tapi kebencian Abu Jahal dilakukan dengan memanfaatkan posisi dan materi yang dimiliki. Untuk itu, kisah kebencian Abu Lahab dan isterinya yang begitu ekstrim diabadikan dalam al-Qur'an QS. al-Lahab : 1-5. Sedangkan, Abu Jahal terbunuh dalam kekufuran di Perang Badar.

Ada beberapa cerminan karakter Abu Lahab dan Abu Jahal yang melekat pada manusia sepanjang sejarah --terutama akhir zaman-- antara lain : 

Pertama, Abu Lahab dan Abu Jahal tau sifat jujur, kemuliaan akhlak, dan kebenar-an agama yang dibawa oleh ponakannya. Tapi, mereka enggan mengakui dan menen-tangya. Meski hati dan akalnya menerima kebenaran, tapi mulut dan nafsunya yang mengingkari dan memerintahkan untuk berperilaku zalim terhadap semua kebenar-an ajaran yang dibawa oleh Rasulullah. Manusia yang demikian sedang ditimpa azab-Nya yang pedih. Hal ini tertuang dalam firman-Nya :"Allah telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat" (QS. al-Baqarah : 7).

Menurut Ibn Katsir, tertutupnya seluruh pintu hidayah disebabkan oleh dosa-dosa yang terus melekat akibat kebiasaan ber-perilaku menolak kebenaran dan mengikuti hawa nafsu. Akibatnya, mereka tidak akan pernah beriman dan mendapat hidayah-Nya.

Sejarah membuktikan bahwa hadirnya si-kap kebencian dan arogan akan berakibat fatal, apalagi bila dibangun atas kerjasama "tetrasula (quadrident)" atau"kujang mata empat". 

Bangunan kerja sama kemungkaran antara kemunafikan kaum intelektual, pemilik posisi (status) tinggi, penyandang dana yang kuat, serta dukungan massa jahil (keluarga) yang tertutup akal dan hatinya dari nilai kebenaran (hukum dan agama).

Kedua, Penolakan terhadap agama yang dibawa oleh Rasulullah bukan disebabkan ke-jahil-annya (kebodohon), tapi lebih pada kekhawatiran akan hilangnya pengaruh atau jabatan (kekuasaan) yang dimilikinya. 

Sikap tercela ini telah diingatkan oleh Allah melalui firman-Nya : "Sungguh, orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan dan petunjuk, setelah Kami jelaskan kepada manusia dalam Kitab (al-Qur'an), mereka itulah yang dilaknat Allah dan dilaknat (pula) oleh mereka yang melaknat" (QS. al-Baqarah : 146).

Menurut al-Qurthubi, ayat di atas berisi ancaman keras bagi manusia yang se-ngaja menyembunyikan ilmu atau ke-benaran yang sudah diketahuinya karena takut kehilangan reputasi, posisi, materi, atau pengikut. Mereka akan kehilangan keberkahan, kehilangan kepercayaan (krisis moral), dan siksa yang pedih.

Ketiga, Kebencian disebabkan "kekerdilan diri" atas ketidakmampuan memiliki kebaikan atau mengimbangi kualitas (kalah pamor) atas orang yang dibenci. Untuk itu, berbagai upaya intimidasi, provo-kasi, dan fitnah dilakukan agar kebencian menyelimuti hati semua orang. Sifat ini selalu diiikuti oleh manusia yang selevel. Padahal, mereka merupakan kaum terpela-jar yang mengetahui ajaran agamanya, tapi selalu mengingkari. Ternyata, "tak semua manusia menolak kebenaran karena ketidaktauan, tapi lebih pada ketakutan atas posisi atau kedudukannya." Sosok manusia yang demikian telah diingatkan oleh Rasulullah ﷺ melalui sabdanya : "Akan datang kepada manusia suatu saat, orang yang berpegang teguh pada agama-nya seperti orang yang berpegang teguh pada bara api” (HR. at-Tirmidzi).

Beriman sebatas pemanis bibir dan men-jaga kebenaran begitu berat, tapi melaku-kan kemaksiatan dan kezaliman dianggap gerak zaman. Sebelumnya, setiap umat nabi dan rasul hanya melakukan satu atau dua jenis kejahatan. Umat nabi Luth yang tertarik pada sejenis, umat nabi Musa menganggap dirinya "tuhan", umat nabi Nuh yang sombong dan menyembah ber-hala, atau umat nabi Syuaib yang curang (korupsi) dan memonopoli ekonomi. Tapi, fenomena kemungkaran manusia (umat) akhir zaman justeru sangat mengerikan. Mereka melakukan akumulasi semua ke-jahatan umat para nabi dan rasul terdahulu. Hal ini diingatkan Rasulullah ﷺ dalam sabdanya : "Kalian pasti akan mengikuti jejak umat-umat sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta..." (HR Bukhari dan Muslim).

