KITA YANG MINTA MUSIBAH

Segala kejadian yang menimpa manusia sehingga menimbulkan rasa sedih atau penderitaan baginya disebut musibah. Ada hal-hal yang tidak diinginkan atau dihindari, ada pula yang diinginkan oleh manusia. Manusia mencuba seboleh mungkin untuk menghindari musibah, seperti bencana dan malapetaka, kerana tidak ada orang yang menginginkan kesedihan atau penderitaan.

Mengapa musibah dan bencana datang silih berganti tanpa henti?mKenapa musibah datang tanpa diminta. Ramai yang bertanya soalan ini, di saat Asia Tenggara dilanda musibah banjir dan malapetaka alam yang lain. Jawapannya terletak pada tujuh sebab utama yang berpunca daripada tindakan kita sendiri. Ini adalah hakikat yang perlu kita telan dan hadapi. Berikut adalah Tujuh Sebab Mengapa Musibah Datang Bertubi tubi:

Terlalu Banyak Maksiat

Musibah berlaku akibat dosa-dosa yang kita lakukan terhadap Allah. Seperti yang disebut dalam Surah Yasin, bencana yang melanda adalah akibat langsung daripada tangan-tangan manusia yang melampaui batas. Perhatikan betapa rasuah kini dianggap normal oleh manusia. Rasuah yang diberi dan diambil oleh masyarakat, tidak kira dari mereka yang bekerja dengan kerajaan, bekerja sebagai penguatkuasa, atau pekerja swasta. Malah, rasuah di dunia korporat dan perniagaan seolah-olah tidak dipantau dan dilawan, dan menjadi norma zaman ini.

Berleluasanya Kezaliman

Sesuatu tempat tidak akan dibinasakan melainkan penduduknya melakukan kezaliman (Surah Al-Qasas). Kezaliman ini termasuklah anak menderhaka kepada ibu bapa, isteri melawan suami, serta berleluasanya pembunuhan dan kecurian.

Akibat Tangan Manusia Sendiri

Kerosakan di darat dan di laut adalah nyata berpunca daripada perbuatan tangan manusia itu sendiri (Surah Ar-Rum). Ini berpunca daripada sikap manusia yang sangat mementingkan diri sendiri. Manusia hanya memikirkan tentang mengumpul kekayaan semata-mata, tanpa mempedulikan kesan buruk terhadap alam sekitar. Kita telah lupa dan mengabaikan tanggungjawab hakiki
 kita sebagai Khalifah. Allah merasakan sedikit daripada akibat perbuatan mereka agar mereka kembali kepada kebenaran.Kembali kpd kehidupan bahawa besok ada pembalasan darinya didunia mahupun akhirat.

Maksiat dan Kezaliman Golongan Atasan

Bencana diundang apabila orang-orang besar, pemimpin, dan golongan kaya melakukan maksiat serta kezaliman. Ini termasuk pemimpin yang memungkiri sumpah membanteras rasuah, orang kaya yang bermewah dengan maksiat, dan agamawan yang menjual ayat-ayat Allah dengan harga yang murah. Perbuatan para penguasa dan pemimpin yang korupsi dan mengambil hak orang lain, telah meruntuhkan keadilan yang sepatutnya dijaga oleh mereka.

Orang Soleh Mengambil Sikap Mendiamkan Diri

Azab tidak hanya menimpa orang jahat, tetapi juga orang soleh yang memilih untuk berdiam diri melihat kemungkaran (Surah Al-Anfal).Mereka hannya mementingkan periok nasi mereka sendiri. Sikap tidak peduli bukanlah sifat orang beriman. Jika datang kepada manusia soleh, maka musibah harus dilihat sebagai penguji keimanan, sebagaimana dijelaskan oleh Allah s.w.t. dalam surah al- Baqarah ayat 155 dan 156.

Tetapi jika menimpa orang yang biasa berbuat maksiat, maka musibah harus diertikan sebagai seksaan. Lihat surah Muhammad ayat 10. Amar Makruf Nahi Mungkar adalah ciri utama kebaikan umat ini.

