NASIHAT SUFYAN AT-TSUARI DALAM MENUTUT ILMU

MENUNTUT  ilmu merupakan ibadah yang agung dan termasuk jalan paling mulia untuk mendekatkan diri kepada Allah Subhânahu Wata’âlâ. Namun, di balik nilai kemuliaan itu terkadang dirusak oleh niat yang salah. Tak sedikit dari ilmu yang dicari untuk mengejar popularitas, mengalahkan lawan debat, dan mengharap pujian manusia. Padahal tujuan utama menuntut ilmu mengharap ridha Allah Subhânahu Wata’âlâ, menjauhkan dari kejahilan, menciptakan kedamaian dan meninggikan derajat.

Seorang ulama Sufyan At-Tausi pernah berkata:

Kami dahulu menuntut ilmu bukan karena Allah, namun Allah tidak menghendaki kecuali semata-mata karena-Nya. (Al-Malîbârî, Maslakul Atqiyâ’ wa manhajul ashfiyâ’, 263).

Ungkapan di atas merupakan satire (sindiran) bagi orang-orang yang memiliki niat salah dalam menuntut ilmu. Waktu, tenaga, pikiran dan biaya yang dihabiskan bukan untuk mencari ridha Allah Subhânahu Wata’âla dan surga-Nya, melainkan untuk kepentingan dunia. Dalam sebuah riwayat dinukil bahwa orang pertama-tama dilempar ke neraka ialah para penutut ilmu dan pembaca Al-Qur’an.  Saat mereka ditanya, “Mengapa ilmu dituntut dan untuk apa Al-Qur’an dibaca?” Mereka jawab, “Untuk-Mu ya Allah!,” lalu Allah jawab, “Kamu dusta”, kemudian ia pun lembar ke neraka. (HR. Muslim).

Ini artinya, terkadang perbuatan baik tidak selalu mendatang maslahat dunia dan akhirat. Hal itu bukan karena substansi suatu perbuatan yang buruk, akan tetapi karena tujuan dan niat yang salah. Pesan yang terkandung dalam ucapan ulama kelahiran Kufah di atas secara lantang menyebut bahwa semulia apapun suatu pekerjaan tidak akan mendatangkan kebaikan bila ditujukan selain Allah Subhânahu Wata’âla.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasalam bersabda yang bermaksud:

"Barang siapa mempelajari ilmu yang seharusnya dicari untuk mengharap ridha Allah, tetapi ia mempelajarinya hanya untuk memperoleh keuntungan dunia, maka ia tidak akan mencium aroma surga pada hari kiamat." (HR. Ab Daud)

Riwayat di atas menekan bahwasanya para penuntut ilmu jangan  menjadikan ilmu agama hanya sebagai alat untuk mendapatkan kepentingan dunia, seperti mencari jabatan mengejar ketenaran, atau memperoleh pengaruh sosial. Dalam keadaan seperti ini, ilmu tidak lagi menjadi jalan menuju Allah Subhânahu Wata’âla, melainkan menjadi sarana memenuhi hawa nafsu.

Sebaliknya, seorang penuntut ilmu hendaknya mengikhlaskan niatnya karena Allah Subhanahu Waatala. Jika pada awalnya ia belum mampu meraih keikhlasan, maka hendaklah ia terus berjuang melawan dirinya hingga memperoleh keikhlasan. (Sâjid Ar-Rahmân As-Shiddîq, Mu’jamul Hadîts fi Ulûmil Hadîts, 14).

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa hendaklah ilmu yang dicari untuk mencari ridha Allah Subhânahu Wata’âla, sebab ilmu tidak akan memberi manfaat bagi kehidupan dunia akhirat bila ditujukan untuk selainnya.***

Sumber: kiblatriau.com

KESERAKAHAN DAN KELICIKAN

Dikisahkan, sosok pemilik restoran rakus dan khianat. Ketika restorannya maju pesat, ia ingin tampil dominan. Untuk itu, ia merencanakan menyingkirkan peracik bumbu yang sejak awal ikut membidani kesuksesan restorannya. Padahal, peracik bumbu tersebut merupakan "kunci utama" kelezatan masakan dan kekaguman setiap konsu-men. Kelezatan yang membuat restoran-nya begitu laris dan berkembang pesat.

Otak rakus dan licik pemilik restoran terus berputar mencari alasan. Akhirnya, ditemu-kan cara untuk menyingkirkan si peracik bumbu. Ia meminta agar si peracik bumbu mencantumkan resep (bahan baku) di setiap masakannya. Alasannya karena tuntutan pemerintah yang mewajibkan agar semua masakan mencantumkan bahan-bahannya. Dengan kepolosannya, si peracik bumbu menuliskan semua "resep rahasia" yang diinginkan pemilik restoran.