Hadis di atas merupakan peringatan keras Rasulullah ﷺ tentang proses tasyabbuh (penyerupaan) budaya, gaya hidup, politik, ekonomi, bahkan bentuk kemaksiatan umat sebelumnya. Peringatan tersebut justeru sedang dipraktekan umat akhir zaman. Meski secara perlahan, tapi umat begitu "semangat" untuk mengadopsi dan mengakumulasi semua bentuk dosa kaum terdahulu.

Kesemuanya terlihat begitu nyata dan beberapa indikator tak terbantah-kan. Ketika para pendusta lebih dipercaya dan pembawa kebenaran tapi didustakan, orang khianat diberi amanah dan orang amanah dikhianati, kebenaran dicurigai dan kebohongan diberi posisi, pintar bicara bukan karena keilmuan tapi sebatas kebe-ranian beretorika, dan varian lainnya. 

Ketika fenomena di atas terjadi, maka Islam hanya tinggal nama dan al-Quran sebatas tulisan semata. Masjid begitu megah dan jamaah begitu ramai, tapi umat tak mampu disatu-kan. Ayat al-Quran dilan-tunkan merdu, tapi tak mampu menggetar-kan kalbu. Kajian agama begitu membahana, tapi sepi dari amalan. Majelis ilmu begitu berkembang, tapi pemilik ilmu acapkali tak beradab. Umat hanya sibuk mengunggah amaliah di media sosial agar memperoleh pujian. Shalat dilakukan, tapi tak mampu mencegah kezaliman.

Majelis zikir begitu menjamur dan membahana, tapi kemung-karan dan kebencian senantiasa membara. Malam hari beriman, paginya kembali pada kekufuran. Pelaku kesalahan selalu dipuji dan dianggap kewajaran, tapi pemilik ilmu kebaikan dianggap bentuk perlawanan yang harus disingkirkan. Pelanggar aturan didiamkan dan dimaklumi, tapi penjaga kebenaran justeru dikucilkan dan dibuli. Keserakahan (berbagai variannya) dinilai keberkahan lagi mujur, tapi sifat jujur selalu tersungkur dan terbujur.

Meski manusia secara agama dan keilmuan mengetahui nilai kebenaran, tapi secara sadar melanggarnya. Bila Abu Lahab secara terang-terangan memusuhi Rasulullah, tapi umat akhir zaman ber-sembunyi dalam wajah kesalehan ketika melakukan pelanggaran (fasik) terhadap hukum dan agama. Bila hal ini terjadi, be-tapa kenistaan dengan sengaja dibangun, ditradisikan, dan didukung para "cendekia berkarakter jahiliyah". Meski karakter Abu Lahab yang sombong, busuk hati, dan ter-cela, tapi wataknya selalu diganderungi, diikuti, dan dilanggengkan lintas generasi. 

Wa Allahua'lam bi al-Shawwab.***

Prof Samsul Nizar adalah Guru Besar IAIN Datuk Laksemana Bengkalis

FIKIH BERJABAT TANGAN, ADAB YANG MULIA

BERJABAT  tangan (al-mushâfahah) merupakan salah satu adab mulia yang diajarkan dalam Islam. Amalan sederhana ini bukan sekadar berjabat tangan, melainkan bentuk kehormataan terhadap orang lain. Tanpa disadari, chemistry atau kedekatan emosional secara otomatis terbangun sehingga tercipta hubungan yang baik antar sesama. Selain itu, jabat tangan yang disertai senyum ringan dapat menumbuhkan ukhwah Islamiyah dan suasana batin terasa lebih akrab.

Namun di balik itu semua, dalam Islam berjabat tangan memiliki keisimewaan tersendiri. Baginda Rasulullah Shallahu ‘Alaihi Wasallam menekankan bahwa amalan ini dapat menghapus kesalahan.

Rasulullah Shallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda yang bermaksud:

Dari Bara` ia berkata: Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wasallam bersabda: Tidaklah dua orang muslim bertemu lalu berjabat tangan kecuali Allah akan memberi ampunan kepada keduanya sebelum mereka berpisah. (HR. Abu Daud).