Peringatan dan Rahmat Allah

Kadangkala, musibah adalah satu bentuk teguran dan kasih sayang Allah.Allah ingin kita mendekati diri kepadaNya. Ia adalah ujian untuk menyedarkan kita agar tidak lupa kpdNya. Kita diingatkan bahawa kita akan diuji dengan ketakutan, kelaparan, dan kekurangan harta benda. Namun, berita gembira bagi mereka yang sabar dan mengucapkan "Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un".
Istidraj (Kenikmatan Dunia Sementara)

Ada golongan yang melakukan maksiat tetapi kelihatan berjaya dan selamat.Ada orang kaya terus kaya diberi nikmat oleh Allah tanpa putus-putus. Ini bukanlah bukti keadilan, tetapi mungkin Istidraj. Mereka yang hanya mengejar dunia dengan menghalalkan cara akan mendapat habuan penuh di dunia, tetapi tiada bahagian di akhirat kelak. Nikmat dunia mereka akan menjadi bahan bakar hukuman mereka nanti. Penutup (Rumusan & Refleksi Diri)

Mesej utamanya sangat jelas - Banyak musibah yang kita saksikan adalah akibat langsung daripada dosa, kezaliman, dan sikap membisu kita terhadap kemungkaran. Musibah itu tidak pernah terjadi secara rawak, kerana Allah SWT itu Maha Mengetahui apa yang dilakukan oleh setiap seorang diantara kita. Maka marilah kita merenung beberapa perkara:

Di manakah kedudukan kita dalam 7 sebab ini? Adakah kita penyumbang kepada musibah melalui dosa atau sikap mendiamkan diri?
Bagaimana respon atau tindak balas kita apabila diuji? Adakah kita melatah, atau kita kembali kepada Allah dengan sabar? Adakah kita menggunakan setiap ujian ini sebagai peluang untuk mendekatkan diri kepada Allah? Atau kita hanya pandai untuk menyalahkan orang lain, kerana merasakan diri sendiri maksum dan tiada dosa langsung? 

Bagi seorang mukmin, setiap kejadian harus dijadikan jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah, Taqarrub Ilallah. Gunakanlah peringatan hari ini untuk membetulkan haluan hidup kita. Islam memberikan panduan bagaimana seorang Muslim seharusnya tabah menghadapi musibah.

Jika musibah datang menimpa, maka ia harus mengucapkan dan menyedari makna kalimah Istirja iaitu `Inna lillahi wa inna ilaihi raji (seungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nya kami akan kembali) (Surah al-Baqarah ayat 156)

MENJAGA JATI DIRI: MENGHADAPI ARUS PENYUSUPAN BUDAYA BARAT DALAM ISLAM

SEIRING dengan berjalannya waktu, nilai-nilai ajaran Islam yang luhur mengalami pergeseran tajam. Generasi muda islam lebih akrab dengan budaya-budaya luar (Barat). Setiap tahun dengan antusia merayakan hari ibu, valentine dan tahun baru masehi. Seperti meniru gaya rambut, pakaian dan bersosial dengan ala barat lebih disukai dan diminati dari pada yang digariskan syariat.

Ironisnya fenomena itu dianggap sebagai suatu hal lumrah dan wajar dengan dalih modernisme di mana asimilasi budaya harus diterima, bagi siapa yang menolak diklaim sebagai intoleran. Namun, narasi ini bila ditinjau dari aspek teologis sejatinya umat ini sedang mempersiapkan diri untuk memasuki sebuah fase akhir zaman. Sebab sedikit demi sedikit gaya hidup pola orang-orang barat lebih disenangi.

Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam bersabda yang bermaksud:

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: Hari kiamat tidak akan terjadi hingga umatku meniru gaya hidup generasi-generasi sebelumnya, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta. Lalu beliau ditanya, Wahai Rasulullah: Seperti Persia dan Romawi?. Nabi menjawab: Menusia mana lagi selain mereka itu?. (HR. Bukhari).

Badruddin al-‘Aini ( w 855 H) berkata: Kalimat “umatku akan mengikuti tradisi generasi sebelumnya” yang dimaksud ialah bahwa kelak umat islam akan meniru pola hidup kaum Persia dan Romawi sehingga nilai-nilai agama menjadi luntur. (Badruddin al-‘Aini, ‘Umdatul Qari Syarhu Shahih al-Bukhari,10/365).

Hari ini, apa yang dikatakan oleh Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam dan penjelasan para ulama benar-benar nyata. Umat Islam lebih gandrung dengan gaya hidup barat, bahkan orang yang tidak akrab dengannya dicap sebagai manusia kolot. Di sisi lain, tradisi apa saja yang akan diikuti oleh umat ini?.

Dengan gamblang Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam utarakan bahwa umat ini akan melakukan semua hal yang diperbuat umat-umat sebelumnya. Jika mereka mendatangi ibunya secara terang-terangan (menggaulinya) maka sebagian umat islam akan melakukan hal yang sama.

Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam bersabda yang bermaksud:

Dari Abdullah bin Amru berkata, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: Pasti akan datang kepada umatku sesuatu yang telah datang pada bani Israil seperti sejajarnya sandal dengan sandal sehingga apabila di antara mereka ada yang mendatangi (menggauli) ibu kandungnya sendiri secara terang-terangan maka pasti di antara umatku ada yang melakukan demikian. HR. Tirmizi.