Merasa semua rahasia resep masakan telah dimiliki, keesokan hari si peracik bumbu diberhentikan dari restorannya. Resep tersebut diserahkannya kepada koki dungu untuk memasak menu restorannya. Tapi, hasil masakan koki berbeda kualitas (rasa). Seminggu kemudian restoran tersebut sepi tanpa pengunjung. Si pemilik restoran begitu marah dan menuduh si peracik bumbu licik karena tak menuliskan bumbu secara benar. Si peracik bumbu ber-kata, "aku telah menuliskan semua nama bumbu yang tuan inginkan. Tak ada yang kusembunyikan. Tapi tuan tak meminta takaran setiap bumbu, suhu api memasak, urutan bumbu dalam masakan, dan cara memasak yang benar. 

Semua perlu proses panjang, bukan tiba-tiba sekedar melihat nama bumbu. Sebenarnya, aku jujur men-jelaskan nama bumbu sesuai permintaan, tapi tuan yang serakah dan licik menying-kirkan ku setelah restoran ini berkembang pesat". Mendengar penjelasan si peracik bumbu, si pemilik restoran sadar dan ter-tunduk malu. Kerakusan dan kelicikannya telah menyebabkan restorannya tak lagi di-datangi konsumen dan akhirnya tutup.

Kisah di atas merupakan fenomena nyata. Fenomena hilangnya "rasa menghargai" atas jasa orang lain, seiring munculnya keserakahan yang menggunung demi memperoleh pengakuan instan. Kisah ini begitu nyata lintas generasi dan level sosial. Hanya beda judul, setting cerita, sutradara, aktor, lokasi, dan waktu, tapi sama pada nilai substansinya. Kisah yang mengungkap pelajaran moral (adab), antara lain :

Pertama, Ketika berada di masa sulit untuk membesarkan restoran, tak banyak sosok yang mau tampil, berjuang, dan bertahan. Sosok yang tampil hanya mereka yang mau berjuang dan hadir bermodalkan keharmo-nisan kerja. Namun, begitu keberhasilan telah diraih, muncul sosok para "pahlawan kesiangan" yang begitu serakah untuk ber-kuasa dan menguasai. Untuk itu, berbagai upaya licik akan dilakukan untuk menying-kirkan sosok yang telah berjasa. Sosok yang dianggap penghalang keserakahan-nya. Tujuannya, agar "pundi" tercurah dan tepukan pujian yang akan mengangkat (mengharumkan) namanya. Dalam sejarah Islam, karakter manusia yang demikian tampil pada sosok Abdullah bin Ubay bin Salul. Ia tak mau berjuang (perang), tapi begitu peperangan telah berhasil, ia tampil terdepan mengharap pujian dan dihormati atas jasa yang tidak pernah dilakukannya.

Karakter ini telah diingatkan dan diancam oleh Allah melalui firman-Nya :"Janganlah sekali-kali kamu menyangka, hahwa orang-orang yang gembira dengan apa yang telah mereka kerjakan dan mereka suka supaya dipuji terhadap perbuatan yang belum mereka kerjakan janganlah kamu menyangka bahwa mereka terlepas dari siksa, dan bagi mereka siksa yang pedih" (QS. Ali Imran : 188).

Menurut al-Qurthubi, ayat di atas menjelaskan sifat kaum Yahudi yang menyembunyi-kan kebenaran, bersikap gembira atas ke-bodohan, dan menuntut pujian atas semua yang tak dilakukan. Meski ayat begitu tegas, tapi manusia acapkali tak memperdulikan peringatan Allah dan begitu semakin nyata melakukan pelanggaran (kemungkaran).

Kedua, Pemilik restoran melambangkan pemimpin berkarakter bodoh, licik, culas, dan berupaya menutupi sejarah. Ingin tam-pil "berkuasa" dengan menyingkirkan sosok "aktor utama" yang telah berkontribusi memajukan restorannya. Caranya dengan menghapus sejarah. Sungguh, celaka bagi pemimpin yang berkarakter munafik dan dengki. Hal ini dijelaskan Allah dalam firman-Nya : "Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu tidak akan mendapat seorang penolong pun bagi mereka" (QS. an-Nisa' : 145).

Menurut Ibnu Katsir, ayat di atas menegas-kan kehinaan bagi orang munafik yaitu di kerak neraka paling bawah dengan siksa paling pedih. Sebab, mereka menampakan iman untuk menyembunyikan kekafiran. Tipu dayanya lebih berbahaya bagi Islam ketimbang orang kafir. Bagi mereka, tak ada yang menolong, meski penduduk bumi memuji dan menghargai. Sebab, munafikun akan dikelilingi manusia yang bersifat dan berkarakter serupa (munafik dan licik).