Hadis di atas menjadi dasar bahwa orang yang berjabat tangan akan mendapat ampunan dosa dari Allah Subhânahu Wata’âla selama keduanya belum berpisah. Adapun dosa yang diampuni ialah dosa-dosa kecil (shahgâir), bukan dosa besar (kabâir). Adapun waktu dan tempat tidak disebut secara terperinci, di mana dan kapan pun amalan ini dilakukan hukumnya mubah.

Suatu hari, Thalhah bin Ubaidillah salah satu dari sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga berdiri menghampiri Ka’ab bin Malik setelah Allah Subhânahu Wata’âla menerima taubatnya, lalu menjabat tangannya dan mengucapkan selamat. (Khâlid Al-Jarîsi, Fatâwâl Baladil Harâm, 175). Artinya apa yang dilakukan Thalhah tidak harus setelah shalat, ketika sahabat ini mendengar Allah Allah Subhânahu Wata’âla mengampuni dosa Ka’ab lantaran tidak ikut dalam perang Tabuk, sekoyong-koyong menyalami lalu mengucapkan tahniah (selamat).

Riwayat menjadi dasar bahwa saat seseorang mendapat kabar gembira dianjurkan menjabat tangannya dan mengucapkan kata-kata yang menggembirakan sebagai ungkapan rasa syukur dan turut merasakan kebahagiaan.

Tindakan ini juga bukti kuatnya hubungan ukhwah Islamiyah. Maka sungguh ironis bila mengatakan jabat tangan di antara bentuk perbuatan yang tidak diajarkan Rasulullah Shallahu ‘Alaihi Wasallam, telebih lagi menganggap hal itu perbuatan bid’ah dan pelakunya diancam dengan neraka.

Penilaian semacam ini bertentangan dengan prinsip dasar Islam. Sebelum memberi vonis hukum terhadap sesuatu, hendaknya seseorang mengkaji, meneliti dan mendiskusikan dengan baik. Langkah-langkah yang dilakukan dengan mengkompromikan nash (ayat dan hadis) lalu divalidasi berdasarkan pemahaman ulama salaf dan khalaf. Sikap terlalu dini menjatuhkan vonis sesat atau kafir akan melahirkan rupture (keratakan) dalam tubuh islam.

Imam An-Nawawi rahimahullah berkata:

Ketahuilah, mazhab Ahlus Sunnah yang benar adalah bahwa tidak boleh mengafirkan seorang pun dari ahli kiblat (kaum Muslimin) hanya karena suatu dosa atau karena suatu bid'ah. (Nawawî, Al-Minhâj, 1/150).

Ucapan Imam An-Nawawi tersebut menegaskan salah satu prinsip penting dalam akidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah, yaitu kehati-hatian dalam memberikan vonis kepada sesama muslim. Beliau menjelaskan bahwa seorang muslim yang masih termasuk ahlul kiblat—yakni orang yang mengakui syahadat dan menghadap kiblat dalam salat—tidak boleh divonis kafir hanya karena melakukan sesuatu yang dianggap tidak memiliki dasar (bid'ah).

Berjabat tangan merupakan sunnah yang dianjurkan dalam Islam sebagai wujud penghormatan, kasih sayang, dan penguat ukhuwah Islamiyah. Selain memiliki nilai sosial, amalan ini juga bernilai ibadah karena menjadi sebab diampuninya dosa-dosa kecil. Oleh karena itu, berjabat tangan tidak patut dipandang sebagai amalan yang tercela atau divonis sebagai bid'ah tanpa dasar ilmiah yang kuat.

Perbedaan pandangan hendaknya disikapi dengan ilmu, adab, dan sikap saling menghormati, bukan dengan mudah menyesatkan atau mengafirkan sesama muslim. Dengan demikian, semangat yang harus dikedepankan adalah menghidupkan sunnah Rasulullah Shallahu ‘Alaihi Wasallam sekaligus menjaga persatuan dan keharmonisan umat Islam.***

PENGUATAN KESADARAN DIRI

SUNGGUH, manusia acapkali begitu aneh. Kualitas permata tak terlihat dan tak pula dihargai karena letaknya di pojok gudang yang berdebu. Tapi, batu bata yang kotor justeru dinilai berharga karena letaknya di etalase mewah. Begitu standard penilaian manusia berkepribadian rendah. Melihat nilai hanya berdasarkan  kondisi dan status, bukan kualitas objek.