Syekh Sofiyurrahman al-Mubarakfūrī (w 1353 H) dalam Tuhfatul Ahwazi mengutip pendapat imam an-Nawawī rahimahullah berkata: Yang dimaksud dengan ‘seperti sejajarnya sandal dengan sandal’ ialah umat islam akan meniru cara berpikir, gaya hidup dan berekspresinya umat terdahulu secara sempurna. (Sofiyurrahman al-Mubarakfūrī, Tuhfatul Ahwazi, 7/333). Sulthan Ali al-Qari (w 1014 H) dalam Mirqātu berkata: Kalimat seperti ‘sejajarnya sandal dengan sandal’ yang dimaksud ialah umat islam ini akan meniru setiap perbuatan mereka secara utuh. (Sulthan Ali al-Qari, Mirqātu, 1/258).

Dalam hadits lain disebutkan bahwa jika kaum terdahulu itu masuk ke lobang biawak maka umat islam pun akan ikut.

Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam bersabda yang bermaksud:

Dari Abu Sa’id bahwasanya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: Kalian pasti akan mengikuti kebiasaan-kebiasaan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta hingga seandainya mereka masuk ke dalam lobang biawak kalian pasti akan mengikutinya. Para sahabat bertanya: Wahai Rasulullah, apakah yang baginda maksud kaum Yahudi dan Nasrani?. Beliau menjawab: Siapa lagi kalau bukan mereka. HR. Bukhari dan Muslim.

Ibnu Battal (w 499 H) dalam Syarhu as-Shahīh al-Bukhari berkata: Rasulullah saw mengabarkan bahwa umatnya kelak pasti akan mengikuti kaum Yahudi dan Nashrani dalam perkara-perkara baru mengenai agama dan mengubah ajarannya. (Ibnu Battal, Syarhu as-Shahīh al-Bukhari, 16/43).

Di antara kebiasaan kaum Yahudi yang ditiru oleh umat islam ialah Qoza’ (mencukur sebagian rambut dan membiarkan bagian yang lain). Ibnu Batthal (w 499 H) mengutip kaul al-Hajaj bin Hasan berkata: Anas datang menemui kami lalu berkata: Saudari perempuanku berkata: “Suatu ketika Rasulullah saw datang menemui kami dan waktu itu ada seorang anak kecil yang di kepalanya ada semacam rambut yang dikucir. Lalu beliau mengusap rambutnya dan mendoakan keberkahan lalu bersabda: Potonglah rambutnya karena ini menyerupai kaum Yahudi”.

Kesimpulannya, arus penyusupan budaya Barat merupakan tantangan nyata yang dapat memengaruhi pola pikir, gaya hidup, dan nilai-nilai umat Islam. Jika tidak disikapi dengan bijak, hal ini berpotensi mengikis jati diri dan identitas keislaman secara perlahan. Oleh karena itu, umat Islam dituntut untuk memiliki sikap selektif dan kritis—mampu mengambil hal-hal positif yang tidak bertentangan dengan syariat, serta menolak unsur-unsur yang merusak akidah dan akhlak.

Menjaga jati diri bukan berarti menutup diri dari perkembangan zaman, tetapi memastikan bahwa setiap perubahan tetap berlandaskan pada nilai-nilai Islam. Dengan demikian, umat Islam dapat tetap eksis dan maju tanpa kehilangan prinsip dan karakter keislamannya.***

Sumber: kiblatriau.com

ADIL DAN MAKMUR: JALAN PERADABAN YANG TIDAK BISA DIPISAHKAN

Banyak orang terjebak pada pertanyaan yang tampak sederhana: haruskah kita mengejar kemakmuran dulu, baru membangun keadilan? Pertanyaan ini keliru sejak awal. Ia memisahkan sesuatu yang dalam realitas justru saling menentukan.

Kalau dianalisis secara ilmiah—baik dari perspektif ekonomi, sosiologi, maupun sejarah—kemakmuran tanpa keadilan hampir selalu menghasilkan ketimpangan. Ketimpangan ini bukan efek samping kecil, melainkan bom waktu struktural yang pada akhirnya merusak stabilitas, menghancurkan kepercayaan, dan melemahkan daya tahan bangsa.

Sebaliknya, keadilan tanpa produktivitas juga tidak cukup. Ia bisa menciptakan kesetaraan, tetapi bukan kemajuan.

Maka, persoalan sebenarnya bukan memilih urutan, tetapi membangun sistem yang menyatukan keduanya sejak awal.