Ketiga, Profesionalitas dan kompetensi si peracik bumbu terbangun dari proses belajar yang panjang dan kerja keras tak kenal lelah. Sebab, si peracik bumbu tau dan melaksanakan pesan Rasulullah  : "Sesungguhnya Allah mencintai seseorang yang apabila bekerja, mengerjakannya secara itqan (profesional)" (HR. Thabrani).

Merujuk hadis di atas, kata itqan menuntut seseorang agar tidak sekadar bekerja, tapi mengerjakannya dengan ketekunan, ikhlas, perencanaan matang, berkompeten (al-qawiy), berintegritas (al-amin), dan berdedi-kasi tinggi (muru'ah). Profesionalitas yang demikian terbangun melalui proses yang panjang, bukan instan bak "membalikan telapak tangan".

Sikap profesionalitas perlu didukung oleh pengetahuan mumpuni, keterampilan (skill), jam terbang yang tinggi (deliberate practice), sikap (attitude), kematangan emosi, etika, dan tanggungjawab melalui berbagai pengalaman yang dihadapi.

Keempat, Koki yang bodoh akan terlihat nyata ataa ketidakmampuan yang selama ini disembunyikan. Tampil sebatas "asal bos senang" (ABS) dengan menyanggupi semua perintah si bos. Padahal, ia melaku-kan amanah tanpa kemampuan. Untuk itu, Rasulullah ﷺ telah mengingatkan : "Apa-bila suatu urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah kehancur-annya (kiamat)" (HR. Bukhari).

Meski hadis di atas begitu jelas, tapi acap-kali manusia justeru menafikannya. Kata kompetensi sebatas teori yang dikalahkan oleh kepentingan dan ambisi yang meng-gunung. Akibatnya, kehancuran bagaikan virus akut yang menghancurkan sendi peradaban. Bahaya sifat serakah telah diingatkan Rasulullah ﷺ melalui sabdanya : "Seandainya anak Adam memiliki satu lembah dari emas, tentu ia ingin memiliki dua lembah emas. Dan tidak akan ada yang bisa memenuhi mulutnya (membuat-nya puas) kecuali tanah (kematian), dan Allah menerima taubat bagi siapa saja yang bertaubat" (HR. Bukhari dan Muslim).

Peringatan Rasulullah di atas seyogyanya menyadarkan agar bijaksana, bukan me-langgengkan "pijak sini sana" yang ber-muara kezaliman pada sesama. Ketika nafsu mendominasi, kepuasan tak bertepi.

Kelima, Konsumen yang cerdas akan me-ngedepankan kualitas dan "rasa". Masakan lezat diminati meski harga mahal. Sedang-kan masakan yang serampangan tak ada yang mau membeli meski harga murah (murahan).  Namun, bagi konsumen yang jahil dan zalim, produk masakan hanya dilihat pada siapa sosok yang memasak atau pemilik tanpa peduli rasa dan "kebersihan". Lebih mengedepankan tampilan, brand, dan pramusaji, bukan kualitas masakan. Meski masakan hambar, kotor dan penuh "penyakit" akan dipuji setinggi langit. Padahal, menu yang dihidangkan tak memberi manfaat. Cara pandang yang demikian menunjukan kualitas diri konsumen. Padahal, Rasulullah  telah mengingatkan : "Sesungguhnya Allah tidak melihat pada bentuk rupa dan harta kalian, tetapi Dia melihat kepada hati dan amal perbuatan kalian" (HR. Muslim).

Hadis di atas seyogyanya menjadi rujukan utama menilai kualitas batin (keikhlasan, kejujuran) jauh lebih berharga daripada status lahiriyah yang penuh kebohongan dan tipu daya. Manusia di bumi bisa ditipu dengan tampilan dan untaian kata dusta yang diucapkan. Tapi, Allah dan Rasul-Nya tak pernah silau oleh tampilan kemunafik-an yang dipertontonkan. Pada waktunya, semua aib akan dibuka sebagai i'tibar bagi manusia yang berakal (ulul albab). Hanya saja, meski kebanyakan manusia berakal, tapi acapkali lupa berfikir. Terdinding oleh nafsu dan dosa yang dilakukan. Hal ini telah diingatkan Allah melalui firman-Nya : "Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci rapat pendengaran dan hatinya serta meletakkan penutup atas penglihat-annya ?" (QS. al-Jatsiyah : 23).

