HIDUP DALAM PANDANGAN ALLAH, BUKAN DALAM PENILAIAN MANUSIA

Shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad ﷺ, teladan tertinggi dalam ihsan—bukan hanya dalam ibadah, tetapi dalam setiap detik kehidupan.
 
Ada satu kesalahan yang diam-diam merusak kualitas hidup banyak orang: mereka ingin terlihat baik, tapi tidak serius ingin menjadi baik.
 
Mereka menjaga citra, tapi tidak menjaga hati. Mereka mengejar pengakuan manusia, tapi lalai dari pandangan Allah.
 
Di sinilah ihsan menjadi pembeda.
 
Ihsan: Kualitas Hidup Seorang Muslim
 
Ihsan bukan “bonus spiritual”. Ia adalah inti dari kualitas hidup seorang mukmin.
 
Ketika Rasulullah ﷺ menjelaskan ihsan, beliau tidak berbicara tentang banyaknya amal, tetapi kedalaman kesadaran:
 
“Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya…”
 
Artinya jelas: Hidup ini bukan sekadar melakukan, tapi menghadirkan Allah dalam setiap yang dilakukan.
 
Tanpa itu, amal menjadi kosong. Gerak ada, ruhnya hilang.
 
Penyakit Zaman Ini: Hidup untuk dilihat
 
Coba jujur:
• Kita semangat ketika dilihat, tapi lemah saat sendiri
• Kita disiplin saat diawasi, tapi longgar saat bebas
• Kita baik pada yang menguntungkan, tapi keras pada yang tidak memberi nilai
 
Ini bukan ihsan.
Ini adaptasi sosial—bukan kesadaran ilahi.
 
Dan jika ini dibiarkan, seseorang bisa terlihat “hebat” di dunia, tapi ringan nilainya di sisi Allah.
 
Ihsan Itu Sunyi, Tapi Mengubah Segalanya
 
Ihsan tidak selalu terlihat.
 
Ia hidup dalam:
• kejujuran saat tidak ada yang tahu
• kesabaran saat tidak ada yang memuji
• kerja keras saat tidak ada yang menghargai
• doa yang tidak diposting
• air mata yang tidak diceritakan
 
Di situlah Allah menilai. Dan di situlah nilai seorang hamba ditentukan. Jika Ihsan Hilang, Semua Menjadi Dangkal
 
Tanpa ihsan:
• Ibadah jadi rutinitas
• Ilmu jadi alat pamer
• Jabatan jadi alat kepentingan
• Pendidikan jadi sekadar transfer materi
• Dakwah jadi panggung, bukan amanah
 
Inilah akar krisis—bukan kurangnya aktivitas, tetapi hilangnya kualitas batin.
 
Ihsan dalam Segala Hal (Bukan Hanya di Masjid)
 
Dalam mendidik:
Mengajar bukan sekadar menyampaikan, tapi membentuk jiwa.
Setiap kata, setiap sikap, dicatat oleh Allah.
 
Dalam bekerja:
Tidak menunda, tidak curang, tidak asal jadi.
Bekerja seolah Allah menilai langsung.
 
Dalam keluarga:
Berbuat baik bukan karena balasan,
tapi karena sadar itu dilihat Allah.
 
Dalam kesendirian:
Inilah ujian terbesar.
Siapa Anda saat sendiri—itulah siapa Anda sebenarnya.
 
Realitas yang Harus Anda Hadapi
 
Anda tidak akan selalu dihargai.
Anda tidak akan selalu dipuji.
Bahkan kadang kebaikan Anda tidak terlihat.
 
Jika motivasi Anda adalah manusia, Anda akan lelah.
Jika motivasi Anda adalah Allah, Anda akan kokoh.
 
Strategi Membangun Ihsan (Tanpa Ilusi)
1.  Bangun kesadaran sebelum tindakan
    Jangan bertindak otomatis. Hadirkan Allah dalam keputusan.
 