Mengapa Keadilan adalah Fondasi Ilmiah Kemakmuran

Dalam teori ekonomi modern, ada satu konsep kunci: trust (kepercayaan).
Negara atau masyarakat dengan tingkat kepercayaan tinggi:
* memiliki biaya transaksi lebih rendah
* lebih cepat berkembang
* lebih stabil secara sosial

Dan apa akar dari trust? Keadilan.

Ketika hukum ditegakkan adil, ketika peluang terbuka merata, ketika orang mendapatkan haknya secara layak—maka:
* orang berani berusaha
* investor percaya
* kolaborasi tumbuh

Sebaliknya, ketika ketidakadilan merajalela:
* korupsi menjadi budaya
* usaha jujur kalah oleh manipulasi
* masyarakat kehilangan motivasi

Artinya jelas:

Keadilan bukan hambatan kemakmuran, tetapi prasyaratnya.

Pandangan Islam: Adil adalah Perintah, Makmur adalah Dampak

Islam tidak pernah menempatkan keadilan sebagai pilihan opsional. Ia adalah perintah langsung dari Allah.

Allah berfirman dalam QS An-Nahl: 90:

“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan…”

Ayat ini bukan sekadar nasihat moral. Ia adalah prinsip sistemik.
Tanpa keadilan, struktur kehidupan akan rusak.

Lebih tegas lagi dalam QS Al-Maidah: 8:

“Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.”

Perhatikan:
Allah tidak mengatakan “adil jika sudah mampu” atau “adil setelah makmur.”

Adil adalah titik awal, bukan tujuan akhir.

Sejarah Membuktikan: Adil Melahirkan Makmur

Mari lihat realitas sejarah Islam.

Pada masa Umar bin Khattab:
* distribusi harta dikelola dengan adil
* pejabat diawasi ketat
* hukum berlaku tanpa pandang bulu

Hasilnya?
* kesejahteraan meningkat drastis
* kemiskinan menurun
* bahkan sulit menemukan penerima zakat di beberapa wilayah

Ini bukan retorika, ini fakta sejarah:

Ketika adil ditegakkan, kemakmuran mengikuti.

Sebaliknya, dalam banyak peradaban—ketika kezaliman mulai dominan:
* kekayaan menumpuk pada segelintir orang
* rakyat kehilangan akses
* akhirnya runtuh dari dalam

Refleksi Kritis: Di Mana Posisi Kita Hari Ini?

Banyak individu dan institusi hari ini melakukan kesalahan strategis:
* ingin sukses cepat → mengabaikan kejujuran
* ingin hasil besar → menoleransi ketidakadilan kecil
* ingin terlihat berhasil → mengorbankan integritas

Ini bukan sekadar kesalahan moral, tapi kesalahan desain hidup.

Karena pada akhirnya:
* yang dibangun tanpa keadilan akan runtuh
* yang diperoleh tanpa hak akan menjadi beban

Langkah Nyata: Dari Kesadaran ke Perubahan

Kalau ingin perubahan nyata, berhenti pada wacana tidak cukup. Harus ada langkah konkret:

1. Bangun Integritas Pribadi
* Tidak mengambil yang bukan hak
* Tidak memanipulasi proses
* Konsisten antara ucapan dan tindakan
Ini bukan hal kecil. Ini fondasi.

2. Tingkatkan Produktivitas

Adil tanpa kontribusi adalah kelemahan.
Islam mendorong kerja keras:
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lain.”

Artinya:
Jadilah adil dan bernilai.

3. Tegakkan Keadilan dalam Lingkup Kecil

Mulai dari:
* keluarga
* sekolah
* organisasi

Jika di level kecil saja tidak adil, jangan berharap sistem besar berubah.

4. Gabungkan Akhlak dan Kompetensi

Kesalahan pendidikan modern:
* memisahkan karakter dan kemampuan

Padahal:
* karakter tanpa skill → lemah
* skill tanpa karakter → berbahaya

Kesimpulan Tegas:
Pertanyaan “adil dulu atau makmur dulu” harus dihentikan.
Itu cara berpikir yang menyederhanakan masalah kompleks.

Kebenarannya:
* Adil adalah fondasi
* Makmur adalah hasil
* Keduanya harus dibangun bersama dalam satu sistem utuh

Tanpa keadilan, kemakmuran hanyalah ilusi sementara.
Tanpa kemakmuran, keadilan sulit bertahan.

Penutup:
Perubahan besar tidak dimulai dari sistem besar.
Ia dimulai dari keputusan kecil yang konsisten.

Keputusan untuk:
* jujur saat bisa curang
* adil saat bisa mengambil lebih
* bekerja keras saat bisa bermalas-malasan

Di situlah peradaban dibangun—atau dihancurkan.