Menurut Ibnu Katsir, ayat di atas menjelas-kan tentang bahaya memperturutkan hawa nafsu yang menggiring perbuatan tercela. Mereka yang menjadikan nafsu sebagai 'tuhan'. Akibatnya, Allah akan menyesat-kan, mengunci mati hati, dan pendengaran-nya sehingga tertutup dari hidayah-Nya. Mereka akan melakukan apa yang diingin-kan tanpa peduli apakah hal tersebut akan dimurkai (fujur) atau diridhai (taqwa) oleh Allah dan Rasul-Nya. Sebab, semua bentuk perbuatan yang hanya berdasarkan apa yang indah dipandang dan nikmat oleh nafsu duniawi. Akibatnya, hadir anggun ke-sombongan, kezaliman, keserakahan, ke-licikan, kemunafikan, dan varian sifat nista (tercela) lainnya. Mereka selalu dibela oleh manusia yang berwatak serupa. Mereka lupa bila waktunya, Allah akan buka semua kemunafikan, kerakusan, dan kelicikan yang disembunyikan. Sebab, Allah dan Rasul-Nya tak pernah mengingkari atas semua janji-Nya (QS. Ali Imran : 9), pasti. 

Wa Allahua'lam bi al-Shawwab.***

Prof Samsul Nizar adalah Guru Besar IAIN Datuk Laksemana Bengkalis

 

SENI YANG MELALAIKAN

Seni adalah keindahan. Ia merupakan ekspresi roh dan budaya manusia yang mengandungi serta mengungkapkan keindahan. Ia lahir dalam diri manusia didorong oleh kecenderungan seniman kepada yang indah biar apa pun jenis keindahan itu. Dorongan tersebut memaparkan naluri manusia atau fitrah yang dianugerahkan oleh Allah kepada hamba-hamba-Nya. Allah Maha Indah menyukai keindahan (Hadis riwatar Muslim)

Kerana itu Islam dapat menerima aneka ekspresi keindahan selama tidak bertentangan dengan nilai-nilai al-khair dan al-ma'aruf. Kesenian adalah unsur dan alat yang ampuh dalam pertumbuhan pendidikan dan kebudayaan bangsa yang sedang membangun. Islam sebagai sistem hidup yang sempurna mengharuskan hiburan dengan maksud tertentu yang boleh membawa kebaikan.

Bidang kebudayaan dan kesenian merupakan alat untuk menentukan karakter bangsa. Bidang seni dan kebudayaan dianggap sebagai alat pembangunan. Oleh itu, meninggalkan cabang ini bererti menyisihkan jalan yang boleh membantu mencapai pembangunan bangsa.

Menikmat keindahan adalah fitrah manusia secara universal sedang Islam adalah agama universal yang bertujuan membangun peradaban, kebenaran, kebaikan, dan keindahan adalah tiga unsur mutlak bagi satu peradaban. Seni Islam itu adalah untuk mendekati Tuhan. Yang tidak mempertemukan denganNYA bukanlah seni Islam. Kerana itu Art for Art tidak dikenal oleh kamus ajaran Islam sebab bagi seorang muslim seluruh gerak dan diamnya harus diarahkan kepada Allah.

Seni muzik telah dilihat sebagai sesuatu yang melalaikan, melekakan, membuang masa dan mendorong manusia melakukan kemungkaran. Dengan kata lain, unsur-unsur harmoni yang positif sudah tidak wujud lagi dan jauh sekali dikaitkan dengan ketenangan, kedamaian, zikir, ketakwaan dan keimanan. Batas-batas yang tidak wajar dan membawa ke alam maksiat inilah yang dilarang oleh hukum-hukum agama.

Sesungguhnya kehidupan Rasulullah membuktikan bahawa baginda tidak melarang nyanyian yang bukan membawa kepada kemaksiatan. Nyanyian yang sangat popular di kalangan umat Islam seperti berzanji dan marhaban yang memuji Rasulullah, nyanyian yang sarat dengan nilai-nilai agama. Lagu-lagu seperti inilah yang dinyanyikan oleh kaum Ansar di Madinah ketika menyambut kedatangan Nabi Muhammad.

Sementara itu, Imam Ahmad telah meriwayatkan bahawa dua orang wanita mendendangkan lagu yang isinya mengenang para pahlawan yang gugur dalam peperangan Badar sambil memukul gendang. Di samping itu, terdapat beberapa hadis tentang hal ini dan diperkuatkan lagi dengan dalil dalam surah Luqman, ayat 19. Mengulas tentang ayat itu, Imam Al-Ghazali berpendapat bahawa Allah memuji suara yang baik sehingga tidak dilarang mendengarkan nyanyian yang baik.

Muzik yang harus adalah muzik yang berilmu, membawa kepada kemurnian hati sanubari insan. Muzik yang bersifat kejahilan, merangsang kegelisahan hati nurani insan yang boleh membawa kepada kekaburan kemuliaan insan adalah dilarang. Seni kata lagu juga harus mengandungi mesej ke arah akhlak mulia dan tidak melanggar batasan akidah Islam. Lagu-lagu cinta yang memuja perasaan terhadap wanita secara berlebih-lebihan misalnya dan terkandung kesesatan nafsu seksual adalah haram.