2. Naikkan standar pribadi
    Bukan sekadar “cukup baik”, tapi “layak di hadapan Allah”.
 
3. Latih konsistensi saat tidak dilihat
    Ini titik balik. Di sini ihsan dilahirkan.
 
4. Kurangi ketergantungan pada validasi
    Pujian itu candu. Jika Anda butuh itu untuk bergerak, Anda belum kuat.
 
5. Muhasabah harian
    Evaluasi bukan apa yang Anda lakukan—tapi bagaimana Anda melakukannya.
 
Penutup: Ukuran Hidup yang Sebenarnya
 
Suatu hari, semua penilaian manusia akan hilang. Yang tersisa hanya satu:
 
Apakah Anda hidup dengan ihsan—atau hanya dengan penampilan?
 
Ihsan tidak membuat hidup lebih mudah.
Tapi ia membuat hidup lebih bernilai.
 
“Jangan sibuk memperindah pandangan manusia terhadapmu.
Perindahlah dirimu di hadapan Allah—karena di sanalah hakikat hidupmu dinilai.”
 
Oleh:Jasman Jaiman

ALERGI NASIHAT, BENCI KRITIK DAN SILAU PUJIAN

Ketika asyik berjalan, tanpa disadari ada lobang besar menganga di depan. Seorang teman yang melihat bahaya tersebut mengingatkan dan menyadarkan adanya bahaya dihadapannya. Dengan peringatan yang disampaikan, si pejalan kaki bisa selamat dari terperosok dalam lubang yang begitu membahayakannya.

Secara ideal, apa yang dilakukan teman yang telah memberi peringatan ketika bahaya akan --mininal-- menerima ucapan terima kasih. Tapi, bila peringatan teman atas bahaya tersebut dinafikan dan dibenci, maka lobang yang curam dan menganga siap menelannya. Atau bila peringatan bahaya justeru dianggap "bentuk kebencian", maka perlu ditelisik "kejiwaan dan akal" si penerima peringatan. Mungkin ada "kerusakan pada hati, tuli, atau kelainan jiwa" yang kronis dan patut diwaspadai. Mungkin ia "penderita mania" setiap dinasehati, di- peringatkan, dan benci kebenaran.

Fenomena kisah sederhana di atas mungkin --awalnya-- sebatas analogi fiksi, tapi begitu nyata dalam realita kehidupan. Realita yang terjadi justeru acapkali di luar nalar sehat (QS. az-Zumar : 9). Meski tujuannya untuk menyelamatkan, tapi kadangkala direspon penuh kebencian. Bahkan responnya bak makhluk tak beradab dan berakal (QS. al-Furqan : 44).

Dalam fenomena nyata, ada beberapa nilai nasihat dan kritik yang direspon "negatif" oleh si penerimanya, antara lain :

Petama, Nasehat dianggap ketidaksenangan dan penghinaan. Setiap nasehat diang-gap akan "menurunkan harga diri dan statusnya" di mata koleganya. Sikap arogan yang demikian telah diingatkan oleh Allah dalam firman-Nya :"Dan aku telah memberi nasihat kepada kalian, tetapi kalian tidak menyukai orang-orang yang memberi nasihat” (QS. al-A’raf : 79).

Menurut Ibnu Katsir, ayat di atas menjelas-kan bentuk sikap  kaum Tsamud yang me-nolak peringatan nabi Saleh AS. Akibatnya, Allah menurunkan azab berupa gempa dan petir yang melenyapkan kaum Tsamud. Si-kap sombong manusia yang menolah kebe-naran diingatkan berulangkali dalam bebe-rapa firman-Nya, antara lain : QS. Ali Imran : 104, QS. al-A'raf : 62 dan 68, serta QS. al-'Ashr : 1-3. Namun, semua peringatan kebenaran acapkali diingkari.

Sungguh, Islam merupakan agama yang berisi nasehat. Hal ini disampaikan oleh Rasulullah ﷺ "Agama itu adalah nasihat” (HR. Muslim).