Quote:
“Jangan tunggu dunia menjadi adil baru kita berbuat benar.
Justru karena dunia belum adil, maka kita wajib menjadi bagian dari keadilan itu.
Dan dari tangan-tangan yang adil itulah, Allah turunkan kemakmuran yang hakiki.”
— Jasman Jaiman

MENYEMARAKAN KASIH SAYANG ANTARA UMAT

Perilaku dan tabiat manusia, baik yang terpuji mahupun tercela disebut sebagai akhlak. Dalam bahasa Melayu, akhlak sering disebut sebagai moral atau etika. Secara etimologi, akhlak berasal daripada bahasa Arab “akhlaq”. Para sufi dan pengarang buku mengenai akhlak mengatakan akhlak bukan hanya merupakan perilaku manusia terhadap manusia lain malahan termasuk perilaku antara manusia dengan Khaliqnya serta antara manusia dengan makhluk lain.

Akhlak atau budi pekerti yang baik merupakan darjat paling tinggi bagi umat Islam. Sehubungan ini Rasulullah saw bersabda yang bermaksud:”Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah orang yang berakhlak paling mulia”(Riwayat Abu Daud,Tarmizi dan Ahmad). Ibnu Qayyim berkata,”keseluruhan isi agama merupakan akhlak.Jadi barang siapa yang akhlaknya lebih luhur daripada dirimu,bererti ia memiliki darjat agama yang lebih tinggi daripada dirimu.

Apabila suatu bangsa sudah tidak memiliki moral yang baik maka bangsa itu sedang menempuh jalan kehancuran. Meskipun negara itu mewah atau kaya, tetapi jika tidak disertai dengan akhlak yang utama, ia tidak akan berharga sama sekali, baik menurut pandangan manusia apalagi menurut sunnatullah. Maka Allah S.W.T. memberi kedudukan kepada Rasulullah menjadi uswatun hasanah, sebagai contoh dan teladan umat manusia, sebab dalam diri Baginda terdapat “akhlaqul karimah” akhlak yang mulia dan utama.

 Para sufi menganggap bahawa selain doktrin keislaman dan keimanan, Islam memiliki doktrin lain, iaitu kebaikan ihsan. Ketiga-tiga doktrin ini merupakan trilogi yang tidak boleh dipisahkan dan merupakan penjelmaan daripada hadis Nabi s.a.w yang memuatkan kisah dialog Baginda dengan malaikat Jibril.

lhsan dalam hadis itu didefinisikan sebagai ‘engkau menyembah Allah S.W.T. seolah-olah engkau melihat-Nya. Dan jika engkau tidak melihat-Nya sesungguhnya Allah S.W.T. melihatmu’.

ltulah inti ajaran akhlak menurut para sufi, iaitu selalu berusaha menghadirkan Allah S.W.T. di mana pun berada. Bila seseorang mampu menghadirkan Allah S.W.T. di mana saja berada, dia akan selalu melakukan perbuatan yang sesuai dengan ajaran-ajaran yang telah ditetapkan Allah S.W.T. Daripada sifat ihsan yang menjadi sumber akhlak karimah akan melahirkan sifat-sifat mulia, kejernihan berfikir dan kesucian kalbu.

Usamah bin Syarik r.a meriwayatkan bahawa ketika Rasulullah saw ditanya oleh sahabat,apa hal terbaik yang di kurniakan kepada manusia?Beliau menjawab,’Budi luhur’(Riwayat Ibnu Majah dan Ahmad)

Di antara salah satu ciri-ciri akhlak yang baik  ialah bersikap kasih sayang sesama muslim. Kita harus yakin bahawa dengan menyayangi orang lain, ia akan menperolehi balasan kasih sayang yang jauh lebih besar dan lebih luas didunia dan juga akhirat. Sesungguhnya Allah SWT menyayangi siapapun yang menyayangi hamba-hambaNya. Rasullullah bersabda yang bermaksud; "Allah hanya akan menyayangi hamba yang menyayangi (makhlukNya).” (Riwayat Bukhari dan Muslim)

Sebaliknya Rasulullah saw juga bersabda yang bermaksu:”Sungguh,Allah tidak akan menyayangi seseorang yang tidak menyayangi manusia”(Riwayat Muslim)

Sifat penyayang merupakan pertanda kelapangan dada,kelembutan hati dan keperibadian yang tinggi. Seseorang yang berakhlak mulia akan menyayangi seluruh manusia serta seluruh makhluk. Ibnu Masud meriwayatkan bahawa Rasulullah saw bersabda yang bermaksud: "Kamu tidak dianggap beriman hingga kamu saling menyayangi” Para sahabat berkata,”Wahai Rasulullah kami setiap orang, tersemua adalah penyayang.”Rasul menjawab: ”Kasih sayang yang dimaksudkan bukanlah kasih sayang di antara kamu saja, melainkan kasih  sayang kepada seluruh manusia dan seluruh makhluk”. (Riwayat Tabrani)