Sebaliknya, lagu-lagu sedemikian boleh menjadi kebaikan sekiranya seni kata lagu menjurus ke arah pujian terhadap wanita yang baik akhlaknya dan beragama serta mulia. Namun begitu, pujian atau sanjungan itu bukan ditujukan kepada wanita tetapi kepada nilai-nilai agama yang mulia dan terpapar pada golongan tersebut.

Memang Islam tidak merestui ekspresi keindahan yang terlepas dari nilai-nilai luhur tetapi Islam sangat merestui dan mendorong semua yang menampilkan keindahan yang sesuai dengan nilai-nilai moral dan jati diri manusia.

UMAT BERAKHLAK

Perilaku dan tabiat manusia, baik yang terpuji mahupun tercela disebut sebagai akhlak. Dalam bahasa Melayu, akhlak sering disebut sebagai moral atau etika. Secara etimologi, akhlak berasal daripada bahasa Arab akhlaq. Para sufi dan pengarang buku mengenai akhlak mengatakan akhlak bukan hanya merupakan perilaku manusia terhadap manusia lain malahan termasuk perilaku antara manusia dengan Khaliqnya serta antara manusia dengan makhluk lain.

Akhlak atau budi pekerti yang baik merupakan darjat paling tinggi bagi umat Islam. Sehubungan ini Rasulullah saw bersabda yang bermaksud: Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah orang yang berakhlak paling mulia (Riwayat Abu Daud,Tarmizi dan Ahmad).

Ibnu Qayyim berkata,keseluruhan isi agama merupakan akhlak. Jadi barang siapa yang akhlaknya lebih luhur daripada dirimu, bererti ia memiliki darjat agama yang lebih tinggi daripada dirimu.” 

Apabila suatu bangsa sudah tidak memiliki moral yang baik maka bangsa itu sedang menempuh jalan kehancuran. Meskipun negara itu mewah atau kaya, tetapi jika tidak disertai dengan akhlak yang utama, ia tidak akan berharga sama sekali, baik menurut pandangan manusia apalagi menurut sunnatullah. Maka Allah S.W.T. memberi kedudukan kepada Rasulullah menjadi uswatun hasanah, sebagai contoh dan teladan umat manusia, sebab dalam diri Baginda terdapat akhlaqul karimah akhlak yang mulia dan utama.

Para sufi menganggap bahawa selain doktrin keislaman dan keimanan, Islam memiliki doktrin lain, iaitu kebaikan ihsan. Ketiga-tiga doktrin ini merupakan trilogi yang tidak boleh dipisahkan dan merupakan penjelmaan daripada hadis Nabi s.a.w yang memuatkan kisah dialog Baginda dengan malaikat Jibril. 

lhsan dalam hadis itu didefinisikan sebagai engkau menyembah Allah S.W.T. seolah-olah engkau melihat-Nya. Dan jika engkau tidak melihat-Nya sesungguhnya Allah S.W.T. melihatmu. 

ltulah inti ajaran akhlak menurut para sufi, iaitu selalu berusaha menghadirkan Allah S.W.T. di mana pun berada. Bila seseorang mampu menghadirkan Allah S.W.T. di mana saja berada, dia akan selalu melakukan perbuatan yang sesuai dengan ajaran-ajaran yang telah ditetapkan Allah S.W.T. Daripada sifat ihsan yang menjadi sumber akhlak karimah akan melahirkan sifat-sifat mulia, kejernihan berfikir dan kesucian kalbu.

Usamah bin Syarik r.a meriwayatkan bahawa ketika Rasulullah saw ditanya oleh sahabat, apa hal terbaik yang di kurniakan kepada manusia? Beliau menjawab, Budi luhur. (Riwayat Ibnu Majah dan Ahmad)

Di antara salah satu ciri-ciri akhlak yang baik  ialah bersikap kasih sayang sesama muslim. Kita harus yakin bahawa dengan menyayangi orang lain, ia akan menperolehi balasan kasih sayang yang jauh lebih besar dan lebih luas di dunia dan juga akhirat. Sesungguhnya Allah SWT menyayangi siapapun yang menyayangi hamba-hambaNya. Rasullullah bersabda yang bermaksud; Allah hanya akan menyayangi hamba yang menyayangi (makhlukNya)(Riwayat Bukhari dan Muslim)

Sebaliknya Rasulullah saw juga bersabda yang bermaksud: Sungguh, Allah tidak akan menyayangi seseorang yang tidak menyayangi manusia (Riwayat Muslim)