Hadis di atas menjelaskan bahwa inti ajaran Islam adalah nasehat agar umat istiqomah dalam menjalankan hak Allah dan Rasul-Nya. Bahkan, Allah menasihati Rasulullah melalui teguran yang mendidik dan terjaga kemuliaannya. Hal ini ditemu-kan pada QS. 'Abasa : 1-10, QS. al-Anfal : 67, QS. at-Taubah : 43, QS. al-Kahfi : 23-24.

Ketika hadis dan ayat di atas dianalisa se-cara filosofis, seyogyanya pemeluk agama sangat rindu dan berharap untuk mem-peroleh nasehat dan teguran. Ketika sikap pemeluk agama alergi nasehat, maka berarti membenci kebenaran dan tak memerlukan agama. Padahal, isi ajaran agama (Islam) berupa nasehat mulia. Hal ini dijelaskan oleh Rasulullah ﷺ melalui sabda-Nya : "Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan, maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya" (HR. Muslim).

Untuk itu, agar bijak menerima nasehat, Sayidina Ali bin Abi Thalib RA pernah berpesan, "Lihatlah (dengarkan) apa yang dibicarakan, jangan lihat (dengarkan) siapa yang bicara". Pesan yang mengandung makna agar melihat dan mendengarkan pembicaraan (nasehat) yang berkualitas, bukan hanya melihat status si pembicara. Bisa jadi pesan kebenaran berasal dari "gembel" atau seorang yang dibenci, tapi isinya berkualitas intan berlian. Tapi, ke-banyakan manusia hanya peduli dan men-dengarkan kata "orang-orang sekitar ikat pinggangnya" atau pemilik status mulia. Padahal, bisa jadi isinya hanya kumpulan "kotoran (najis)" yang bisa mengundang celaka (mudharat), baik diri atau masyarakat secara luas.

Kedua, Kritik yang berisi kebenaran dinilai bentuk kebencian, perlawanan, dan racun. Padahal, kritik merupakan upaya memberi peringatan dari pemilik kecerdasan, iman, dan kebenaran. Dalam Islam, kritik merupa-kan bentuk amar ma'ruf nahi munkar dan termasuk ibadah. Namun, kritik wajib disampaikan dengan adab yang baik (ikhlas, santun, dan berdasarkan bukti sahih), serta bertujuan memperbaiki, bukan menjatuhkan atau memecah belah. Kritik yang beradab pertanda ciri manusia berakhlak. Hal ini sesuai firman-Nya : "Maka berikanlah peringatan, karena peringatan itu bermanfaat"(QS. al-‘Ala : 9).

Bahkan, al-Qur'an mencontohkan kritik (peringatan) terhadap kezaliman dan kesewenang-wenangan Fir'aun. Dalam al-Qur'an, kritik ini terulang sebanyak 74 kali atas kesombongan, kezaliman, dan perilaku tirani yang dilakukannya. Untuk itu, Islam membedakan antara kritik konstruktif (nasihat) dengan kritik yang berisi ghibah, kebencian, atau fitnah yang merusak. Bagi pemilik ilmu dan iman, kritik merupakan bagian muhasabah yang amat diperlukan. Tapi, bagi pengharap pujian, setiap kritik dianggap bentuk kebencian dan dikhawatirkan akan membuka kesalah-annya. Untuk itu, setiap pengkritik perlu disingkirkan. Namun, sikap ini membuat pembenci kritik semakin sering melakukan kesalahan demi kesalahan lainnya tanpa terkendali.

Ketiga, Pujian dinilai prestise dan prestasi yang membuka pintu kebahagiaan bagi si penerima. Manusia begitu senang bila dipuji, tapi tak pernah sadar bila tak ada nilai kepantasan baginya untuk dipuji. Puji kemunafikan begitu menggunung ketika "status dan kuasa" masih dimiliki dan terselip hasrat yang ingin diraih. Tapi, begitu status dan kuasa sirna atau harapan telah/tak bisa diraih, pujian berganti cercaan, hinaan, dan fitnah berkepanjangan.