Sejarah mencatat bahawa kasih sayang Rasulullah saw bukan sahaja terhad kepada sesama muslim tetapi juga kepada bukan muslim.Ini dijelaskan dalam firman Allah SWT yang bermaksud: ”Maka barang kali engkau(Muhammad)akan menbinasakan dirimu kerana bersedih hati setelah mereka berpaling,sekiranya mereka tidak beriman kepada keterangan ini (AlQuran)”(Surah Al-Kahfi ayat 6)

Nabi Muhammad saw tidak hanya menyayangi manusia,tetapi juga menyayangi binatang.Rasulullah saw mengajak manusia untuk menyayangi binatang kerana ia akan menperolehi pahala.Beliau bersabda yang bermaksud:”Setiap air yang diberikan kepada haiwan hidup (untuk minumnya) mendatangkan pahala”. (Riwayat Bukhari dan Muslim)

Jika ada pertanyaan, ”siapa saja yang didoakan Nabi saw untuk memperolehi rahmat? ”Maka jawapannya dapat diperolehi dari hadis-hadis berikut ini. Nabi Muhammad saw mendoakan orang-orang melaksanakan solat sunat empat rakaat sebelum solat asar. ”Semoga Allah merahmati seseorang yang melaksanakan solat sunat empat rakaat sebelum asar” (Riwayat Abu Daud) Nabi juga mendoakan orang yang memiliki sifat tolerensi. Seterusnya nabi juga mendoakan orang menjaga lisannya dan memanfaatkan lisannya hanya untuk kebaikan.

Pada hakikatnya hanya orang yang sengsara yang tidak memiliki rasa kasih sayang. Nabi saw bersabda yang bermaksud: ”Rasa kasih sayang tidak akan dicabut kecuali dari orang yang sengsara”(Riwayat Abu Daud). Ath-thibbi menjelaskan hadis ini dengan berkata, ”hal ini kerana kasih sayang berasal dari hati yang lembut.Hati yang lembut merupakan tanda keimanan.barangsiapa yang tidak memiliki kelembutan hati maka ia tidak beriman. Dan sesiapa yang tidak memiliki iman maka ia sengsara. Jadi jelas bahawa orang yang tidak memiliki kelembutan hati maka ia sengsara.

Sifat kasih sayang ini juga menjadi bukti rasa kelembutan hati dan keluhuran jiwa. Sifat ini dapat mengeratkan hubungan antara anggota masyarakat. Sifat ini juga dapat menyatukan perbezaan-perbezaan yang berlaku dalam masyarakat dan meningkatan tamadun peradaban manusia itu sendiri. Di sisi lain syurga merupakan tempat atau kediaman bagi orang yang penuh kasih sayang. Hanya orang yang mempunyai pengasih sahaja yang dapat memasuki syurga.

TANDA-TANDA KIAMAT KECIL TELAH LENGKAP SEMPURNA

Harus diingat, kita sudah pun ’embrace’ kepada tanda-tanda kiamat besar secara tidak rasmi iaitu keluarnya Dajjal dan Yakjuj & Ma’juj. Dajjal telah pun keluar dan kini berada dalam peringkat ‘sehari sama seperti sebulan’ iaitu diluar dimensi masa manusia. Manakala Yakjuj & Ma’juj telah pun dibebaskan setelah Tembok Zulkarnain (dengan izin Allah) telah runtuh di Georgia. Golongan mereka pada hari ini telah menjadi Ashkenazi Jews & Zionist! Golongan mereka yang terakhir akan keluar ialah selepas Dajjal dibunuh oleh Isa a.s. Hanya 8 tanda-tanda besar kiamat yang masih tinggal. Allahu A’lam.

Disaat kita berada dalam lena yang panjang, ketika itulah kiamat akan datang, dan kalian kelihatan seperti keldai yang terpinga-pinga. Maka, ambillah peringatan, kerana peringatan itu amat berguna kepada mereka-mereka yang berfikir.