Sifat peyayang merupakan pertanda kelapangan dada, kelembutan hati dan keperibadian yang tinggi. Seseorang yang berakhlak mulia akan menyayangi seluruh manusia serta seluruh makhluk. Ibnu Masud meriwayatkan bahawa Rasulullah saw bersabda yang bermaksud: Kamu tidak dianggap beriman hingga kamu saling menyayangi para sahabat berkata, Wahai Rasulullah kami setiap orang, tersemua adalah penyayang. Rasul menjawab: Kasih sayang yang dimaksudkan bukanlah kasih sayang di antara kamu saja, melainkan kasih  sayang kepada seluruh manusia dan seluruh makhluk (Riwayat Tabrani)

Sejarah mencatat bahawa kasih sayang Rasulullah saw bukan sahaja terhad kepada sesama muslim tetapi juga kepada bukan muslim. Ini dijelaskan dalam firman Allah SWT yang bermaksud: Maka barang kali engkau(Muhammad)akan menbinasakan dirimu kerana bersedih hati setelah mereka berpaling,sekiranya mereka tidak beriman kepada keterangan ini (AlQuran). (Surah Al-Kahfi ayat 6)

Nabi Muhammad saw tidak hanya menyayangi manusia, tetapi juga menyayangi binatang. Rasulullah saw mengajak manusia untuk menyayangi binatang kerana ia akan menperolehi pahala. Beliau bersabda yang bermaksud: Setiap air yang diberikan kepada haiwan hidup (untuk minumnya) mendatangkan pahala (Riwayat Bukhari dan Muslim)

Jika ada pertanyaan, siapa saja yang didoakan nabi saw untuk menperolehi rahmat? Maka jawapannya dapat diperolehi dari hadis-hadis berikut ini. Nabi Muhammad saw mendoakan orang-orang melaksanakan solat sunat empat rakaat sebelum solat asar. Semoga Allah merahmati seseorang yang melaksanakan solat sunat empat rakaat sebelum asar (Riwayat Abu Daud) Nabi juga mendoakan orang yang memiliki sifat tolerensi. Seterusnya nabi juga mendoakan orang menjaga lisannya dan memanfaatkan lisannya hanya untuk kebaikan

Pada hakikatnya hanya orang yang sengsara yang tidak memiliki rasa kasih sayang. Nabi saw bersabda yang bermaksud: Rasa kasih sayang tidak akan dicabut kecuali dari orang yang sengsara (Riwayat Abu Daud).  Ath-thibbi menjelaskan hadis ini dengan berkata, hal ini kerana kasih sayang berasal dari hati yang lembut. Hati yang lembut merupakan tanda keimanan. Barangsiapa yang tidak memiliki kelembutan hati maka ia tidak beriman. Dan sesiapa yang tidak memiliki iman maka ia sengsara Jadi jelas bahawa orang yang tidak memiliki kelembutan hati maka ia sengsara.

Sifat kasih sayang ini juga menjadi bukti rasa kelembutan hati dan keluhuran jiwa. Sifat ini dapat mengeratkan hubungan antara anggota masyarakat. Sifat ini juga dapat menyatukan perbezaan-perbezaan yang berlaku dalam masyarakat dan meningkatan tamadun peradaban manusia itu sendiri. D isisi lain surga merupakan tempat atau kediaman bagi orang yang penuh kasih sayang. Hanya orang yang mempunyai sifat pengasih sahaja yang dapat memasuki syurga.

MEMENTINGKAN SIFAT LAHIRIAH

Sampai hari ini, ramai di kalangan umat Islam di Nusantara masih belum dapat membezakan antara nilai atau prinsip Islam yang universal (sejagat) dengan nilai-nilai yang bersifat partikular (tempatan).Tidak sedikit yang beranggapan semua tradisi dan budaya yang datang dari kawasan Arab (sebagai negara yang telah melahirkan Islam) pasti Islamik dan mesti diikuti sepenuhnya tanpa soal.Pihak yang menyoal, kritikal dan mempertikai budaya itu akan dianggap sebagai pihak yang menyoal ajaran agama.

Hal ini misalnya, dapat dilihat dalam pakaian jubah, serban atau produk budaya Arab lainnya. Dengan menggunakan jubah atau serban yang dililitkan di atas kepala, maka akan dianggap sempurna keimanannya dan menepati kehendak Islam. Yang menggunakan ungkapan-ungkapan ana, anta, akhi dan ukhti dianggap mencorakkan keislaman yang kental.

Bagi yang menggunakan baju Melayu, kain pelikat ketika beribadah bagi lelaki akan dilabel sebagai tidak mengikut Sunnah Nabi. Bagi kaum Hawa, yang mengekal dan menggunakan pakaian baju kurung dianggap sebagai kurang Islamik. Lebih malang lagi,pemakaian baju tradisional akan dituduh sebagai pihak yang mengamalkan taksub buta kepada adat jahiliyah. Pakaian atau baju menjadi kayu pengukur kadar keimanan seseorang.