Fenomena penilaian di atas telah diingat-kan oleh Sayidina Ali bin Abi Thalib RA : "Jangan lihat siapa yang bicara, tapi lihat-lah apa yang dibicarakan". Kata bijak yang penuh hikmah dari sang "pemegang kunci" perbendaharaan ilmu nabi Muhammad ﷺ. Sayangnya, untaian hikmah tersebur sekadar dibaca tapi begitu sulit bahkan enggan dipedomani umat akhir zaman. Sebab, manusia telah dibutakan oleh wujud ilusi dan kemunafikan. Manusia justeru lihai memutarbalikan nasehat tersebut. Hanya fokus "melihat siapa yang berbicara, tapi tak perlu melihat apa yang dibicarakan".  Sungguh pengingkaran nyata yang tanpa adab. Anehnya, logika terbalik ini dianggap biasa dan menjadi tradisi "menjilat posisi". Penyakit ini berpotensi menerpa seluruh komponen, tanpa terkecuali. Hanya sosok pemilik iman yang lurus mampu selamat.

Meski ilmu mengajarkan "jalan kebenaran", tapi acapkali tak mampu menghantarkan pemiliknya menemukan tujuan yang benar. Sebab, tujuan hakiki yang ingin dituju telah diselimuti awan fatamorgana nafsu sera-kah yang menampilkan "kenikmatan dan keindahan memukau".  Akibatnya, kebenar-an ilmu yang dipelajari acapkali tak bisa terlihat, bahkan nyatanya bertolak bela-kang. Untuk itu, wajar bila deretan gelar atau tingginya status acapkali tak berkore-lasi dengan perilaku nyata. Perilaku biadab yang ditutupi asesoris palsu seakan sosok beradab. Penghargaan dan pujian begitu menggema hanya ketika memiliki posisi. Padahal isi kepala dan untaian kata yang sebenarnya hanya biasa-biasa saja dan terkadang sepele, murahan, sampah, dan "aneh atau kampungan". Sebaliknya, "kesunyian" begitu terasa bila keluar dari mulut strata "rakyat jelata". Padahal, isinya merupakan kebenaran yang cahayanya menembus dan mengguncang langit. Ketika hal ini terjadi, pejuang kebenaran seakan hidup dalam kesendirian di tengah "hutan jahiliyah" dan hiruk pikuk teriakan peradaban yang semu penuh kemunafikan.

Sungguh, bagi manusia tanpa dasar ilmu dan iman, fase hidup "di atas" membuat tumbuh subur kesombongan. Sedangkan bagi fase hidup "di bawah" merupakan ruang begitu sempit dan tak ada yang hadir membantu. Tak ada yang memberi semangat, memperhatikan, atau peduli. Pada fase ini, banyak manusia runtuh,  bukan karena beban yang berat tapi merasa sendiri tanpa ada yang peduli. Padahal, fase ini Allah sedang membentuk karakter dan mental hamba pilihan-Nya. Untuk itu, sandarkan pada pemilik kehidup-an yang tak pernah melupakan hamba pencari kebenaran dan perlindungan-Nya.

Ada beberapa langkah yang perlu dilaku-kan bagi menyadarkan diri pemilik harga diri (kebenaran), antara lain :

Pertama, Sadari tak semua perjuangan yang penuh resiko dan dinamika mendapat perhatian dan tepuk tangan, dihargai, dan diapresiasi. Sebab, perjuangan, pemikiran cerdas, dan karya nyata tak memerlukan validasi makhluk. Baginya, kepuasan hadir bila berhasil menghadirkan kebermanfaat-an, membawa kebajikan, dan rahmat bagi semesta (QS. al-Anbiya' : 107). Biar Allah yang mengetahui dan penduduk langit yang menyaksikan semuanya. Sementara, sosok manusia "culas dan khianat" selalu berupaya dan berharap validasi. Ia bangga berdampingan dan bersama sumber kesalahan. Mereka "tertidur" ketika proses memperjuangkan kebenaran. Tapi, begitu keberhasilan tercapai, tampil euforia dan paling depan bak "pahlawan kesiangan". Agar masyarakat memberikannya validasi, maka upaya "menutupi sejarah" dan menghilangkan jejak pelaku sejarah. Akibatnya, sejarah terkubur seiring tumbuh subur pohon benalu yang begitu jumawa di media sosial (flexing) menampilkan sejuta prestise tanpa secuil prestasi.