1) Penaklukan Baitulmuqaddis

Dari Auf b. Malik lah.a. katanya, Rasulullah s.a.w telah bersabda: “saya menghitung 6 perkara menjelang – hari kiamat.” Baginda menyebutkan salah 1 di antaranya, iaitu penaklukan Baitulmuqaddis.” – Sahih Bukhari

2) Zina bermaharajalela

“Dan tinggallah manusia2 yang buruk, yang seenaknya melakukan persetubuhan seperti himar (keldai). Maka pada zaman mereka inilah kiamat akan datang.” – Sahih Muslim

3) Bermaharajalela alat muzik

“Pada akhir zaman akan terjadi tanah runtuh, rusuhan dan perubahan muka.
” Ada yang bertanya kepada Rasulullah; “Wahai Rasulullah bila hal ini terjadi?” Baginda menjawab; “Apabila telah bermaharajalela bunyian (muzik) dan penyanyi-penyanyi wanita” – Ibnu Majah

4) Menghias masjid & membanggakannya

“Di antara tanda-tanda telah dekatnya kiamat ialah manusia bermegahan dalam mendirikan masjid” – Riwayat -Nasai.

5) Munculnya kekejian, memutuskan kerabat & hubungan dengan tetangga tidak baik

“Tidak akan datang kiamat sehingga banyak perbuatan dan perkataan keji, memutuskan hubungan silaturahim dan sikap yang buruk dalam tetangga.” – Riwayat Ahmad dan Hakim.

6) Ramai orang soleh meninggal dunia

“Tidak akan datang hari kiamat sehingga Allah mengambil orang-orang yang baik & ahli agama di muka bumi, maka tiada yang tinggal padanya kecuali orang2 yang hina dan buruk yang tidak mengetahui yang makruf dan tidak mengingkari kemungkaran” – Riwayat Ahmad

7) Orang yang hina mendapat kedudukan terhormat

“Di antara tanda semakin dekatnya kiamat ialah dunia akan dikuasai oleh Luka’ bin Luka’ (orang yang bodoh dan hina). Maka orang yang paling baik ketika itu ialah orang yang beriman yang diapit oleh 2 orang mulia”– Riwayat Thabrani

8) Mengucapkan salam kepada orang yang dikenalnya sahaja

“Sesungguhnya di antara tanda-tanda telah dekatnya hari kiamat ialah manusia tidak mahu mengucapkan salam kepada orang lain kecuali yang dikenalnya saja.” – Riwayat Ahmad

9) Banyak wanita yang berpakaian tetapi hakikatnya telanjang

Diriwayatkan dari Abu Hurairah lah.a. “Di antara tanda-tanda telah hari kiamat ialah akan muncul pakaian2 wanita & apabila mereka memakainya keadaannya seperti telanjang”.

10) Bulan sabit kelihatan besar

“Di antara tanda-tanda telah dekatnya hari kiamat ialah menggelembung (membesarnya) bulan sabit.”– Riwayat Thabrani

11) Banyak dusta dan tidak tepat dalam menyampaikan berita

“Pada akhir zaman akan muncul pembohong2 besar yang datang kepadamu dengan membawa berita-berita yang belum pernah kamu dengar & belum pernah didengar oleh bapa-bapa kamu sebelumnya, kerana itu jauhkanlah dirimu dari mereka agar mereka tidak menyesatkanmu & memfitnahmu” – Sahih Muslim

12) Banyak saksi palsu & menyimpan kesaksian yang benar

“Sesungguhnya sebelum datang nya hari kiamat akan banyak kesaksian palsu dan disembunyikan kesaksian yang benar.” – Riwayat Ahmad

13) Negara Arab menjadi padang rumput & sungai

“Tidak akan datang hari kiamat sehingga negeri Arab kembali menjadi padang rumput dan sungai-sungai” – Sahih Muslim

14) Manusia mewarnai rambut di kepalanya dengan warna hitam supaya kelihatan muda

“Pada akhir zaman akan muncul suatu kaum yang mencelupi rambut mereka dengan warna hitam seperti ‘bulu merpati’ yang mereka itu tidak akan mencium bau syurga.” – Sahih Abu Daud & Nasai

15) Munculnya gaya hidup mewah dan manja di kalangan umat Islam
“Apabila umatku berjalan dengan sombong dan yang melayan mereka adalah putera-puteri raja, putera-puteri Parsi dan Rom, maka orang yang paling buruk akan berkuasa terhadap orang yang paling baik (pilihannya).” – Riwayat Tarmizi, Sahih Abdullah ibnu Umar r.a.

Kini, Kita hanya menuggu saat tibanya..