Untaian pujian semu merupakan sifat manusia munafik yang didorong hawa nafsu (kepentingan). Sedangkan harap puji merupakan indikasi manusia lupa diri. Sebab, ia lupa bila pujian yang didapatkan berpotensi tumbuhnya penyakit hati (riya', ujub, atau sum'ah) dan gangguan narsistik lainnya. Harap pujian membuat manusia rentan sombong (angkuh), memandang rendah orang lain, pamrih, dan lupa Allah. Sedangkan pemuji melakukannya karena "maksud" terselubung penuh kemunafikan. Untuk itu, Rasulullah ﷺ begitu mencela sifat dan perilaku yang demikian. Hal ini diungkapkan Sayidina Umar bin Khattab RA : "Kami diperintahkan oleh Rasulullah ﷺ untuk menyiramkan pasir ke wajah orang-orang yang memuji (berlebihan)” (HR. Muslim).

Melalui hadis di atas, Rasulullah ﷺ meng-antisipasi umatnya agar terhindar dari ujub. Sebab, sifat ini akan menyebabkan manusia lupa diri. Namun, Islam memper-bolehkan pujian selama sesuai ajaran agama (kebenaran). Bahkan, Allah memuji Rasulullah ﷺ atas kemuliaan akhlaknya. Hal ini tertera pada firman-Nya :"Dan sesungguhnya engkau (Muhammad) benar-benar memiliki budi pekerti yang agung" (QS. al-Qalam : 4).

Melalui ayat di atas, pujian dibolehkan. Bahkan, Allah memuji Rasulullah dan hamba-Nya yang berpegang teguh pada aturan-Nya. Allah memuji atas kualitas keimanan, akhlak, dan rindu hamba pada rahmat-Nya. Mereka merupakan hamba yang memperoleh keberkahan-Nya. Hal ini terungkap pada firman-Nya : "Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhannya, dan merekalah orang-orang yang beruntung" (QS. al-Baqarah : 5).

Menurut Ibnu Katsir, hamba yang meraih keberuntungan pada ayat di atas ketika  mampu memiliki sifat yang tertuang pada ayat 1-4 (percaya ghaib, shalat, infak, iman pada Al-Qur'an dan kitab terdahulu, serta meyakini hari pembalasan). Mereka akan memperoleh hidayah dan petunjuk-Nya.

Sungguh, manusia merupakan makhluk yang lemah dan acapkali keliru (QS. an-Nisa' : 28). Tapi, anehnya justeru enggan untuk diberi nasehat, kritik, dan peringatan. Sifat munafik antara ketidaksempurnaan di satu sisi, tapi merasa begitu sempurna di sisi lain. Ketika diberi nasehat, tapi suka membantah (QS. al-Kahfi : 54). Sebelum mendapat nikmat, munajat dan janji atas nama Allah. Tapi, begitu nikmat telah diraih, acapkali lupa diri dan ingkar janji (QS. Yunus : 12). Bak sifat Qarun yang tak tau bersyukur, kelak azab-Nya sangat pedih (QS. al-Qasas : 76-82). Pujian yang diperoleh bukan puji keikhlasan, tapi puji kemunafikan selama berada "di atas". Ketika berada di bawah dan azab-Nya menimpa, pujian menggema berubah menjadi cibiran dan hinaan yang berkepanjangan. Begitu banyak i'tibar di-perlihatkan-Nya dalam kehidupan. Ketika nasehat tak dipeduli, kritik membuat alergi, pembawa kebenaran dibuli, pujian mem-buat lupa diri, dan berakhir "dijeruji besi"Meski semua begitu nyata, namun acap-kali membutakan mata dan hati manusia oleh gemerincing pujian yang begitu nyaring memekakkan telinga kebenaran. Sifat nista ini bisa menimpa pada semua hamba-Nya.