Di Indonesia, terdapat sebilangan kelompok Islam yang menampilkan jubah sebagai identiti kumpulannya. Dengan jubah itu, kumpulan ini amat dikenali sebagai golongan yang lantang menentang sebarang kemungkaran dan kemaksiatan yang berlaku di masyarakat.Malangnya, dalam menjalankan misi dakwahnya, kumpulan ini kerapkali melanggar undang-undang dengan bertindak sendiri dan mengabaikan pihak berkuasa.

Tidak jarang, dengan jubah yang dipakainya dan disertai dengan pekikan takbir, mereka merosakkan bangunan yang dianggap sebagai simbol pelanggaran agama.Kumpulan ini lupa atau mungkin tidak faham bahawa dalam berdakwah, Nabi tidak pernah melakukan kekerasan dan keganasan terhadap masyarakat yang jauh dari Islam.Nabi Muhammad dengan jubah yang dipakainya menyerukan dakwah dengan kasih sayang dan sentiasa berdoa untuk ummatnya. Rupanya, kumpulan ini hanya mengikuti Nabi dnegan menggunakan jubah sebagai atribut luaran sahaja, tidak mencontohi sikap dan budi pekerti Nabi yang luhur.

Di Malaysia, terdapat dua kumpulan dengan penampilan yang sama pernah wujud terutama pada tahun 1980-an. Satu kumpulan bergerak dalam kerangka politik dan satu kumpulan yang lain bergiat cergas dalam organisasi sivil. Dengan jubah putih yang dikenakannya sama ada oleh golongan elit mahupun penyokongnya, kumpulan politik ini kerap ‘menyerang’ dan mengecam kumpulan Islam lain yang tidak sealiran  dan sefaham dengannya. Lebih dari itu, tanpa segan silu mereka menuduh kafir dan terkeluar daripada Islam sehinggalah muncul fenomena kafir-mengkafir yang cukup dahsyat itu.

Perilaku dan sikap mereka ini kerap terpapar dan menghiasi dalam media massa pada era tahun 1980-an seperti dalam Asiaweek majalah mingguan terbitan Hongkong yang cukup kredibel. Dalam laporannya pada 24 Ogos 1984 yang bertajuk A Storm in the North, majalah ini melaporkan kumpulan elit parti politik agama yang melakukan road show ke seluruh negara bagi ‘menghukum’ dan melabel kumpulan Islam lain yang memerintah negara ini sebagai taghut, mengamalkan sistem jahiliyyah dan berkiblatkan kepada warisan penjajah. Akibatnya, ramai penyokong di akar umbi sanggup bertindak ganas, menghukum kafir dan mempulau saudara seiman kerana berbeza pandangan politik.  

Begitupun dengan kumpulan jubah yang bergiat dalam organisasi sivil. Mereka lebih suka hidup secara eksklusif dan menyendiri dengan membina kampung  dan komuniti tersendiri. Mereka seolah-olah lupa bahawa mereka hidup di negara majmuk yang terdiri dari pelbagai kaum, agama, bangsa hatta kerencaman fahaman kegamaan. Dengan jubah yang sentiasa dipakainya itu, mereka meyakini telah mengamalkan ajaran Nabi secara paripurna meskipun dengan cara mengabaikan komuniti lain. Walhal, itu juga termasuk perkara muamalah yang ditekankan dalam ajaran Islam sehingga Nabi pernah bersabda tidak beriman seseorang jikalau dia mengabaikan dan tidak menghormati jiran tetangganya.

Dalam konteks ini, tidak bermakna kita menentang dan menolak jubah dipakai oleh umat Islam. Kita tidak mengatakan bahawa pemakaian jubah itu adalah buruk dan patut dielakkan. Namun, pemakaian jubah seharusnya mencerminkan sikap dan akhlak pemakainya. Memakai jubah tidak hanya semata-mata kerana Rasulullah dan para sahabat Nabi menggunakan jubah yang bererti telah mengamalkan sunnah, akan tetapi ia mesti diselaraskan dengan tingkah laku, akhlak, kefahaman dan penghayatan agama yang mendalam. Jika tidak, maka ia akan hanya menyerlahkan wajah Islam yang negatif dan yang lebih buruk lagi akan disalahfahami oleh orang bukan Islam.

Kita harus dapat membezakan secara jelas dan tegas antara nilai-nilai tradisi dan nilai-nilai agama. Penggunaan jubah itu merupakan contoh yang baik dalam memahami isu ini. Nabi menggunakan jubah tidak lari daripada menghargai tradisi pakaian orang Arab kerana Nabi memang lahir di situ. Seandainya Nabi lahir di Nusantara misalnya, sudah tentu lah pakaian yang dipakai oleh Nabi pakaian yang biasa dipakai di Nusantara ini.