Daripada Huzaifah bin Asid Al-Ghifari ra. berkata: “Datang kepada kami Rasulullah saw. dan kami pada waktu itu sedang berbincang-bincang. Lalu beliau bersabda: “Apa yang kamu perbincangkan?”. Kami menjawab: “Kami sedang berbincang tentang hari qiamat”. Lalu Nabi saw. bersabda: “Tidak akan terjadi hari qiamat sehingga kamu melihat sebelumnya sepuluh macam tanda-tandanya”. Kemudian beliau menyebutkannya: “Asap, Dajjal, binatang, terbit matahari dari tempat tenggelamnya, turunnya Isa bin Maryam alaihissalam, Ya’juj dan Ma’juj, tiga kali gempa bumi, sekali di timur, sekali di barat dan yang ketiga di Semenanjung Arab yang akhir sekali adalah api yang keluar dari arah negeri Yaman yang akan menghalau manusia kepada Padang Mahsyar mereka”.
(H.R Muslimi)

Keterangan:

Sepuluh tanda-tanda qiamat yang disebutkan Rasulullah saw. dalam hadis ini adalah tanda-tanda qiamat yang besar-besar, akan terjadi di saat hampir tibanya hari qiamat. Sepuluh tanda itu ialah:

  1. Dukhan (asap) yang akan keluar dan mengakibatkan penyakit yang seperti selsema di kalangan orang-orang yang beriman dan akan mematikan semua orang kafir.
  2. Dajjal yang akan membawa fitnah besar yang akan meragut keimanan, hinggakan ramai orang yang akan terpedaya dengan seruannya.
  3. Binatang besar yang keluar berhampiran Bukit Shafa di Mekah yang akan bercakap bahawa manusia tidak beriman lagi kepada Allah swt.
  4. Matahari akan terbit dari tempat tenggelamnya. Maka pada saat itu Allah swt. tidak lagi menerima iman orang kafir dan tidak menerima taubat daripada orang yang berdosa.
  5. Turunnya Nabi Isa alaihissalam ke permukaan bumi ini. Beliau akan mendukung pemerintahan Imam Mahadi yang berdaulat pada masa itu dan beliau akan mematahkan segala salib yang dibuat oleb orang-orang Kristian dan beliau juga yang akan membunuh Dajjal.
  6. Keluarnya bangsa Ya’juj dan Ma’juj yang akan membuat kerosakan dipermukaan bumi ini, iaitu apabila mereka berjaya menghancurkan dinding yang dibuat dari besi bercampur tembaga yang telah didirikan oleh Zul Qarnain bersama dengan pembantu-pembantunya pada zaman dahulu.
  7. Gempa bumi di Timur.
  8. Gempa bumi di Barat.
  9. Gempa bumi di Semenanjung Arab.
  10. Api besar yang akan menghalau manusia menuju ke Padang Mahsyar. Api itu akan bermula dari arah negeri Yaman.

Mengikut pendapat Imam Ibnu Hajar al-Asqalani di dalam kitab Fathul Bari beliau mengatakan: “Apa yang dapat dirajihkan (pendapat yang terpilih) dari himpunan hadis-hadis Rasulullah Saw. bahawa keluarnya Dajal adalah yang mendahului segala petanda-petanda besar yang mengakibatkan perubahan besar yang berlaku dipermukaan bumi ini. Keadaan itu akan disudahi dengan kematian Nabi Isa alaihissalam (setelah belian turun dari langit). Kemudian terbitnya matahari dari tempat tenggelamnya adalah permulaan tanda-tanda qiamat yang besar yang akan merosakkan sistem alam cakerawala yang mana kejadian ini akan disudahi dengan terjadinya peristiwa qiamat yang dahsyat itu. Barangkali keluarnya binatang yang disebutkan itu adalah terjadi di hari yang matahari pada waktu itu terbit dari tempat tenggelamnya”.

Sumber: Islamic Eschatology

Hubungi Kami

Alamat:
No.5B, Jalan 3/70 Damai Point, Seksyen 3, 43650 Bandar Baru Bangi. Selangor

Telefon: +60 17-377 7732
Email: alfalahmadani2022 [@] gmail.com

Jumlah Pengunjung

040553
Hari ini: 147
Minggu Ini: 3,018
Bulan Ini: 6,668
Tahun Ini: 40,553
Tahun Lepas: 52,147
Image

Alfalahmadani.my merupakan sebuah portal yang bertanggungjawab untuk bertindak sebagai penampan bagi setiap tuduhan, fitnah, kekeliruan, ketidakfahaman dan kecelaruan yang berlegar di minda rakyat. Sama ada isu-isu yang timbul secara organik di media sosial, ataupun yang didorong sebagai naratif oleh pihak-pihak tertentu,

Alfalahmadani.my akan menjawab setiap permasalahan dengan pengetahuan, kebijaksanaan dan kebenaran. Tentunya, kehadiran Alfalahmadani.my bukan berhasrat menyatakan kesempurnaan pemikiran, tetapi sebagai wahana untuk menuju kesempurnaan pengetahuan dalam konteks pemikiran semasa, dan kebijaksanaan yang mampu diusahakan.