Tak peduli strata (kedudukan dan zuriyat), pemilik harta, titel berjejer, berilmu (sebatas teori), dan status sosial (alim) tinggi yang dimiliki. Bahkan, melalui berbagai status dan fasilitas yang dimiliki membuatnya terbuka peluang hanya rindu dan silau pujian, tapi alergi nasehat dan kritik. Ketika hal ini menjadi watak diri, maka sulit diperbaiki. Kelak, bila azab-Nya hadir, tak ada lagi gunanya penyesalan. Bak pepatah "nasi sudah menjadi bubur"Para penasehat tak lagi ingin menasehati dan para pemuja tak terlihat lagi keber-adaannya. Tinggal diri memetik semua tanaman kesombongan dan kezaliman. Terlihat nyata karakter asli si pemuja yang hadir sekedar "penikmat madu". Ketika madu telah kering, ia akan pindah dan menjilat --bak seekor anjing-- dan menjual diri (hamba sahaya) pada pemilik madu lainnya. Sifat manusia fasik yang sulit disadarkan berulang kali diingatkan-Nya : "maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan ?" (QS. ar-Rahman). Meski ayat demikian jelas, tapi manusia begitu jumawa (sombong) mengingkarinya.

Wa Allahua'lam bi al-Shawwab.***

Prof Samsul Nizar adalah Guru Besar IAIN Datuk Laksemana Bengkalis

 

 

 

PENDIDIKAN YANG MEMBENTUK MANUSIA, BUKAN SEKADAR NILAI

Di banyak tempat, pendidikan sering dipersempit menjadi satu hal: nilai. Anak dianggap berhasil jika angka ujiannya tinggi. Sekolah dianggap hebat jika banyak lulusannya masuk universitas ternama.

Namun jarang kita berhenti sejenak untuk bertanya dengan jujur: 

Apakah nilai tinggi selalu berarti manusia yang baik?

Sejarah menunjukkan jawabannya tidak selalu demikian.
Banyak orang cerdas, tetapi tidak jujur.
Banyak orang berpendidikan tinggi, tetapi kehilangan empati.
Banyak orang pintar, tetapi tidak memiliki tanggung jawab sosial.

Di sinilah kita perlu merenung kembali hakikat pendidikan.

Pendidikan Bukan Sekadar Mengisi Otak

Di Jepang ada pendekatan yang menarik. Pada tahun-tahun awal sekolah dasar, anak tidak diburu oleh ranking, kompetisi, dan tekanan akademik yang berat. Masa kecil mereka justru diisi dengan pembiasaan sederhana tetapi mendalam:

  1. Belajar empati melalui pendidikan moral (dotoku)
  2. Belajar tanggung jawab dengan membersihkan sekolah (osoji)
  3. Belajar kesetaraan saat makan bersama (kyushoku)
  4. Belajar menghargai kehidupan dengan menanam dan merawat tanaman

Hal-hal itu terlihat sederhana. Namun dari kebiasaan kecil itulah lahir karakter besar. Anak belajar satu pelajaran penting; hidup bukan hanya tentang diri sendiri. Karakter Dibangun Melalui Kebiasaan. Karakter tidak lahir dari ceramah panjang. Karakter tumbuh dari kebiasaan yang diulang setiap hari.

Ketika seorang anak setiap hari membersihkan kelasnya, ia belajar bahwa lingkungan adalah tanggung jawab bersama. Ketika ia melayani makanan untuk teman-temannya, ia belajar bahwa semua manusia setara. Ketika ia menanam sayur dan merawatnya sampai panen, ia belajar menghargai setiap butir makanan di piringnya.

Ini bukan teori moral. Ini pendidikan kehidupan.  Islam telah mengajarkan prinsip ini sejak awal. Sesungguhnya nilai-nilai itu tidak asing bagi Islam.

Rasulullah ﷺ bersabda yang bermaksud: “Kebersihan adalah sebagian dari iman.” (HR. Muslim)

Allah juga mengingatkan dalam Al-Qur’an yang bermaksud:

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka.” (QS. Ar-Ra’d: 11)

Artinya perubahan masyarakat dimulai dari perubahan karakter manusia. Pendidikan sejati bukan hanya mencerdaskan akal, tetapi menyucikan jiwa dan membangun akhlak.