Dalam Islam sendiri, konsep berpakaian tidak ditentukan oleh bentuk dan ukuran sesebuah baju itu merujuk kepada kaum dan komuniti tertentu. Ia diserahkan sepenuhnya kepada umat Islam untuk diterjemahkan dalam bentuk yang sesuai dengan kehendaknya dengan syarat pakaian itu tidak mendedahkan aurat dan batasan-batasan lain yang telah disepakati oleh jumhur ulama. Dalam al-Qur’an sendiri disebutkan sebaik-baik pakaian ialah ialah ‘pakaian’ takwa (al-A’raf: 26).

Maknanya, pakaian yang sesungguhnya ialah cerminan dan manifestasi pada sikap , akhlak, ketakwaan, keimanan dan perilaku diri kita. Kayu pengukur utama berpakaian dalam Islam terletak di dalam batin kita dan ianya bersikap intrinsink (dalaman hati). Bukan dalam bentuk secara fizikal dan terlihat secara mata kasar seperti jubah yang menjela-jela hingga ke tanah, serban yang dililit di atas kepala dan pakaian yang menutup seluruh tubuh badan sehingga hanya ternampak kelopak kedua matanya saja.

Penggunaan pakaian yang dipersepsikan sebagai Islamik perlu diselaraskan dengan kebersihan hati dan jiwa yang sepenuhnya dipersembahkan semata-mata kerana dan hanya kepada Allah. Amalan dan kesolehan seseorang menjadi titik perbezaan di antara orang yang bertakwa dan sebaliknya. Orang yang dikasihi dan dekat dengan Tuhannya itu terletak pada manusia yang mampu membezakan benda-benda yang bersifat zahir kepada perkara yang hakiki.

Dalam hal ini, menarik kiranya pandangan salah seorang tokoh sufi Shihabuddin al-Suhrowardi yang mencetuskan teori mengenai hikmah nazariyyah dan hikmah amaliyyah. Menurut tokoh tasawuf kelahiran Persia yang juga dikenali sebagai pencetus teori theosofi ini menyatakan manusia perlu menggabungkan kedua hikmah itu dalam menjalani kehidupan beragamanya dan bagi mengenali sang pencipta.

Menerusi hikmah nazariyyah, manusia diajarkan untuk berfikir secara falsafi yang membolehkan manusia dapat membezakan antara kebenaran hakiki dan kebenaran lahiriyah. Dengan hikmah ini, manusia tidak mudah menjatuhkan hukuman terhadap pandangan yang secara lahiriah bertentangan dengan hukum agama. Sebaliknya, ia melihat itu semua dengan pandangan hakiki dan merentasi ta’bir di sebalik peristiwa tersebut.

Manusia dapat melewati proses ini setelah mempelajari dan mengamalkan hikmah amaliyyah iaitu hikmat yang didapat melalui pengamalan secara tasawuf. Melalui hikmah ini seseorang akan mendapatkan proses penyucian jiwa dan hati sehingga ia mampu mengenali Tuhannya yang selama ini tertutup oleh kelakuan dan sifat manusia yang buruk.      

Oleh itu, penting kiranya setiap diri kita untuk mensucikan fikiran dan jiwa kita tidak hanya kepada simbolisme material, tapi yang lebih utama ialah kebenaran hakiki yang sejatinya merupakan ajaran yang penting dalam Islam. Tapi kerapkali dilupakan oleh manusia kerana lebih mementingkan sifat lahiriah.

Hubungi Kami

Alamat:
No.5B, Jalan 3/70 Damai Point, Seksyen 3, 43650 Bandar Baru Bangi. Selangor

Telefon: +60 17-377 7732
Email: alfalahmadani2022 [@] gmail.com

Jumlah Pengunjung

081339
Hari ini: 478
Minggu Ini: 3,310
Bulan Ini: 7,806
Tahun Ini: 81,339
Tahun Lepas: 52,147
Image

Alfalahmadani.my merupakan sebuah portal yang bertanggungjawab untuk bertindak sebagai penampan bagi setiap tuduhan, fitnah, kekeliruan, ketidakfahaman dan kecelaruan yang berlegar di minda rakyat. Sama ada isu-isu yang timbul secara organik di media sosial, ataupun yang didorong sebagai naratif oleh pihak-pihak tertentu,

Alfalahmadani.my akan menjawab setiap permasalahan dengan pengetahuan, kebijaksanaan dan kebenaran. Tentunya, kehadiran Alfalahmadani.my bukan berhasrat menyatakan kesempurnaan pemikiran, tetapi sebagai wahana untuk menuju kesempurnaan pengetahuan dalam konteks pemikiran semasa, dan kebijaksanaan yang mampu diusahakan.