Kedua, Jadikan "kesunyian dan kesendiri-an" dengan selimut karya yang digoreskan sebagai ruang mengenal diri untuk dekat dengan Allah. Sebab, kesunyian dalam berprestasi mengajarkan keikhlasan (QS. al-Baqarah : 271). Sementara keriuhan te-puk tangan atau pujian yang menggema acapkali membuat lupa diri. Padahal, ia sedang menapaki "medan terjal" yang akan menggelincirkannya dari kebajikan. Rasulullah ﷺ mengingatkan dalam sabda-nya : "Taburkanlah debu ke wajah orang-orang yang gemar memuji (menyanjung)." (HR. Muslim).

Hadis di atas ditujukan kepada orang yang memuji secara berlebihan. Pujian yang tak sepantasnya dan acapkali merupakan bentuk kemunafikan atau "ambil muka". Padahal, semua pujian hanya milik Allah (QS. al-Fatihah : 2). Untuk itu, Allah sangat mencela manusia yang "gila pujian". Hal ini tertuang dalam firman-Nya : "Jangan sekali-kali kamu mengira bahwa orang-orang yang gembira dengan apa yang telah mereka kerjakan dan mereka suka dipuji atas perbuatan yang tidak mereka kerjakan, jangan sekali-kali kamu mengira bahwa mereka terlepas dari siksa. Mereka akan mendapat siksa yang pedih" (QS. Ali 'Imran : 188).

Ibnu Katsir mengutip riwayat dari sahabat Abu Sa’id Al-Khudri dan Marwan bin Hakam. Ayat di atas turun terkait orang-orang munafik di masa Rasulullah ﷺ yang sering mangkir dari jihad, namun mereka merasa senang dan gembira dengan ketidakhadirannya. Anehnya, saat Nabi ﷺ dann sahabat kembali dari medan perang, mereka mengarang berbagai alasan dusta dan bersandiwara agar dipuji seolah-olah ikut. Bahkan, sebagian lagi menyatakan (merekayasa) alasan sebagai orang-orang yang berhalangan dan ingin ikut berjuang.

Ketiga, Bangun komunikasi pada Allah tempat muara harapan yang hakiki. Ketika itu, Allah akan menjawab semua rintihan dengan cara-Nya. Kepedihan merupakan nikmat bagi hamba yang mengerti. Sebab, Allah sedang merindukannya. Hal ini ter-tuang dalam hadis qudsi, Allah berfirman : "Pergilah kepada hamba-Ku, lalu timpakan-lah ujian kepada mereka, karena aku rindu mendengar rintihannya” (HR. Thabrani dan Abu Umamah).

Hadis di atas menjelaskan qudsi bahwa nikmat adalah ujian dan musibah adalah cobaan. Keduanya merupakan bentuk kasih sayang-Nya. Melalui ujian (nikmat), Allah rindu mendengar hamba-Nya yang bersyukur atas semua nikmat-Nya. Sedang-kan cobaan merupakan media munajat dan rintihan hamba untuk mengadu, bercerita, dan memohon pertolongan-Nya. Namun, manusia sering kali lalai (lupa diri) ketika senang (sombong) dan putus asa ketika sulit (QS. al-Isra' : 83 dan QS. al-Fushilat : 51).

Keempat, Fokus pada langkah kecil tanpa pernah berhenti. Sebab, Allah akan melihat kualitas istiqomah hamba, bukan "langkah besar" tapi tak pernah dilakukan. Padahal, Allah membenci manusia yang lisannya tak sesuai amal perbuatannya (karya). Hal ini tertuang pada firman-Nya :"Wahai orang-orang yang beriman !. Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan ?. (Itu) sangat dibenci di sisi Allah jika kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan" (QS. ash-Shaff : 2-3).

Ibnu Katsir menafsirkan ayat di atas seba-gai teguran keras dari Allah SWT mengenai pentingnya keselarasan antara ucapan dan perbuatan (integritas), serta mencela sifat kaum munafik. Kaum yang hanya menjanji-kan sesuatu kebaikan, namun tak pernah dilakukan dan terwujud.

Kelima, Berhenti menjelaskan diri. Sebab, tak semua orang mau memahami, apatah-lagi menghargai. Sebab, manusia akhir zaman tak lagi mau mendengarkan apa (isi) kebenaran, tapi hanya mendengarkan siapa yang bicara. Semakin tinggi status yang dimiliki, manusia mendengarkan kata-nya bagai "berlian". Padahal, di mata Allah hanya "tumpukan kotoran" yang bernajis.