Kesalahan Pendidikan Modern

Salah satu kesalahan terbesar pendidikan modern adalah mendahulukan kompetisi sebelum karakter terbentuk.

Anak kecil sudah dipaksa; ranking, ujian, kompetisi dan tekanan prestasi.

Padahal usia awal adalah masa membangun; empati, tanggung jawab, disiplin dan kejujuran

Jika karakter belum kuat, ilmu bisa menjadi alat kesombongan. Namun jika karakter kuat, ilmu akan menjadi cahaya yang menerangi kehidupan.

Membangun Generasi Emas

Jika kita sungguh-sungguh ingin melahirkan generasi emas, maka pertanyaan yang harus dijawab bukan:

“Seberapa tinggi nilai anak-anak kita?”

Tetapi:

  1. Apakah mereka jujur?
  2. Apakah mereka peduli pada sesama?
  3. Apakah mereka bertanggung jawab?
  4. Apakah mereka memiliki akhlakul karimah?

Karena masa depan bangsa tidak hanya membutuhkan orang pintar. Bangsa ini membutuhkan manusia yang berintegritas.

Refleksi untuk Para Pendidik

Bagi para guru dan orang tua, pertanyaan pentingnya adalah: Apa yang lebih kita banggakan?

Nilai 100 yang dicapai dengan menyontek? Atau nilai sederhana yang dicapai dengan kejujuran?

Jika pendidikan hanya menghasilkan orang pintar tanpa akhlak, maka kita sedang menciptakan krisis moral masa depan. Tetapi jika pendidikan berhasil membentuk manusia yang berkarakter,
maka kecerdasan akan datang mengikuti.

Penutup

Pendidikan sejati adalah proses memanusiakan manusia. Membentuk hati sebelum mengisi otak. Menanamkan akhlak sebelum mengejar prestasi. Karena pada akhirnya dunia tidak hanya membutuhkan orang yang pintar berpikir. Dunia membutuhkan manusia yang benar dalam bersikap.

Dan renungan ini patut menjadi pegangan:

“Pendidikan bukan sekadar membuat anak pandai menjawab soal,
tetapi membentuk manusia yang tahu bagaimana hidup dengan benar.”

— Jasman Jaiman

KETUK PINTU LANGIT

Perhatikanlah bagaimana nyiur melambai di pinggir pantai, air mengalir di sungai yang bening, gunung menghijau jadi pasak bumi. Semuanya tunduk dan bertasbih kepada Allah. 

Jelajahilah bumi dan perhatikan bagaimana kerusakan yang terjadi akibat ulah tangan perilaku manusia yang hilang kendali, zalim yang sudah kehilangan pelita hidup. Mereka tenggelam dalam asyik maksyuk istana setan. 

Bila hati sekeras batu, bila akal tak waras lagi, bila ego nafsu jadi ajudan setan, bila penglihatan pendengaran sudah tersumbat. Maka diberi peringatan atau tidak sama saja bagi mereka. 

Hidupkanlah cahaya Illahi di hati, jadi musafir yang gigih mengetuk pintu langit, lukis di kain kanvas dunia amal ibadah yang indah, jadi hamba Allah yang diredaiNya 

TOLERANSI DARI PERSPEKTIF ISLAM

Islam adalah satu agama yang amat mengambil berat tentang hubungan terutama dengan jiran mereka yang bukan beragam Islam. Kita selalu membaca sejarah Rasulullah s.a.w. yang begitu mengambil berat tentang hak-hak kejiranan dan terhadap pembesar satu satu kaum dan terhadap orang tua dan orang kafir yang berhajat.

Kita pernah mendengar bagaimana hubungan Rasulullah dengan orang Yahudi sampai baju besinya masih tergadai dengan orang Yahudi sehingga baginda menemui ajalnya. Dan bagaimana pula penghormatan yang diberi kepada seorang ketua satu kabilah. Dan bagaimana layanan yang diberi kepada orang tua dan mereka yang memusuhi dan bagaimana sanjungan yang diberi kepada jenazah seorang Yahudi yang sudah meninggal dunia yang sedang dibawa dihadapannya sehingga sahabat merasa iri hati dengan penghormatan itu.

Kata mereka tidakkah jenazah itu seorang Yahudi. Soal mereka?

Jawab baginda, bukankah dia juga satu jiwa yang dicipta oleh Allah dan ini menggambarkan hubungan kebaikan atau penghormatan sesama manusia tidak dilarang sebagaimana firman Allah yang bermaksud Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap mereka yang tidak memerangi kamu kerana agama dan tidak mengusirkan dari tanah air kamu. Sesungguhnya Allah amat mengasihi mereka yang berlaku adil. Sesungguhnya Allah hanyalah melarang kamu memberi walad kepada mereka. Maka mereka itulah orang yang zalim. Al- Mumtahirul : 8-9.

Antara dua ayat tersebut sebenarnya tidak ada pertentangan kerana yang pertama dibenarkan kita bernuat baik atau berbaik dan berlaku adil kepada semua terutama jiran atau masyarakat dalam negara sendiri. Manakala ayat yang kedua pula Allah tidak membenarkan kita berwalak atau mengagungkan mereka yang memusuhi kita seperti orang komunis dulu. Manakala orang bukan Islam yang lain dibenarkan kita berbaik-baik dengan mereka. Sampai baginda ada bersabda yang bermaksud sesiapa yang menyakiti orang bukan Islam yang hidup bersama dalam negara Islam serta bersama-sama mempertahankan negar itu atau apa yang dimaksudkan kafir zimmi, maka dia telah menyakiti aku sendiri.

Begitu juga bila datang orang bukan Islam meminta hutang dengan cara yang kasar lalu Umar memarahi Yahudi yang tidak tahu beradab tersebut. Tetapi baginda tidak memarahinya dan tidak pula menyebelahi Umar. Maka ditegurnya sikap Umar yang kasar tersebut dengan sabdanya yang bermaksud Umar jangan bersikap kasar dan bengis dengan pemiutang tersebut, sepatutnya engkau dapat menjadi seorang kawan yang baik dengan menenangkan Yahudi tersebut dan menasihatiku supaya menjelaskan hutangnya dengan segera apabila sampai tempohnya nanti. Ini kerana Yahudi tersebut silap haribulan dan telah memperecepatkannya dari janji yang belum sampai tempohnya lagi dengan cara dan sikap sopan santun Rasulullah itu Yahudi tersebut akhirnya malu tersipu-sipu sehingga ada riwayat yang nenyatakan Yahudi tersebut insaf dan mengkagumi baginda lalu memeluk Islam dengan keharmonian yang ditunjukkan oleh baginda.

Sebab itu Salahuddin Al-Ayubi dapat kemenangan dalam perjuangan kerana sikapnya yang faham agamanya membenarkan kita berbaik-baik dengan orang bukan Islam sekalipun mereka yang memusuhi kita kerana yang dilarang ialah memberi walak kepada mereka sahaja. Sebab itu baginda pernah menjadi doktor mengubai Richard hati singa apabila Richard jatuh sakit.

Berbicara  tentang kebebasan beragama dalam Islam, ia seharusnya dimulai dengan merujuk kepada firman-firman Allah s.w.t. banyak sekali ayat-ayat Al-Quran yang boleh dijadikan titik tolak untuk membicarakan tentang kebebasan beragama . Allah s.w.t telah berfirman di dalam Al-Quran yang bermaksud:
Dan jikalau Tuhanmu mengkehendaki tentulah beriman semua orang di muka bumi seluruhnya. Maka, apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya?” (Surah Yunus: 99)