Keenam, Rawat energi cerdas dengan me-mikirkan sesuatu yang bermanfaat, bukan terpengaruh pada "tumpukan sampah" yang keluar dari mulut berbelatung dan menghiasi media sosial. Sebab, tumpukan sampah hanya akan menutupi kemuliaan kecerdasan yang dimiliki. Bagi pemilik akal cerdas, tiada hari tanpa karya. Sedangkan bagi pemilik akal culas, tiada hari tanpa publikasi untuk dipuji (flexing),  jualan ide pepesan kosong, mencari kesalahan orang lain, dan mengejar prestise tanpa prestasi.

Ketujuh, Temukan makna dan rahasia-Nya dalam setiap langkah perjuangan. Sebab, setiap fenomena dan gerak langkah terkan-dung pelajaran dan pesan-Nya (QS. Ali Imran : 191). Pada waktunya, Allah akan buka pintu hikmah-Nya (QS. al-Baqarah : 282) bagi hamba pilihan. Ketika ma'rifat tersingkap, semua rahasia akan terbuka. Tak ada yang bisa ditutupi. Ketika hal ter-sebut dianugerahkan-Nya, maka dukungan, pujian, dan apresiasi manusia tak lagi berarti. Sebab, pujian manusia bersifat temporer, terselubung kemunafikan, dan penuh kepentingan. Ketika kepentingan tak lagi ada, maka akal dan hati manusia tak lagi mau menghargai, tapi membenci kebenaran. Sebab, semua media untuk menemukan kebenaran telah tertutup oleh kejahilannya (QS. al-Baqarah : 7).

Menurut para mufasir, kenikmatan yang dijelaskan oleh ayat di atas merupakan hukuman (istidraj) dari Allah. Meski ia beriman dan tau isi ajaran-Nya, tapi nafsu duniawi membuatnya begitu sadar meng-ingkari dan menolak kebenaran, mendusta-kan agama, dan terus-menerus dalam kefasikan. Ketika kondisi ini terjadi, maka tak ada harapan ruang kebajikan dan per-baikan yang akan dimunculkannya. Meski seluruh penduduk bumi memuliakan, tapi yakinlah bahwa Allah dan penduduk langit akan memandang hina setiap pembawa (pemilik) kemunafikan dan penyebab hadir-nya kezaliman (kesombongan). 

Wa Allahua'lam bi al-Shawwab.***

Prof Samsul Nizar adalah Guru Besar IAIN Datuk Laksemana Bengkalis

NAFSU MELAHIRKAN TINGKAH LAKU

Manusia memiliki dua sisi, iaitu sisi luar dan sisi dalam. Sisi luar ialah bentuk fizikal yang dapat dilihat (jasmani), manakala sisi dalam ialah kewujudan yang tidak dapat dilihat, iaitu nafsu atau jiwa. Menurut al-Quran, nafsu merupakan sisi dalam manusia yang melahirkan tingkah laku, sebagaimana firman-Nya “…Sesungguhnya Allah tidak mengubah apa yang ada pada sesuatu kaum sehingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri…” (Q.13:11).

Daripada ayat tersebut muncul pengertian bahawa nafsu merupakan ruang dalam, batin atau rohani manusia yang mengandungi potensi untuk berperasaan, berfikir dan berkeinginan, sehingga manusia dapat melakukan aktiviti yang mengubah keadaan hidupnya. Dalam al-Quran juga ada keterangan tentang tiga peringkat nafsu, daripada yang paling rendah hingga yang tertinggi: nafsu amarah, nafsu lawamah dan nafsu mutmainah.

PERINGKAT NAFSU

Nafsu mutmainah (al-Nafs al-mutma’innah), yang diterjemahkan sebagai “jiwa yang tenang”, ialah nafsu peringkat tertinggi. Pelakunya dijanjikan syurga (Q.89:27-30). Ciri nafsu mutmainah ialah tetap tenang tenteram dengan iman (Q.16:106); berasa selamat dan bebas daripada rasa takut serta sedih di dunia (Q.4:103), dan memiliki hati yang tenteram kerana sentiasa ingat akan Allah S.W.T. (Q.13:28).

Nafsu lawamah (al-nafs al-lawwamah) ialah nafsu yang banyak mencela, mengeluh dan menyalahkan. Yang dicela, dikeluhkan dan disalahkan ialah dirinya sendiri. Nafsu lawamah termasuk nafsu yang mulia kerana jiwanya sentiasa menegur dan menempelak dirinya (Q.75:1-2).

Nafsu amarah (nafs al-ammarah bi al-su’) ialah nafsu peringkat terendah. Secara harfiah, kata ammarah bererti “yang banyak menyuruh” sedangkan kata su bererti “keburukkan atau kejahatan”. Sesungguhnya, nafsu manusia itu cenderung menyuruh melakukan kejahatan (Q.12:53).

JASMANI, NAFSANI DAN ROHANI.

Kewujudan manusia dibahagikan kepada tiga. Pertama ialah jasmani, yakni yang paling lahiriah (fizikal), iaitu tubuh atau jasad. Pada peringkat ini, manusia tidak berbeza daripada haiwan kerana haiwan juga mempunyai jasmani. Menurut ajaran tasawuf, orang yang berhenti pada peringkat ini akan terhalang untuk melangkah ke peringkat lebih tinggi.

Kedua ialah nafsani, yakni peringkat psikologi nafsu yang lebih kompleks daripada peringkat jasmani. Manusia dan binatang masih sama pada peringkat jasmani dan nafsani kerana kedua-duanya memiliki kesedaran.

Ketiga ialah rohani, yakni yang paling hakiki dalam diri manusia, yang membezakannya daripada haiwan dan membolehkannya memiliki sifat-sifat mulia. Pada peringkat rohani, manusia berbeza daripada haiwan. Haiwan hanya mempunyai badan dan kehidupan, tetapi manusia memiliki kedua-duanya dan sekali gus roh yang ditiupkan oleh Allah S.W.T. Pada peringkat rohani inilah termuat hati nurani, iaitu potensi asas kemanusiaan yang semula jadi.

ZULAIKHA

Zulaikha, isteri Futifar al-Aziz (raja Mesir), tertarik akan ketampanan anak angkatnya, iaitu Yusuf (sebelum menjadi nabi), lalu menggodanya. Tetapi si suami mengetahuinya. Zulaikha pun mengakui kesalahannya sambil menyatakan dia tetap setia. Dia berkata, “Dan tiadalah aku berani membersihkan diriku; sesungguhnya nafsu manusia itu sangat menyuruh melakukan kejahatan, kecuali orang yang diberi rahmat oleh Tuhanku…” (Q.12:53).

Kata-kata nafs al-ammurah bi al-su’ (nafsu mendorong ke arah kejahatan) bermula daripada kisah itu. Pesanan penting daripada ayat tersebut adalah nafsu tidak boleh dibiarkan lepas kerana condong kepada perbuatan buruk atau jahat, kecuali nafsu yang diberi rahmat, yang mendorong kepada kebaikan dan yang dibimbing oleh keinsafan atau taqwa.

“Wahai orang yang mempunyai jiwa yang sentiasa tenang tetap dengan kepercayaan dan bawaan baiknya! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan keadaan engkau berpuas hati (dengan segala nikmat yang diberikan) lagi diredai (disisi Tuhanmu)! Serta masuklah engkau dalam kumpulan hambaKu yang berbahagia. Dan masuklah ke dalam syurga-Ku” (Q.89:27-30).

PERINGKAT ROHANI

Allah S.W.T. mencipta nafsu sebagai peringkat rohani yang diilhamkan kepadanya. Nafsu boleh membawa kebaikan dan keburukan. Manusia sendirilah yang memilih cara memperlakukan nafsunya sama ada ke arah kebaikan atau keburukan. Al-Quran memberikan penilaian moral bahawa berjayalah orang yang menjadikan dirinya itu susut dan terbenam kebersihannya (Q.91:7-11). Jiwa kanak-kanak yang belum dewasa adalah suci. Setelah dewasa, barulah nafsunya berubah, sama ada menjadi baik atau buruk.

BERSYUKUR BUKAN SEKADAR PADA MENIKMATI SAJA?

Berbicara tentang bersyukur, banyak orang yang tidak memahami erti syukur yang sebenar. Terutama juga mengalami kebingungan dalam memaknai serta menghayati makna bersyukur  yang sebenarnya. Apakah hanya diuntaikan melalui lisan di dalam do’a saja? Ataukah seperti apakah sebenarnya pengaplikasian bersyukur itu?

Apabila kita memaknai arti bersyukur itu pastinya bersyukur itu adalah perasaan penghargaan yang dirasakan oleh seseorang dengan tanggapan positif serupa atas apa yang seseorang itu rasakan dan dialaminya. Dan jikalau kita memaknai dari segi maknanya bersyukur itu seperti apa yakni dalam hal ini memiliki lima dasar utama penguat rasa bersyukur itu yang harus ada pada diri seseorang itu dalam merealisasikan bersyukur itu sendiri, seperti halnya merendahkan diri dihadapan Dia yang maha pemberi nikmat (Allah SWT).