Dan dalam surah Al-Kahfi Allah berfirman yang bermaksud :
Dan katakanlah . Kebenaran itu datang dari Tuhanmu. Maka barangsiapa yang ingin beriman silakan beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah kafir. (Surah Al-Kahfi : 29)

Dengan prinsip-prinsip inilah dan banyak lagi, Islam mengembangkan konsep tentang kebebasan beragama. Dalam catatan sejarah, kehidupan Rasulullah s.a.w mengamalkan toleransi dalam seluruh kehidupan Baginda s.a.w sebagai Nabi dan Rasul utusan Allah s.w.t. Antara lain, beliau menunjukkan sikap bersahabat terhadap para penganut agama lain, berkunjung dan menziarahi keluarga mereka yang kematian ahli keluarga, menghadiri majlis kenduri dan melawat orang-orang yang sedang sakit. Dalam ertikata yang lain, Rasulullah s.a.w mengamalkan sikap menghormati semua manusia biarpun berbeza pegangan agama dan pendapat.

Malah dalam satu peristiwa, Nabi s.a.w telah dikunjungi oleh utusan daripada kaum Nasrani dari Najran. Baginda s.a.w telah membentangkan jubahnya, mempersilakan utusan tersebut untuk duduk di atas jubah itu. Perbuatan Rasulullah s.a.w ini sebenarnya adalah satu cara dakwah yang tersendiri dalam bentuk non verbal  kerana tidak beberapa lama kemudian, utusan-utusan tersebut memeluk Islam secara rela hati.

Dalam satu peristiwa lain, Nabi s.a.w telah meminjam sejumlah wang kepada seorang Ahlul Kitab dengan menawarkan sebahagian perabut sebagai cagaran dan sebuah baju besi (dirun) kepada seorang Yahudi di Madinah. Dalam hal ini, tindakan Rasulullah s.a.w bukanlah kerana sahabat tidak sanggup berkorban bahkan sebenarnya adalah sebagai pendidikan, pengajaran dan petunjuk kepada umatnya (Kanan Nabiyyu yafalu dzalika  taliman wa irsyadan li ummatihi). Para sahabat Rasulullah s.a.w sanggup berkorban harta dan jiwa kepada Rasulullah demi mencari keredhaan Allah s.w.t dan atas nama Islam.  

Oleh hal yang demikian,  umat Islam dari semasa ke semasa mengikuti jejak langkah Nabi s.a.w yang bergaul dengan umat-umat lain khususnya yang bukan Muslim tetapi tergolong dalam ahlul milal wan nihal dengan penuh kejujuran. Dalam sejarah Islam, banyak contoh-contoh toleransi yang ditunjukkan oleh Nabi Muhammad s.a.w. Rasulullah s.a.w adalah contoh terbaik yang harus diikuti oleh semua umat manusia.

Hubungi Kami

Alamat:
No.5B, Jalan 3/70 Damai Point, Seksyen 3, 43650 Bandar Baru Bangi. Selangor

Telefon: +60 17-377 7732
Email: alfalahmadani2022 [@] gmail.com

Jumlah Pengunjung

030232
Hari ini: 87
Minggu Ini: 87
Bulan Ini: 6,162
Tahun Ini: 30,232
Tahun Lepas: 52,147
Image

Alfalahmadani.my merupakan sebuah portal yang bertanggungjawab untuk bertindak sebagai penampan bagi setiap tuduhan, fitnah, kekeliruan, ketidakfahaman dan kecelaruan yang berlegar di minda rakyat. Sama ada isu-isu yang timbul secara organik di media sosial, ataupun yang didorong sebagai naratif oleh pihak-pihak tertentu,

Alfalahmadani.my akan menjawab setiap permasalahan dengan pengetahuan, kebijaksanaan dan kebenaran. Tentunya, kehadiran Alfalahmadani.my bukan berhasrat menyatakan kesempurnaan pemikiran, tetapi sebagai wahana untuk menuju kesempurnaan pengetahuan dalam konteks pemikiran semasa, dan kebijaksanaan yang mampu diusahakan.