Mengakui seluruh kenikmatan yang Dia berikan baik lahir maupun batin kepada kita, senantiasa Memuji-Nya atas segala nikmat tersebut, dan juga  tidak menggunakan nikmat tersebut untuk sesuatu yang dibenci oleh Allah SWT.

Nikmat-nikmat dari Allah SWT itu seperti halnya, nikmat fitriyah (nikmat yang ada pada diri kita, seperti Allah memberikan kehidupan kita ini, tangan, kaki, wajah, mata, telinga, dan anggota tubuh kita yang lainnya), nikmat Ikhtiariyah (nikmat yang berbentuk atas usaha kita dan semua itu atas izin dari-Nya, seperti harta, kedudukan yang tinggi, ilmu yang tinggi, jabatan, rumah, mobil, dan lain sebagainya).

Nikmat alamah (nikmat sekitar kita, seperti halnya, udara, air, tanah, dan lain-lain sebagainya yang bersifat alamiah), nikmat diiniyah (nikmat agama Islam, yakni Iman, Islam, dan Ikhsan), dan juga nikmat ukhrowiyah (nikmat akhirat, yang kita peroleh dari segala amal perbuatan kita selama hidup didunia ini).

Dalam hal ini ketika kita merasakan kesusahan dan kegundahan dalam hidup kita, maka ingatlah bahwa suatu saat akan ada kesenangan yang menghampiri kita. Hal ini sebagaimana yang terdapat di dalam firman Allah SWT.
“Kerana sesungguhnya sesudah kesulitan itu pasti ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan”. (QS. Asy-Syarh: 5-6)

Maka ketika kita dalam masa-masa sulit jangan sampai redam rasa bersyukur kita, dan kita hindari mengeluh kepada Allah serta kita introfeksi diri kita, apakah sudah benar atau tidak cara kita hidup didunia ini menjalani segala perintah dan larangan-Nya? selalu ingatlah kepada Allah SWT. Dan Allah juga berfirman di dalam al-Qur’an:
“Kerana itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku”. (QS. Al-Baqarah: 152)

Nikmat-nikmat yang dianugrahkan oleh Allah SWT., kepada kita merupakan pemberian yang terus menerus dan bermacam-macam bentuknya, hanya saja kebanyakan kita manusia lupa akan bersyukur atas segala nikmat-Nya, baik lahir maupun batin yang telah Allah limpahkan kepada kita.

Dengan demikian bersyukur merupakan bentuk pengakuan dan pembuktian atas nikmat Allah dengan penuh sikap kerendahan diri dan hati serta hanya kepada Allah lah kita menyandarkan nikmat yang dilimpahkan-Nya, memuji-Nya dan menyebut-nyebut nukmat-Nya.

Setelah itu hati kita senantiasa mencintai-Nya, serta lisan tak berhenti –hentinya menyebut dan mengagungkan nama-Nya. Jadi pada dasarnya perkara bersyukur ini bukan hanya sebatas menikmati apa yang sudah dilimpahkan Tuhan kepada kita. Akan tetapi bersyukur disini kita lakukan secara lisan atau ucapan, serta tidak lupa pula kita kerjakan secara perbuatan

Sumber: Qureta.com

Hubungi Kami

Alamat:
No.5B, Jalan 3/70 Damai Point, Seksyen 3, 43650 Bandar Baru Bangi. Selangor

Telefon: +60 17-377 7732
Email: alfalahmadani2022 [@] gmail.com

Jumlah Pengunjung

078960
Hari ini: 356
Minggu Ini: 931
Bulan Ini: 5,427
Tahun Ini: 78,960
Tahun Lepas: 52,147
Image

Alfalahmadani.my merupakan sebuah portal yang bertanggungjawab untuk bertindak sebagai penampan bagi setiap tuduhan, fitnah, kekeliruan, ketidakfahaman dan kecelaruan yang berlegar di minda rakyat. Sama ada isu-isu yang timbul secara organik di media sosial, ataupun yang didorong sebagai naratif oleh pihak-pihak tertentu,

Alfalahmadani.my akan menjawab setiap permasalahan dengan pengetahuan, kebijaksanaan dan kebenaran. Tentunya, kehadiran Alfalahmadani.my bukan berhasrat menyatakan kesempurnaan pemikiran, tetapi sebagai wahana untuk menuju kesempurnaan pengetahuan dalam konteks pemikiran semasa, dan kebijaksanaan yang mampu diusahakan.